YESAYA     
Gereja Katolik Roh Kudus:

“Tumbuh untuk Berbuah”
oleh: Rm Yohanes I. Wayan Marianta, SVD *

Menata Tubuh

Gereja Roh Kudus ibarat seorang gadis belia. Gairahnya untuk tampil jelita sedang berpijar-pijar. Energinya masih terfokus untuk menata tubuh. Pertama, tubuh fisik. Tidak lama setelah diresmikan, gedung gereja yang indah itu “tersedot” bumi. Renovasi tentu saja melahap dana dan energi. Hebatnya, gereja ini punya energi berlimpah. Sembari menggeluti urusan renovasi, pastoran dibangun, lahan parkir diperluas. Mengagumkan. Kedua, tubuh komunitas. Sejak awal, para pengurus sadar bahwa esensi gereja adalah komunitas, bukan gedung. Pastor rajin mengingatkan pengurus agar melibatkan umat dalam setiap kegiatan. Pesannya jelas: segar atau layunya kehidupan menggereja tergantung dari partisipasi umat.

Hasilnya menggembirakan. Gereja Roh Kudus tampil sebagai gereja muda yang  bersemangat. Kegiatan-kegiatan di paroki didukung umat dengan antusias. Kelompok teritorial maupun kategorial bertumbuh subur. Memang terlihat ada kesan persaingan antar kelompok untuk tampil sebagai yang paling aktif. Namun, hal itu justru menjadi bumbu penyemarak kehidupan. Dua jempol ke atas untuk pembangunan komunitas di Gereja Roh Kudus.


Kepemimpinan Partisipatif

Kunci dinamika kehidupan menggereja dewasa ini terletak pada kepemimpinan partisipatif. Memang, Gereja Katolik bukan lembaga demokratis. Hierarkhi memegang peranan sentral sampai ke tingkat paroki. Umat tidak memilih pastor. Pastor ditetapkan oleh uskup atau pimpinan serikat. Dalam struktur dewan paroki, pastor paroki memegang peran kunci. Tidak ada keputusan dapat diambil tanpa persetujuan pastor paroki. Sebaliknya, tidak jarang terjadi pastor paroki membuat keputusan penting tanpa diskusi dengan dewan paroki. Struktur organisasi piramidal semacam ini sering membuat pastor paroki lupa diri dan mengangkat diri menjadi raja kecil. Sabdanya tak terbantah, kendatipun salah.

Gejala otoritarianisme semacam itu tidak terlihat di Gereja Roh Kudus. Pastor membuka ruang luas bagi partisipasi umat. Badan Pengurus Harian rapat setiap hari Rabu malam. Tak jarang dalam rapat-rapat itu telinga pastor dibikin merah oleh kritik umat. Tapi justru di situlah kebesaran hati sang gembala tersingkap. Gembala yang picik meradang ketika dikritik. Gembala yang baik tersenyum ketika disanjung dan tetap tersenyum saat dikritik. Untuk kepentingan umat, telinga dan hatinya senantiasa terbuka.

Kepemimpinan partisipatif merangsang dan menyehatkan dinamika kehidupan menggereja. Contoh, urusan keuangan Gereja Roh Kudus dipercayakan kepada pengurus awam yang dipilih. Pastor tetap memberikan pengawasan penuh. Mekanisme semacam ini menguntungkan. Di satu sisi, pastor bisa mencurahkan perhatiannya lebih intensif untuk pelayanan pastoral. Di sisi lain, sistem pengawasan keuangan bisa terlaksana sehingga kasus-kasus penyalahgunaan keuangan bisa dikurangi. Transparansi dan akuntabilitas bukan saja mempersempit ruang gelap untuk korupsi, melainkankan juga mendongkrak kepercayaan umat. Hal inilah sekaligus menjadi kesaksian nyata retorika gereja untuk membangun budaya bebas korupsi (APP 2006).  


Bertumbuh untuk Berbuah

Gereja Roh Kudus ibarat gadis jelita yang mengundang kekaguman. Di sinilah godaannya. Di balik kecantikan ada perangkap tersembunyi bernama pemujaan diri. Banyak perempuan jelita menderita dahaga sanjungan. Mereka tidak tahan kalau tidak dipuji. Terobsesi dengan puja-puji, mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdandan; sibuk dengan dirinya sendiri. Mereka menyangka kecantikan mereka adalah urusan terpenting di jagad raya. Akibatnya, mereka kehilangan perhatian terhadap orang lain.  

Gereja tidak dipanggil untuk berlomba dalam kontes kecantikan. Mengejar kemegahan bukanlah ambisinya. Maka, para paus senantiasa diingatkan dengan semboyan sic transit gloria mundi, yang secara longgar berarti: kemegahan dunia lekas berlalu. Gereja dipanggil bukan untuk menjadi selebriti, tetapi pelayan.

Tuhan memandang Gereja sebagai pohon anggur kesayangan-Nya. Pohon itu ditanam untuk berbuah, bukan hanya untuk bertumbuh dan berbunga indah. Gereja sering digoda untuk mengejar kemegahan dan keelokan. Semisal, untuk menegaskan citra sebagai gereja termaju dibuatlah proyek mercusuar seperti menara doa tertinggi di dunia. Contoh lain, banyak umat Katolik di Surabaya bangga ketika gereja mereka dipasangi AC. AC lalu dipuja sebagai ikon modernisasi pelayanan paroki. Meminjam bahasa anak-anak ABG, gereja yang ber-AC dilabeli cool; yang tidak ber-AC dicap old school. Salah?

Tidak ada yang salah dengan mempercantik diri, sejauh kita tidak lupa dengan dunia tempat kita berpijak. Layakkah kita bangga mempunyai gereja yang gemerlap di tengah lautan masyarakat miskin? Perlukah kita memasang AC yang membutuhkan biaya instalasi dan perawatan begitu mahal saat kita menyaksikan banyak anak miskin tidak bisa membayar uang sekolah? Mana yang lebih membanggakan: menjadi anggota gereja yang bergengsi atau gereja yang peduli?

Kita dipanggil untuk berbuah. Buah-buah apakah yang hendak kita sumbangkan untuk masyarakat, terutama yang miskin dan lemah? Pertanyaan ini layak dipertimbangkan supaya kita tidak menjadi gereja yang narsistik. Pada hari penghakiman, Tuhan tidak bertanya berapa banyak AC yang dipasang di gerejamu; tetapi sejauh mana kamu peduli pada orang-orang kecil di sekitarmu (bdk Mat 25:32-46).

Tidak ada yang salah dengan memiliki wajah jelita. Namun, menjadi gadis jelita bukan impian Gereja. Kerinduannya adalah menjadi ibu bagi semua orang yang membutuhkan kasih sayang. Itulah kejelitaan sejati. Ad multos annos.  

Filipina, 26 April 2007
* mantan Pastor Paroki Gembala Yang Baik, saat ini tugas studi di Filipina