|
Katekese tentang Dosa

Dosa adalah algojo bagi Allah yang baik dan pembunuh bagi jiwa. Dosa merenggut kita dari Surga dan menjerumuskan kita ke dalam nereka. Dan kita menyukainya! Betapa bodohnya! Andai saja kita merenungkan tentang dosa dengan sungguh-sungguh, pastilah kita mempunyai kengerian yang luar biasa terhadap dosa hingga kita tidak mampu melakukannya. O anak-anakku, betapa tak tahu berterima kasihnya kita! Allah yang baik menghendaki kita bahagia; itu sudah pasti; Ia memberikan kepada kita Hukum-Nya terus-menerus. Taurat TUHAN itu sempurna, peraturan TUHAN itu teguh. Raja Daud mengatakan bahwa ia menemukan kesukaan di dalamnya, dan bahwa hukum Tuhan adalah pusaka yang baginya lebih berharga daripada segala kekayaan. Ia juga mengatakan bahwa ia berjalan dalam kebenaran, sebab ia mentaati perintah-perintah Tuhan. Jadi, Allah yang baik menghendaki agar kita berbahagia; tetapi kita tidak menghendaki demikian. Kita berpaling daripada-Nya dan menyerahkan diri kepada setan! Kita melarikan diri dari Sahabat kita untuk pergi mencari pembunuh kita! Kita berbuat dosa; kita menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam lumpur. Sekali terperosok ke dalam lumpur ini, kita tidak tahu bagaimana dapat membebaskan diri. Jika mujur nasib kita, kita akan segera mendapat jalan keluar dari kesulitan; tetapi karena hal itu hanyalah menyangkut jiwa kita, kita lebih suka tinggal tetap di mana kita berada.
Kita datang mengaku dosa dengan pikiran yang disibukkan oleh rasa malu yang akan kita rasakan. Kita samar-samar saja mempersalahkan diri kita sendiri. Dikatakan bahwa banyak yang mengaku, tetapi sedikit saja yang bertobat. Aku percaya memang demikianlah adanya, anak-anakku, sebab sedikit saja yang mengaku dosa dengan air mata tobat. Lihat, celakanya adalah, bahwa manusia tidak memeriksa diri. Jika seorang berkata kepada mereka yang bekerja pada hari Minggu, kepada pemuda yang berdansa-dansi selama dua atau tiga jam, kepada orang yang keluar dari kedai minum dalam keadaan mabuk, “Apa yang kalian lakukan? Kalian menyalibkan Kristus!”, maka mereka akan terperanjat, sebab mereka pikir mereka tidak melakukannya. Anak-anakku, jika kita merenungkan dosa, kita tercekam karena ngeri; dan karenanya tidaklah mungkin kita melakukan yang jahat. Sebab apakah gerangan yang telah Allah yang baik lakukan kepada kita hingga kita hendak menyedihkan-Nya begitu rupa, dan menyalibkan-Nya kembali - Dia, yang telah menebus kita dari neraka? Alangkah baiknya jika semua pendosa, ketika hendak melakukan kesenangan-kesenangannya yang mengakibatkan dosa, dapat, seperti St. Petrus, berjumpa dengan Kristus di tengah jalan. Ia akan mengatakan kepada mereka, “Aku akan pergi ke tempat ke mana engkau hendak pergi, Aku ke sana untuk disalibkan kembali.” Mungkin hal itu dapat membuat mereka memeriksa diri.
Para kudus memahami betapa dahsyat suatu dosa menghina Allah. Sebagian dari para kudus melewatkan hidup dengan menangisi dosa-dosa mereka. St. Petrus menangisi dosanya sepanjang hidupnya; ia bahkan masih juga menangis di saat ajalnya. St. Bernardus biasa mengatakan, “Tuhan! Tuhan! akulah yang memakukan Engkau pada kayu salib!” Dengan berdosa kita menghina Allah kita yang baik, kita menyalibkan Allah kita yang baik! Betapa menyedihkan kehilangan jiwa-jiwa kita, yang untuknya Kristus telah begitu banyak menderita sengsara! Kesalahan apakah yang telah Kristus lakukan terhadap kita, hingga kita memperlakukan-Nya sedemikian itu? Andai saja jiwa-jiwa sesat yang malang dapat kembali ke dunia! andai saja mereka berada di tempat kita! Oh, betapa tak berperasaannya kita! Allah yang baik memanggil kita kepada-Nya, dan kita melarikan diri daripada-Nya! Allah menghendaki kita bahagia, tetapi kita tidak menghendaki kebahagian dari-Nya. Allah menghendaki kita untuk mengasihi-Nya, tetapi kita mempersembahkan hati kita kepada setan. Kita mempergunakan waktu yang Ia berikan kepada kita untuk menyelamatkan jiwa-jiwa kita dengan merusak diri kita sendiri. Kita berperang melawan Allah dengan sarana-sarana yang Ia berikan kepada kita untuk melayani-Nya.
Jika kita menghina Allah yang baik, maka ketika kita memandang salib, seharusnya kita mendengar Kristus yang berbicara kepada kita di kedalaman hati kita, “Jadi, apakah engkau juga, berpihak pada musuh-musuh-Ku? Apakah engkau hendak menyalibkan Aku kembali?” Arahkan matamu pada Kristus yang tergantung di kayu salib, dan katakan pada dirimu sendiri, “Inilah harga yang harus dibayar Juruselamat-ku untuk memulihkan luka-luka akibat dosa-dosaku terhadap Tuhan!” Tuhan yang turun ke dunia untuk menjadi korban silih atas dosa-dosa kita, Tuhan yang sengsara, Tuhan yang dalam sakrat maut, Tuhan yang menanggung setiap siksa aniaya, oleh sebab Ia akan menanggung semua beban kejahatan-kejahatan kita! Dengan memandang Salib, baiklah kita memahami kejinya dosa dan selayaknyalah kita merasa benci atas dosa. Marilah kita masuk ke dalam diri kita sendiri; marilah kita memeriksa apakah yang dapat kita lakukan guna menyilih hidup kita yang malang ini.
“Alangkah malangnya!” demikian Allah yang baik akan berkata kepada kita di saat ajal; “mengapakah engkau menghina Aku - Aku, yang amat sangat mengasihimu?” Menghina Allah yang baik, yang tak pernah melakukan apa pun kepada kita selain daripada yang baik; dan menyenangkan setan, yang tidak pernah melakukan apa pun kepada kita selain daripada yang jahat! Betapa bodohnya! Tidakkah sungguh bodoh memilih untuk menjadikan diri kita sendiri layak bagi neraka dengan mengikatkan diri pada setan, sementara kita berkesempatan menikmati sukacita surga, bahkan semasa hidup sekarang ini, dengan mempersatukan diri kita dengan Tuhan dalam cinta? Orang tidak dapat memahami kebodohan ini; kebodohan yang tak akan pernah cukup diratapi. Para pendosa yang malang tampak seolah-olah tak sabar menanti hukuman yang akan menjerumuskan mereka ke dalam kumpulan para iblis; mereka menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalamnya. Dalam kehidupan sekarang ini, ada semacam cicipan Surga, Neraka dan Api Penyucian. Api Penyucian ada dalam jiwa-jiwa yang tidak mati bagi diri mereka sendiri; Neraka ada dalam hati mereka yang tak mengenal Allah; Surga ada dalam hati mereka yang sempurna, yang bersatu erat dengan Kristus.
Ia yang hidup dalam dosa memiliki tingkah laku dan rupa binatang. Binatang, yang tak punya akal budi, tak tahu apa-apa selain nafsunya sendiri. Jadi, orang yang menjadikan dirinya seperti binatang, kehilangan akal budinya dan membiarkan dirinya dibimbing oleh nafsu-nafsu tubuhnya. Ia memanjakan dirinya dengan makanan dan minuman enak, dan menikmati kesia-siaan dunia, yang akan berlalu bagaikan angin. Aku merasa kasihan terhadap para pendosa yang malang, yang mengejar angin kosong; mereka mendapat sangat sedikit, mereka mengorbankan begitu banyak demi keuntungan yang sangat sedikit - mereka mengorbankan kekekalan mereka demi asap dunia yang menyedihkan.
Anak-anakku, betapa menyedihkan! ketika suatu jiwa berada dalam keadaan dosa, ia dapat mati dalam keadaan dosa; dan bahkan sekarang, apapun yang dilakukannya tak ada artinya di hadapan Allah. Itulah sebabnya mengapa setan begitu senang ketika suatu jiwa berada dalam dosa, setan tinggal gigih di dalamnya, sebab setan berpikir bahwa jiwa itu bekerja baginya, dan jika jiwa itu mati, jiwa itu akan menjadi miliknya. Ketika kita berada dalam keadaan dosa, jiwa kita sepenuhnya sakit, sepenuhnya busuk; kasihan sekali. Pengertian bahwa Allah yang baik melihat ke dalam jiwa seharusnya membuat orang masuk ke dalam dirinya sendiri. Dan lagi, kesenangan apakah yang diperoleh dari dosa? Tidak ada sama sekali. Kita diganggu mimpi-mimpi buruk bahwa setan membawa kita pergi, bahwa kita jatuh ke dalam jurang. Pulihkan hubunganmu dengan Tuhan; terimalah Sakramen Pengakuan Dosa; maka kalian akan tidur pulas bagaikan malaikat. Kalian akan senang terjaga di waktu malam, untuk memanjatkan doa kepada Tuhan; kalian tidak akan memiliki apa-apa selain ucapan syukur di bibir; kalian akan terangkat ke surga dengan sarana yang mengagumkan, bagai seekor elang membubung tinggi ke angkasa.
Kalian lihat, anak-anakku, betapa dosa merendahkan martabat manusia. Dari malaikat yang diciptakan untuk mencintai Tuhan, karena dosa, menjadi iblis yang mengutuk Tuhan untuk selama-lamanya. Ah! andai saja Adam, leluhur kita yang pertama, tidak berdosa, dan andai saja kita tidak berbuat dosa setiap hari, alangkah bahagianya kita! Pastilah kita sama bahagianya dengan para kudus di surga. Tak akan ada lagi orang-orang yang bersedih di dunia ini. Oh, alangkah indahnya! Sesungguhnya, anak-anakku, dosalah yang mendatangkan bagi kita segala macam malapetaka, segala bencana, perang, kelaparan, wabah, gempa bumi, kebakaran, banjir, badai - segala yang membuat kita menderita, segala yang membuat kita sengsara. Lihat, anak-anakku, orang yang berada dalam keadaan dosa akan senantiasa sedih. Apa pun yang ia lakukan, ia letih dan muak dengan segalanya; sementara ia, yang berdamai dengan Allah, senantiasa bahagia, senantiasa penuh sukacita … Oh, indahnya hidup! Oh, indahnya kematian!
Anak-anakku, kita takut akan kematian; aku percaya akan hal itu. Dosalah yang membuat kita takut akan kematian; dosalah yang menjadikan kematian itu menakutkan, mengerikan; dosalah yang menggetarkan para pendosa saat ajal menjelang. Sayang! O Tuhan! ada cukup alasan untuk merasa gentar, beranggapan bahwa ia orang terkutuk - dikutuk oleh Tuhan! Hal itu menjadikan orang gemetar. Dikutuk oleh Tuhan! kenapa? apakah yang dilakukan orang hingga ia dikutuk oleh Tuhan? Karena hujat, karena pikiran jahat, karena sebotol anggur, karena dua menit kesenangan! Karena dua menit kesenangan, orang kehilangan Tuhan, orang kehilangan jiwanya, kehilangan surga selamanya! Kita rindu menuju surga, dengan tubuh dan jiwa, di mana ayah, ibu, saudara, tetangga, mereka yang tinggal bersama-sama kita di sini, dengan siapa kita hidup, tetapi yang teladannya tidak kita tiru; sementara kita diturunkan dengan tubuh dan jiwa untuk dibakar di api neraka. Setan-setan akan segera mengerumuni kita. Semua setan-setan itu, yang nasehat-nasehatnya kita taati, akan datang menyiksa kita.
Anak-anakku, jika kalian melihat orang mempersiapkan setumpuk besar kayu bakar, menumpuk berkas-berkas kayu satu di atas yang lainnya, dan ketika kalian bertanya kepadanya apa yang sedang ia lakukan, maka ia akan menjawabmu, “Aku sedang mempersiapkan api yang akan membakar habis diriku,” bagaimana pendapat kalian? Dan jika kalian melihat orang yang sama ini menyalakan api ke atas tumpukan kayunya, dan ketika api unggun telah menyala maka ia melemparkan diri ke dalamnya, apakah yang hendak kalian katakan? Itulah yang kita lakukan ketika kita berbuat dosa. Bukan Tuhan yang mencampakkan kita ke dalam neraka, kita sendirilah yang melemparkan diri ke dalam neraka dengan dosa-dosa kita. Jiwa-jiwa sesat akan berkata, “Aku telah kehilangan Tuhan, jiwaku, dan surga; karena kesalahanku, karena kesalahanku, karena kesalahanku yang paling menyedihkan!” Ia akan berusaha mengangkat dirinya dari kobaran api hanya untuk jatuh kembali ke dalamnya. Ia akan senantiasa memiliki kerinduan untuk mengangkat dirinya kembali sebab ia diciptakan untuk Tuhan, yang paling agung, yang paling sempurna, yang Mahatinggi … ia bagaikan seekor burung yang dikurung dalam sebuah ruangan, yang terbang ke atas langit-langit dan jatuh kembali, keadilan Tuhan adalah langit-langit yang menahan jiwa-jiwa yang sesat.
Tak ada gunanya membuktikan keberadaan neraka. Kristus Sendiri berkata tentangnya, ketika Ia menceritakan kisah tentang seorang kaya yang jahat yang berteriak, “ Lazarus! Lazarus!” Kita tahu pasti bahwa neraka itu ada, namun demikian kita hidup seolah-olah neraka itu tidak ada; kita menjual jiwa kita demi beberapa lembar uang. Kita menunda-nunda pertobatan kita hingga saat ajal menjelang; tetapi siapakah yang dapat meyakinkan kita bahwa kita akan memiliki waktu atau kekuatan pada saat yang menentukan itu, yang ditakuti oleh semua para kudus - ketika seluruh kekuatan neraka bersatu untuk menyerang kita terakhir kalinya, tahu bahwa itulah saat penentuan? Banyak orang yang kehilangan iman, dan tidak pernah melihat neraka hingga mereka sendiri masuk ke dalamnya. Sakramen diberikan kepada mereka; tetapi ketika ditanyakan kepada mereka apakah mereka berbuat dosa semacam itu, maka mereka akan menjawab, “Oh! putuskan saja sesukamu.”
Sebagian orang menghina Allah yang baik setiap saat; hati mereka merupakan tumpukan dosa: bagaikan sepotong daging yang busuk, yang sebagian dimakan ulat … Tidak, sungguh; jika saja para pendosa mau merenungkan tentang kehidupan kekal - akan kengerian abadi - pastilah mereka serta-merta bertobat.
sumber : “Catechism on Sin by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|