|
Keakraban Ilahi:
JALAN SALIB
oleh: P. Gabriel dari St. Maria Magdalena, O.C.D.
Ya Roh Kudus, ajarilah aku nilai penderitaan, agar aku dapat menghargainya dan mencintainya sebagai sarana pengudusan.
MEDITASI
1. Hendaknyalah kita sepenuhnya yakin bahwa apabila Roh Kudus berkarya dalam jiwa kita untuk menjadikan kita serupa dengan Kristus, Ia dapat melakukannya hanya dengan membuka Jalan Salib bagi kita. Yesus adalah Yesus yang Tersalib; karenanya, tak akan ada keserupaan dengan-Nya terkecuali melalui salib, dan kita tiada akan pernah masuk ke kedalaman hidup rohani terkecuali dengan masuk ke dalam misteri salib. St Teresa dari Yesus mengajarkan bahwa bahkan rahmat kontemplatif tertinggi dianugerahkan kepada jiwa-jiwa hanya demi memungkinkan mereka memikul Salib. “Tuan-ku,” kata santa kita, “tak dapat melakukan yang terlebih besar bagi kita selain dari menganugerahkan kepada kita hidup yang serupa dengan hidup yang diamalkan oleh PutraNya terkasih. Sebab itu, aku merasa yakin bahwa anugerah-anugerah ini diberikan kepada kita untuk memperkuat kelemahan-kelemahan kita, agar kita dapat meneladani-Nya dalam penderitaan-penderitaan-Nya yang dahsyat” (Puri Batin VII, 4). Ya, keserupaan dengan Yesus Tersalib memiliki nilai dan kepentingan yang melampaui segala rahmat mistik! Seluruh hidup rohani didominasi oleh salib dan, sebagaimana salib adalah titik pusat dalam sejarah dunia, demikian juga salib adalah titik pusat dalam sejarah setiap jiwa. Salib memberi kita hidup; salib akan memeteraikan dalam jiwa kita ciri-ciri dari keserupaan yang paling sempurna dengan Yesus; semakin kita ikut ambil bagian dalam salib-Nya, semakin kita akan menyerupai Dia dan dapat bekerjasama dengan-Nya dalam karya Penebusan.
Guna mencapai kekudusan, adalah jelas bahwa kita membutuhkan salib. Menerima kehendak Allah selalu dan dalam setiap keadaan menyiratkan penyangkalan kehendak diri sendiri; adalah mustahil serupa dengan Yesus dalam segalanya, “yang dalam hidup ini tak memiliki kesenangan lain, pun kerinduan lain, selain dari melakukan kehendak BapaNya” (St Yohanes dari Salib, Mendaki Gunung Karmel, I, 13, 4), tanpa menyangkal kesenangan diri yang egois. Dan semua ini berarti: lepas dari kelekatan, salib-salib, kurban, penyangkalan diri. Artinya berangkat dengan teguh setia di jalan yang ditetapkan Yesus Sendiri: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24). Inilah jalan yang dinasehatkan dan ditawarkan Roh Kudus kepada kita untuk kita ikuti. Bilamana kita mendapati diri kita mencari hal-hal yang lebih mudah, lebih lapang, atau lebih terhormat; bilamana kita memperhatikan bahwa kita memuaskan cinta diri kita, kesombongan kita atau melihat bahwa kita lekat pada kehendak diri kita sendiri, marilah ingat bahwa semua ini jauh dari inspirasi Roh Kudus dan, yang lebih parah, merupakan halangan bagi karya-Nya dalam kita.
2. Dengan gagah berani mempraktekkan penyangkalan diri, kita memulai jalan untuk menjadi serupa dengan Yesus Tersalib; tetapi di sini, juga, inisiatif-inisiatif kita tak sebanding dengan tujuan yang hendak dicapai; tindakan-tindakan matiraga dan penyangkalan diri yang kita lakukan sepenuhnya tak cukup untuk menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan Kristus, Kristus yang Tersalib. Itulah sebabnya mengapa Roh Kudus, setelah menempatkan kita di jalan salib oleh inspirasi-inspirasi-Nya - yang cenderung menjadikan kita menerima, demi kasih kepada Allah, segala yang berat dan menyakitkan bagi kodrat - menimpakannya pada Diri-Nya Sendiri guna menyempurnakan pemurnian kita. Ia melakukan ini dengan mengirimkan pencobaan-pencobaan kepada kita, baik lahiriah maupun batiniah. “Kita harus tahu,” kata St Yohanes dari Salib, “bahwa Api Kasih Ilahi … melukai jiwa dan membinasakan serta melahap habis dalam jiwa cacat-cela dari kebiasaan-kebiasaan buruk jiwa; inilah karya Roh Kudus di mana Ia mempersiapkan jiwa untuk persatuan ilahi dan transformasi kasih dalam Allah.” (Api Kasih yang Hidup, 1, 19). Oleh sebab itu, janganlah kita membayangkan bahwa tindakan Roh Kudus akan selalu menghibur - malahan sebaliknya! Penderitaan adalah perlu untuk pemurnian kita dan, dari sini, keikutsertaan kita dalam karya penebusan Yesus. Semakin jauh kita maju di sepanjang jalan salib, semakin kita dikuduskan dan semakin berbuahlah karya kerasulan kita dalam Gereja. Jadi, jelas bahwa demi menguduskan kita Roh Kudus tak dapat memimpin kita melalui jalan lain selain dari jalan salib. Kita mendukung karya-Nya, terutama dengan suka hati menerima semua yang berat dan menyakitkan yang datang atas kita dalam hidup kita sehari-hari. Kerap kita melalaikan salib pencobaan sehari-hari dan memilih yang jauh, dan yang mungkin tiada pernah dikirimkan kepada kita. Janganlah kita mencari salib dalam penderitaan-pedneritaan yang luar biasa ini, yang jarang, andai pernah, kita hadapi; kita harus mencarinya dalam tugas kewajiban, hidup, kesulitan-kesulitan dan kurban-kurban setiap hari dan setiap saat. Di sini kita akan menemukan harta pusaka tak terperi, mengenalinya dalam terang iman, dengan pertolongan Roh Kudus yang mendorong kita untuk memeluk salib-salib setiap hari ini, tak hanya sekedar menanggungnya - menerimanya dan menawarkan dengan suka hati, mengatakan sepenuh hati: “Ya, aku menghendaki ini, bahkan meski tampaknya salib ini akan meremukkanku!”
PERCAKAPAN
“Ya Roh Kebenaran, tolonglah aku untuk mengenal Sabda-Mu; ajarilah aku untuk mengingat segala yang telah Ia sabdakan; terangilah aku, bimbinglah aku, jadikan aku serupa dengan Yesus sebagai `alter Christus', Kristus yang lain, dengan memberiku keutamaan-keutamaan-Nya, teristimewa kesabaran, kerendahan hati dan ketaatan-Nya; ijinkan aku ikut ambil bagian dalam karya penebusan-Nya dengan membuatku memahami dan mencintai salib.
Ya Roh Kudus, aku datang di hadapan-Mu bagai buah hijau yang kecil yang akan matang dalam matahari, bagai sejumput jerami yang akan dibakar, bagai setetes embun yang akan diserap matahari, bagai seorang anak bodoh yang perlu diberi pengajaran. Ya Roh Kudus, yang memberikan DiriMu Sendiri kepada jiwa-jiwa kecil yang malang dan rendah hati, aku menghadirkan diri di hadapan-Mu sebagai salah satu dari jiwa-jiwa ini, dan dalam disposisi batin ini aku memohon kepada-Mu: `Veni, Sancte Spiritus, sanctifica me!' Datanglah, Roh Kudus, kuduskanlah aku! Kerinduanku untuk kekudusan begitu hebat! Kiranya Engkau Sendiri yang menguduskan aku; bergegaslah menjadikan aku kudus dan seorang kudus yang besar, tanpa aku mengetahuinya, dalam ketiadaan diri dalam hidup keseharianku.
“Aku rindu menceburkan diriku ke dalam-Mu, ya Roh Kudus, Api Ilahi, agar Engkau menyempurnakan pemurnianku, memusnahkan cinta diriku yang mengerikan dan mengubahku sepenuhnya ke dalam kasih. Untuk inilah aku memohon Engkau turun atasku dan memimpinku seturut kehendak-Mu. 'Dirige actos nostros in benplacito tuo.' Pimpinlah tindakan-tindakan kami seturut kehendak-Mu.
“Ya Api yang membakar, Api Ilahi dalam pribadi, nyalakanlah aku, bakarlah aku, lalaplah aku, musnahkanlah segala cinta diri dalamku, ubahlah aku sepenuhnya ke dalam kasih, hantarlah aku pada `ketiadaan' agar aku dapat memiliki `segalanya'; hantarlah aku ke puncak `gunung' di mana tinggal hanya kehormatan dan kemuliaan Allah, di mana segalanya adalah `damai dan sukacita' dalam Engkau, ya Roh Kudus! Anugerahilah kiranya agar di bawah sini - melalui penderitaan dan kontemplasi kasih - aku dapat tiba pada persatuan paling akrab mesra dengan Tritunggal Mahakudus, hingga aku pergi untuk mengkontemplasikan-Nya dari muka ke muka dalam pandangan surga, dalam damai, sukacita dan kebahagiaan `perjamuan abadi'.” (Sr Carmela dari Roh Kudus OCD)
sumber : “Divine Intimacy: The Way of the Cross by Fr. Gabriel of St. Mary Magdalen, O.C.D.”
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|