|
St Blasius
oleh: P. William P. Saunders *
Saya ingat semasa kanak-kanak tenggorokan saya diberkati pada Pesta St Blasius. Saya tidak pernah benar-benar tahu siapakah St Blasius atau mengapa kita melakukan hal ini. Juga, tampaknya praktek ini sekarang sudah ditinggalkan. Mohon penjelasan.
~ seorang pembaca di Chantilly
Sayangnya, apa yang diketahui mengenai hidup St Blasius berasal dari berbagai tradisi. Pestanya dirayakan di Timur pada tanggal 11 Februari dan di Barat pada tanggal 3 Februari (meski sebelumnya, hingga abad kesebelas, dirayakan pada tanggal 15 Februari). Semua sumber mengatakan bahwa St Blasius adalah Uskup Sebaste di Armenia yang menerima mahkota kemartiran di bawah kekuasaan Licinius sekitar tahun 316 M. (Ingat Kaisar Konstantin telah mengesahkan kekristenan pada tahun 313, tetapi Licinius, sekutunya yang telah menyetujui pengesahan kekristenan, mengkhianatinya dan mulai menganiaya Gereja. Konstantin menaklukkan Licinius pada tahun 324.) Dari sini, kita mengandalkan tradisi yang telah dimasukkan dalam perayaan-perayaan liturgis kita selama berabad-abad, yang tidak perlu lagi diragukan kebenaran atau keakuratannya.
Sesuai berbagai tradisi, St Blasius dilahirkan dalam keluarga bangsawan yang kaya dan menerima pendidikan Kristiani. Ia adalah seorang dokter sebelum ditahbiskan sebagai uskup di usia muda. Meski penyataan yang demikian tampak janggal, patut diingat bahwa pada masa itu komunitas lokal biasa mengajukan seorang untuk diangkat sebagai uskup berdasarkan keunggulan dalam kekudusan dan kualitas kepemimpinnnya; orang itu kemudian dipertimbangkan kelayakannya dan selanjutnya ditahbiskan oleh uskup-uskup lain dengan sepersetujuan Bapa Suci. Sebab itu, setidaknya dapatlah dikatakan bahwa St Blasius pastilah seorang saksi iman yang luar biasa.
Dalam masa penganiayaan oleh Licinius, Blasius yang menerima perintah ilahi, pergi mengungsi dari kota dan hidup sebagai pertapa dalam sebuah gua. Binatang-binatang liar datang mengunjunginya, dan Blasius menyembuhkan mereka yang sakit pun yang terluka. Suatu hari, sekelompok pemburu yang sedang mengumpulkan binatang-binatang buas untuk pertandingan di gelanggang menemukan St Blasius dan menangkapnya. Sementara dibawa ke hadapan Gubernur Agricolaus, yang adalah gubernur Cappadocia dan Armenia Kecil, St Blasius bertemu dengan seorang perempuan yang babinya dicengkeram seekor serigala. St Blasius memerintahkan serigala untuk melepaskan si babi, dan si babi pun bebas tanpa terluka.
Sementara di penjara, St Blasius secara ajaib menyembuhkan seorang anak laki-laki yang tercekik nyaris mati akibat tulang ikan yang tersangkut di tenggorokannya. Juga, perempuan yang babinya diselamatkan itu datang membawakan lilin-lilin untuk St Blasius agar selnya mendapatkan penerangan dan bapa uskup dapat membaca Kitab Suci.
Pada akhirnya, Agricolaus menjatuhkan hukuman mati kepada St Blasius lebih dikarenakan orang kudus ini menjunjung tinggi iman Kristennya. Ia didera dengan sisir besi (suatu alat yang dibuat untuk menyisir wol tetapi di sini dipergunakan untuk mengoyakkan kulit) dan akhirnya dipenggal kepalanya.
Pada abad keenam, di Timur, orang mohon bantuan doa St Blasius untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tenggorokan. Pada abad kedelapan, seperti ditegaskan dalam catatan-catatan, terdapat penghormatan kepada St Blasius di Eropa, dan ia menjadi salah seorang dari para kudus yang paling populer dalam kehidupan rohani pada Abad Pertengahan. Banyak altar dipersembahkan demi menghormatinya. Bahkan Biara St Blasius di Jerman selatan mengklaim memiliki relikuinya.
St Blasius juga dihormati sebagai seorang dari “Empatbelas Penolong Kudus,” yakni sekelompok santa dan santo yang dimohon bantuan doanya sejak abad keduabelas di Jerman dan yang dihormati pada tanggal 8 Agustus. Keempatbelas Penolong Kudus itu adalah: St Dionisius dari Paris (sakit kepala dan rabies), St Erasmus atau Elmo (sakit perut dan kram), St Blasius (penyakit-penyakit tenggorokan), St Barbara (kilat, api, ledakan, kematian yang tiba-tiba dan tanpa persiapan), St Margareta (godaan nafsu dan kehamilan), St Katarina dari Alexandria (filsuf dan murid, serta tukang roda), St Georgius (para prajurit), St Achatius dan St Eustace (pemburu), St Pantaleon (tuberculosis), St Giles (epilepsi, sakit jiwa, dan kemandulan), St Cyriac (kerasukan setan), St Vitus (epilepsi), dan St Kristoforus (mereka yang bepergian). Kaum Dominikan Jerman menganjurkan penghormatan ini, teristimewa di Gereja St Blasius di Regensburg (± 1320).
Satu alasan kepopuleran St Blasius muncul dari kenyataan bahwa ia adalah seorang dokter yang menyembuhkan, bahkan mengadakan mukjizat-mukjizat penyembuhan. Sebab itu, mereka yang sakit, teristimewa yang terjangkit penyakit-penyakit tenggorokan, memohon perantaraannya. Perlahan-lahan, muncul kebiasaan memberikan berkat St Blasius, di mana imam memegang dua lilin yang saling bersilang di atas kepala umat beriman atau menyentuhkannya pada leher umat beriman sementara imam memohonkan bantuan doa St Blasius dan menyampaikan berkat Tuhan. Dalam Ritus Romawi yang sekarang, imam berdoa, “Semoga berkat doa St Blasius, Uskup dan Martir, Allah membebaskan Saudara dari penyakit tenggorokan dan penyakit-penyakit lain. Dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. Amin.” Praktek ini terus dilakukan di banyak paroki pada Pesta St Blasius.
Sementara kita memohon perlindungan St Blasius terhadap segala penyakit jasmani tenggorokan, sepatutnyalah juga kita memohon pelindungannya terhadap segala penyakit rohani tenggorokan: hujat, umpat, makian, fitnah ataupun gossip. St Yakobus mengingatkan kita, “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya” (1:26) dan lagi, “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi” (3:9-10). Oleh sebab itu, kiranya St Blasius melindungi kita dari segala yang jahat, baik jasmani maupun rohani, yang dapat menyerang tenggorokan kita.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Feast of St. Blaise” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
|