|
Salib Yang Dikenakan

… Jemaat Kristiani perdana menganggap sebagai suatu sukacita terbesar mereka mengenakan pada diri mereka tanda Penebusan kita yang bermanfaat ini. Di masa-masa sesudahnya, para perempuan dan para gadis mengenakan sebuah salib yang mereka jadikan perhiasan mereka yang paling berharga; mereka mengalungkannya pada leher mereka, dengan demikian memaklumkan bahwa mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang tersalib. Tetapi, seiring dengan iman yang memudar dan agama yang melemah, tanda sakral ini menjadi langka, atau tepatnya, hampir-hampir lenyap. Perhatikan bagaimana iblis bertindak secara perlahan-lahan menuju yang jahat. Dalam hal ini dimulai dengan menyingkirkan figur Yang Tersalib dan Santa Perawan, dan menjadikan mereka yang mengenakan merasa puas dengan sebuah salib yang telah dimodifikasi ke dalam bentuk-bentuk hiasan. Sesudah itu, iblis melangkah lebih jauh: guna menggantikan tanda sakral ini, dipilihlah seutas rantai, yang tak lebih dari sekedar sebuah perhiasan sia-sia dan yang, amat jauh dari mendatangkan rahmat-rahmat dari surga ke atas para pemakainya, malahan hanya melibatkan mereka di jalan dan jebakan iblis. Lihatlah perbedaan antara sebuah rantai dan sebuah salib. Dengan salib, kita telah menjadi anak-anak kebebasan; dengan salib, Yesus telah membebaskan kita dari tirani iblis ke dalam mana dosa telah menghantar kita. Sebaliknya, rantai adalah tanda perbudakan; dengan kata lain, dengan sarana tanda kesia-siaan ini, kita meninggalkan Allah dan menyerahkan diri kita kepada iblis. Tuhan! Betapa dunia telah berubah sejak masa umat Kristiani perdana.
Ah, betapa banyak jumlah mereka yang bukan lagi Kristen terkecuali dalam nama, dan yang perilakunya serupa dengan kaum kafir! Ah, kalian akan mengatakan kepadaku, pernyataan itu agak terlalu keras! Kami tidak menyesal bahwa kami adalah umat Kristiani; malahan sebaliknya. Jadi, katakanlah kepada kami apa yang dimaksud dengan mengatakan kami tak punya lebih dari sekedar nama Kristen.
Baiklah, sahabat-sahabatku, itu amat mudah. Itu karena kalian takut melakukan tindakan-tindakan agama kalian di depan orang lain dan bahwa, apabila kalian berada di sebuah rumah, kalian tidak berani membuat Tanda Salib sebelum makan, atau, untuk melakukannya, kalian berpaling agar kalian tidak diperhatikan dan ditertawakan. Itu karena, ketika kalian mendengar lonceng Angelus berdentang, kalian berpura-pura tidak mendengarnya dan kalian tidak mendoakannya sebab takut orang akan memperolok kalian; atau lagi, ketika Tuhan menempatkan ke dalam benakmu pikiran untuk menyambut Sakramen Pengakuan, kalian mengatakan: “Oh, aku tidak pergi. Mereka akan menertawakanku.” Jika kalian berperilaku seperti itu, kalian tak dapat mengatakan bahwa kalian adalah orang-orang Kristen.
Tidak, sahabat-sahabatku, kalian seperti bangsa Yahudi di masa silam, menolak atau tepatnya, kalian memisahkan diri. Kalian bukan apa-apa selain dari orang-orang murtad. Bahasa kalian membuktikannya, dan cara hidup kalian juga menyatakannya dengan jelas. Mengapakah, saudara-saudaraku, julukan murtad diberikan kepada Kaisar Julian?
Julukan itu diberikan kepadanya, demikian kalian akan katakan kepadaku, sebab ia mulai sebagai seorang Kristen tetapi kemudian ia hidup sebagai seorang kafir.
Jadi, sahabat-sahabatku, apakah bedanya perilakumu dengan perilaku kaum kafir? Adakah kalian tahu kejahatan-kejahatan apa yang biasa dilakukan kaum kafir? Sebagian, rusak karena kecemaran yang ngeri, melontarkan dari mulut mereka segala macam kejijikan; yang lain, tunduk pada kerakusan, mencari hanya makanan-makanan lezat atau mengisi perut mereka dengan anggur. Satu-satunya kepedulian gadis-gadis muda mereka adalah dalam urusan busana dan keinginan untuk tampil menarik di hadapan yang lain. Bagaimanakah pendapat kalian mengenai perilaku yang demikian, saudara-saudara terkasih?
Itulah perilaku orang-orang yang memuaskan pengharapan sia-sia makhluk lain.
Kalian benar. Dan apakah bedanya hidup kalian dan hidup mereka? Jika kalian mau berbicara jujur, kalian akan mengakui bahwa tak ada bedanya dan bahwa sebagai konsekuensinya, kalian Kristen hanya dalam nama.
Oh, Tuhan-ku! Engkau memiliki begitu sedikit umat Kristiani yang meneladani-Mu! Sungguh malang! Jika ada begitu sedikit dari mereka yang mengenakan salib, maka hanya akan ada sedikit juga yang memberkati-Mu sepanjang kekekalan masa.
sumber : “The Crosses Which Are Worn by Saint John Vianney”; www.jesus-passion.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net atas ijin Catholic Spiritual Direction.”
|