|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
April 2012
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
HUBUNGAN IBU DAN ANAK
Atas dasar pengalamannya puluhan tahun dengan anak-anak dan kaum muda yang cacat secara psikologis, Christa Meves - seorang ahli psikoterapi Jerman, penerima anugerah pangkat Komandan Wanita dengan Bintang Ksatria Ordo Gregorius diberikan pada tahun 2005, a.n. Paus Benediktus XVI - berbicara mengenai hubungan ibu-anak yang demikian penting ini:
"Sejak ia lahir, seorang anak mengenal detak jantung ibunya; ia mengenal suara ibunya; ia bahkan mengenal rasa susunya, karena itu serupa dengan air ketuban… Dan dalam beberapa minggu sesudah kelahirannya, anak sudah mengenal wajah ibunya … Anak harus mengenal kembali wajah itu karena ia tahu bahwa ibunya menjamin kehidupannya. Kalau penjaminnya tidak ada untuk waktu yang lama, maka anak mengalaminya sebagai sesuatu yang mengancam hidupnya.
Dalam tahun-tahun pertama, seorang anak juga perlu mendengar detak jantung yang aman dari ibunya. Para ibu bertindak atas dorongan nalurinya dengan menggendong anak mereka yang menangis pada bagian kiri tubuh mereka, supaya anak dapat merasakan detak jantung ibunya. Anak sudah mengenal ritmenya dari dalam kandungan ibunya."
Pada masa ini, ketika dunia semakin merosot akhlaknya dan kaum muda semakin rusak lakunya akibat luka batin, sebagian besar akibat kurangnya kasih sayang seorang ibu, Bunda Maria datang sebagai seorang Ibunda bagi kita, anak-anaknya, dengan gelarnya yang baru: Bunda Segala Bangsa. Ia ingin mengobati dan menyembuhkan mereka semua yang terluka, siapa saja, dengan kasihnya. Dalam pesannya Bunda Maria mengatakan, "Gereja dan umat manusia tanpa seorang ibunda sama seperti tubuh tanpa jiwa" (Pengalaman Ekaristi, 31 Mei 1965).
"Aku adalah Bunda, Maria, Bunda Segala Bangsa. Kalian dapat memanggilku: 'BUNDA SEGALA BANGSA'" (11 Februari 1951). Dan ia menjanjikan kepada semua orang, "Aku akan memberikan penghiburan. Bangsa-bangsa, Bundamu tahu kehidupan, Bundamu tahu penderitaan, Bundamu tahu Salib. Segala yang kalian lalui dalam hidup ini adalah jalan yang Bundamu, Bunda segala Bangsa, lalui sebelum kalian. Ia melewati jalan ini sebelum kalian" (31 Mei 1955). Sebab itu, asal kita mau datang kepadanya sebagai seorang anak, Bunda Maria berjanji akan membimbing kita dalam kasih keibuannya untuk melewati ziarah kehidupan demi memastikan kita semua, anak-anaknya, suatu hari kelak tiba di tanah air surgawi, rumah Bapa, rumah kita yang sesungguhnya.

|
Dikatakan St Ambrosius, “Kita tahu bahwa seorang ibu akan mempertaruhkan nyawanya sendiri demi anaknya,” dan bahkan binatang yang paling buas sekalipun tak dapat melakukan yang sebaliknya selain dari mengasihi anak-anak mereka yang masih kecil. Bahkan harimau, mendengar raungan anak-anak kecil mereka yang ditangkap para pemburu, akan segera terjun ke dalam laut dan berenang hingga mereka mencapai kapal di mana anak-anaknya dikurung. Harimau saja, kata Bunda Maria kita yang terkasih, tak dapat melupakan anak-anaknya yang kecil, bagaimanakah aku dapat lupa untuk mengasihi kalian, anak-anakku? Dan bahkan, tambahnya, andai mungkin terjadi bahwa seorang ibu lupa mengasihi anaknya, adalah tidak mungkin bagiku untuk berhenti mengasihi suatu jiwa yang telah menjadi anakku: Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, hingga tidak berbelas-kasih kepada anak yang dari rahimnya? Dan andai ia melupakan bayinya, aku tidak akan melupakan engkau.”
|
BESARNYA KASIH BUNDA MARIA KEPADA KITA
dikutip dari: "KEMULIAAN MARIA" oleh St Alfonsus Maria de Liguori
Bunda kita sungguh mengasihi kita, sebab kita dihantarkan kepadanya oleh Yesusnya terkasih, ketika Ia sebelum wafat mengatakan kepadanya: Perempuan, lihatlah anakmu! sebab kita semua diwakili dalam pribadi St Yohanes. Inilah kata-kata terakhir-Nya; dan perkataan terakhir yang diucapkan sebelum meninggal oleh orang yang kita kasihi selalu dijunjung tinggi dan tak pernah dilupakan.
Tetapi lagi, kita sungguh amat terkasih bagi Maria sebab penderitaan yang kita timbulkan atasnya. Para ibu pada umumnya terlebih mengasihi anak-anak yang kelangsungan hidupnya mengakibatkan paling banyak penderitaan dan kekhawatiran; kita adalah anak-anak yang demikian bagi siapa Maria, demi mendapatkan bagi kita hidup rahmat, harus menanggung dukacita pahit mempersembahkan Yesusnya yang terkasih untuk mati secara keji, dan juga harus melihat-Nya mati di hadapan matanya sendiri di tengah siksa aniaya yang paling keji seperti yang belum pernah dan tidak akan pernah ada lagi. Pada waktu itulah dengan persembahan luar biasa Maria ini kita dilahirkan kepada hidup rahmat; karenanya kita adalah anak-anaknya yang sungguh terkasih, sebab kita mengakibatkan dukacita yang begitu dahsyat atasnya. Dan demikianlah, sebagaimana ditulis mengenai kasih Bapa yang Kekal kepada manusia dalam menyerahkan Putranya Sendiri pada kematian bagi kita: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal” (Yohanes 3:16). “Demikian juga,” kata St Bonaventura, “dapat kita katakan mengenai Maria, bahwa begitu besar kasihnya kepada kita sehingga ia telah mengaruniakan Anaknya yang tunggal.” Dan bilamanakah ia menyerahkan-Nya? Maria menyerahkannya, kata Pater Nieremberg, ketika ia memberi-Nya persetujuan untuk memberikan Diri-Nya sampai mati; ia memberikan-Nya kepada kita, ketika, sementara yang lain tidak melakukannya, entah karena dengki atau karena takut, ia sendiri dapat saja memohonkan pengampunan bagi nyawa Putranya di hadapan para hakim. Nah, dapat diandaikan bahwa perkataan dari seorang bunda yang begitu bijaksana dan penuh kasih sayang akan memberikan pengaruh besar, setidaknya pada Pilatus, dan dapat mencegahnya menjatuhkan hukuman mati kepada Orang yang ia tahu dan telah maklumkan sebagai tak bersalah. Akan tetapi, tidak, Maria tak hendak mengatakan sepatah kata pun demi membela Putranya, sebab jangan-jangan ia dapat mencegah kematian di mana keselamatan kita tergantung. Pada akhirnya, ia memberikan Yesus kepada kita beribu-ribu kali, sepanjang tiga jam sakrat maut yang mendahului ajal-Nya, dan yang dilewatkannya di kaki salib; sebab sepanjang waktu itu ia tiada henti mempersembahkan, dengan dukacita yang dahsyat dan kasih yang hebat, hidup Putranya demi kita, dan ini dilakukan dengan ketegaran hati begitu rupa, hingga St Anselmus dan St Antonius mengatakan, bahwa andai para algojo menghendaki, ia sendiri yang akan menyalibkan-Nya, demi mentaati Bapa yang Kekal yang menghendaki kematian-Nya demi keselamatan kita. Jika Abraham memiliki keberanian yang begitu ksatria hingga siap untuk mengurbankan hidup puteranya dengan tangannya sendiri, maka dengan keberanian yang jauh lebih ksatria Maria (yang jauh lebih kudus dan taat dibandingkan Abraham) akan mengurbankan hidup Putranya. Tetapi marilah kita kembali ke permenungan akan hutang syukur terima kasih kita kepada Maria, atas tindak kasih yang begitu agung luhur pula dukacita pahit dalam mengurbankan hidup Putranya, yang ia lakukan demi memperolehkan keselamatan kekal bagi kita semua. Allah dengan berlimpah mengganjari Abraham atas kurban yang ia persiapkan atas Ishak puteranya; akan tetapi kita, balasan apakah gerangan yang dapat kita berikan kepada Maria atas hidup Yesusnya, Putra yang jauh lebih agung dan terkasih dibandingkan putera Abraham? “Kasih Maria ini,” kata St Bonaventura, “sungguh mewajibkan kita untuk mengasihinya; sebab kita lihat bahwa ia mengungguli semua yang lain dalam kasih kepada kita, sebab ia telah memberikan Putra tunggalnya, yang ia kasihi lebih dari nyawanya sendiri, bagi kita.”
Dari sini muncul suatu alasan lain dari kasih Maria kepada kita; sebab dalam kita ia melihat apa yang telah ditebus dengan harga wafat Yesus Kristus. Jika seorang ibu tahu bahwa seorang hamba telah ditebus oleh seorang putera terkasih dengan harga duapuluh tahun penjara dan penderitaan, betapa ia akan menghargai hamba itu hanya demi alasan ini! Maria tahu benar bahwa Putranya datang ke dalam dunia hanya demi menyelamatkan kita makhluk-makhluk malang, seperti yang Ia Sendiri maklumkan: “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10). Dan demi menyelamatkan kita, Ia suka hati bahkan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, “Telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati” (Filipi 2:8). Jadi, andai kasih Maria kepada kita hanya sedikit saja, maka itu menunjukkan bahwa ia sedikit saja menghargai darah Putranya, yang adalah harga keselamatan kita. Kepada St Elizabeth dari Hungaria diwahyukan bahwa Maria, sejak dari saat ia tinggal di Bait Allah, tiada melakukan yang lain selain dari berdoa bagi kita, memohon agar Allah bersegera dalam mengutus PutraNya ke dalam dunia demi menyelamatkan kita. Dan betapa terlebih lagi kita patut berpikir bahwa ia mengasihi kita, sekarang setelah ia melihat bahwa kita dihargai sedemikian tinggi oleh Putranya, hingga Ia tidak memandang rendah untuk menebus kita dengan harga yang sedemikian.
Dengan cinta kasih keibuannya, Maria memperhatikan saudara-saudara Putranya, yang masih dalam peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air yang penuh kebahagiaan. Oleh karena itu dalam Gereja, Santa Perawan disapa dengan gelar Advocata [= Pembela], Auxiliatrix [=Penolong], Adjutrix [=Pembantu], dan Mediatrix [= Perantara]. Akan tetapi itu diartikan sedemikian rupa, sehingga tidak mengurangi pun tidak menambah martabat serta dayaguna Kristus satu-satunya Pengantara.
~ (Lumen Gentium, #62)
|
|
MARIA: BUNDA SEGALA BANGSA
oleh: Mgr John B. Thakur, seorang Uskup India, sharing 1999
"… Gereja dikenal karena kontribusinya dalam memberikan pendidikan yang baik di negeri kami. Orang banyak berkerumun di lembaga-lembaga kami untuk mendaftar. Populasi Kristen di negeri kami hanya sekitar 2,5 persen. Jadi, 92 hingga 98 persen murid yang bersekolah di sebagian besar sekolah kami adalah kaum Hindu, Muslim, Parsi, dll. Anak-anak di lembaga-lembaga kami menghormati agama kami. Mereka bebas pergi dan memanjatkan doa di kapel, apabila ada fasilitas yang demikian di sekolah; dan sudah wajar, mereka pergi ke patung Bunda Maria, yang senantiasa ditempatkan di tempat yang menyolok.
Sebuah contoh manis muncul dari murid kami: Sekelompok anak gadis Hindu sedang berlutut dan berdoa khusuk di depan patung Bunda Maria di salah sebuah sekolah kami. Sesudah doa, mereka melihat dengan terkejut pada apa yang tertulis di kaki patung. Tertulis di sana, "Maria, Bunda Umat Kristiani, doakanlah kami." Mereka tidak mengerti mengapa ditulis demikian. Sebab itu mereka pergi menghadap kepala sekolah dan menanyakan mengapa ditulis, "Maria, Bunda Umat Kristiani, doakanlah kami." Mereka mengatakan, "Maria adalah Bunda bukan hanya bagi umat Kristiani, melainkan Bunda kami semua. Kami mengasihinya, menghormatinya, dan berdoa kepadanya." Jadi, demikianlah. "Bunda Segala Bangsa" dimaklumkan oleh mulut anak-anak yang tak berdosa.
|
|
"Tak peduli siapapun engkau, aku ini untukmu: Ibu, Bunda Segala Bangsa"
(Pesan 31 Mei 1954).
 GAMBAR & DOA
 GELAR BUNDA SEGALA BANGSA
 DOGMA BARU:
MARIA CO-REDEMPTRIX, MEDIATRIX, ADVOCATA
|
KERJASAMA MARIA SEPENUHNYA UNIK
oleh: Beato Paus Yohanes Paulus II, Audiensi Umum, 9 April 1997
 1. Sepanjang berabad-abad Gereja telah merefleksikan kerjasama Maria dalam karya keselamatan, memperdalam analisa akan persatuannya dengan kurban penebusan Kristus. St Agustinus telah memberikan kepada Santa Perawan gelar "rekan kerja" [= co-operator] dalam Penebusan (bdk. De Sancta Virginitate, 6; PL 40, 399), gelar yang menekankan kerjasama Maria tetapi di bawah dan bersama Kristus Penebus.
Refleksi berkembang, teristimewa sejak abad ke-15. Sebagian takut akan adanya keinginan untuk menempatkan Maria sejajar dengan Kristus. Sebenarnya ajaran Gereja membuat pembedaan jelas antara Bunda dan Putra dalam karya keselamatan, menjelaskan Santa Perawan, sebagai rekan kerja, berada di bawah Penebus yang satu.
Lagipula, ketika Rasul Paulus mengatakan: "Kami adalah kawan sekerja Allah" (1 Korintus 3:9), ia tetap memelihara kemungkinan riil manusia untuk bekerjasama dengan Allah. Kerjasama orang-orang percaya, yang jelas tidak menyangkut kesetaraan dengan-Nya, diungkapkan dalam pemakluman Injil dan dalam sumbangsih pribadi mereka dalam menanamkan semangat Injil dalam hati manusia.
2. Akan tetapi, sehubungan dengan Maria, istilah "rekan kerja" memiliki arti yang spesifik. Kerjasama umat Kristiani dalam keselamatan terjadi sesudah peristiwa Kalvari, yang buah-buahnya mereka upayakan sebarkan melalui doa dan kurban. Sebaliknya, Maria, bekerjasama sepanjang peristiwa itu sendiri dan dalam peran ibunda; dengan demikian kerjasama Maria merangkul seluruh karya keselamatan Kristus. Maria saja yang dipersatukan dalam cara ini dengan kurban penebusan yang ganjarannya adalah keselamatan segenap umat manusia. Dalam persatuan dengan Kristus dan dalam penyerahan diri kepada-Nya, Maria bekerjasama dalam memperoleh rahmat keselamatan bagi segenap umat manusia.
Peran Santa Perawan sebagai rekan kerja bersumber pada keibuan ilahinya. Dengan melahirkan Dia yang ditetapkan untuk memperolehkan pebebusan manusia, dengan merawat-Nya, mempersembahkan-Nya di Bait Allah dan menderita bersama-Nya sementara Ia wafat di Salib, Maria "secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya Juruselamat" (Lumen Gentium, n. 61). Meski panggilan Allah untuk bekerjasama dalam karya keselamatan diperuntukkan bagi semua orang, partisipasi Bunda Juruselamat dalam Penebusan manusia merupakan suatu fakta yang unik dan tak dapat diulang.
Kendati keunikannya itu, Maria juga adalah penerima keselamatan. Ia adalah yang pertama diselamatkan, ditebus oleh Kristus "dalam cara yang paling mulia" dalam Perkandungan Yang Tanpa Dosa (bdk. Bull Ineffabilis Deus, Pius IX, Acta, 1, 605) dan dipenuhi dengan rahmat Roh Kudus.
3. Pemakluman ini sekarang menghantar pada pertanyaan: apakah artinya kerjasama unik Maria dalam rencana keselamatan? Jawabnya patut dicari dalam tujuan istimewa bagi Bunda penebus, yang dalam dua peristiwa khidmad, yakni di Kana dan di bawah kaki Salib, Yesus menyebutnya sebagai "Perempuan" (bdk Yohanes 2:4; 19:26). Maria diasosiasikan sebagai perempuan dalam karya keselamatan. Setelah menciptakan manusia "laki-laki dan perempuan" (bdk Kejadian 1:27), Tuhan juga hendak menempatkan Hawa Baru di samping Adam Baru dalam Penebusan. Leluhur pertama kita telah memilih jalan dosa sebagai pasangan; suatu pasangan baru, Putra Allah dengan kerjasama BundaNya, akan membangun kembali bangsa manusia dalam martabat aslinya.
Dengan demikian Maria, Hawa Baru, menjadi ikon sempurna Gereja. Dalam rancangan ilahi, di kaki Salib, Maria mewakili umat manusia yang telah ditebus yang, butuh keselamatan, dimampukan untuk memberikan kontribusi pada pewartaan karya keselamatan.
4. Konsili memikirkan doktrin ini dalam benaknya dan menjadikannya doktrin Gereja, menegaskan kontribusi Santa Perawan tak hanya hingga kelahiran Penebus, melainkan juga hingga kehidupan Tubuh Mistiknya turun-temurun hingga "eschaton" [= akhir jaman]: dalam Gereja Maria "telah bekerjasama" (bdk. Lumen Gentium, n. 63) dan "bekerjasama" (ibid, n. 53) dalam karya keselamatan. Dalam menjabarkan misteri Kabar Sukacita, Konsili memaklumkan bahwa Perawan Nazaret, "dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa manapun ia memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada pribadi serta karya Putranya, untuk di bawah Dia dan bersama Dia, berkat rahmat Allah yang Mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri Penebusan (ibid., n. 56).
Terlebih lagi Konsili Vatican Kedua menghadirkan Maria tak hanya sebagai "Bunda Penebus Ilahi", melainkan juga yang "secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati", yang "secara sungguh istimewa bekerjasama dengan karya Juruselanat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar." Konsili juga ingat bahwa buah luhur dari kerjasama ini adalah keibuannya yang universal: "Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita" (ibid., n. 61).
Karenanya kita dapat berpaling pada Santa Perawan, dengan penuh percaya memohon pertolongannya dengan kesadaran akan peran istimewa yang dipercayakan kepadanya oleh Allah, peran rekan kerjasama dalam Penebusan, yang ia laksanakan sepanjang hidupnya dan dalam suatu cara yang istimewa di kaki Salib.
Ya Bunda, Mediatrix kami dan Advocata kami, perdamaikanlah kami dengan Putramu, belalah kami di hadapan Putramu, hantarkanlah kami kepada Putramu! Engkau terberkati oleh rahmat yang engkau peroleh, oleh hak-hak istimewa yang engkau dapatkan, oleh kerahiman yang engkau bawa ke dalam dunia. Perolehkanlah bagi kami agar kiranya Yesus, yang melalui engkau berkenan ambil bagian dalam kelemahan dan kemalangan kami, menganugerahi kami juga, melalui engkau, keikutsertaan dalam kemuliaan-Nya dan dalam kebahagiaan-Nya"
~ St Bernard
|
|
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|