|
Katekese tentang Kemarahan
Kemarahan adalah suatu emosi jiwa yang membuat kita dengan garang menolak apapun yang menyakiti atau tidak menyenangkan kita.
Emosi ini, anak-anakku, berasal dari iblis: menunjukkan bahwa kita ada dalam cengkeramannya; bahwa iblis adalah tuan atas hati kita; bahwa ia mengendalikan segala tali-talinya, dan membuat kita menari-nari seturut kehendak hatinya. Lihatlah, seorang yang menempatkan dirinya sendiri dalam kemarahan adalah bagaikan sebuah boneka; ia tidak tahu baik apa yang ia katakan ataupun apa yang ia lakukan; iblis menguasainya sepenuhnya. Ia menyerang kiri dan kanan; rambutnya berdiri bagaikan bulu landak; matanya melotot keluar dari tempatnya - ia adalah seekor kalajengking, seekor singa buas…. Mengapakah kita, anak-anakku, menempatkan diri kita sendiri dalam keadaan yang demikian? Tidakkah sangat menyedihkan? Itu karena, camkanlah, kita tidak mengasihi Allah yang baik. Hati kita, kita serahkan kepada roh kesombongan, yang murka apabila ia beranggapan bahwa dirinya direndahkan; kepada roh ketamakan, yang berang apabila ia menderita kerugian apapun; kepada roh kenikmatan, yang mendongkol apabila kesenangannya diganggu…. Betapa malangnya kita, anak-anakku, menjadi bulan-bulanan roh-roh jahat? Mereka memperlakukan kita seturut kehendak mereka; mereka membisikkan kepada kita kata-kata keji, fitnah, dengki, dendam: mereka bahkan bertindak begitu jauh hingga mendorong kita membunuh sesama. Lihatlah, Kain membunuh Habel, saudaranya, karena iri hati; Saul berniat mencabut nyawa Daud; Theodosius menyebabkan pembantaian penduduk Tesalonika untuk melampiaskan suatu dendam pribadi.... Apabila kita tidak menghabisi nyawa sesama, kita melampiaskan amarah kepadanya, kita mengutukinya, kita menyerahkannya pada iblis, kita mengharapkan kematiannya; kita menghendaki itu semua demi memuaskan diri sendiri. Dalam geram, kita menghujat Nama Tuhan yang kudus, kita mendakwa Penyelenggaraan-Nya .... Betapa kegeraman, betapa kedurhakaan! Dan yang terlebih mengerikan, anak-anakku, kita terhanyut pada pada perbuatan yang keterlaluan ini hanya karena suatu perkara yang remeh, karena suatu perkataan, karena suatu ketidakadilan yang paling sepele! Di manakah iman kita! Di manakah akal budi kita? Kita berdalih bahwa amarah yang membuat kita bersumpah; tetapi suatu dosa tidak dapat menjadi dalih bagi suatu dosa lainnya. Allah yang baik sama-sama mencela kemarahan, dan segala perbuatan keterlaluan yang adalah konsekuensinya.... Betapa kita telah menyedihkan malaikat pelindung kita! Ia selalu ada di sana, di sisi kita, mengirimkan kepada kita pikiran-pikiran yang baik, dan ia melihat kita tidak melakukan suatu apapun selain dari yang jahat.... Apabila kita melakukan seperti yang dilakukan St Remigius, maka kita tidak akan pernah marah. Lihatlah, santo ini, ketika ditanya oleh seorang bapa dari padang gurun bagaimana ia dapat senantiasa tinggal tenang, menjawab, “Kerap kali aku memikirkan bahwa malaikat pelindungku senantiasa ada di sampingku, yang menolongku dalam segala kebutuhanku, yang memberitahukan kepadaku apa yang harus aku lakukan dan apa yang harus aku katakan, dan yang mencatat setiap perbuatanku, dengan cara bagimana aku telah melakukannya.”
Philip II, Raja Spanyol, setelah melewatkan beberapa jam sepanjang malam untuk menulis sepucuk surat yang panjang kepada Paus, memberikannya kepada sekretaris untuk melipat dan menyegelnya. Sekretaris, yang mengantuk, melakukan kesalahan; ketika hendak membubuhkan pasir di atas surat, malahan ia mengambil botol tinta dan membubuhi seluruh permukaan kertas dengan tinta. Menyadari kesalahannya, ia teramat malu dan berputus asa; tetapi raja dengan tenang berkata, “Tidak ada kesalahan serius yang terjadi; masih ada kertas lainnya,” dan ia mengambil lembaran kertas lain dan menghabiskan sisa malam itu dengan menulis surat yang kedua, tanpa menunjukkan kekesalan sedikit pun kepada sekretarisnya.
sumber : “Catechism on Anger by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|