|
Neraka, Api Penyucian dan Surga
Beata Anna Katharina Emmerick diberitahu oleh Tuhan bahwa karunia yang dianugerahkan kepadanya dalam melihat masa lampau, sekarang, dan masa mendatang dalam penglihatan mistik adalah lebih besar dibandingkan yang dianugerahkan kepada siapa pun dalam sejarah. Anna Katharina dilahirkan di Flamske di Westphalia, Jerman, pada tanggal 8 September tahun 1774. Ia dapat memahami bahasa Latin liturgis sejak dari Misa pertamanya. Ia menjadi seorang biarawati Ordo Augustinian di Dülmen. Selama 12 tahun terakhir masa hidupnya, ia tidak menyantap makanan selain dari Komuni Kudus, dan tidak minum apapun selain dari air putih, hidupnya sepenuhnya bergantung pada Ekaristi Kudus. Dari tahun 1802 hingga wafatnya, ia dianugerahi luka-luka Mahkota Duri, dan dari tahun 1812, stigmata penuh Tuhan kita, termasuk salib di dadanya dan luka akibat ditembusi tombak.
Beata Anna Katharina Emmerick dianugerahi karunia membaca hati, dan ia melihat, secara aktual, dengan detil-detil visual, fakta-fakta iman Katolik yang oleh sebagian besar dari kita harus diterima berdasarkan iman saja. Kebenaran-kebenaran dasar katekese - malaikat, setan, purgatorium, kehidupan Tuhan kita dan Bunda Maria, Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi, rahmat sakramen-sakramen - semua kebenaran ini tampak nyata baginya senyata dunia materiil. Wahyu-wahyunya menjadikan dunia adikodrati yang tersembunyi hidup. Berikut adalah beberapa dari wahyunya menyangkut neraka, api penyucian dan surga.
NERAKA
Ketika beroleh anugerah penglihatan mengenai Yesus Turun ke Tempat Penantian, Beata Anna Katharina Emmerick melihat neraka sebagai berikut:
"… Akhirnya, aku melihat Yesus menghampiri pusat sebuah jurang yang luas, begitulah, ke neraka itu sendiri, dan ekspresi wajah-Nya sungguh teramat garang.
Bagian luar neraka sangat mengerikan serta menakutkan; merupakan suatu bangunan yang sangat besar dan kokoh; batu-batu granit yang membentuknya, walau berwarna hitam, namun memancarkan cahaya metalik, pintu-pintunya yang gelap dan berat dikunci dengan gerendel-gerendel yang begitu ngeri hingga tak seorang pun sanggup memandangnya tanpa merasa gemetar. Erangan-erangan dalam dan seruan-seruan keputusasaan terdengar jelas walau pintu-pintu tertutup rapat; tetapi, oh, siapakah gerangan yang dapat menggambarkan jerit dan pekik miris yang memekakkan telinga saat gerendel-gerendel dilepaskan dan pintu-pintu dibuka; dan oh, siapakah gerangan yang dapat melukiskan penampilan menyedihkan dari para penghuni tempat terkutuk ini!
Bentuk yang biasa digambarkan untuk Yerusalem Surgawi dalam penglihatan-penglihatanku adalah sebagai suatu kota yang indah serta aman sentosa, dan tingkat-tingkat kemuliaan yang berbeda dengan mana mereka yang terpilih diangkat, ditunjukkan oleh keindahan istana-istana mereka, atau buah-buahan dan bunga-bungaan mengagumkan yang menghiasi kebun dan taman. Neraka diperlihatkan kepadaku dalam bentuk yang sama, tetapi semua yang ada di dalamnya adalah kebalikannya, pengap, kacau, serta penuh sesak; segala sesuatu cenderung memenuhi benak dengan perasaan sakit dan menderita; tanda-tanda amarah dan murka Allah terlihat di mana-mana; keputusasaan, bagaikan burung nazar, menggerogoti setiap hati; pertikaian dan kesengsaraan merajalela. Dalam Yerusalem Surgawi, segalanya damai sejahtera dan harmoni abadi; awal, kegenapan dan akhir dari segala sesuatu adalah kebahagiaan yang sejati dan sempurna; kota penuh dengan bangunan-bangunan indah yang dihias begitu rupa hingga mempesona setiap mata dan memikat setiap hati; para penghuni tempat tinggal yang penuh sukacita ini diliputi kebahagiaan dan kegembiraan yang meluap-luap, taman dan kebun tampak meriah dengan bunga-bunga cantik dan pepohonan sarat dengan buah-buah sedap yang memberi kehidupan kekal. Dalam kota neraka, tak suatu pun yang dapat dilihat selain dari penjara bawah tanah yang suram, gua-gua yang gelap, padang-padang gurun yang mengerikan; bau busuk merebak, penuh dengan berbagai jenis binatang melata berbisa yang menjijikkan yang dapat di bayangkan. Di surga, kalian menyaksikan kebahagiaan dan persekutuan harmonis para kudus; di neraka, pertikaian celaka yang terus-menerus, segala bentuk dosa dan kejahatan, baik dalam bentuk-bentuk yang paling mengerikan yang dapat dibayangkan, maupun diperlihatkan dalam berbagai macam siksa yang ngeri. Segala sesuatu dalam tempat tinggal terkutuk ini cenderung memenuhi benak dengan kengerian; tak sepatah kata penghiburan maupun gagasan yang menenangkan hati ada di sana; satu-satunya pemikiran yang berkecamuk, bahwa keadilan Allah yang Mahakuasa yang menimpa mereka yang terkutuk tak lain adalah apa yang memang sepantasnya bagi mereka, merupakan penghukuman hebat yang menyengsarakan hati mereka. Kejahatan menyatakan dirinya yang asli, dalam warna-warna suram memuakkan, disingkapkan dari topeng yang menyembunyikannya semasa di dunia, dan ular neraka tampak melahap dengan rakus mereka yang mencintai ataupun mengembangkannya semasa di dunia ini. Singkat kata, neraka adalah bait kesengsaraan dan keputusasaan, sementara Kerajaan Allah adalah bait damai sejahtera dan kebahagiaan. Hal-hal ini lebih mudah dipahami apabila dilihat; tetapi hampir-hampir tak mungkin digambarkan dengan jelas.
Lontaran dahsyat sumpah-serapah, kutuk, umpat, jerit keputusasaan, dan seruan-seruan mengerikan yang, bagaikan sambaran petir, meledak ketika pintu-pintu gerbang neraka dibuka oleh para malaikat, bahkan sungguh sulit dibayangkan. Tuhan kita pertama-tama berbicara kepada jiwa Yudas, dan para malaikat kemudian memaksa segenap setan untuk mengakui serta menyembah Yesus. Setan-setan itu pastilah lebih suka menanggung siksa yang paling ngeri daripada dihina begitu rupa; tetapi mereka semua harus taat. Banyak dari antara iblis itu yang dirantai pada sebuah lingkaran yang ditempatkan sekeliling lingkaran-lingkaran lain. Di pusat neraka aku melihat suatu jurang yang gelap serta mengerikan, ke dalam jurang inilah Lucifer dicampakkan, setelah dibelenggu kuat-kuat dengan rantai-rantai; awan tebal dari asap belerang yang hitam membubung dari kedalamannya yang ngeri, dan menyelubungi si ular tua dalam gumpalan-gumpalannya yang suram, dengan demikian berhasil menyembunyikannya dari setiap mereka yang melihatnya. Tuhan Sendiri telah memaklumkan; juga diberitahukan kepadaku, jika aku mengingatnya dengan tepat bahwa ia akan dilepaskan untuk masa limapuluh atau enampuluh tahun sebelum tahun Kristus 2000. Tanggal-tanggal dari banyak peristiwa lain dinyatakan kepadaku, yang tak dapat aku ingat lagi sekarang, tetapi sejumlah setan akan dilepaskan jauh lebih awal dari Lucifer, untuk mencobai manusia, dan untuk dipakai sebagai alat murka ilahi. Aku pikir bahwa sebagian dari mereka pastilah telah dibebaskan bahkan pada masa sekarang ini, sementara yang lainnya akan segera dibebaskan dalam waktu dekat.
Sama sekali tidaklah mungkin bagiku untuk menggambarkan segala hal yang diperlihatkan kepadaku; sungguh teramat banyak hingga tak dapat aku cukup meringkasnya guna menggambarkan serta menerangkannya agar dapat dimengerti dengan jelas. Di samping itu sengsaraku demikian hebat, dan apabila aku berbicara mengenai penglihatan-penglihatanku, aku melihat penglihatan-penglihatan itu dalam mata jiwaku, digambarkan dengan begitu hidup, hingga penglihatan itu hampir-hampir cukup mengakibatkan suatu makhluk fana yang lemah sepertiku ini mati. (selengkapnya, silakan lihat Dukacita Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus oleh B. Anna Katharina Emmerick)
API PENYUCIAN
Beata Anna Katharina Emmerick memiliki berbagai pengalaman mistik sehubungan dengan purgatorium, sebagaimana dikisahkannya sendiri.
Yang pertama terjadi pada tanggal 24 September 1820: "Aku mendapat suatu tugas berat di 'rumah perkawinan', aku tak dapat menyelesaikannya; aku harus berjuang untuk membersihkan banyak sampah menggunakan sebuah sapu yang berat. Kemudian ibuku muncul dan membantuku. Sesudahnya ibuku menghantarku ke banyak tempat di mana jiwa-jiwa tinggal; aku juga dibawa ke puncak sebuah gunung di mana suatu roh bercahaya kemilau seperti tembaga, terbelenggu pada sebuah rantai, berusaha menghampiriku. Dia berada di sana untuk jangka waktu yang lama, tiada seorang yang mengingatnya pun membantunya; dia berbicara sangat singkat, hanya beberapa patah kata, meski begitu aku menjadi tahu akan seluruh kisah hidupnya. Dia, pada masanya, adalah seorang raja Inggris dan memimpin perang melawan Perancis; dia menggunakan cara-cara keji dan berperilaku sangat jahat. Tampak olehku bahwa ibunya bertanggung-jawab atas dasar perilakunya. Sang raja menghancurkan semua gambar Santa Perawan Tersuci Maria, dan satu ketika sementara lewat di depan sebuah patung Perawan Tersuci dia bahkan hendak menghancurkannya juga, akan tetapi dia mengalami suatu gejolak emosi yang mendalam dan tak lagi ingin melakukannya. Setelah pengalaman ini, dia bertobat hebat dan akan sedia mengakukan dosanya, namun dia meninggal dunia karena demam yang sangat parah; dia beroleh belas-kasihan dan tidak mati binasa. Dengan demikian dia bisa ditolong, tetapi dia telah sama sekali dilupakan. Dia mengatakan kepadaku bahwa dia bisa ditolong teristimewa dengan perayaan Misa Kudus, sehingga dia dapat beroleh kebebasan yang dirindukannya sebelum waktu yang ditetapkan. Tempat di mana dia tinggal tampaknya bukan purgatorium yang lazim, tapi mungkin di lokasi yang bersebelahan. Aku melihatnya disiksa dan dianiaya oleh anjing-anjing dengan cara sebagaimana dia telah menganiaya orang; dia dirantai di banyak tempat dan tinggal di suatu area yang diselimuti rumput berapi. Dia mengatakan kepadaku bahwa secercah harapan akan pembebasan dirinya dari tempat itu akan merupakan suatu penghiburan besar baginya. Aku bertemu dengannya tiga kali."
Kedua kalinya terjadi pada tanggal 27 September 1820: "Tadi malam aku banyak berdoa bagi jiwa-jiwa menderita dan aku melihat banyak hal-hal yang mengagumkan dan kerahiman Allah yang tak terhingga. Aku melihat lagi si Raja Inggris yang menderita dan aku berdoa juga untuknya. Dinyatakan jelas kepadaku bagaimana yang baik dan yang jahat dapat diturunkan dari nenek moyang ke anak-anak dan bagaimana tindakan mereka, dan kehendak mereka, dapat menjadi penyebab keselamatan atau kebinasaan mereka. Aku melihat pertolongan bagi jiwa-jiwa berasal dari kekayaan Gereja dan dari anggotanya. Banyak imam menderita; mereka adalah para imam yang dalam hidupnya selalu merindukan sedikit tempat di surga hanya karena mereka membagikan Komuni dan merayakan Misa. Sekarang aku melihat mereka dalam pertobatan yang tak terperi atas kurangnya karya kasih dan pertolongan bagi jiwa-jiwa menderita. Pada saat ini mereka merindukan, dalam kebisuan, dengan kerinduan yang tak terpuaskan, untuk dapat menolong dan berkarya. Segala kemalasan mereka berubah menjadi rasa sakit jiwa, ketenangan mereka menjadi ketidaksabaran, kelambanan mereka menjadi penghalang; semua hukuman ini adalah konsekuensi dari yang jahat. Di purgatorium aku melihat juga dan khususnya keadaan anak-anak yang dibunuh sebelum dan tepat setelah kelahiran, tetapi itu merupakan sesuatu yang aku tak tahu bagaimana menggambarkannya, bahkan meski aku bisa mengungkapkannya, dan karenanya aku tidak membicarakannya."
SURGA
Pada tanggal 1 November 1819 Beata Anna Katharina Emmerick dianugerahi penglihatan akan Gereja Jaya di surga:
"Aku pergi dalam suatu perjalanan panjang bersama pembimbingku: Aku mengunjungi diam-diam bersamanya berbagai tempat. Aku melihat dan merasa bahagia. Apabila aku bertanya aku beroleh tanggapan dan apabila aku tidak beroleh tanggapan, aku pun juga puas. Kami pergi ke tempat-tempat para martir (Roma), lalu kami menyeberangi lautan-lautan dan daratan-daratan tak berpenghuni, sampai ke rumah Anna dan Maria; di sini aku melihat banyak paduan suara para kudus yang secara batin bagai satu jiwa. Mereka bergerak sekeliling penuh sukacita. Tempatnya tampak bagai sebuah bahtera tanpa batas, penuh singgasana, kebun, istana, bangunan melengkung, karangan bunga, pepohonan, dan semua arah disatukan oleh berkas-berkas sinar emas kemilau. Di atas, tinggi di tengah, Tahta Ilahi berdiri berhiaskan kemegahan tak terhingga. Para kudus dan para imam diklasifikasikan seturut posisi mereka dalam kehidupan religius. Kaum religius berhimpun menurut Ordo mereka, dan diklasifikasikan atau ditinggikan seturut pertempuran pribadi yang mereka alami dalam kehidupan duniawi. Segenap martir berada dekatnya, dan juga dihormati seturut tingkat kemenangan mereka dan dibagi sesuai kerinduan mereka terhadap kekudusan. Mereka tinggal di kebun-kebun menakjubkan penuh cahaya dan rumah. Aku bertemu dengan seorang imam yang aku kenal sebelumnya, yang mengatakan kepadaku: 'Rumahmu belum selesai!' Aku juga melihat formasi-formasi besar tentara dalam seragam Romawi dan banyak orang terkenal. Semua bersama-sama memadahkan sebuah himne lembut dan aku menggabungkan diri dengan mereka. Dalam dimensi surgawi dan kosmis bola bumi dunia tampak bagai sebuah bola kecil dan daratan meliputi hanya sebagian kecil dari permukaan di tengah-tengah air. Dengan cara ini aku paham makna hidup dalam kekecilan dan kesingkatannya, namun di mana kita masih dapat menarik banyak manfaat dan ganjaran. Aku rindu menimpakan ke atasku dengan sukacita segala penderitaan Tuhan!"
Pada tanggal 1 November 1820 Anna Katharina beroleh anugerah penglihatan lain mengenai surga:
"Aku beroleh suatu penglihatan penuh makna: muncul di hadapanku sebuah meja yang sangat besar, merah dan ditutup dengan sebuah kain putih transparan, ditata dengan berlimpah makanan lezat. Di atasnya, terdapat bejana-bejana emas dengan huruf-huruf biru pada pinggirannya. Di mana-mana terdapat buah-buahan dan bunga-bungaan yang ditata semarak. Sekeliling meja ini duduk para kudus di atas singgasana-singgasana, yang mengelompokkan diri sesuai urutan mereka yang berbeda. Kaum religius dari berbagai tingkatan dan uskup melayani meja dan melayani diri mereka sendiri. Aku dekat meja raksasa ini dan aku bisa melihat keseluruhan kebun yang menawan, yang dibagi-bagi menjadi kebun-kebun kecil lainnya dengan meja-meja kecil, dipenuhi dengan paduan suara, dan kebun-kebun itu yang dipisah-pisahkan menjadi kebun-kebun tunggal. Akan tetapi segenap harmoni mengalir dan berasal dalam persatuan dari meja raksasa di tengah. Dalam semua kebun, taman, tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan ini terdapat semua yang tinggal dalam tiap-tiap manusia. Manfaat dari buah-buahan ini tentu bukan untuk dimakan, melainkan kesadaran akan diri sendiri."
dikutip dari : berbagai sumber
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|