|
Pemberkatan Balai Paroki Gereja Katolik Roh Kudus:
“Balai Paroki Kita Diberkati!”
<Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah>
oleh Rm Gregorius Kaha, SVD
![]() Tanggal 21 Januari 2007 ini adalah salah satu hari bersejarah yang patut kita catat dalam perjalanan Gereja Roh Kudus. Gedung Pertemuaan atau yang disebut Balai Paroki, yang dibangun dalam kebersamaan umat di wilayah ini, akhimya diberkati oleh Rm. Martin M Anggut, Provinsial SVD Jawa. Peristiwa yang bersejarah dan membanggakan ini patut kita syukuri. Mengapa? Karena setelah melalui sekian banyak proses perjuangan akhirnya selesai juga pembangunan Balai Paroki, dan dengan itu kita pun siap memasuki babak baru dalam kebersamaan yakni memperbaiki lantai gereja.
Lintasan Sejarah: “Dari Awal Sudah Ada Prioritas”
Keberadaan sebuah bangunan sebagai balai atau gedung kegiatan umat di luar liturgi terasa sangat mendesak. Kebutuhan akan adanya gedung ini, dari awal proses pembangunan juga disadari oleh Rm. Feliks Mado SVD (Alm) bersama Panitia Pembangunan Gereja Katolik Roh Kudus kala itu. Menurut Bapak Moedaldjono, walaupun dari awal disadari sebagai sebuah kebutuhan, tetapi panitia diberi petunjuk untuk secara bertahap masuk dalam proses pembangunan tersebut dengan sasaran / perhatian utamanya adalah pembangunan gedung gereja.
Sesudah gedung gereja dibangun, misa perdana diadakan bertepatan dengan Hari Raya Pentakosta tanggal 8 Juni 2003. Misa yang dipimpin Rm. Julius Haryanto CM, Vikjen Keuskupan Surabaya, dihadiri hampir empat ribu umat Paroki Gembala Yang Baik. Tujuh bulan kemudian tepatnya tanggal 11 Januari 2004, gereja yang rencananya diberkati oleh Mgr J. Hadiwikarta, akhimya justru diberkati oleh Rm. Julius Haryanto karena beberapa minggu sebelumnya Bpk Uskup meninggal dunia. Uskup menulis dalam kata sambutan yang sudah disiapkannya: “semoga dengan diberkatinya gereja ini, umat di wilayah Rungkut lebih bersemangat untuk beribadah, juga dalam melakukan kehidupan menggereja di lingkungan masing-masing.” Sebelum pemberkatan ini, gedung pastoran sudah terlebih dahulu diberkati dalam misa kudus tanggal 15 Oktober 2003 oleh Rm. Remigius Sene, Pastor Kepala Paroki. Memang ada banyak cerita indah yang bisa dikisahkan tetapi yang mau dikatakan, ketika bangunan gereja itu digunakan, pastoran dipakai, sebenarnya proses pembangunan balai sedang dimulai. Bahkan pembangunan balai sudah sampai pada tahap pemancangan.
Pada bulan Pebruari tahun 2004, Dewan Paroki menghentikan pembangunan balai karena bangunan fisik gereja mulai mengalami masalah. Cut of dengan pihak kontraktor dilakukan, dan kemudian proses pembangunan dinyatakan tidak diteruskan lagi.
Era Baru Pembangunan Balai: “Proses yang Lebih Teliti”
Ketika bangunan fisik mulai mengalami masalah, Romo Paroki atas anjuran beberapa tokoh umat membentuk Tim Khusus beranggotakan tiga orang yang kompeten dalam bidangnya. Tugas utamanya mengamati-menganalisa serta mengevaluasi dan memberi masukan pada dewan tentang problem yang dihadapi dengan bangunan fisik gereja. Beberapa kali diadakan koordinasi dalam bentuk pertemuan dengan pihak kontraktor dan panitia, beberapa kesimpulan dan keputusan juga diambil. Hasilnya, gereja yang baru dibangun itu memang harus diperbaiki.
Kenyataan, gereja sudah digunakan umat untuk beribadah, maka supaya perbaikan tidak mengganggu suasana ibadah umat, perlu dipikirkan alternatif sarana untuk umat beribadah. Beberapa alterantif ditawarkan dan semuanya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Akhirnya Dewan Paroki memutuskan pekerjaan balai diteruskan. Dewan juga memutuskan agar Dewan Paroki bisa mefokuskan diri pada renovasi nanti, maka dipandang perlu adanya pendelegasian wewenang kepada Romo Kuasi dan Badan Pengurus Harian Gereja Roh Kudus untuk melanjutkan proses pengerjaan Balai Paroki. Maka keluarlah surat pendelegasian oleh Rm. Remigius Ismael Sene, Pastor Kepala Paroki, untuk Romo dan BPH Gereja Roh Kudus.
Berdasarkan pendelegasian itu, maka Rm. Gregorius Kaha, SVD sebagai Penanggungjawab Kuasi Paroki bersama BPH mulai mengadakan langkah-langkah konkrit. Sesudah mengadakan koordinasi dengan Tim Khusus yang dibentuk dewan guna menyatukan visi bersama dalam hal pembangunan balai, maka dalam rapat BPH plus para Ketua Wilayah di Gereja Roh Kudus disepakati satu hal yang penting yakni, karena pelbagai alasan dan pertimbangan teknis, maka Balai Paroki dikerjakan sendiri. Beberapa tokoh umat kita libatkan. Memang dengan sistem kerja ini, ada kelemahan dan kelebihannya. Tetapi patut dicatat komitmen dan pengorbanan semua mereka yang terlibat langsung, luarbiasa besar. Kita bangga mempunyai tokoh-tokoh awam yang sangat peduli dan konsen. Bagi mereka semua terima kasih sudah selayaknya kita sampaikan.
Pembangunan fisik dimulai dengan pembenahan kembali beberapa bagian yang sudah dikerjakan sebelumnya. Baru pada tanggal 22 Juni 2005, Rm. Remigius Sene dengan dihadiri beberapa orang memberkati tiang pancang; dan atas inisiatif beberapa teman, diadakan juga syukuran dan sembahyangan bagi para tukang. Proses pembangunan terus dimulai.
Banyak sekali pergumulan dalam proses pembangunan, di satu sisi panitia harus bekerja dengan prinsip kehati-hatian tetapi di sisi lain dewan harus berhadapan dengan pertanyaan umat, kapan Balai Paroki ini selesai. Berkat kesabaran, kerjasama dan juga kerelaan berkorban dari setiap pihak akhirnya balai yang menghabiskan dana Rp. 1.506.145.681 milyar itu diselesaikan. Dan pada tanggal 15 Nopember 2006 bertempat di Balai Paroki lantai II, di hadapan Dewan Paroki, para Ketua Wilayah dan Panitia, diadakan sosialisasi penggunaan balai sekaligus evaluasi dan pertanggungjawaban seluruh proses pembangunan. (Memang kita ingin membangun tradisi, sekecil apapun pekerjaan dalam hubungan dengan pembangunan di gereja, mesti ada laporan dan penyerahan kepada dewan). Beberapa pekerjaan yang belum selesai akan tetap dilanjutkan. Satu hal yang tak boleh dilupakan ada begitu banyak sumbangan langsung yang kita terima, sayang mereka semua tidak ingin disebutkan namanya, tetapi kepada mereka dengan penuh hormat kita mengucapkan banyak terima kasih atas dukungannya.
Pesan Akhir: “Fisik Gereja Retak, Isi Gereja Jangan Sampai Pecah”
Hari ini kita mengadakan Misa Pemberkatan Balai. Balai ini hanya sarana, tetapi prioritas kita tetap, yakni bangunan gereja yang adalah “Domus Dei dan Domus Ecclesie” yakni Rumah Tuhan dan Rumah Umat beriman berkumpul berdoa dan bersyukur.
Pembangunan fisik akan kita teruskan tetapi jangan lupa proses pembangunan jemaat karena gereja yang sesungguhnya adalah persekutuan umat beriman. Maka tidak berlebihan kalau saya katakan: fisik gereja retak tetapi isi gereja jangan sampai pecah. Saya percaya Roh Kudus membimbing dan memimpin kita semua, komunitas umat beriman di gereja yang menggunakan nama pelindung Roh Kudus ini. Akhirnya, atas nama dewan, kami ucapkan banyak terima kasih untuk seluruh umat di Paroki Gembala Yang Baik teristimewa di Gereja Roh Kudus, “Balai Paroki Kita sudah diberkati!” Semoga sarana ini bisa membantu kita dalam menghayati hidup iman dan menolong kita membangun persekutuan di gereja ini.
|
||