|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Maret 2010
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
SALIB YESUS DIPANCANGKAN
dari: Meditasi Beata Anna Katharina Emmerick
Ketika para algojo telah selesai menyalibkan Tuhan kita, mereka melilitkan tali-temali ke badan salib, dan mengikatkan ujung-ujung tali ke suatu balok panjang yang dipancangkan kuat ke atas tanah tak jauh dari sana; dengan bantuan tali-temali ini mereka mengangkat salib. Sebagian dari mereka menahan salib, sementara yang lainnya mendorong kaki salib ke lubang yang telah dipersiapkan - salib yang berat masuk ke dalam lubang dengan suatu hentakan yang hebat - Yesus mengerang lemah, segala luka-luka-Nya terkoyak parah dengan cara yang paling ngeri, darah memancar lagi, tulang-tulang-Nya yang setengah terlepas dari engselnya saling bertumbukan satu dengan yang lainnya. Para prajurit pembantu menggeser-geser salib agar menancap kuat ke dalam lubang, dan terlebih lagi mereka mengakibatkan salib terguncang-guncang dengan memasang lima pancang sekelilingnya guna menahan salib.
Suatu pemandangan yang mengerikan, sekaligus mempesona, menyaksikan salib diangkat tinggi di atas lautan manusia yang berkerumun di sekelilingnya; bukan hanya para prajurit yang mencemooh, kaum Farisi yang puas, dan orang-orang Yahudi yang brutal saja yang ada di sana, melainkan juga orang-orang asing dari segala penjuru. Suara sorak dan teriak cemooh menggema saat mereka melihat salib diangkat tinggi-tinggi; setelah terayun-ayun sejenak di udara, salib jatuh dengan dentuman hebat ke dalam lubang yang telah dipersiapkan di atas bukit karang. Namun, pada saat yang sama, pernyataan kasih dan ungkapan belas kasihan menggema pula di udara; perlu kita katakan bahwa pernyataan-pernyataan ini, ungkapan-ungkapan ini, disampaikan oleh yang terkudus dari antara umat manusia - Santa Perawan Maria - juga Yohanes, para perempuan kudus, dan siapa saja yang berhati murni. Mereka membungkuk hormat seraya menyembah “Sabda yang menjadi daging,” yang dipakukan pada kayu salib; mereka mengedangkan tangan-tangan mereka, seolah rindu memberikan pertolongan kepada Yang Mahakudus dari Yang Kudus, yang mereka lihat tergantung di salib dan ada dalam kuasa para musuh yang murka. Tetapi, ketika suara khidmad dentuman salib yang jatuh ke dalam lubang di atas bukit karang terdengar, suatu keheningan yang senyap merayap, segenap hati diliputi perasaan takjub yang tak dapat diungkapkan - suatu perasaan yang belum pernah dialami sebelumnya, dan yang tak seorang pun dapat menerangkannya, bahkan kepada dirinya sendiri. Segenap penghuni neraka gemetar karena ngeri, dan melampiaskan angkara murka mereka dengan berusaha membangkitkan dengki serta kebrutalan yang terlebih lagi dalam diri para musuh Yesus. Jiwa-jiwa di limbo dipenuhi sukacita dan pengharapan, sebab suara dentuman itu merupakan pratanda kebahagiaan bagi mereka; pratanda akan munculnya Pembebas mereka. Demikianlah salib terberkati Tuhan kita dipancangkan untuk pertama kalinya di muka bumi; kita dapat memperbandingkannya dengan pohon kehidupan di Taman Firdaus; oleh sebab luka-luka Yesus bagaikan sumber-sumber mata air yang kudus, yang daripadanya mengalir empat mata air yang ditujukan baik untuk memurnikan dunia dari kutuk dosa maupun untuk memberinya kesuburan, agar menghasilkan buah keselamatan.
Selengkapnya, silakan membaca:
|
|
dari Meditasi
mistikus, stigmatis, visionaris
(1774 - 1824)
|
PANDANGLAH AKU DI SALIB
 Pandanglah Aku di Salib… Jadi, Aku tidak membuatmu jijik dalam keadaan ini? Kejijikan manusia, jauh dari Bapa, sendirian, dengan beban dosa-dosa, disalibkan pada Salib… Masih dapatkah engkau memandang pada-Ku dengan penuh kepercayaan, penuh pengharapan dan keyakinan bahwa Aku adalah Tuhan-mu dan Mempelai-mu?... Semua orang telah meninggalkan-Ku dalam kebingungan mereka atas keterpurukan-Ku. Dua atau tiga jiwa yang setia memandang pada-Ku dengan airmata di pelupuk mata… BundaKu, BundaKu terkasih!... Murid yang begitu Aku kasihi, Maria Magdalena, dan engkau bersama mereka… Aku mengenalimu dan Aku merasa bahagia, tetapi di manakah yang lainnya? Di manakah Petrus, Batu Karang, yang topan badai tidak akan menguasainya? Di manakah Gereja-Ku yang baru yang akan segera muncul dari Luka ungu di Hati-Ku yang siap ditikam oleh prajurit? Ia akan muncul sebagai bunga yang terindah di Firdaus, yang dikandung dari Kasih dan diberi makan dengan Tubuh-Ku dan Darah-Ku yang akan terus tercurah bagi Gereja hingga akhir waktu, sebagaimana Aku lakukan pada saat ini.

O CRUX, AVE SPES UNICA!
dikutip dari: Paus Yohanes Paulus II, Homili 14 September 2003
O Crux, ave spes unica! Salam, ya Salib, satu-satunya pengharapan kami!
Dalam perayaan Liturgi Minggu ini, saudara dan saudari terkasih, kita diundang untuk mengarahkan pandangan pada Salib. Salib adalah “tempat istimewa” di mana kasih Allah dinyatakan dan ditunjukkan kepada kita….
Di Salib, kemalangan manusia dan kerahiman ilahi bertemu. Adorasi kepada kerahiman yang tak terbatas ini bagi manusia merupakan satu-satunya jalan untuk membuka diri terhadap misteri yang diungkapkapkan oleh Salib.
Salib dipancangkan di bumi dan tampaknya berakar dalam kejahatan manusia, tetapi Salib menjulang tinggi, seolah menunjuk surga, menunjuk kepada kebajikan Allah. Dengan Salib Kristus, Yang Jahat telah dikalahkan, maut ditaklukkan, hidup diberikan kepada kita, pengharapan dipulihkan, terang dianugerahkan. O Crux, ave spes unica! ….
“Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:14-15), demikian sabda Yesus. Jadi, apakah gerangan yang kita lihat ketika kita memandang kepada salib di mana Yesus ditinggikan (bdk. Yohanes 19:37)? Kita merenungkan tanda kasih Allah yang tak terhingga kepada umat manusia.
O Crux, ave spes unica! St Paulus berbicara mengenai tema yang sama dalam surat kepada jemaat di Efesus sebagaimana baru saja kita dengar. Kristus Yesus tak hanya sekedar menjadi manusia, menjadi sama dengan manusia dalam segala hal, malahan Ia mengambil rupa seorang hamba dan terlebih lagi merendahkan diri-Nya dengan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (bdk. Filipi 2:6-8).
Ya, “begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yohanes 3:16). Kita mengagungkan - dengan berlimpah syukur - betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan (bdk. Efesus 3:18-19)! O Crux, ave spes unica! ….
Di Taman Eden, di kaki pohon, ada seorang perempuan, yakni Hawa (bdk. Kejadian 3). Oleh bujuk rayu Si Jahat, ia mengambil apa yang ia pikir adalah kehidupan ilahi. Sebaliknya, yang diambilnya adalah benih maut yang kemudian masuk ke dalam dunia melaluinya (bdk. Yakobus 1:15; Roma 6:23).
Di Kalvari, di kaki pohon salib, ada seorang perempuan lain, yakni Maria (bdk. Yohanes 19:25-27). Dengan menerima rencana Allah, ia ikut ambil bagian secara intim dalam pemberian diri Putra kepada Bapa demi hidup dunia dan, dengan menerima amanat Yesus yang mempercayakannya kepada Yohanes Rasul, ia menjadi Bunda segenap umat manusia….
Melalui misteri Salib-Mu dan kebangkitan-Mu, selamatkanlah kami ya Tuhan! Amin.
|
|
“Lihatlah Salib tanda agung,
di sana bergantung Kristus,
Penyelamat Dunia.”
“Kami menyembah Engkau, ya Kristus, dan memuji-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia.”
|
SALIB KRISTUS ADALAH SUMBER SEGALA RAHMAT, SUMBER SEGALA KASIH KARUNIA
oleh St Leo Agung, Paus ( wafat 461 )
 Pemahaman kita, yang diterangi oleh Roh Kebenaran, hendaknya menerima dengan kemurnian dan kebebasan hati, kemuliaan salib sementara salib bersinar di surga dan di bumi. Pemahaman kita hendaknya melihat dengan penglihatan batin, makna kata-kata Tuhan ketika Ia bersabda mengenai sengsara-Nya yang akan segera datang: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.” Sesudahnya, Ia mengatakan: “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Ku-katakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Ketika terdengar suara Bapa datang dari surga, mengatakan: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi”, Yesus menanggapinya bagi orang banyak yang ada di sekeliling-Nya: “Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu. Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.”
Betapa mengagumkan kuasa salib; betapa menakjubkan melampaui segala perkataan kemuliaan sengsara: inilah kursi penghakiman Tuhan, penghukuman dunia, keagungan Kristus yang disalibkan.
Tuhan, Engkau menarik semua orang kepada-Mu agar sembah sujud segenap umat manusia di manapun dapat merayakan, dalam suatu sakramen yang sempurna dan kelihatan, apa yang dilaksanakan dalam satu bait di Yudea di bawah pertanda yang samar.
Sekarang ada tatanan kaum Lewi yang lebih agung, martabat yang lebih tinggi bagi jabatan tua-tua, pengurapan yang lebih sakral bagi imamat, sebab salib-Mu adalah sumber segala rahmat, sumber segala kasih karunia. Melalui salib, kaum beriman menerima kekuatan atas kelemahan, kemuliaan atas kecemaran, kehidupan atas kematian.
Tiada lagi macam-macam kurban hewan; satu persembahan tubuh dan darah-Mu adalah kegenapan dari segala macam-macam persembahan kurban, sebab Engkau adalah Anak Domba Allah yang sejati: Engkau menghapus dosa-dosa dunia. Dalam Diri-Mu Engkau mendatangkan kesempurnaan pada segala misteri, sehingga sebagaimana ada satu kurban sebagai ganti segala macam persembahan kurban lainnya, juga ada satu kerajaan yang dihimpun dari segenap ragam manusia.
Jadi, saudara-saudara terkasih, marilah kita mengakui apa yang oleh St Paulus, guru bangsa-bangsa, diakui dengan begitu penuh sukacita: “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: 'Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa.'”
Belas kasih Allah mati, bukan bagi orang-orang benar ataupun orang-orang kudus, melainkan bagi orang-orang jahat dan orang-orang berdosa dan, meski kodrat ilahi tak dapat disentuh oleh sengat maut, Ia mengenakan pada Diri-Nya, melalui kelahiran-Nya sebagai salah seorang dari kita, sesuatu yang dapat Ia persembahkan atas nama kita.
Kuasa kematian-Nya sekali berhadapan dengan kematian kita. Dalam kata-kata Nabi Hosea: Di manakah penyakit samparmu, hai maut, di manakah tenaga pembinasamu, hai dunia orang mati? Dengan mati, Yesus tunduk pada hukum-hukum maut; dengan bangkit kembali Ia menaklukkannya. Ia mengenyahkan sifat abadi maut untuk menjadikan maut suatu masalah waktu, bukan keabadian. Sebagaimana semua orang mati dalam Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan dalam Kristus.
|
|
“Marilah kita ingat bahwa dari Salib mengalir segala kasih karunia yang dilimpahkan atas kita dan bahwa karenanya, sebuah Salib yang diberkati adalah sumber rahmat, bahwa hendaknyalah kita kerap membuat Tanda Salib pada diri kita dan senantiasa melakukannya dengan hormat dan khidmad, dan, akhirnya, rumah kita janganlah pernah tanpa simbol keselamatan ini.”
~ St Yohanes Maria Vianney
|
Dalam suatu dialog antar agama di Samarinda, seorang non-Kristen bertanya, “Pastor, mengapa di setiap ruangan dalam rumah sakit Katolik, bahkan di kamar pasien sekalipun, selalu dipasang salib? Mengingat para pasien yang datang bukan hanya dari kalangan Katolik saja dapatkah salib-salib itu dipindahkan?”
Pastor menjawab, “Maaf, hal itu tidak bisa ditawar. Salib adalah identitas kami. Salib dipasang karena kami percaya bahwa Yesus menyelamatkan semua orang, termasuk orang bukan Katolik. Yesus mengasihi semua orang, Anda tidak harus menjadi Katolik untuk memohon kepada-Nya. Jika ada yang merasa terancam dengan dipasangnya salib dalam kamar pasien, kami tidak pernah memaksa siapa pun untuk berobat ke rumah sakit Katolik.”
(Sumber: homili P Martin M. Anggut, SVD, 14 September 2001)
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|