|
Surga, Api Penyucian dan Neraka
~Penampakan SP Maria Medjugorje
|
Para visionaris, dari kiri: Mirjana, Vicka, Ivanka, Ivan, Marija, dan Jakov di depan
|
|
Pada tanggal 24 Juni 1981, sekitar pukul 6 petang, Bunda Maria menampakkan diri di bukit Crnica, beberapa ratus meter di atas tempat yang disebut Podbrdo, dalam wilayah Paroki Medjugorje (di Bosnia - Herzegovina, Eropa selatan) sebagai seorang perempuan muda dengan seorang kanak-kanak dalam buaiannya, kepada enam anak remaja. Bunda Maria, yang disapa "Gospa" dalam bahasa Croatia, sejak itu menampakkan diri dan menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan kasih kepada para visionaris: (Mirjana Dragicevic-Soldo, Ivanka Ivankovic-Elez, Jakov Colo, Ivan Dragicevic, Vicka Ivankovic-Mijatovic, dan Marija Pavlovic-Lunetti).
Dua dari antara para visioner, yakni Vicka dan Jakov, secara fisik dibawa ke surga, purgatorium, dan neraka, sedang kepada yang lain diberikan suatu penglihatan mengenainya. Gospa mengatakan kepada para visionaris bahwa banyak orang tidak percaya bahwa surga, purgatorium, dan neraka itu ada dan sebab itu Gospa menghendaki para visionaris menjadi saksi atas keberadaan surga, purgatorium, dan neraka melalui pengalaman mereka.
Pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman tahun 1981, Gospa memperlihatkan surga. Menurut para visionaris, surga itu luar biasa indah tak terkatakan, dengan banyak orang dan malaikat. Empat hari kemudian Gospa seakan menghilang, dan bahwa neraka muncul di hadapan mereka. Neraka itu sangat mengerikan! Seperti lautan api. Di dalamnya terdapat sekelompok besar orang. Dikatakan bahwa di tengah-tengah semua itu terlihat seorang perempuan berambut pirang panjang dengan tanduk-tanduk, dan bahwa setan-setan berlompatan ke arahnya dari segala penjuru.
Vicka, yang bersama Jakov secara fisik dibawa ke surga, menceritakannya sebagai berikut: "Limabelas hari - aku tidak tahu persis - setelah penglihatan mengenai neraka ... aku dan Jakov pergi ke Citluk untuk sesuatu hal. Kami kembali sekitar pukul tiga sore. Kami berhenti di rumahku sebentar, dan lalu melanjutkan perjalanan ke rumah Jakov untuk memulangkannya dengan selamat kepada ibunya ... Ibunya sedang pergi ke suatu tempat, dan Gospa sekonyong-konyong muncul. Ia menyapa kami dengan 'Terpujilah Yesus!' dan berkata kepada kami bahwa ia akan membawa kami ke surga ... Kami ketakutan. Jakov mulai menangis. Dia mengatakan dia tak akan pergi sebab dia adalah satu-satunya yang dimiliki ibunya, dan bahwa aku harus pergi sendirian. … Gospa tidak mengatakan apa-apa. Kami masih berlutut. Gospa memegang tangan kananku dan tangan kiri Jakov dan berdiri di antara kami, dengan wajahnya terarah kepada kami, dan kami segera mulai terangkat ke atas ... lurus menembus langit-langit. Rumah menghilang, dan kami pergi ... Tampak bagiku kami naik ke atas ..."
Jakov mengatakan, " ... ketika Gospa membawa kami ke surga, aku sangat takut. Aku baru berumur sebelas tahun dan ketika Gospa mengatakan kepada kami bahwa ia akan membawa kami bersamanya, aku tak hendak pergi bersamanya. Aku takut aku akan mati. Dan aku katakan kepada Gospa, 'Mengapakah engkau tidak membawa Vicka saja. Ibunya punya delapan anak sedangkan aku adalah anak tunggal ibuku.'"
"Gospa telah memperlihatkan kepadaku surga, neraka, dan purgatorium ... Banyak orang sekarang tidak percaya bahwa ada tempat atau keadaan kehidupan sesudah kematian tubuh. Mereka percaya bahwa ketika kita mati, kehidupan berakhir. Gospa mengatakan tidak; sebaliknya, kita hanyalah penumpang di bumi. Ia telah datang guna mengingatkan kita akan kebenaran-kebenaran abadi Injil," tambah Vicka.
Menurut Vicka surga dan neraka adalah tempat aktual. "Aku melihat dengan mataku ... Dan lalu aku mengunjungi tempat-tempat ini. Jakov dan aku dibawa ke sana oleh Gospa."
Marija melihat semua penglihatan pada penampakan yang sama - surga, purgatorium, dan neraka. Ia mengatakan bahwa begitu jiwa berada di purgatorium, jiwa tidak dapat binasa dan pergi ke neraka melainkan hanya bisa pergi ke surga. Ketika seorang meninggal, Allah memberinya rahmat dan berkat istimewa untuk memutuskan ke mana ia sendiri harus pergi. Allah memberinya suatu gambaran, yang merupakan review seluruh hidupnya, apa yang telah ia lakukan dalam hidupnya, dan jadi Allah memberinya rahmat untuk memutuskan ke mana ia harus pergi, seturut hidupnya. Dia mempunyai pilihan bebas.
Bagaimana dengan jiwa yang pantas masuk neraka, tetapi jiwa ingin pergi ke surga? Apakah yang terjadi, sebab bukankah Allah memberi jiwa pilihan? "Ya," kata Marija, "tapi Allah memberimu rahmat-rahmat istimewa ini untuk memahami sepenuhnya hingga kau akan menjawab hanya dengan jujur." Jadi, Allah tidak pernah mengirimkan siapa pun ke neraka, "kita adalah hakim atas hidup kita," tambah Marija. "Kita memilih surga, neraka, atau purgatorium bagi diri kita sendiri. Gospa menjelaskan kepadaku bahwa di saat ajal kita adalah orang yang sama dengan kita semasa hidup, meski kita tak lagi dapat menggunakan tubuh kita. Tubuh kembali ke bumi. Kita menerima terang di saat ajal untuk melihat rencana Allah bagi kita sejak awal. Lalu, kita paham bagaimana kita telah memilih untuk menyelaraskan diri dengan rencana Ilahi-Nya. Dalam terang kebenaran, kita tahu di mana kita seharusnya berada, di mana kita cocok, dan kita memilih surga, neraka, atau api penyucian."
GAMBARAN SURGA
Keenam visionaris mengatakan bahwa tiada kata yang mampu menggambarkan keindahan surga dan andai kita tahu apa yang menanti kita di surga, maka tak akan ada kesulitan ataupun pencobaan yang tak hendak kita alami demi ganjaran hidup kekal di surga.
Vicka menceritakan pengalamannya bahwa ketika mereka tiba di surga, ada sebuah pintu kayu besar. Pintu itu tertutup, tetapi ketika mereka tiba Gospa membukanya dan mereka masuk ke dalam surga. St Petrus berdiri di sebelah kanan pintu. "Aku langsung tahu bahwa itu adalah dia. Dengan kunci, agak kecil, berjenggot, agak tegap, berambut." Menurut Vicka, surga itu "... tak dapat dijelaskan. Sesuatu yang melampaui gambaran. Penuh dengan semacam cahaya indah ... orang-orang ... bunga-bungaan ... malaikat-malaikat ... Semuanya dipenuhi sukacita tak terkatakan. Hatimu terpikat apabila melihatnya."
"Surga adalah suatu tempat yang sangat luas, dan memiliki suatu cahaya benderang yang terus ada. Adalah suatu kehidupan yang tidak kita kenal di sini di bumi. Kami melihat orang-orang mengenakan jubah abu-abu, merah muda, dan kuning. Mereka berjalan-jalan, berdoa, dan bernyanyi. Malaikat-malaikat kecil terbang di atas mereka. Gospa menunjukkan kepada kami betapa bahagianya orang-orang ini. Kita bisa melihatnya dari wajah mereka. Tetapi tidaklah mungkin untuk menggambarkan dengan kata-kata kebahagiaan besar yang aku lihat di surga ... Di Firdaus, apabila Gospa lewat, semua menyalaminya, dan ia menyalami mereka. Ada saling menghargai di antara mereka ... Mereka berdiri di sana berkomunikasi dengannya, seperti dalam sebuah terowongan, hanya tidak persis seperti sebuah terowongan, tapi terowongan adalah perbandingan yang paling dekat. Orang-orang berdoa, mereka menyanyi, mereka memandang ... Orang-orang di surga tahu kepenuhan mutlak dari suatu makhluk ciptaan."
Meski Vicka berada di surga selama duapuluh menit, namun ia tidak berbicara dengan orang-orang di sana. "Sangat aneh. Mereka berbicara, tetapi aku tak dapat mengerti mereka ... Orang-orang berada dalam kelompok-kelompok kecil. Aku bersama Jakov dan Gospa. Kami saling berbicara satu sama lain, namun tak ada komunikasi dengan orang-orang lain. Mengenai orang-orang di sana, Gospa hanya mengatakan kepada kami, 'Kau lihat bagaimana orang-orang yang ada di surga berbahagia?'"
Mirjana tidak secara fisik pergi ke surga, tetapi ia melihat surga dalam suatu penglihatan. "Aku melihat surga seolah sebuah film. Hal pertama yang aku perhatikan adalah wajah orang-orang di sana, mereka memancarkan semacam cahaya batin yang menunjukkan betapa sangat bahagianya mereka." Mirjana menegaskan bahwa surga itu suatu tempat yang nyata. "Ya. Pepohonan, padang-padang rumput, langit sama sekali berbeda dari apapun yang kita kenal di bumi. Dan terangnya jauh lebih cemerlang. Surga indah melampaui perbandingan apapun yang mungkin dengan yang aku tahu di bumi." Ketika ditanya apakah orang-orang yang dilihatnya memiliki tubuh, Mirjana menjawab ya. "Mereka berbeda dari kita yang sekarang ini. Mungkin mereka semua sekitar 30 tahun ... Mereka berjalan-jalan di suatu taman yang indah. Mereka memiliki segalanya. Mereka tiada membutuhkan atau menginginkan apa-apa. Mereka sama sekali penuh ... Mereka berpakaian seperti pakaian yang dikenakan Yesus."
"Gospa mengatakan bahwa banyak orang di dunia sekarang ini tidak percaya bahwa surga itu ada. Ia mengatakan bahwa Allah telah memilih kami enam visionaris untuk menjadi alat kasih dan kerahiman-Nya. Aku telah melihat surga secara pribadi. Surga itu ada! Aku pernah melihatnya! Mereka yang tetap setia kepada Allah sampai akhir akan melihat surga sebagai ganjaran atas kesetiaan mereka."
Ivanka melihat purgatorium dan surga sebagai suatu gambar. Ia tidak melihat neraka sebab ia mengatakan kepada Gospa tidak ingin melihatnya. "Surga adalah suatu tempat yang sangat, sangat indah. Yang terindah ... Semua orang yang aku lihat dipenuhi kebahagiaan yang tak dapat aku jelaskan - dan tak dapat aku lupakan." "Allah menciptakan kita untuk surga. Jika kau berdoa, kau akan tahu itu," tambahnya.
Mengenai penglihatannya Marija mengatakan, "Seperti kau menonton sebuah film di layar atau melihat ke luar jendela. Aku beroleh suatu penglihatan. Aku tidak sungguh-sungguh berada di sana seperti visionaris lain ... Aku belum pernah melihat suatu gambar yang demikian sebelumnya; tak seorang pun bahkan dapat mulai membayangkan seperti apa surga itu ... orang-orang berada dikelilingi bunga. Mereka semua berusia sama. Tak ada seorang pun di surga yang lebih tua dari usia Kristus. Orang-orang di surga dipenuhi sukacita dan mereka semua mengucap syukur atas karunia-karunia yang diberikan Allah kepada mereka. Setiap hari mereka menyadari betapa banyak kasih Allah bagi mereka ... Ada banyak sekali orang."
"Surga lebih berharga dari apapun!" tegas Ivan, " Yesus menunjukkan kepada kita bahwa, dengan wafat-Nya di salib, wafat-Nya bukanlah akhir. Ia bangkit dari antara orang mati, dimuliakan guna mengakhiri kematian selamanya bagi anak-anak Allah. Orang-orang di surga bahagia. Mereka hidup dalam kepenuhan Allah."
GAMBARAN API PENYUCIAN
Gospa memperlihatkan kepada para visionaris betapa jiwa-jiwa di api penyucian menderita dan betapa mereka sangat tergantung pada doa-doa kita. Vicka menerangkan, "Purgatorium adalah suatu area tak berujung berwarna kelabu. Di sana cukup gelap. Aku bisa merasakan orang-orang tercekik dan menderita di sana. Gospa mengatakan bahwa kita harus berdoa bagi jiwa-jiwa yang tertahan di purgatorium. Ia mengatakan bahwa hanya doa-doa dan kurban-kurban kita yang dapat membebaskan mereka dari tempat itu ... Orang-orang di sana tak berdaya. Mereka sungguh menderita. Kita bisa menjadi sedikit seperti Yesus jika kita melakukan sedikit silih sukarela bagi jiwa-jiwa di api penyucian, teristimewa jiwa-jiwa yang diabaikan oleh keluarga mereka di dunia ... Aku menyadari penderitaan mereka. Aku tahu sebagian dari siksaan mereka. Aku tahu betapa mendesaknya mereka membutuhkan doa-doa kita. Mereka begitu kesepian, hingga nyaris mual mengenangkan saat-saat aku berada di sana. Sungguh suatu sukacita besar melakukan silih bagi jiwa-jiwa malang itu sebab aku tahu betapa banyak itu menolong mereka ... Dan banyak dari anggota keluarga kita yang telah meninggal sangat membutuhkan doa-doa kita. Gospa mengatakan bahwa kita harus berdoa dengan berani bagi mereka agar mereka dapat pergi ke surga. Mereka tiada berdaya menolong diri mereka sendiri."
Mirjana menambahkan, "Ada beberapa tingkatan di api penyucian. Semakin banyak kau berdoa di dunia, semakin tinggi tingkatmu di api penyucian ... Tingkat terendah adalah yang paling dekat ke neraka, di mana penderitaannya paling dahsyat. Tingkat tertinggi adalah yang paling dekat dengan surga, dan penderitaannya paling ringan. Di tingkat berapa kau berada tergantung pada keadaan kemurnian jiwamu. Semakin rendah tingkat orang di purgatorium, semakin sulit mereka dapat berdoa dan semakin menderita mereka. Semakin tinggi tingkat orang di purgatorium, semakin mudah baginya untuk berdoa, semakin ia menikmati berdoa dan semakin ringan ia menderita ... Gospa meminta kita untuk berdoa bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Mereka tiada berdaya untuk berdoa bagi diri mereka sendiri. Melalui doa, kita di dunia dapat berbuat banyak demi menolong mereka. Gospa mengatakan kepadaku bahwa ketika jiwa-jiwa meninggalkan api penyucian dan pergi ke surga kebanyakan adalah pada Hari Natal."
"Banyak orang di sana. Mereka menderita hebat ... Mereka adalah orang-orang normal, segala macam orang. Ada banyak penderitaan fisik ... Aku bisa melihat orang-orang menggigil, meronta, dan menggeliat kesakitan ... Aku melihat tempat ini untuk waktu yang singkat ... Gospa bersamaku (selama penglihatan). Ia menjelaskan bahwa ia ingin aku melihat purgatorium. Ia mengatakan begitu banyak orang di di dunia pada masa ini bahkan tak tahu mengenai purgatorium ... Aku tak bisa mendengar mereka. Aku hanya melihat mereka. Gospa mengatakan begitu banyak orang meninggal yang diabaikan oleh orang-orang yang mereka kasihi. Mereka tiada dapat menolong diri mereka sendiri di api penyucian. Mereka samasekali tergantung pada doa-doa dan kurban-kurban dari orang-orang yang murah hati di dunia yang mengenangkan mereka. Gospa berharap anak-anaknya sendiri akan menolong jiwa-jiwa di api penyucian dengan doa dan puasa dan berbagai penitensi bagi jiwa-jiwa malang demi membayar silih bagi mereka ... Mereka yang telah meninggal dunia tiada lagi memiliki kehendak bebas seperti yang mereka miliki di dunia. Mereka tiada lagi memiliki tubuh. Tak lagi mungkin bagi mereka untuk menyilih hal-hal yang mereka lakukan ketika mereka masih memiliki tubuh yang menyakiti dan merugikan diri mereka sendiri dan orang-orang lain. Pada tanggal 24 Juli 1982, Gospa mengatakan: 'Kita pergi ke surga dalam kesadaran penuh akan terpisahnya tubuh dan jiwa. Adalah salah mengajar orang bahwa kita dilahirkan kembali berkali-kali dan bahwa kita berpindah ke tubuh-tubuh yang berbeda. Orang dilahirkan hanya sekali. Tubuh, yang diambil dari bumi, terurai setelah kematian. Tubuh tidak pernah kembali untuk hidup lagi. Manusia menerima tubuh yang ditransfigurasikan. Barangsiapa melakukan sangat banyak kejahatan selama hidupnya dapat pergi langsung ke surga jika dia mengaku, sungguh menyesal atas apa yang telah dia lakukan, dan menyambut Komuni di akhir hidupnya.' Gospa mengatakan bahwa jiwa-jiwa di api penyucian dapat melihat orang-orang yang mereka kasihi pada saat-saat ketika kita berdoa bagi mereka dengan menyebutkan namanya."
"Gospa hendak memperingatkan anak-anaknya akan akibat dari pilihan mereka di sini di dunia," kata Ivanka ketika ditanya mengapa Gospa memperlihatkan surga dan purgatorium kepadanya.
Ivan membagi pengalamannya sebagai berikut: "Gospa mengatakan kepadaku bahwa mereka yang pergi ke purgatorium adalah mereka yang berdoa dan percaya hanya sesekali - bahwa mereka dipenuhi kebimbangan, bahwa mereka tidak yakin bahwa Allah ada. Mereka tidak tahu bagaimana berdoa semasa di dunia, atau jika mereka tahu, mereka tidak berdoa ... Jiwa-jiwa di api penyucian menderita. Jika tak ada yang berdoa bagi mereka, mereka bahkan terlebih menderita."
GAMBARAN NERAKA
Hanya empat dari enam visioner yang melihat neraka. Mirjana dan Ivanka memilih untuk tidak melihatnya. Ivan dan Marija melihat penglihatan akan neraka, sementara Vicka dan Jakov secara fisik dibawa ke neraka oleh Gospa.
"Kami melihat banyak orang di neraka," demikian jelas Vicka, "Banyak yang sudah berada di sana, dan akan lebih banyak lagi yang akan pergi ke sana sesudah mereka mati ... Gospa mengatakan bahwa orang-orang yang berada di neraka ada di sana sebab mereka memilih untuk pergi ke sana. Mereka ingin pergi ke neraka ... Kita semua tahu bahwa ada orang-orang di dunia ini yang tak hendak mengakui bahwa Allah ada, meski Ia menolong mereka, memberi mereka hidup dan matahari dan hujan dan makanan. Allah selalu berupaya mendorong mereka ke jalan kekudusan. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak percaya, dan mereka menyangkal-Nya. Mereka menyangkal-Nya, bahkan ketika saat ajal tiba. Dan mereka terus menyangkal-Nya, sesudah mereka mati. Ini adalah pilihan mereka. Adalah kehendak mereka bahwa mereka pergi ke neraka. Mereka memilih neraka."
"Di tengah-tengah tempat ini adalah sebuah api besar, bagai suatu lautan api yang mengamuk. Kita bisa melihat orang-orang sebelum mereka masuk ke dalam api, dan lalu kita bisa melihat mereka keluar dari api. Sebelum mereka masuk ke dalam api, mereka terlihat seperti orang normal. Semakin mereka melawan kehendak Allah, semakin dalam mereka masuk ke dalam api, dan semakin dalam mereka pergi, semakin mereka murka melawan-Nya. Ketika mereka keluar dari api, mereka tak lagi memiliki bentuk manusia; mereka lebih seperti binatang buruk, tapi tak seperti apa pun di bumi. Seolah mereka tak pernah menjadi manusia sebelumnya ... Mereka mengerikan. Jelek. Penuh angkara murka. Dan masing-masing berbeda; tak ada barang dua pun yang tampak sama ... Ketika mereka keluar, mereka mengamuk dan menghancurkan segala yang ada di sekitarnya dan mendesis dan mengertakan gigi dan menjerit melengking.
Ketika ditanya apakah penglihatan akan neraka mempengaruhi cara doanya, Vicka menjawab, "Oh, ya! Sekarang aku berdoa demi pertobatan orang-orang berdosa! Aku tahu apa yang menanti mereka jika mereka menolak untuk bertobat."
"Orang-orang berpaling dari Allah dengan pilihan yang mereka buat," jelas Vicka, "Dengan cara ini mereka memilih untuk masuk ke dalam api neraka di mana mereka membakar habis segala hubungan dengan Allah. Itulah sebabnya mereka tiada pernah dapat kembali kepada Allah. Dibutuhkan kerahiman Allah untuk dapat kembali kepada-Nya. Di neraka, mereka tiada lagi memiliki akses ke kerahiman Allah ... Mereka memilih untuk menghancurkan keindahan dan kebaikan mereka. Mereka memilih untuk menjadi buruk dan mengerikan. Orang-orang melakukan ini sepanjang waktu. Setiap pilihan yang melawan Allah, perintah-perintah Allah, kehendak Allah, membakar citra Allah dalam diri kita ... Mereka menjadi satu dengan neraka bahkan semasa mereka masih memiliki tubuh mereka. Pada saat kematian mereka terus sebagaimana mereka adanya ketika mereka masih memiliki tubuh."
Menurut Marija, neraka "… adalah suatu area yang sangat luas dengan sebuah lautan besar api di tengahnya. Ada banyak orang di sana. Aku teristimewa memperhatikan seorang gadis muda yang cantik. Akan tetapi ketika dia datang dekat api, dia tak lagi cantik. Dia keluar dari api seperti seekor binatang; dia bukan lagi manusia. Gospa mengatakan kepadaku bahwa Allah memberikan kepada kita semua pilihan. Setiap orang menanggapi pilihan-pilihan ini. Setiap orang dapat memilih apakah dia ingin pergi ke neraka atau tidak. Siapa pun yang pergi ke neraka memilih neraka."
Bagaimanakah dan mengapakah suatu jiwa memilih neraka bagi dirinya untuk selama-lamanya? "Di saat ajal," jelas Marija, "Allah memberi kita terang untuk melihat diri kita sendiri sebagaimana kita sebenarnya. Allah memberikan kebebasan memilih kepada setiap orang semasa hidupnya di dunia. Orang yang hidup dalam dosa di dunia dapat melihat apa yang telah dia lakukan dan mengenali dirinya sebagaimana dia sebenarnya. Ketika dia melihat dirinya sendiri dan hidupnya, satu-satunya tempat yang mungkin baginya adalah neraka. Dia memilih neraka, karena itulah dia. Di sanalah dia pantas. Ini adalah keinginannya sendiri. Allah tidak membuat pilihan. Allah tidak mengutuk siapa pun. Kita mengutuk diri kita sendiri. Setiap individu memiliki pilihan bebas. Allah memberi kita kebebasan."
Bagaimanakah dengan orang-orang yang tumbuh dewasa dengan ditipu secara rohani, dengan diberitahu bahwa Allah tidak ada, bahwa tidak ada Allah? Marija menjawab, "Orang, saat dia tumbuh dewasa, dapat berpikir. Setiap orang tahu dan dapat mengenali apa yang baik dan apa yang jahat pada saat mereka tumbuh dewasa. Allah memberi kita kebebasan memilih. Kita dapat memilih yang baik atau yang jahat. Setiap orang memilih di sini dalam hidup ini apakah dia pergi ke surga atau neraka."
Bagaimanakah kita memilih surga atau neraka atau api penyucian bagi diri kita sendiri? "Di saat ajal, Allah memberikan kepada setiap orang rahmat untuk melihat keseluruhan hidupnya, untuk melihat apa yang telah dia lakukan, untuk mengenali akibat dari pilihan-pilihannya di dunia. Dan setiap orang, ketika dia melihat dirinya dalam terang realita ilahi, memilih bagi dirinya tempat di mana seharusnya ia berada. Setiap individu memilih bagi dirinya sendiri apa yang secara pribadi layak baginya untuk selama-lamanya."
Jakov enggan membicarakan neraka, "Sangat jarang aku berbicara tentang neraka ... aku memilih untuk tidak berpikir tentang neraka. Penderitaan yang dipilih sendiri di sana adalah di luar kemampuan kita untuk memahaminya. … Karena tak seorang pun harus pergi ke neraka. Ini adalah kesia-siaan yang paling mengerikan." Apakah yang dapat dilakukan orang agar terhindar dari neraka? "Percaya kepada Allah, apa pun yang terjadi dalam hidup," tegasnya.
Sumber : 1. Medjugorje; www.medjugorje.com; 2. berbagai sumber
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|