|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
November 2010
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
|
|
ULANG TAHUN YESAYA YANG KE-10
|
MELKISEDEK
dari meditasi: B. Anna Katharina Emmerick, (1774 - 1824)
 Aku sering melihat Melkisedek, tetapi tidak pernah sebagai seorang manusia. Aku selalu melihatnya sebagai suatu makhluk dari kodrat yang lain, sebagai seorang malaikat, sebagai seorang yang diutus Allah. Aku tidak pernah sekalipun melihat suatu tempat kediaman, suatu rumah, suatu keluarga, suatu kerabat tertentu yang berhubungan dengannya. Aku tidak pernah melihatnya makan, minum ataupun tidur, dan tak pernah sekalipun terlintas dalam pikiranku bahwa ia adalah seorang fana. Ia berbusana tidak seperti imam manapun pada masa itu di dunia, tetapi seperti para malaikat di Yerusalem surgawi. Jubahnya seperti jubah Musa, yang dibuat sesuai perintah Allah, yang sesudahnya ditetapkan sebagai busana imam. Aku melihat Melkisedek muncul di sana sini, mengemukakan dan mengatasi masalah bangsa-bangsa; seperti misalnya, pada waktu perayaan kemenangan sesudah perang, pada waktu peperangan yang dilakukan dengan bengis dan keji. Di manapun ia muncul, di manapun ia berada, ia mendatangkan suatu pengaruh yang amat kuat hanya dengan kehadirannya saja. Tak seorang pun menentangnya, namun demikian ia tak pernah mengambil jalan kekerasan; bahkan kaum penyembah berhala dengan senang hati menerima keputusan-keputusannya dan bertindak sesuai nasehatnya. Melkisedek tidak mempunyai teman; ia sama sekali seorang diri....
Melkisedek datang dari wilayah di mana sesudahnya Yerusalem berdiri. Ada padanya seekor binatang yang amat gesit berwarna abu-abu. Binatang itu berleher pendek lebar, dan ia dibebani muatan di kedua sisinya. Di satu sisi terdapat sebuah bejana anggur, yang datar pada sisi yang menempel pada hewan beban; di sisi lainnya, terdapat sebuah kotak berisi barisan-barisan roti yang datar bebentuk oval, juga Piala yang sesudahnya aku lihat dipergunakan pada Perjamuan Malam Terakhir untuk penetapan Sakramen Mahakudus. Piala itu mempunyai cawan-cawan berbentuk tong-tong kecil. Bejana-bejana ini bukan dari emas ataupun perak, melainkan transparan seolah dari batu-batu berharga berwarna kecoklatan. Bejana-bejana ini tampak bagiku tidak dibuat oleh manusia, melainkan tampak seolah bertumbuh. Kesan yang ditimbulkan oleh Melkisedek serupa dengan yang ditimbulkan Tuhan semasa hidup-Nya dalam pengajaran. Melkisedek seorang yang amat jangkung dan ramping, luar biasa lembut dan tulus. Ia mengenakan sehelai jubah panjang yang begitu putih dan berkilau hingga mengingatkanku akan jubah putih Tuhan pada saat Transfigurasi-Nya. Jubah putih Abraham tampak kumal dibandingkan dengan jubahnya. Ia mengenakan juga sebuah ikat pinggang dengan huruf-huruf serupa dengan yang kemudian dikenakan oleh para imam Yahudi, dan seperti mereka kepala Melkisedek diselubungi dengan sebuah mitra gothic kecil selama kurban. Rambutnya kuning kemilau bagai helaian-helaian panjang sutera yang berkilau-kilau dan wajahnya bercahaya.
Kisah selengkapnya silakan baca:
|
|
mistikus, stigmatis, visionaris (1774 - 1824)
|
|
|
“Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.”
~ Ibrani 7:1-5
|
KRISTUS, RAJA DAN IMAM UNTUK SELAMANYA
oleh: Faustus Luciferanus, imam (wafat ± tahun 304)
 Juruselamat kita menerima suatu pengurapan jasmaniah dan dengan demikian menjadi sungguh raja dan sungguh imam. Dari DiriNya Sendiri Ia adalah sekaligus raja dan imam; seorang Juruselamat tak dapat kurang dari itu. Dengarlah dalam kata-kata-Nya Sendiri bagaimana Ia menjadi seorang raja: Aku telah dilantik sebagai raja oleh Allah di Sion gunung-Nya yang kudus. Dengarlah dalam kata-kata Bapa bahwa Ia adalah seorang imam: Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek. Harun adalah yang pertama di bawah hukum yang dijadikan seorang imam dengan diurapi krisma, namun demikian Bapa tidak mengatakan, “menurut peraturan Harun” terkecuali jika diyakini bahwa imamat Juruselamat dapat diteruskan melalui warisan, sebab pada masa itu imamat Harun diteruskan melalui keturunan langsung. Tetapi imamat Juruselamat tidak diwariskan sebab imam ini hidup untuk selamanya. Sebab itu Kitab Suci mengatakan: “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.”
Di kalangan bangsa Israel, ada para raja dan imam yang sesungguhnya diurapi dengan minyak; mereka adalah entah raja atau imam. Tak ada seorang pun yang dapat menjadi sekaligus raja dan imam; pastilah salah satu. Hanya Kristus yang sekaligus raja dan imam; sebab Ia telah datang guna menggenapi hukum, Ia seorang yang memiliki kesempurnaan ganda rajawi dan imamat.
Mereka yang telah diurapi dengan minyak rajawi atau imamat, meski mereka menerima hanya satu dari pengurapan ini, disebut Messias. Akan tetapi, Juruselamat kita, yang adalah Kristus, diurapi oleh Roh Kudus agar ayat dalam Kitab Suci dapat digenapi: Allah, Allahmu, telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu. Jadi perbedaan antara Kristus yang satu dan banyak kristus yang lain adalah dalam pengurapan, sebab Ia diurapi dengan minyak kesukaan, yang berarti tak lain dari Roh Kudus.
Ini kita ketahui benar adanya dari Juruselamat Sendiri. Ketika Ia mengambil Kitab Yesaya, Ia membukanya dan membaca: Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku. Ia lalu mengatakan bahwa nubuat itu digenapi pada saat para pendengar mendengarnya.
Petrus, seorang tokoh dari antara para rasul, juga mengajarkan bahwa krisma yang menjadikan Kristus seorang Juruselamat adalah Roh Kudus; artinya, kuasa Allah. Ketika dalam Kisah Para Rasul Petrus berbicara kepada perwira yang tulus hati dan berbelaskasihan, di antaranya Petrus mengatakan: Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes, yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis.
Jadi kalian lihat bahwa Petrus juga mengatakan bahwa Yesus dalam kemanusiaan-Nya diurapi dengan Roh Kudus dan dengan kuat kuasa. Demikianlah Yesus dalam kemanusiaan-Nya sungguh menjadi Kristus. Dengan pengurapan Roh Kudus, Ia dijadikan sekaligus raja dan imam untuk selamanya.
|
|
Segala sesuatu yang dipratandai imamat Perjanjian Lama, menemukan penyelesaiannya dalam Yesus Kristus, yang adalah “pengantara antara Allah dan manusia” (1 Timotius 2:5). Melkisedek, “imam Allah yang Mahatinggi” (Kejadian 14:18), dipandang oleh tradisi Kristen sebagai “pratanda” imamat Kristus, “imam besar satu-satunya menurut peraturan Melkisedek” (Ibrani 5:10; 6:20). Kristus itu “kudus, tanpa salah, tanpa noda” (Ibrani 7:26) dan “oleh satu kurban saja ... Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan” (Ibrani 10:14), yaitu oleh kurban di salib-Nya, satu kali untuk selamanya.
~ Katekismus Gereja Katolik, #1544
|
KRISTUS HIDUP SELAMANYA UNTUK MENJADI PENGANTARA BAGI KITA
oleh: Fulgentius dari Ruspe, Uskup (tahun 468-533)
 Perhatikan di akhir doa kita tidak pernah mengatakan, “dengan pengantaraan Roh Kudus”, melainkan “dengan pengantaraan Yesus Kristus, PutraMu, Tuhan kami.” Melalui Misteri Inkarnasi, Yesus Kristus menjadi manusia, pengantara Allah dengan manusia. Ia adalah imam untuk selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek. Dengan mencurahkan darah-Nya Sendiri Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus. Ia bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia, yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam surga sendiri; di mana Ia di sebelah kanan Allah menjadi pengantara bagi kita.
Sungguh tepat bahwa Gereja terus merefleksikan misteri ini dalam doanya.
Misteri Yesus Kristus Imam Besar ini direfleksikan dalam pernyataan Rasul Paulus: Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Kita dulu memusuhi Bapa, tetapi sekarang telah diperdamaikan oleh wafat Kristus. Sebab itu, oleh Dia, kita mempersembahkan korban syukur, doa kita kepada Allah. Ia menjadi persembahan kita kepada Bapa, dan oleh Dia, persembahan kita sekarang berkenan kepada Allah. Untuk alasan inilah Rasul Petrus mendesak kita untuk dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Jadi, inilah sebabnya mengapa kita mempersembahkan doa kepada Allah Bapa kita, tetapi melalui Yesus Kristus Tuhan kita.
Apabila kita berbicara mengenai imamat Kristus, apakah yang kita maksud selain dari Inkarnasi? Melalui misteri ini, Putra Allah, walaupun dalam rupa Allah … telah mengosongkan Diri-Nya Sendiri dan mengambil rupa seorang hamba. Sebagai hamba, Ia telah merendahkan Diri-Nya dan taat sampai mati. Meski setara dengan Bapa, Ia menjadi sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat. Senantiasa setara dengan Bapa, Putra menjadi sedikit lebih rendah sebab Ia menjadi manusia. Kristus merendahkan Diri-Nya ketika Ia mengosongkan Diri-Nya Sendiri dan mengambil rupa seorang hamba.
Dengan keadaan ini, Kristus, Putra tunggal Allah, meski Ia Sendiri tetap Allah, menjadi seorang imam. Kepada-Nya bersama dengan Bapa, kita mempersembahkan kurban kita. Namun demikian, oleh Dia, kurban yang sekarang kita persembahkan adalah kudus, hidup dan berkenan kepada Allah. Sungguh, andai Kristus tidak mengurbankan Diri-Nya Sendiri bagi kita, kita tiada dapat mempersembahkan kurban apapun. Sebab dalam Dia kodrat manusiawi kita menjadi suatu persembahan yang menebus. Ketika kita mempersembahkan doa-doa kita melalui Dia, imam kita, kita mengaku bahwa Kristus sungguh memiliki daging dari bangsa kita. Jelas ini yang dimaksudkan Rasul ketika ia mengatakan: Setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa.
Akan tetapi, kita tidak hanya mengatakan “PutraMu” ketika kita mengakhiri doa kita. Kita juga mengatakan, “yang hidup dan bertahta bersama Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Dengan cara ini kita mengenangkan hakekat persatuan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Jadi, jelas, bahwa Kristus yang menjalankan peran imamat atas nama kita adalah Kristus yang sama yang menikmati hakekat persatuan dan kesetaraan dengan Bapa dan Roh Kudus.
|
|
Kristus, Imam Agung dan Pengantara satu-satunya, telah membuat Gereja-Nya menjadi satu kerajaan, “menjadi imam-imam bagi Allah, BapaNya” (Wahyu 1:6). Dengan demikian seluruh persekutuan umat beriman adalah imami. Orang beriman sebagai orang yang dibaptis melaksanakan imamatnya dengan cara bahwa setiap orang sesuai dengan panggilannya ikut serta dalam perutusan Kristus: Imam, Nabi dan Raja. Oleh Sakramen Pembaptisan dan Pengurapan orang beriman “disucikan untuk menjadi … imamat suci”.
~ Katekismus Gereja Katolik, #1546
|
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|