Media Bina Iman Katolik
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
yesaya.indocell.net
Edisi Februari 2010
KALENDER LITURGI: FEBRUAR1 2010
HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
dikutip dari: Homili Paus Benediktus XVI, Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus, 2009
… “Allah telah menarik kita kepada hati-Nya - Suscepit nos Dominus in sinum et cor suum”. Hati Allah, sebagai ungkapan dari kehendak-Nya, dibicarakan sebanyak duapuluh enam kali dalam Perjanjian Lama. Di hadapan hati Allah, laki-laki dan perempuan berdiri dalam penghakiman. Kepiluan hati-Nya atas dosa-dosa umat manusia membuat Allah memutuskan terjadinya air bah, tetapi Ia tergerak hati-Nya sebab melihat kelemahan-kelemahan manusia dan menawarkan pengampunan-Nya. Namun demikian, suatu ayat lain dari Perjanjian Lama berbicara mengenai hati Allah dengan kejelasan mutlak: adalah dalam bab sebelas Kitab Nabi Hosea, yang baris-baris pembukaannya menggambarkan kasih Allah bagi Israel sejak dari awal sejarahnya: “Ketika Israel masih muda, Ku-kasihi dia, dan dari Mesir Ku-panggil anak-Ku itu” (Hosea 11:1). Akan tetapi, Israel menanggapi tawaran kasih Allah yang terus-menerus itu dengan ketakacuhan dan bahkan kedurhakaan. Allah harus mengakui, “Makin Ku-panggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku” (Hosea 11:2). Meski begitu, Ia tak pernah menyerahkan Israel ke dalam kuasa para musuhnya, sebab “Hati-Ku” - demikian Pencipta alam semesta - “berbalik dalam Diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak” (Hosea 11:8). Hati Allah berkobar-kobar dengan belas kasihan! Pada hari ini, Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus, Gereja menghadirkan ke hadapan kita misteri ini untuk kita renungkan: misteri hati seorang Allah yang merasakan belas kasihan dan yang mencurahkan segenap kasih-Nya ke atas umat manusia. Suatu kasih misterius, yang dalam ayat-ayat Perjanjian Baru disingkapkan kepada kita sebagai kasih Allah yang dahsyat dan tak terbatas bagi umat manusia. Allah tidak berkecil hati kendati kedurhakaan ataupun penolakan umat yang telah dipilih-Nya; melainkan, dengan belas kasihan yang tak terhingga Ia mengutus Putra tunggal-Nya ke dalam dunia untuk membebankan ke atas DiriNya Sendiri nasib dari kasih yang hancur, agar dengan menakluklan kuasa kejahatan dan maut, Ia dapat memulihkan kembali umat manusia yang diperbudak oleh dosa ke martabat mereka sebagai putera dan puteri Allah. Tetapi hal ini terlaksana dengan harga yang amat mahal - Putra tunggal Bapa dikurbankan di Salib: “Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya” (Yohanes 13:1). Simbol dari kasih ini yang melampaui kematian adalah lambung-Nya, yang ditikam dengan sebilah tombak. Rasul Yohanes, seorang saksi mata, mengatakan kepada kita: “Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air” (Yohanes 19:34)...
Bersama, marilah kita mengambil waktu untuk merenungkan hati Dia yang Disalibkan yang tertikam. Baru saja kita mendengarkan sekali lagi, dalam bacaan singkat dari surat St Paulus kepada jemaat di Efesus, bahwa “Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita ... dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga” (Efesus 2:4-6). Ada “dalam” Yesus Kristus berarti telah berada di sorga. Inti pokok Kekristenan diungkapkan dalam hati Yesus; dalam Kristus “kebaharuan” revolusioner Injil sepenuhnya disingkapkan dan diberikan kepada kita: Kasih yang menyelamatkan kita dan bahkan yang sekarang menjadikan kita hidup dalam kekekalan Allah. Sebagaimana ditulis Yohanes Pengarang Injil: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16). Hati Allah memanggil hati kita, mengundang kita untuk keluar dari diri kita sendiri, untuk meninggalkan kepastian manusiawi kita, untuk mengandalkan-Nya dan, dengan mengikuti teladan-Nya, untuk menjadikan diri kita sebagai anugerah dari kasih yang tak terbatas.
SERAHKANLAH KASIHMU KEPADA-KU DAN KEINGINAN UNTUK BERDOSA TIDAK AKAN TINGGAL DALAMMU
Putera-Ku, sebagaimana Aku telah menetapkan jumlah hari-hari dalam hidup, tingkat kekudusan atau talenta yang hendak Aku berikan kepada setiap manusia, demikianlah juga Aku telah menetapkan jumlah dosa-dosa yang Aku hendak ampuni dari masing-masing kalian. Ketika ukurannya sudah genap, maka tak ada lagi ruang bagi pengampunan.
Aku siap menyembuhkan mereka yang memiliki kerinduan dan kemauan untuk memperbaiki hidup mereka. Tetapi Aku tak dapat mengampuni dia yang bersitegar hidup dalam dosa. Aku mengampuni dosa-dosa, tetapi tidak mengampuni maksud untuk berdosa.
Engkau tak dapat memprotes bahwa Aku mengampuni seratus dosa pada satu orang, dan mencabut nyawa serta mengutuk ke Neraka apabila dosa ketiga atau keempat diakukan. Betapa banyak yang telah dilemparkan ke dalam Neraka untuk dosa pertama yang mereka lakuan! Bukankah pohon ara dikutuk ketika pertama kali dilihat?
Janganlah pada waktu itu engkau mengatakan, “Seperti Tuhan telah mengampuni dosa-dosaku yang lain, Ia akan mengampuniku kali ini.” Janganlah katakan demikian, sebab jika engkau menambahkan suatu dosa baru kepada dosa yang telah diampuni, engkau harus takut bahwa yag satu ini ditambahkan kepada yang pertama dan dengan demikian jumlahnya akan genap, dan engkau akan dibuang.
Banyak yang mencapai jumlah yang ditentukan, dihukum dengan kematian dan diseret ke api abadi. Mereka hidup dalam kenikmatan dan dalam sekejap dicampakkan ke dunia orang mati.
Yakinlah bahwa Aku menanti dan berduka, tetapi Aku tak menanti dan berduka selamanya… Aku memiliki kesabaran, tetapi begitu Aku sampai pada batasnya, Aku menghukum dosa-dosa pertama dan terakhir. Dan semakin besar kesabaran-Ku, semakin dahsyat penghukuman. Celakalah mereka yang memberikan punggung dan muntah setelah melihat terang!
Serahkanlah kasihmu dan dengan berbuat demikian, keinginan untuk berbuat dosa tidak akan lagi tinggal dalam engkau. Aku berjanji untuk membantumu dalam usahamu… Engkau perlu berjalan dalam iman, harapan, kebenaran dan kasih. Jika engkau berjalan dalam iman, perasaan batin akan membasmi pengharapan-pengharapan palsu dan engkau tak akan lagi mencari barang-barang duniawi - yang diciptakan oleh tangan-tangan manusia - tetapi kala itu, ketika hidup dalam iman, kuasa Rahmat-Ku akan bangkit untuk menolongmu.
Sesungguhnya Aku berkata kepadamu bahwa jalan kasih dihaluskan dari dalam. Apabila engkau membiarkan kasih pergi, ia dengan seksama akan mencari suatu tempat untuk beristirahat, tetapi karena terikat kepadamu, ia selalu kembali dengan setia kepadamu, sebab semakin engkau membiarkannya pergi, memberinya kebebasan, semakin ia akan kembali kepadamu, dengan bertambah… Sementara perasaan batinmu dijauhkan dari barang-barang ciptaan, ia tinggal teguh dalam iman dan iman menjadi sumber yang tak terhingga, gerbang di mana kasih tinggal.
Demikian pula, ketika engkau berserah diri dalam Penyelenggaraan Ilahi, dalam penyerahan diri begitu rupa, engkau dapat memeluk segala keberadaanmu dalam Aku. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan Kasih. Ketika engkau berserah diri dalam Aku, Aku menjanjikan pasti suatu persatuan total: hanya Kehendak-Ku dapat memuaskanmu. Yakinlah bahwa setiap saat adalah istimewa, sebab Aku mempergunakan kasih untuk menyatakan kehendak-Ku.
Selengkapnya silakan baca...
Yang Terbaru:
Yang Tetap:
Belum menemukan informasi yang Anda butuhkan? Silakan pergunakan fasilitas Google Search untuk mempermudah pencarian dengan mengetikkan kata kunci, misalnya “perpuluhan”.
Kontak Webmaster : yesaya@indocell.net
Website Media Bina Iman Katolik YESAYA
Sejak November 2000
Last updated : Februari 2010
Best Viewed : 1024 by 768
Main Sources :
1. The Young Saints Club; translated by permission of Joseph Roalef CC; www.geocities.com/Athens/1619
2. Catholic1 Publishing Company; translated by permission of Fr. Richard Lonsdale; www.catholic1.com
3. Bread on the Waters; translated by permission of Fr. Victor Hoagland; www.cptryon.org;
4. Father Peffley's Web Site; translated by permission of Fr. Peffley; www.transporter.com/fatherpeffley
5. Saint a Day, by Sr. Susan H. Wallace, FSP, Copyright © 1999, Daughters of St. Paul. Used by permission of Pauline Books & Media, 50 St. Paul's Avenue, Boston, MA 02130. All rights reserved.
6. Catholic Tradition; translated by permission of Pauly Fongemie; www.catholictradition.org
7. Straight Answers by Father William P. Saunders; translated by permission of Michael Flach - Editor, The Arlington Catholic Herald; www.catholicherald.com
8. Catholic Radio Dramas; translated by permission of Patrick G. O'Neill - Director, Catholic Radio Dramas; www.catholicradiodramas.com
9. Catholic Information Network (CIN); translated by permission of Maryanne - webmaster; www.cin.org
10. Catholic Spiritual Direction; translated by permission of Joe Koz; www.jesus-passion.com
11. Sacred Heart Organization Israel; translated by permission of Marianne; http://my.homewithgod.com/israel/
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||