|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Juli 2012
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
RAHASIA KEMATIAN
Dikutip dari : Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini (Gaudium et spes, # 18 dan # 22)
 Di hadapan mautlah teka-teki kenyataan manusia mencapai puncaknya. Manusia sungguh menderita bukan hanya karena rasa sakit dan semakin rusaknya badan, melainkan juga, bahkan lebih lagi, karena rasa takut akan kehancuran yang definitif. Memang wajarlah perasaan berdasarkan naluri hatinya, bila ia mengelakkan dan menolak kehancuran total dan tamatnya riwayat pribadinya untuk selamanya. Tetapi benih keabadian yang dibawanya serta tidak dapat dikembalikan kepada kejasmanian belaka, maka ia memberontak melawan maut. Segala upaya keahlian tehnis, kendati sangat berguna, tidak mampu meredakan kegelisahan manusia. Sebab lanjutnya usia yang diperpanjang secara biologis pun tidak dapat memuaskan kerinduannya akan hidup di akhirat, yang berurat akar dalam hatinya dan pantang hancur.
Sementara kenyataan maut sama sekali tidak terbayangkan, Gereja yang diterangi oleh pewahyuan ilahi menyatakan, bahwa manusia diciptakan oleh Allah untuk tujuan penuh kebahagiaan, melampaui batas-batas kemalangan di dunia. Kecuali itu kematian badan, yang dapat dihindari seandainya manusia tidak berdosa, menurut iman Kristiani akan dikalahkan, karena manusia akan dipulihkan oleh Sang Penyelamat yang mahakuasa dan penuh belas-kasihan kepada keselamatan, yang telah hilang karena kesalahannya. Sebab Allah telah dan tetap memanggil manusia, untuk dengan seutuh kodratnya bersatu dengan Allah dalam persekutuan kekal-abadi kehidupan ilahi yang tak kenal binasa. Kejayaannya itu direbut oleh Kristus, yang dengan wafat-Nya membebaskan manusia dari maut, dan telah bangkit untuk kehidupan. Maka kepada setiap orang, yang dalam kecemasan tentang nasibnya di kemudian hari merenungkan semua itu, iman yang disajikan dengan dasar-dasar yang tangguh menyampaikan jawaban. Sekaligus iman membuka kemungkinan baginya untuk dalam Kristus berkomunikasi dengan saudara-saudaranya terkasih yang sudah direnggut oleh maut, seraya menumbuhkan harapan, bahwa mereka telah menerima kehidupan sejati di hadirat Allah.
Pastilah kebutuhan dan tugas mendesak seorang Kristiani untuk melalui banyak duka derita berjuang melawan kejahatan dan menanggung maut; akan tetapi ia tergabung dengan misteri Paskah, menyerupai wafat Kristus, dan diteguhkan oleh harapan akan melaju menuju kebangkitan.
Itu bukan hanya berlaku bagi kaum beriman Kristiani, melainkan bagi semua orang yang berkehendak baik, yang hatinya menjadi kancah kegiatan rahmat yang tidak kelihatan. Sebab karena Kristus telah wafat bagi semua orang, dan panggilan terakhir manusia benar-benar hanya satu, yakni bersifat ilahi, kita harus berpegang teguh, bahwa Roh Kudus membuka kemungkinan bagi semua orang, untuk dengan cara yang diketahui oleh Allah digabungkan dengan misteri Paskah itu.
Seperti itu dan seagung itulah misteri manusia, yang berkat pewahyuan Kristiani dan dalam Kristus disinarilah teka-teki penderitaan maut, yang di luar Injil-Nya melanda kita. Kristus telah bangkit; dengan wafat-Nya Ia menghancurkan maut. Dan Ia telah mengurniakan kehidupan kepada kita, supaya sebagai putera-puteri dalam Sang Putra, kita berseru dalam Roh: "Abba, ya Bapa!"
|
|
"Aku sangat merindukan kematian… Apakah yang dapat terlebih mengagumkan daripada harapan akan melewatkan keabadian bersama Allah dan berada di surga?"
|
MENGAPA TAKUT KEMATIAN?
oleh : Paus Benediktus XVI, Audiensi Umum, 2 November 2011
 Kendati kenyataan bahwa kematian nyaris merupakan suatu subyek yang tabu dalam masyarakat kita dan bahwa ada suatu upaya terus-menerus untuk mengenyahkan pikiran mengenainya dari benak kita, kematian menyentuh tiap-tiap kita; kematian menyentuh umat manusia dari segala tingkat usia dan tempat. Dan di hadapan misteri ini kita semua, bahkan secara tak sadar, mencari sesuatu guna memberi kita harapan, suatu tanda yang dapat mendatangkan penghiburan bagi kita, membuka suatu kemungkinan, menawarkan kepada kita suatu masa depan sekali lagi. Jalan menuju kematian, dalam relatianya, merupakan suatu jalan pengharapan dan ia melewati makam-makam kita, seperti dapat dibaca pada batu-batu nisan dan menyelesaikan suatu ziarah yang ditandai oleh harapan akan keabadian.
Namun demikian, kita heran, mengapa kita merasa takut di hadapan kematian? Mengapakah manusia, sebagian besar, tidak pernah menyerah pada keyakinan bahwa di luar hidup sama sekali tidak ada apa-apa? Saya hendak mengatakan bahwa ada berbagai jawaban: kita takut akan kematian sebab kita takut akan ketiadaan, takut akan meninggalkan dunia ini untuk sesuatu yang tidak kita ketahui, sesuatu yang tidak kita kenal. Dan lalu, ada suatu perasaan penolakan dalam diri kita sebab kita tak dapat menerima bahwa semua yang indah dan hebat, yang didapat sepanjang masa hidup, sekonyong-konyong harus berlalu, harus jatuh ke dalam jurang ketiadaan. Di atas segalanya, kita merasa bahwa yang terkasih memanggil dan meminta keabadian dan adalah mustahil mendapatkan apa yang telah dihancurkan oleh kematian dalam sekejap.
Terlebih lagi, kita takut menghadapi kematian sebab, ketika kita mendapati diri menghampiri akhir hidup kita, ada suatu kesadaran bahwa perbuatan-perbuatan kita akan diadili, cara kita mengamalkan hidup kita, di atas segalanya, saat-saat kegelapan itu yang kerap secara cerdik kita singkirkan atau usaha singkirkan dari hati nurani kita. Saya hendak mengatakan bahwa tepat pertanyaan mengenai pengadilan kerap menggaris-bawahi kepedulian manusia dari segala jaman sehubungan dengan kematian, kepedulian akan orang-orang yang penting baginya dan tak lagi bersamanya dalam perjalanan melalui hidup duniawi. Dalam suatu makna tertentu tindakan-tindakan cinta dan kasih yang melingkupi dia yang meninggal merupakan suatu cara untuk melindunginya dalam keyakinan bahwa tindakan-tindakan itu akan membawa dampak dalam pengadilan. Ini dapat kita kumpulkan dari mayoritas budaya yang menjadi karakteristik sejarah manusia.
Sekarang dunia telah menjadi, setidaknya tampak, jauh lebih rasional, atau tepatnya, ada suatu kecenderungan yang terlebih luas untuk berpikir bahwa setiap realita hendaknya dihadapi dengan kriteria eksperimen ilmu pengetahuan, dan bahwa pertanyaan-pertanyaan terbesar mengenai kematian harus dijawab tidak dengan begitu penuh iman seperti pengetahuan yang empiris dan dapat dibuktikan. Namun demikian, itu tidaklah cukup mengingat, bahwa tepat dengan cara inilah orang jatuh ke dalam bentuk-bentuk spiritisme, dalam upaya untuk memiliki semacam kontak dengan dunia lain, nyaris membayangkannya sebagai suatu kenyataan bahwa, pada akhirnya, ia merupakan suatu copy dari yang sekarang.
Saudara-saudara terkasih, Hari Raya Semua Orang Kudus dan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman mengatakan kepada kita bahwa hanya mereka yang dapat mengenali adanya pengharapan besar dalam kematian, dapat mengamalkan hidup berdasarkan pengharapan. Jika kita merendahkan manusia sepenuhnya pada dimensi horizontalnya, yang dapat diterima secara empiris, hidup itu sendiri kehilangan maknanya yang mendalam. Manusia membutuhkan keabadian sebab setiap pengharapan yang lain terlalu singkat, terlalu terbatas baginya. Manusia dapat dicerahkan hanya jika ada Kasih yang mengatasi segala isolasi, bahkan isolasi kematian, yang secara keseluruhan juga melampaui waktu dan ruang. Manusia dapat dicerahkan, ia menemukan maknanya yang terdalam, hanya jika ada Allah. Dan kita tahu bahwa Allah mengabaikan jarak-Nya demi kita dan menjadikan DiriNya dekat. Ia masuk ke dalam hidup kita dan bersabda kepada kita: "Aku-lah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya" (Yohanes 11:25-26).
Marilah kita memikirkan sejenak peristiwa di Kalvari dan mendengarkan lagi sabda Yesus dari ketinggian salib, yang disampaikan kepada penjahat yang disalibkan di sebelah kanan-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Lukas 23:43). Kita memikirkan kedua murid yang dalam perjalanan ke Emaus ketika, sesudah berjalan beberapa jauhnya bersama Yesus yang Bangkit, mereka mengenali-Nya dan segera berangkat ke Yerusalem guna memaklumkan Kebangkitan Tuhan (bdk Lukas 24:13-35). Sabda sang Tuan kembali ke dalam benak kita dengan kejelasan yang diperbaharui: "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu" (Yohanes 14:1-2). Allah sungguh demonstratif, Ia menjadi mudah didatangi, sebab Ia begitu mengasihi dunia "sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16), dan dalam tindakan kasih terluhur di salib, dengan menceburkan diri ke dalam jurang kematian, Ia menaklukkan kematian, dan bangkit dan membuka pintu-pintu gerbang keabadian bagi kita juga. Kristus menopang kita melewati malam kematian yang telah Ia Sendiri taklukkan; Ia adalah Gembala yang Baik, yang bimbingan-Nya dapat kita andalkan tanpa khawatir, sebab Ia tahu benar jalannya, bahkan melalui kegelapan.
Setiap hari Minggu dalam pendarasan Kredo, kita menegaskan kebenaran ini. Dan dengan pergi ke makam untuk berdoa dengan penuh cinta kasih bagi orang-orang yang kita kasihi yang telah meninggal dunia, kita diundang, sekali lagi, untuk memperbaharui dengan berani dan dengan penuh kekuatan iman kita akan kehidupan kekal, sungguh untuk hidup dengan pengharapan besar ini dan untuk memberi kesaksian mengenainya di dunia ini: bahwa sesudah sekarang bukannya tidak ada apa-apa. Dan iman akan kehidupan kekal memberi umat Kristiani keberanian untuk mencintai bumi kita dengan terlebih lagi dan untuk bekerja demi membangun suatu masa depan untuknya, untuk memberinya suatu pengharapan yang benar dan pasti. Terima kasih.
|
|
"Tindakan alamiah seperti makan, minum dan tidur sungguh menjadi beban bagiku. Jiwaku berkeluh-kesah karena beban ini, karena waktu begitu lambat berlalu. Di penghujung hari aku merasa begitu lega seolah-olah terlepas dari beban berat yang harus kutanggung sepanjang hari. Namun segera jiwaku semakin muram ketika memikirkan bahwa hari-hari penuh keterasingan ini masih harus dijalani lagi. Pada saat-saat ini aku ingin berteriak: Oh kehidupan, betapa kejamnya engkau padaku! Betapa lamanya engkau kurasakan! Oh, kehidupan, tidak ada lagi kehidupan bagiku namun hanya penderitaan! Oh kematian, aku tak tahu siapa yang takut kepadamu karena melalui engkau kehidupan berawal!"
|
MARI ENYAHKAN TAKUT AKAN KEMATIAN DAN PIKIRKAN KEHIDUPAN ABADI YANG MENGIKUTINYA
oleh: St Siprianus, Uskup dan martir (±210-258)
Kewajiban kita adalah melakukan kehendak Allah, dan bukan kehendak kita sendiri. Patutlah kita camkan ini jika kita menghendaki doa yang Tuhan perintahkan kepada kita untuk dipanjatkan setiap hari memiliki arti di bibir kita. Betapa tak masuk akalnya berdoa agar kehendak Allah terjadi, dan lalu tidak segera mentaatinya ketika Ia memanggil kita dari dunia ini! Malahan kita bergulat dan memberontak seperti hamba yang maunya sendiri dan dibawa ke hadirat Tuhan dalam keadaan berduka dan meratap-tangis, dan bukannya dengan sukahati menyetujui kepergian kita, melainkan dengan terpaksa. Dan meski demikian kita berharap diganjari kemuliaan surgawi oleh-Nya kepada Siapa kita datang di luar kehendak kita! Jadi, mengapakah kita berdoa datanglah kerajaan surga jika belenggu duniawi ini menyenangkan kita? Apalah artinya berdoa begitu kerap bagi kedatangannya yang segera jika kita lebih suka melayani iblis di sini daripada bertahta bersama Kristus.
Dunia membenci umat Kristiani, jadi mengapakah memberikan cintamu kepada dunia dan bukannya mengikuti Kristus, yang mencintaimu dan yang telah menebusmu? Yohanes begitu mendesak dalam epistulanya ketika ia mengatakan kepada kita untuk tidak mencintai dunia dengan menyerah pada hasrat daging. Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
Bagian kita, saudara-saudaraku terkasih, adalah teguh dalam tujuan, kokoh dalam iman, dan tekun dalam keberanian, sedia bagi kehendak Allah, apapun itu. Enyahkanlah rasa takut akan kematian dan pikirkanlah kehidupan abadi yang mengikutinya. Itu akan menunjukkan kepada orang bahwa kita sungguh mengamalkan iman kita.
Janganlah pernah lupa, saudara-saudara terkasih, bahwa kita telah menyangkal dunia. Kita tinggal di sini sekarang sebagai orang-orang asing dan hanya untuk sementara waktu. Ketika hari kepulangan kita mengakhiri pengungsian kita, membebaskan kita dari ikatan-ikatan dunia, dan mengembalikan kita ke Firdaus dan ke kerajaan, sepatutnyalah kita menyambutnya. Apakah yang dikehendaki orang, yang ditempatkan di sebuah pulau asing, jika bukan kepulangannya ke negeri asalnya sendiri sesegera mungkin? Baiklah, kita memandang Firdaus sebagai negeri kita, dan himpunan besar orang-orang yang kita kasihi menanti kita di sana, suatu kumpulan yang tak terhitung banyaknya dari orangtua, saudara dan anak-anak yang rindu kita menggabungkan diri dengan mereka. Meski keselamatan mereka sendiri sudah pasti, namun mereka masih memikirkan kita. Betapa sukacita baik bagi mereka maupun bagi kita untuk saling berjumpa dan memeluk satu sama lain! Oh sukacita kerajaan surgawi di mana tak ada rasa takut akan kematian! Oh kebahagiaan tertinggi dan tiada akhir dari kehidupan yang abadi!
Di sana, ada himpunan mulia para rasul, di sana ada kumpulan para nabi yang bersorak-sorai, di sana ada tak terbilang banyaknya martir yang dimahkotai oleh sebab kemenangan mereka yang jaya dalam pertempuran dan dalam kematian. Di sana, dalam kemenangan, ada para perawan yang menaklukkan hasrat mereka dengan kekuatan matiraga. Di sana, mereka yang berbelas-kasih diganjari, mereka yang memenuhi tuntutan keadilan dengan melayani mereka yang miskin. Dalam ketaatan pada perintah Allah, mereka mengubah harta warisan duniawi mereka menjadi harta pusaka surgawi.
Saudara-saudaraku terkasih, marilah kita semua rindu mengabungkan diri dengan mereka sesegera mungkin. Kiranya Allah melihat kerinduan kita, kiranya Kristus melihat tekad ini yang tumbuh dari iman, sebab Ia akan memberikan ganjaran dari kasih-Nya dengan terlebih berlimpah kepada mereka yang merindukan-Nya dengan sungguh.
|
|
"Sekarang aku menerima dengan sebulat hati kematian apapun yang telah dipersiapkan Allah bagiku. Tuhan, terimalah hidupku dan matiku, demi ujud-ujud Gereja dan demi kemuliaan-Mu."
|
|
|
Suatu pandangan yang berbeda mengenai kematian
Kesaksian Catalina Rivas (stigmatis, visionaris)
mengenai
Sakramen Rekonsiliasi & Pengurapan Orang Sakit
|
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|