|
Katekese tentang Mengasihi Allah
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu menuruti perintah-Ku.”
Tiada yang terlebih lazim di kalangan umat Kristiani selain dari mengatakan, “Ya Allah-ku; aku mengasihi-Mu,” dan tiada yang terlebih jarang, mungkin, selain dari mengasihi Allah yang baik. Puas dengan melakukan tindakan-tindakan kasih lahiriah, di mana hati kita yang malang seringkali tidak ikut ambil bagian, kita beranggapan bahwa kita telah menunaikan semua perintah Allah. Sungguh suatu kekeliruan, suatu kesalahan; sebab, anak-anakku, St Yohanes mengatakan bahwa sepatutnyalah kita tidak mengasihi Allah yang baik dengan perkataan belaka, melainkan juga dengan perbuatan. Pula Tuhan kita Yesus Kristus bersabda, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu menuruti perintah-Ku.” Andai kita dihakimi dengan hukum ini, betapa sedikitnya umat Kristiani yang sungguh mengasihi Allah, sebab begitu sedikit yang menuruti perintah-perintah-Nya. Namun demikian, tiada yang terlebih penting selain dari mengasihi Allah. Itulah yang pertama dari segala kebajikan, suatu kebajikan yang demikian penting, hingga tanpanya kita tidak akan pernah sampai ke surga; dan demi mengasihi Allah-lah kita sekarang berada di dunia. Bahkan jika Allah yang baik tidak memerintahkannya, inilah perasaan yang begitu alami dari diri kita, bahwa hati kita atas kehendaknya sendiri ditarik kepada-Nya.
Tetapi celakanya, kita mencurahkan kasih kita pada obyek-obyek yang tak layak, dan menolak memberikannya kepada Dia saja yang layak dikasihi secara tak terbatas. Dengan demikian, anak-anakku, seorang akan mencintai harta kekayaan, yang lain mencintai kenikmatan; dan keduanya tidak mempersembahkan apapun kepada Allah yang baik selain dari sisa-sisa kelesuan hati yang letih melayani dunia. Dari sanalah datang kasih yang suam-suam, kasih yang terbagi, yang oleh karenanya tak layak bagi Allah yang baik; sebab Ia saja, yang jauh melampaui segala ciptaan, yang layak kita kasihi di atas segala-galanya: lebih dari harta kekayaan kita, sebab harta kekayaan itu duniawi; lebih dari para kerabat dan sahabat kita, sebab mereka itu fana; lebih dari hidup kita, sebab hidup kita akan berakhir; lebih dari diri kita sendiri, sebab kita milik-Nya. Kasih kita, anak-anakku, jika memang sejati, haruslah tanpa batasan dan haruslah mempengaruhi tingkah laku kita….
Jika Juruselamat dunia, berbicara kepada masing-masing kita secara pribadi, dan sekarang mengajukan kepada kita pertanyaan yang sama yang dulu Ia tanyakan kepada St Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” dapatkah kita menjawab seyakin Rasul agung kita itu, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Domine, tu scis quia amo te. Kita mungkin mengucapkan kata-kata ini tanpa memasukkannya dalam hati dan meresapinya; sebab, anak-anakku, mengasihi Allah yang baik bukanlah sekedar mengatakan dengan bibir, “Ya Allah-ku; aku mengasihi-Mu.” Ah, tidak! di manakah ada pendosa yang tidak sesekali mengucapkan kata-kata ini?
Mengasihi Allah yang baik tidak sekedar merasakan dari waktu ke waktu perasaan-perasaan kasih kepada Tuhan; devosi penuh perasaan ini tidak senantiasa ada dalam kuasa kita. Mengasihi Allah yang baik bukannya setia dalam menunaikan bagian kewajiban kita dan mengabaikan yang lain. Allah yang baik tak menghendaki separuh-separuh: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Ini menunjukan kekuatan Perintah untuk mengasihi Allah. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita berarti memilih-Nya melebihi segala yang lain, hingga siap sedia kehilangan segala harta milik kita, kehormatan kita, hidup kita, daripada menghinakan Tuan yang baik ini. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita berarti tidak mencintai suatupun yang tidak selaras dengan mengasihi Tuhan; berarti tidak mencintai suatupun yang dapat membuat hati kita terbagi dalam mengasihi Allah yang baik; berarti menyangkal segala hasrat, segala nafsu yang tak teratur. Adakah demikian, anak-anakku, kita mengasihi Allah yang baik?
Mengasihi Allah yang baik dengan segenap akal budi berarti mempersembahkan kepada-Nya pengetahuan dan pikiran kita, dan percaya akan segala yang diajarkan-Nya. Mengasihi Allah yang baik dengan segenap akal budi berarti kerap merenungkan-Nya, dan belajar untuk terlebih lagi mengenal-Nya. Mengasihi Allah yang baik dengan segenap kekuatan berarti mempergunakan harta milik kita, kesehatan kita, bakat-bakat kita dalam melayani-Nya dan memuliakan-Nya. Berarti mengarahkan segala tindakan kita kepada-Nya sebagai tujuan akhir kita. Sekali lagi, adakah demikian, anak-anakku, kita mengasihi Allah yang baik? Dinilai dengan aturan yang tetap ini, betapa sedikitnya umat Kristiani yang sungguh mengasihi Allah!
Adakah umat Krisiani yang buruk mengasihi Allah yang baik, mereka yang adalah budak nafsu mereka? Adakah orang-orang duniawi mengasihi Allah yang baik, mereka yang mencari hanya kepuasan tubuh mereka dan kesenangan dunia? Adakah Allah dikasihi oleh si tamak, yang mengurbankan-Nya demi secuil perolehan yang hina? Adakah Allah dikasihi oleh si pengumbar berahi, yang menyerahkan diri pada kejahatan-kejahatan yang paling bertentangan dengan kasih ilahi? Adakah Allah dikasihi oleh si pemabuk, yang tak memikirkan apapun selain dari anggur dan bersulang? Adakah Allah dikasihi oleh orang yang bergirang atas aib sesama, dan yang tak hendak memaafkannya? Adakah Allah dikasihi oleh gadis belia yang tak mencintai apapun selain dari kenikmatan, dan tidak memikirkan apapun selain dari kesenangan dan kesia-siaan? Tidak, tidak, anak-anakku, tak seorang pun dari orang-orang ini mengasihi Allah yang baik; sebab kita patut mengasihi-Nya dengan kasih yang melampaui segalanya, dengan kasih yang aktif!
Jika kita lebih suka menghinakan Allah yang baik daripada menjauhkan diri dari kenikmatan yang segera berlalu, dari menolak pertemuan-pertemuan yang tak sepantasnya, dari hasrat nafsu yang memalukan, kita tidak mencintai Allah yang baik melampaui segalanya, sebab kita mencintai kesenangan dan kenikmatan kita, hasrat nafsu kita, lebih dari Allah yang baik.
Marilah masuk ke dalam lubuk jiwa kita, marilah bertanya kepada hati kita, anak-anakku, dan melihat adakah kita tidak mencintai suatu ciptaan lebih dari Allah yang baik. Kita diperbolehkan mencintai kerabat dan sahabat kita, harta milik kita, kesehatan kita, reputasi kita; tetapi cinta ini haruslah tunduk pada cinta yang sepatutnya kita miliki bagi Allah, sehingga kita siap mengorbankannya apabila Ia menghendakinya….
Dapatkah kalian beranggapan bahwa kalian ada dalam disposisi ini - kalian yang memandang dosa berat sebagai sesuatu yang sepele, yang menyimpannya diam-diam dalam batinmu selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, meski kalian tahu bahwa kalian berada dalam keadaan yang paling tidak berkenan di hadapan Allah yang baik? Dapatkah kalian beranggapan bahwa kalian mengasihi Allah yang baik? Dapatkah kalian beranggapan bahwa kalian mengasihi Allah yang baik - kalian yang tak melakukan usaha apapun untuk memperbaiki diri; kalian yang tak hendak menjauhkan diri dari apapun; kalian yang menghinakan sang Pencipta setiap kali kalian mendapatkan kesempatan? Ya, anak-anakku, apa yang dicintai si tamak dengan segenap hatinya adalah uang; apa yang dicintai si pemabuk dengan segenap hatinya adalah anggur; apa yang dicintai si asusila dengan segenap hatinya adalah obyek nafsu. Kalian, para gadis, kalian yang lebih suka menghinakan Allah daripada meninggalkan dandanan dan kesia-siaan kalian, kalian mengatakan bahwa kalian mencintai Allah; sebaliknya katakanlah bahwa kalian mencintai diri kalian sendiri.
Tidak, tidak, anak-anakku; bukan demikianlah Allah yang baik dikasihi, sebab kita patut mengasihi-Nya bukan hanya dengan kasih yang melampaui segalanya, melainkan juga dengan kasih yang aktif. “Kasih,” kata St Agustinus, “tak dapat tinggal tanpa tindakan tetap jiwa: Non potest vacare amor in anima amantis. Ya,” kata santo agung ini, “carilah kasih yang tidak mewujudnyatakan dirinya dalam karya, dan engkau tiada akan menemukannya.” Apa! adakah mungkin, ya Tuhan-ku, bahwa kasih-Mu sendiri dapat mandul, dan bahwa api ilahi, yang seharusnya menyalakan seluruh dunia, dapat tanpa karya dan daya?
Apabila engkau mengasihi seseorang, engkau akan menunjukkan kasih kepadanya banyak atau sedikit seturut perasaan kasihmu kepadanya banyak atau sedikit. Lihatlah, anak-anakku, betapa para kudus amat serupa, mereka yang semuanya dipenuhi dengan kasih kepada Allah yang baik; tak ada yang terlalu berharga bagi mereka; dengan sukahati mereka melakukan kurban-kurban besar; mereka membagi-bagikan harta mereka kepada kaum miskin, berbuat baik kepada para musuh mereka; mengamalkan hidup ketat dengan matiraga; menjauhkan diri dari kesenangan dunia, dari kenyamanan hidup, membenamkan diri dalam kesunyian; mereka bergegas menyambut aniaya dan maut, sebagaimana orang bergegas ke pesta. Hal-hal yang demikian adalah buah-buah dari kasih kepada Allah yang baik yang ada dalam diri para kudus; demikian pulalah yang seharusnya ada dalam diri kita. Tetapi, anak-anakku, kita tidak dirasuki oleh kasih kepada Allah; kita tidak mengasihi Allah yang baik. Sungguh, dapatkah seseorang mengatakan bahwa ia mengasihi Allah yang baik, ia yang begitu mudah dicekam ketakutan dan yang segera mundur karena kesulitan yang paling remeh? Sungguh malang! Apakah jadinya kita jika Yesus Kristus mengasihi kita hanya sebanyak kita mengasihi-Nya?
Tetapi tidak. Menang atas sengsara salib, kepahitan maut, aib atas aniaya yang paling keji, tak ada yang terlalu berharga bagi-Nya ketika Ia harus membuktikan bahwa Ia mengasihi kita. Itulah teladan kita satu-satunya. Jika kasih kita aktif, ia akan mewujudnyatakan dirinya melalui karya-karya yang merupakan buah-buah dari kasih, sebab kasih kepada Allah yang baik bukan sekedar kasih yang melampaui segalanya, melainkan juga suatu cinta kasih yang saleh, suatu kecintaan pada ketaatan, yang memampukan kita mengamalkan perintah-perintah-Nya; suatu kasih yang aktif, yang memampukan kita menunaikan segala tugas kewajiban seorang Kristiani yang baik. Kasih yang demikianlah, anak-anakku, yang Tuhan kehendaki dari kita, yang karenanya Ia beroleh begitu banyak gelar, yang Ia bayar dengan begitu banyak ganjaran yang dilimpahkan atas kita oleh wafat-Nya bagi kita di salib. Betapa bahagianya, anak-anakku, mengasihi Allah yang baik! Tiada sukacita, tiada kebahagiaan, tiada kedamaian dalam hati mereka yang tidak mengasihi Allah yang baik di dunia ini. Kita menginginkan surga, kita merindukan surga; tetapi agar kita pasti mendapatkannya, marilah kita mulai dengan mengasihi Allah yang baik di bawah sini, agar dapat mengasihi-Nya, memiliki-Nya dalam keabadian dalam Firdaus-Nya yang kudus.
sumber : “Catechism on the Love of God by Saint John Vianney by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|