|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Desember 2011
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
MUKJIZAT YESUS YANG PERTAMA: PERKAWINAN DI KANA ~ AIR MENJADI ANGGUR
dikutip dari penglihatan Beata Anna Katharina Emmerick
Kala Santa Perawan melihat bahwa persediaan anggur tak mencukupi, ia datang kepada Yesus dan mengingatkan-Nya. Yesus, yang sedang mengajar mengenai Bapa SurgawiNya, menjawab: "Perempuan, janganlah cemas! Janganlah merepotkan dirimu sendiri dan Aku! Saat-Ku belum tiba." Kata-kata ini tidak diucapkan dengan kasar kepada Santa Perawan. Yesus menyapanya sebagai "Perempuan" dan bukan sebagai "Bunda", sebab, pada saat ini sebagai sang Messias, sebagai Putra Allah, Ia hadir dalam kuasa ilahi dan hendak melakukan di hadapan segenap para murid dan kaum kerabat-Nya suatu tindakan penuh misteri….
Kecemasan Maria akan tamu perkawinan sekarang sepenuhnya telah sirna. Ia telah mengutarakan masalahnya kepada sang Putra, sebab itu dengan penuh keyakinan ia berkata kepada para pelayan: "Lakukanlah semua yang Ia katakan kepadamu."
Maria memerintahkan para pelayan untuk menanti perintah Yesus dan melakukannya. Sebentar kemudian Yesus memerintahkan mereka untuk membawakan kepada-Nya tempayan-tempayan kosong dan membalikkannya. Tempayan-tempayan ini dibawa masuk, tiga tempayan air dan tiga tempayan anggur, dan bahwa tempayan-tempayan itu kosong dibuktikan dengan meletakkannya terbalik. Lalu Yesus memerintahkan agar masing-masing tempayan diisi air. Perkataan Maria kepada Yesus disampaikan dalam nada rendah, tetapi jawaban Yesus, pula perintah-Nya untuk meyediakan air, disampaikan dengan suara lantang.
Ketika tempayan-tempayan berisi air telah ditempatkan, enam jumlahnya, di meja samping, Yesus pergi dan memberkatinya. Sementara kembali ke tempat-Nya di meja, Ia memanggil seorang pelayan: "Tuanglah sekarang dan bawalah kepada kepala pelayan!" Ketika kepala pelayan telah mencicipi anggur, ia menghampiri mempelai laki-laki dan mengatakan, "Setiap orang pertama-tama menghidangkan anggur yang baik, dan ketika semua telah mabuk, barulah yang kurang baik mutunya. Tetapi engkau telah menyimpan anggur yang baik hingga sekarang." Ia tidak tahu bahwa anggur disediakan oleh Yesus pula seluruh hidangan pesta. Itu adalah rahasia antara Keluarga Kudus dan keluarga pasangan mempelai. Kemudian mempelai laki-laki dan ayah mempelai meneguk anggur, dan mereka sungguh sangat heran. Para pelayan menyanggah dan mengatakan bahwa mereka hanya mengisikan air, dan bahwa bejana-bejana minum dan cawan-cawan di meja telah diisi dengan air itu. Dan sekarang segenap mereka minum. Mukjizat itu tidak menimbulkan kegemparan maupun kehebohan; sebaliknya, suasana takjub yang hening dan hormat menguasai mereka. Yesus mengajarkan banyak hal mengenai mukjizat ini. Di antaranya, Ia mengatakan bahwa dunia menyajikan pertama-tama anggur keras, dan lalu menipu mereka yang setengah mabuk dengan minuman yang buruk kualitasnya; akan tetapi tidak demikian halnya dengan Kerajaan yang telah diberikan Bapa SurgawiNya. Di sana air murni diubah menjadi anggur mahal, sebagaimana suam-suam kuku harus digantikan dengan gairah dan semangat yang berkobar....
Iman segera menguasai setiap hati. Semua menjadi lebih baik, lebih bersatu, lebih batiniah. Dampak yang sama ini datang atas semua yang telah minum anggur. Yesus dalam pesta perkawinan ini, seolah, berada di tengah komunitas-Nya untuk pertama kali. Di sanalah Ia mengadakan mukjizat pertama demi mereka dan demi peneguhan iman mereka. Oleh karena alasan itu mukjizat ini, perubahan air menjadi anggur dicatat sebagai yang pertama dalam sejarah-Nya sebagaimana Perjamuan Malam Terakhir, ketika para Rasul diteguhkan dalam Iman, adalah yang terakhir.
Kisah selengkapnya silakan baca:
|
|
dari Meditasi
mistikus, stigmatis, visionaris
(1774 - 1824)
|
|
|
"Janganlah berkecil hati menghadapi kekurangan-kekurangan yang tampaknya memadamkan sukacita di meja kehidupan. Ketika tak ada lagi anggur dalam perkawinan di Kana, Maria mengatakan kepada para pelayan untuk datang kepada Yesus dan memberi mereka suatu perintah yang pasti: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (Yohanes 2:5). Camkanlah kata-kata ini, terakhir yang dikatakan Maria yang dicatat dalam Injil, seolah, suatu kesaksian rohaninya, dan engkau akan senantiasa memiliki sukacita perayaan: Yesus adalah anggur perjamuan!"
~ Paus Benediktus, Piazza del Plebiscito, September 2011
|
YESUS MENGADAKAN MUKJIZAT PERTAMA-NYA ATAS PERMINTAAN MARIA
oleh: Beato Paus Yohanes Paulus II, 1997
 1. Dalam episode Perkawinan di Kana, St Yohanes menyajikan campur tangan pertama Maria dalam kehidupan Yesus di hadapan publik dan menggarisbawahi peran-serta Maria dalam misi Putranya.
Di awal kisah sang Penginjil mengatakan bahwa "ibu Yesus ada di situ" (Yohanes 2:1), dan, seolah untuk mengesankan bahwa kehadiran Maria merupakan alasan bagi pasangan untuk mengundang Yesus dan para murid-Nya, ia menambahkan "Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu" (Yohanes 2:2). Dengan kata-kata ini, tampaknya Yohanes hendak menunjukkan bahwa di Kana, seperti dalam peristiwa penting Inkarnasi, adalah Maria yang memperkenalkan Juruselamat.
Makna dan peran dari kehadiran Santa Perawan menjadi nyata ketika mereka kehabisan anggur. Sebagai seorang ibu rumahtangga yang cakap dan bijak, Maria segera memberikan perhatian dan ikut campur tangan agar sukacita pesta tak rusak dan, di atas segalanya, demi menolong pasangan yang baru menikah mengatasi kesulitan.
Berpaling kepada Yesus dengan perkataan: "Mereka kehabisan anggur" (Yohanes 2:3), Maria mengungkapkan kepeduliannya mengenai situasi ini dan berharap Ia mengatasinya. Tepatnya, menurut sebagian ahli, BundaNya mengharapkan suatu tanda luar biasa, sebab tak ada anggur pada Yesus untuk dibagi-bagikan.
2. Pilihan yang diambil Maria, yang mungkin bisa saja mendapatkan anggur yang dibutuhkan dari sumber lain, menunjukkan keberanian imannya, sebab hingga saat itu Yesus belum mengadakan mukjizat, baik di Nazaret maupun dalam kehidupan-Nya di hadapan publik.
Di Kana, Santa Perawan sekali lagi menunjukkan kesediaan total kepada Allah. Pada waktu Kabar Sukacita ia telah berperan-serta dalam mukjizat perkandungan yang perawan dengan percaya pada Yesus sebelum melihat-Nya; di sini, kepercayaannya pada kuasa Yesus yang hingga saat itu belum dinyatakan, membuat-Nya mengadakan "tanda pertama-Nya", mukjizat pengubahan air menjadi anggur.
Dengan cara itu Maria mendahului para murid dalam hal iman, seperti dikatakan Yohanes, bahwa para murid percaya sesudah adanya mukjizat: Yesus "telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya" (Yohanes 2:11). Maria meneguhkan iman mereka dengan mendatangkan tanda mukjizat ini.
3. Jawab Yesus atas perkataan Maria, "Wahai perempuan, mau apakah engkau dari pada-Ku? Saat-Ku belum tiba" (Yohanes 2:4), kelihatan seperti menyiratkan suatu penolakan, seolah menguji iman BundaNya.
Menurut suatu tafsiran, sejak dari saat misi-Nya dimulai Yesus tampaknya mempermasalahkan hubungan alamiah seorang putera sebagaimana dipahami BundaNya. Kalimat itu, dalam bahasa lokal, bermaksud menekankan jarak antara pribadi-pribadi, dengan meniadakan hubungan kekerabatan. Jarak ini tidak meniadakan hormat dan penghargaan. Kata "perempuan" dengan mana Ia menyapa BundaNya dipergunakan dengan suatu nuansa seperti yang akan terjadi lagi dalam percakapan dengan perempuan Kanaan (bdk. Matius 15:28), perempuan Samaria (bdk. Yohanes 4:21), perempuan yang berzinah (bdk. Yohanes 8:10) dan Maria Magdalena (bdk. Yohanes 20:13), dalam konteks yang menunjukkan hubungan positif Yesus dengan perempuan lawan bicara-Nya.
Dengan ungkapan: "Wahai perempuan, mau apakah engkau dari pada-Ku?" Yesus bermaksud menempatkan peran-serta Maria pada tingkat keselamatan yang, dengan melibatkan iman dan harapannya, menuntutnya untuk keluar melampaui peran alamiahnya sebagai seorang ibunda.
4. Makna yang terlebih penting adalah alasan yang diberikan Yesus: "Saat-Ku belum tiba" (Yohanes 2:4).
Sebagian ahli telah mempelajari teks suci ini, dengan mengikuti tafsiran St Agustinus, mereka mengidentifikasikan "saat" ini dengan peristiwa Sengsara. Bagi yang lain, sebaliknya, ini menunjuk pada mukjizat pertama di mana kuasa messianis nabi dari Nazaret akan dimaklumkan. Yang lain lagi berpendapat bahwa kalimat ini merupakan kalimat tanya dan merupakan kelanjutan dari pertanyaan sebelumnya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku? Bukankah saat-Ku belum tiba?" Yesus membuat Maria mengerti bahwa sejak dari saat itu Ia tidak lagi tergantung padanya, melainkan Ia harus berinisiatif untuk melakukan karya BapaNya. Maka, Maria dengan taat undur diri dari mendesak-Nya dan malahan berpaling kepada para pelayan, memerintahkan mereka untuk mentaati-Nya.
Kepercayaan Maria pada Putranya beroleh ganjaran. Yesus, yang dibiarkan olehnya untuk sepenuhnya bertindak, mengadakan mukjizat; Yesus mengenali keberanian dan ketaatan BundaNya: "Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: 'Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.' Dan mereka pun mengisinya sampai penuh" (Yohanes 2:7). Dengan demikian ketaatan para pelayan juga membantu dalam pengadaan anggur yang melimpah.
Permintaan Maria: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" senantiasa tepat berlaku bagi umat Kristiani dari segala abad dan ditujukan untuk memperbaharui dampaknya yang mengagumkan dalam hidup setiap orang. Merupakan suatu desakan untuk percaya tanpa ragu, teristimewa ketika orang tidak memahami makna atau manfaat dari apa yang Kristus minta.
Seperti dalam kisah perempuan Kanaan (Matius 15:24-26), apa yang tampak sebagai penolakan Yesus justru sebenarnya meninggikan iman perempuan itu, sehingga kata-kata Yesus, "Saat-Ku belum tiba," bersama dengan pengadaan mukjizat pertama, menunjukkan iman Maria yang besar dan kuasa doa Maria.
Episode perkawinan di Kana mendorong kita untuk berani dalam iman dan untuk mengalami dalam hidup kita kebenaran perkataan Injil: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu" (Matius 7:7; Lukas 11:9).
|
|
"Maria mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan masing-masing orang bergantung pada mendengarkan dan mentaati Sabda Putranya. Dalam diri mereka yang percaya kepada-Nya, air hidup sehari-hari diubah menjadi anggur kasih yang menjadikan hidup baik, indah dan berbuah. Sungguh, Kana adalah pemakluman dan antisipasi anugerah anggur baru Ekaristi, kurban dan perjamuan di mana Tuhan datang kepada kita dan memperbaharui serta mengubah kita. Dan janganlah menganggap remeh sangat pentingnya perjumpaan ini: kiranya engkau ikut ambil bagian secara penuh dalam pertemuan liturgis hari Minggu: makna Kristiani dari keberadaan dan hidup baru yang mengalir dari Ekaristi."
~ Paus Benediktus, Piazza del Plebiscito, September 2011
|
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|