YESAYA     
Gereja Katolik Roh Kudus:

Gereja Baru dengan Semangat Tinggi


Inilah kisah awal gereja yang patut dikenang dan direnungkan sebagai bagian dari perjalanan sejarah Gereja Roh Kudus ini.

PERINJINAN :
17-6-1999
Ijin prinsip Walikota kepada Uskup. Persetujuan membangun gereja, pastoran dan balai paroki di kompleks perumahan Purimas Gununganyar.
18-11-1999
Persetujuan garis sepadan dan syarat zoning untuk pembangunan gereja, pastoran dan balai dari Kepala Dinas Tata Kota.
13-6-2000
Ijin mendirikan bangunan dari kepala dinas bangunan kepada pengurus yayasan gereja dan amal Roma Katolik GYB untuk mendirikan 3 (tiga) buah bangunan.
20-11-2003
Ijin tempat ibadah dari kepala BAKESBANG dan LINMAS kepada Rm. Remigius Sene, SVD untuk merestui bagunan ini sebagai tempat ibadah.
PENGADAAN TANAH :
Januari 1999
Pengadaan tanah seluas 5000 m2 untuk gereja, pastoran dan balai paroki.
Agustus 1999
Mendapat hibah dari Purimas tanah seluas 300 m2, hadiah atas pembelian lahan pertama tadi.
Mei 2004
Pengadaan tanah seluas 1008 m2 untuk kepentingan parkir; tiga kavling.
April 2005
Pengadaan tanah seluas 1008 m2 lagi tahap kedua untuk parkir.
Des - Jan 2007
Pengadaan tanah lagi seluas 583 m2 dengan satu bangunan rumah.
KEGIATAN PEMBANGUNAN :
19-12-2000
PT. TATA dipilih sebagai pemenang tender oleh panitia tender.
21-12-2000
Pembangunan fisik struktur oleh Tata dengan SPK senilai Rp. 2.290.000.000 (2,2 m).
27-6-2001
Panitia menghentikan pembangunan karena surat camat kepada panitia sebagai akibat dari ketidaksetujuan beberapa warga.
1-9-2002
Pembangunan dilanjutkan kembali setelah terjadi kesepakatan warga Gunung Anyar dengan panitia disaksikan tokoh agama dan pemerintahan di Noor Pasifik.
31-12-2002
Disetujui Dewan Paroki nilai kontrak baru sesuai eskalasi harga.
28-3-2003
Pekerjaan gereja diefektifkan karena menurut rencana pada Hari Raya Pentakosta 8 Juni 2003 akan dipergunakan untuk misa.
Pemancangan Pastoran.
8-6-2003
Misa Perdana.

Misa Perdana diadakan pada hari Minggu bertepatan dengan Hari Raya Pentakosta tanggla 8 Juni 2003 dipimpin oleh Rm. Julius Haryanto, CM waktu itu menjabat sebagai Vikjen Keuskupan Surabaya. Guna mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan misa perdana ini, maka dibuat rapat koordinasi antar 7 ketua wilayah di daerah Rungkut. Inilah cikal bakal sistim kepengurusan dalam tahap awal berdirinya gereja ini.

Tak bisa disangkal kebersamaan, persaudaraan dan kerjasama yang baiklah yang membuat semua tahap yang berlabel “perdana” itu berjalan baik walau ada banyak tantangan; menyenangkan walau ada banyak kekurangan; membahagiakan karena keterlibatan luar biasa dari begitu banyak umat. Memang dari awal berdirinya, gereja ini digerakkan oleh umatnya sendiri. Walaupun sarana terbatas, di sana-sini masih ada banyak kekurangan, tetapi semangat umat untuk menata kehidupan gerejanya merupakan modal gerakan menggereja yang sangat kuat buat gereja baru ini.
Semua yang serba perdana ini tidak ingin dilalui dengan kehampaan, karena dari sini mengalir pola / bentuk / sistim atau apapun namanya, guna meletakkan sebuah pengalaman menggereja yang memberi harapan.


GEREJA DIBERKATI, TEMPAT INI DIKUDUSKAN

Sesudah Misa Perdana, direncanakan diadakan Misa Pemberkatan dan Peresmian Gereja oleh Bapa Uskup Surabaya. Sayang, sebelum pemberkatan Mgr Johanes Hadiwikarta Pr, meninggal dunia. Maka rencana pemberkatan tanggal 4 Januari 2004, ditunda ke tanggal 11 Januari 2004 dan Rm. Julius Haryanto - Administrator Keuskupan Surabaya, bersedia datang dan memberkati gereja ini.

“…semoga percikan dengan air suci ini meneguhkan rahmat pembaptisan yang telah Kau anugerahkan kepada kami, dan menyucikan gereja ini. Kami berharap agar bersama semua saudara yang beribadat dalam gereja ini boleh sampai ke rumah Bapa di surga....”

itulah sebagian dari rumusan pemberkatan hari itu. Tempat ini dikuduskan untuk beribadah.

Paska pemberkatan memang kegiatan menjadi semakin terkoordinir. Rencana dibuat, persiapan diatur dan pelaksanaan menjadi sebuah komitmen untuk semua kelompok, baik territorial maupun kategorial. Dukungan dari paroki yang sangat besar membuat gerakan di gereja stasi ini mendapat semangat tersendiri.

Ketika HUT atau pesta nama tahun kedua dirayakan, tepat pada Hari Raya Pentakosta, 30 Mei 2004, Rm. Heijne meninggal dunia, di Belanda. Berita ini didengar justru sesudah selesai semua rangkaian kegiatan untuk pesta nama. Umat dengan sigap menyiapkan misa kebangkitan untuk Romo Heijne.

Diakhir tahun 2004, tepatnya tanggal 26 Desember, gempa dan tsunami melanda tanah Aceh, begitu banyak saudara-saudari kita yang menjadi korban; rasa solidaritas itulah yang membuat gereja baru ini juga tak tinggal diam: doa bersama, pengumpulan dana / aksi untuk Aceh bahkan yang sangat berkesan begitu banyak kelompok yang membatalkan acara Natal yang dirancang meriah, hanya supaya biaya perayaan disumbangkan kepada korban bencana. Kita lihat bagaimana muncul perasaan solidaritas yang begitu tinggi dan kuat, begitu tulus dan jujur.

Gereja ini diberkati dan dikuduskan bagi kita; semoga hidup kita juga bisa menjadi berkat untuk banyak orang.


“PEMBANGUNAN JEMAAT DAN PEMBANGUNAN SARANA PRASARANA

Gereja yang berdiri dalam perumahan ini, yang sedang bertumbuh dalam kebersamaan iman ini, harus melengkapi diri dengan sarana dan prasarana demi menjawabi kebutuhan umat.

Tanggal 24 Januari 2004, dalam rapat koordinasi dewan dan para ketua wilayah, Rm. Remigius Sene, SVD sebagai Pastor Kepala Paroki menegaskan bahwa status Gereja Roh Kudus adalah “kuasi paroki”. Menurut beliau, kuasi adalah wilayah pengembalaan yang dipersiapkan untuk menjadi paroki. Maka perlu ada: Pertama, sistem dan mekanisme kerja / pelayanan yang baik. Kedua, struktur kepengurusan. Ketiga, kesekretariatan dan sarana pendukung lain dalam membangun gerakan hidup menggereja.

Pada waktu ini wilayah territorial gereja kuasi meliputi: 7 wilayah dari 12 wilayah yang ada di Paroki GYB, dan kepengurusan awal pada level kuasi ini bersifat penunjukan yang dinamakan: BPH-Badan Pengruus Harian Gereja Roh Kudus. Tugas utamanya bersama Romo penanggungjawab kuasi mengkoordinir seluruh kegiatan pastoral di level kuasi.

Rencana dan koordinasi dibuat untuk menjawabi kebutuhan karya pelayanan umat. Pengurus menyadari sungguh bahwa perhatian terhadap pembangunan sarana prasarana harus mendukung usaha pembangunan iman jemaat.


PASTORAN LANTAI SATU DISULAP JADI RUANGAN RAPAT DAN PENITIPAN ANAK

Sejalan dengan meningkatnya kegiatan dan kebutuhan akan sarana pelayanan di satu sisi dan di sisi lain minimnya sarana, maka pastoran kembali didandani sesuai situasi dan kondisi. Beberapa kamar kerja Romo dibuat sedemikian sehingga ada yang bisa difungsikan sebagai sekretariat paroki. Dan lebih lagi ruangan tengah justru menjadi sentral rapat dan tempat Sekolah Minggu.

Memang keadaan sangat tidak memadai, tetapi kita membutuhkan sarana untuk semua gerakan menggereja. Syukur bahwa umat dan para romo memahami keadaan ini sambil menyesuaikan diri dengan situasi gereja.


PEMBELIAN LAHAN UNTUK PARKIR

Ketika gereja ini digunakan untuk pertama kalinya, umat belum merasakan kesulitan lahan parkir karena masih banyak area kosong milik developer yang dipinjamkan kepada gereja untuk lahan parkir. Tetapi seiring dengan pengembangan perumahan dari waktu ke waktu, maka masalah / kesulitan lahan parkir menjadi sangat  terasa saat ini. Kita menyadari bahwa masalah lahan parkir bila tidak dapat diatur dengan baik maka berdampak pada kenyamanan umat beribadat (dampak ke dalam) maupun kenyamanan warga sekitar (dampak sosial kemasyarakatan). Dalam kondisi demikian pembelian lahan merupakan sebuah kebutuhan yang mendesak.

Dengan mempertimbangkan kemampuan gereja stasi ini dengan begitu banyak sarana yang harus dibenahi, maka proses pengadaan lahan dibuat secara bertahap. Bulan Mei 2004, tahap pertama pasca berdirinya gereja yakni 1008 m2 (3 kavling); April 2005, tahap kedua 1008 m2 (3 kavling); bulan Januari 2007, tahap ketiga 583 m2 plus satu bangunan rumah.

Hanya karena rasa memilikilah semua proses pengadaan berjalan dengan lancar. Tujuan utama adalah tersedianya lahan parkir yang memadai untuk memperlancar dan mendukung proses kegiatan beribadat di gereja dan meminimalkan situasi dan kondisi sosial yang mungkin timbul sebagai akibat dari tidak tertanganinya parkir kendaraan dengan baik.

Kita yakin sungguh bahwa keputusan pengadaan lahan lagi adalah keputusan yang tepat, baik sekarang apalagi untuk dikemudian hari.


TOILET MENGAPA JAUH LETAKNYA?

Ketika Gereja Roh Kudus dibangun, letak toilet menyatu dengan bangunan fisik gereja. Dan antiknya, posisi toilet justru di depan berdekatan dengan ruang pengakuan dan sakristi. Komentar umat: “Koq antri dibelakang lucu ya!” Bersamaan dengan awal penurunan lantai gereja, yang justru paling parah adalah di bagian depan, maka dewan paroki merekomendasikan untuk mengadakan perbaikan bagian depan tersebut, dan membongkar beberapa ruangan depan termasuk toilet dan sakristi tersebut.

Guna mengatasi kebutuhan umat akan toilet, maka Romo dan BPH mengajurkan pembangunan toilet sementara di ruangan antara gereja dan pastoran dengan catatan, pertama, toilet itu sifatnya sementara, karena lokasinya tidak hiegenis. Kedua, kita belum memiliki lahan lain, karena lahan parkir masih proses negosiasi. Ketiga, toilet harus segera ada supaya kebutuhan umat bisa diakomodir.  Akhirnya sesudah berjalan sekian lama, masalah mulai terasa dilapangan; ternyata toilet itu terlalu kecil dan sedikit, tidak seimbang dengan banyaknya pengguna. Lokasinya terlalu dekat gereja sehingga memungkinkan orang “lebih gampang” tinggalkan upacara kalau merasa sedikit tidak nyaman. Karena bangunan itu sifatnya sementara, maka bahan-bahannya sudah mulai keropos dan perawatan menjadi sangat sulit.

Akhirnya dengan mempertimbangkan beberapa hal tadi dan bersamaan dengan selesainya pembelian lahan, maka diputuskan pembangunan toilet di lokasi parkir. Memang jauh, tetapi lebih praktis dan lebih cocok dalam banyak alasan.


BALAI PAROKI: TAK INGIN MENGULANGI KESALAHAN YANG SAMA

Keberadaan sebuah bangunan sebagai balai atau gedung kegiatan umat di luar liturgi terasa sangat mendesak. Kebutuhan akan adanya gedung ini, dari awal proses pembangunan juga disadari oleh Rm. Feliks Mado SVD bersama Panitia Pembangunan Gereja Katolik Roh Kudus. Menurut Bpk Moedaljono, ketua panitia pembangunan gereja, walaupun dari awal disadari sebagai sebuah kebutuhan tetapi panitia diberi petunjuk untuk secara bertahap masuk dalam proses pembangunan tersebut. Yang penting sasaran perhatian utamanya adalah pembangunan gedung gereja.

Sebenarnya ketika gereja ini digunakan untuk pertama kalinya, proses pembangunan balai dan pastoran sedang berjalan. Pastoran dalam tahap finisihing dan balai pada tahap pemancangan. Dewan Paroki akhirnya menghentikan pembangunan balai karena bangunan fisik gereja mengalami masalah. Cut off dilakukan dan kemudian proses pembangunan dinyatakan tidak diteruskan lagi.

Era baru proses pembangunan kembali balai paroki ditandai dengan pendelegasian tugas dan wewenang kepada Romo dan BPH untuk melanjutkan pembangunan balai. Langkah awal diambil yakni berkoordinasi dengan Tim khusus yang dibentuk Dewan untuk mengevaluasi, menganalisa dan memberi masukan pada dewan atas proses pembangunan. Hasilnya, pengerjaan lanjut ditangani sendiri. Maka dibawah koordinasi Bpk. Siegfried, dewan dan semua pengurus bahu membahu dalam proses pembangunan ini. Pembangunan dimulai kembali ditandai dengan pemberkatan tiang pancang oleh Rm. Remigius Sene - Pastor Kepala Paroki GYB pada tanggal 22 Juni 2005. Sesudah sekian lama proses pembangunan berjalan, akhirnya pada tanggal 15 Nopember 2006 di hadapan Pengurus dan wakil umat, Rm. Gregorius Kaha, SVD - Pastor Penanggungjawab Reksa Pastoral Gereja Roh Kudus - mensosialisasikan penggunaan bangunan balai paroki.

Pada tanggal 21 Januari 2007, Rm. Martin Anggut, SVD - Provinsial SVD Jawa berkenan memberkati bangunan ini untuk dipergunakan demi kepentingan karya pelayanan umat.

Selain sarana dan prasarana fisik, sejak tahun 2005 mulai digiatkan juga gerakan umat, baik pada sisi pastoral teritorial maupun pada sisi pastoral kategorial.  Sarana dan prasarana diadakan demi kepentingan peningkatan iman umat.


ARAH PASTORAL GEREJA KATOLIK ROH KUDUS

Pada tahun ke-5 berdirinya gereja ini, ketika struktur dewan terbentuk dan dilantik, ketika beberapa sarana mulai ada, diadakan RAKER PLENO Dewan Stasi yang membahas arah pastoral Gereja Roh Kudus dan pengesahan program kerja.

Gereja memang bukan organisasi (tetapi organisme), namun di dalam gereja mesti ada organisasi. Semua pengurus dewan pleno berkumpul bersama merumuskan arah pastoral dalam bentuk visi dan misi. Strategi pastoral juga dirumuskan untuk mendukung arah tersebut. Kita butuh 3 K yakni: Komitmen - Komunikasi - Konsolidasi. Tanpa itu pemimpin dalam gereja terjebak pada sisi kepengurusan dan lupa pada sisi pelayan.

Dua fokus yang sangat digarisbawahi dalam pleno yakni “pembangunan jemaat” dan “pembangunan sarana prasarana”. Pembangunan jemaat diarahkan kepada gerakan hidup menggereja dan pembangunan sarana prasarana diarahkan secara khusus pada proses renovasi gedung gereja. Keduanya mesti mendapat prioritas karena gereja pertama-tama adalah persekutuan umat di satu sisi, dan di sisi lain bangunan gereja merupakan perwujudan kehadiaran gereja secara nyata di tengah masyarakat.

Lima tahun sudah gereja berdiri; usia yang masih sangat muda, tetapi dengan semangat tinggi gereja bergerak maju, penuh dinamika, dan ini semua justru karena dorongan dan kekuatan Roh Kudus. Selamat berlustrum I.