|
Katekese tentang Iri Hati
Iri hati adalah kesedihan yang kita rasakan karena kebaikan yang terjadi atas sesama.
Iri hati, anak-anakku, mengikuti kesombongan; barangsiapa iri hati, ia adalah seorang yang sombong. Lihatlah, iri hati datang kepada kita dari neraka; iblis setelah berdosa karena kesombongan, berdosa pula karena iri hati; iri hati atas kemuliaan kita, atas kebahagiaan kita. Mengapakah kita iri hati atas kebahagiaan dan kebaikan yang ada pada sesama? Sebab kita sombong; kita ingin menjadi satu-satunya pemilik segala bakat, kekayaan, penghormatan dan cinta dari seluruh dunia! Kita benci kepada orang-orang yang sama dengan kita, sebab mereka sama dengan kita; kepada orang-orang di bawah kita, sebab khawatir mereka akan menyamai kita; kepada orang-orang di atas kita, sebab mereka di atas kita. Demikian pula, anak-anakku, iblis setelah jatuh ke dalam dosa merasa, dan hingga sekarang masih merasa, amat murka melihat kita, para ahli waris kemuliaan Allah yang baik; begitu pula orang yang iri hati merasa berduka melihat kesejahteraan rohani maupun duniawi sesamanya.
Kita berjalan, anak-anakku, mengikuti jejak langkah iblis; seperti dia, kita geram atas kebajikan, dan bersukacita atas kejahatan. Apabila sesama kita kehilangan sesuatu, apabila ia tertimpa masalah, apabila ia dihinakan, apabila ia mengalami kemalangan, maka kita bersukaria... kita menang! Iblis, juga, dipenuhi sukacita dan kemenangan apabila kita jatuh, apabila ia dapat membuat kita jatuh sedalam dirinya. Apakah yang ia peroleh dengan itu? Tidak ada. Adakah kita akan menjadi lebih kaya apabila sesama kita jatuh miskin? Adakah kita akan menjadi lebih terhormat apabila ia dihinakan? Adakah kita akan menjadi lebih berbahagia apabila ia dirundung malang? Wahai, anak-anakku! betapa patut kita dikasihani karena bersikap demikian! Santo Siprianus mengatakan bahwa kejahatan-kejahatan yang lain ada batasnya, tetapi iri hati tidak ada batasnya. Sesungguhnya, anak-anakku, seorang yang iri hati menanam dalm dirinya berbagai ragam kejahatan; iri hati adalah sumber perkataan yang keji, fitnah, kelicikan, demi merendahkan sesama; ia mengulang-ulangi apa yang ia ketahui, dan apa yang tidak diketahuinya ia karang, ia membesar-besarkannya ....
Melalui iri hati setan, maut masuk ke dalam dunia; dan pula melalui iri hati kita membunuh sesama, dengan kekejian, dengan dusta, kita membuat orang kehilangan reputasinya, kehilangan kedudukannya.... Umat Kristiani yang baik, anak-anakku, tidaklah demikian; mereka tidak iri hati terhadap siapa pun; mereka mengasihi sesama; mereka bersukacita atas kebajikan yang datang atas sesama, dan mereka menangis bersama dia yang tertimpa kemalangan. Alangkah bahagianya apabila kita adalah umat Kristiani yang baik. Ah! anak-anakku, jika demikian, marilah kita menjadi umat Kristiani yang baik dan jangan pernah lagi kita iri hati akan kemujuran sesama; jangan pernah kita berbicara buruk mengenai sesama; maka kita akan menikmati damai yang manis; jiwa kita akan menjadi tenang; kita akan menemukan firdaus di atas muka bumi ini.
sumber : “Catechism on Envy by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|