|
Katekese tentang Dosa 2
Dosa adalah pikiran, perkataan, perbuatan, yang bertentangan dengan hukum Tuhan.
Dengan berdosa, anak-anakku, kita berontak melawan Allah yang baik, kita menghina keadilan-Nya, kita menginjak-injak rahmat-Nya. Dari menjadi anak-anak Allah, kita menjadi algojo dan pembunuh jiwa kita, anak-anak neraka, kengerian bagi surga, pembunuh Yesus Kristus, musuh utama Allah yang baik. O anak-anakku! andai saja kita memikirkan hal ini, andai saja kita merenungkan luka-luka akibat dosa yang kita tawarkan kepada Allah yang baik, pastilah kita jijik terhadap dosa, pastilah kita tidak mampu berbuat dosa; namun demikian, kita tidak pernah memikirkannya, kita suka hidup enak, kita bergelimang dalam dosa. Jika Allah yang baik mengirimkan rasa sesal kepada kita, kita akan segera terperanjat, berpikir bahwa kita tidak pernah melakukan yang jahat terhadap siapa pun, dan bahwa Allah itu baik dan bahwa Ia tidak menempatkan kita di dunia ini untuk membuat kita menderita.
Sungguh, anak-anakku, Allah yang baik tidak menempatkan kita di dunia ini untuk membuat kita menanggung derita dan sengsara, melainkan agar kita beroleh keselamatan. Lihat, Ia menghendaki agar kita bekerja hari ini dan esok; dan sesudah itu, sukacita dan kebahagiaan kekal menanti kita di surga… O anak-anakku! betapa tak tahu berterima kasihnya kita! Allah yang baik memanggil kita kepada-Nya; Ia menghendaki kita bahagia selamanya, dan kita tuli terhadap sabda-Nya, kita tidak mau berbagi kebahagiaan bersama-Nya; Allah menghendaki kita mengasihi-Nya, dan kita mempersembahkan hati kita kepada setan.… Allah yang baik memerintah seluruh jagad raya sebagai sang Empu-nya; Ia menjadikan angin dan badai taat kepada-Nya; para malaikat gemetar atas perintah-Nya yang mengagumkan; hanya manusia saja yang berani melawan Allah. Lihat, Tuhan melarang kita melakukan perbuatan-perbuatan itu, kesenangan sesat, balas dendam, ketidakadilan; tetapi bagaimanapun juga, kita tetap lebih suka tunduk pada kepuasan diri kita sendiri; kita lebih suka mengingkari kebahagiaan surgawi daripada menarik diri dari saat-saat kesenangan, ataupun meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dosa, ataupun mengubah cara hidup kita. Siapakah kita, jika demikian, hingga kita berani melawan Allah seperti itu? Debu dan abu, yang dapat dilenyapkan-Nya dalam sekejap saja…
Dengan berdosa, anak-anakku, kita menghina Allah yang baik. Kita mengulang kembali Sengsara dan Wafat-Nya; kita berbuat sama kejinya dengan apa yang dilakukan semua orang Yahudi itu bersama-sama, dengan menggantungkan-Nya di salib. Oleh sebab itu, anak-anakku, jika kita bertanya kepada mereka yang bekerja tanpa keperluan mendesak pada hari Minggu: “Apa yang sedang kalian lakukan?” dan jika mereka menjawab sejujurnya, mereka akan mengatakan, “Kami sedang menyalibkan Allah yang baik.” Bertanyalah kepada mereka yang bermalas-malasan, yang tamak, yang sombong, apa yang mereka lakukan setiap hari. Jika mereka menjawabmu sesuai dengan apa yang sesungguhnya mereka lakukan, mereka akan menjawab, “Kami sedang menyalibkan Allah yang baik.” O anak-anakku! betapa tak tahu terima kasihnya menghina Tuhan yang tak pernah menyakiti kita; bukankah sungguh durhaka menghina Allah yang tak pernah melakukan sesuatu kepada kita selain daripada yang baik?
Tuhan-lah yang menciptakan kita, yang memelihara kita. Ia menggenggam kita dalam tangan-Nya; jika Ia mau, dapat saja ia melenyapkan kita dalam ketiadaan, yang daripadanya kita dijadikan-Nya. Ia telah mengaruniakan Putra-Nya kepada kita, untuk menebus kita dari perbudakan setan; Ia Sendiri yang menyerahkan Putra-Nya bagi kita hingga wafat supaya Ia dapat memulihkan kita agar kita beroleh hidup; Ia telah mengangkat kita sebagai putra-putri-Nya, dan tak habis-habisnya Ia mencurahkan rahmat-Nya atas kita. Namun demikian, bagaimanakah kita mempergunakan akal budi kita, pikiran kita, kesehatan kita, anggota-anggota tubuh kita yang Ia berikan kepada kita sebagai sarana agar kita dapat melayani-Nya? Kita mempergunakannya, mungkin, untuk berbuat dosa.
Allah yang baik, anak-anakku, memberikan mata kepada kita untuk menerangi kita, agar kita melihat surga, tetapi kita mempergunakannya untuk melihat hal-hal yang jahat dan berbahaya; Ia telah memberikan lidah kepada kita agar kita memuji-Nya, dan agar kita dapat mengungkapkan pikiran kita, tetapi kita mempergunakannya sebagai sarana kejahatan - kita menyumpah, kita menghujat, kita mengatakan yang jahat tentang sesama kita, kita memfitnah; kita melecehkan rahmat-rahmat ilahi, kita menolak rasa sesal yang berguna bagi kita dengan mana Tuhan hendak menobatkan kita … kita menolak insiprasi-inspirasi yang disampaikan malaikat pelindung kita yang baik itu. Kita memandang rendah pikiran-pikiran baik, kita melalaikan doa dan kita mengabaikan sakramen-sakramen. Kita bahkan juga mengacuhkan Sabda Tuhan. Tidakkah kita mendengarkannya dengan muak? Betapa menyedihkannya kita! Betapa sungguh patut kita dikasihani! Kita mempergunakan waktu yang Allah yang baik telah berikan kepada kita bagi keselamatan kita sedemikian rupa hingga kita kehilangan jiwa-jiwa kita. Kita berperang melawan Allah dengan sarana-sarana yang Ia berikan kepada kita untuk melayani-Nya; kita mempergunakan karunia-karunia-Nya untuk melawan-Nya! Mari kita arahkan mata kita, anak-anakku, kepada Yesus yang tergantung di salib dan mari kita berkata kepada diri kita sendiri, “Inilah harga yang harus dibayar Juruselamat-ku untuk memulihkan luka-luka akibat dosa-dosaku terhadap Allah.”
Tuhan yang datang ke dunia untuk menjadi korban silih atas dosa-dosa kita! Tuhan yang menderita, Tuhan yang sekarat, Tuhan yang menanggung segala sengsara, sebab Ia telah menjadi dosa, dan telah memilih untuk menanggung beban segala kejahatan kita! Ah, anak-anakku! dengan memandang Salib, marilah kita menaruh dalam diri kita rasa benci dan jijik terhadap dosa yang seharusnya kita miliki.… Marilah masuk ke dalam diri kita dan melihat apa yang patut kita lakukan untuk menyilih dosa-dosa yang telah kita lakukan; marilah kita mohon dengan sangat belas kasihan dari Allah yang baik, dan marilah kita semua bersama-sama mengatakan kepada-Nya, dari lubuk hati kita yang terdalam, “O Kristus, yang tersalib demi kami, kasihanilah kami! Engkau turun dari surga untuk menyembuhkan jiwa-jiwa berdosa; pulihkanlah kami, kami mohon dengan sangat kepada-Mu; sebab jiwa-jiwa kami haruslah dimurnikan dengan menerima Sakramen Tobat; ya, O Tuhan! bantulah kami untuk memandang dosa sebagai yang paling mengerikan dari segala kejahatan, dan dengan kegigihan kami untuk menghindarinya, dan dengan semangat silih atas dosa-dosa yang telah kami lakukan, ijinkan kami suatu hari nanti beroleh kebahagiaan abadi bersama para kudus di surga.”
sumber : “Catechism on Sin by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|