|
Keakraban Ilahi:
MENCINTAI SALIB
oleh: P. Gabriel dari St. Maria Magdalena, O.C.D.
Lagi aku datang kepada-Mu, ya Tuhan-ku yang Tersalib, dengan kerinduan untuk masuk terlebih dalam ke dalam misteri Salib..
MEDITASI
1. Salib adalah penderitaan yang dipandang dalam terang rohani iman sebagai suatu alat keselamatan dan pengudusan, dan karenanya, sebagai suatu alat kasih. Dipandang dalam terang ini, Salib jelas layak dicintai; salib merupakan sarana luar biasa pengudusan kita. Persatuan kita dengan Allah tak dapat digenapi terkecuali melalui penderitaan. St Yohanes dari Salib telah menjelaskan sarana-sarana dengan mana jiwa dimurnikan untuk mencapai hidup dalam persatuan ilahi ini. Suatu program matiraga total diperlukan guna memutuskan segala ikatan-ikatan kita, sebab dalam diri kita ada banyak hambatan yang menghalangi kita digerakkan sepenuhnya oleh Allah; dan kegenapan karya ini adalah mustahil tanpa penderitaan. Tetapi penderitaan aktif, yakni, matiraga dan penitensi yang diilhami oleh inisiatif pribadi kita, tidaklah cukup. Kita teristimewa membutuhkan penderitaan pasif. Dengan kata lain, Tuhan Sendiri yang harus membuat kita menderita, tak hanya pada tubuh kita, melainkan juga pada jiwa kita, sebab kita begitu diliputi oleh karat, begitu penuh kemalangan hingga pemurnian total kita adalah tidak mungkin terkecuali Allah Sendiri ikut campur tangan secara langsung. Oleh karenanya, menceburkan kita ke dalam penderitaan pasif merupakan salah satu karya terbesar belas kasih-Nya, suatu bukti akan kasih-Nya yang tak terhingga.
Apabila Allah bertindak dengan cara ini dalam suatu jiwa, itu merupakan suatu pertanda bahwa Ia hendak membawa jiwa ke tingkat kesempurnaan yang tinggi. Tepat dalam penderitaan pemurnian pasif inilah gagasan salib diwujudkan secara paling unggul. Dalam Api Kasih yang Hidup (2,27), St Yohanes dari Salib mengajukan pertanyaan mengapa hanya ada begitu sedikit jiwa yang mencapai kelimpahan hidup rohani; dan ia menjawab: “Bukan karena Allah hendak mengkhususkan keadaan ini bagi sedikit jiwa-jiwa terpilih, melainkan karena Ia mendapati begitu sedikit jiwa yang mau menerima tugas berat pemurnian. Sebab itu, Ia berhenti memurnikan mereka, dan mereka mempersalahkan diri pada keadaan suam-suam kuku dan tidak maju lebih lanjut.” Adalah mustahil untuk dipersatukan dengan Allah, tanpa penderitaan-penderitaan rohani ini, tanpa memikul “beban” dari Allah ini. Penderitaan dan kesusahan batin saja yang dapat memperbesar daya jiwa dan menjadikan jiwa mampu memeluk Allah Sendiri.
2. “Wahai jiwa-jiwa yang ingin berjalan dengan aman dan nyaman dalam hal-hal rohani! Jika kalian tidak tahu betapa pentingnya menderita dan menanggungnya demi mencapai keamanan ini!” ~ St Yohanes dari Salib, Api Kasih yang Hidup, 2,28. Penderitaan dibutuhkan bukan hanya demi kebaikan jiwa, melainkan juga agar jiwa dapat memuliakan Allah dan membuktikan kasihnya kepada-Nya. Bukan masalah mencapai kesempurnaan untuk menikmatinya - sebab jiwa sempurna tiada pernah memikirkan diri sendiri - melainkan agar jiwa dapat sepenuhnya membaktikan diri pada kemuliaan Allah. Dalam arti inilah kita baca di puncak Gunung Kesempurnaan: “Hanya kehormatan dan kemuliaan Allah tinggal di gunung ini.” Bahkan sebagaimana Salib Yesus bagi-Nya merupakan sarana agung untuk memberikan kepada Bapa kemuliaan yang manusia berdosa menolak untuk berikan, demikian juga seharusnya salib kita: dengan sarana penderitaan-penderitaan, kita hendaknya menyilih dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dan kesalahan-kesalahan sesama, demi memberikan kepada Allah segala kemuliaan yang adalah hak-Nya.
Lagipula, seperti Salib Yesus adalah bukti terluhur dari kasih-Nya bagi kita, demikian pula salib kita, hendaknya menjadi bukti terindah dari kasih kita kepada-Nya. Putra Allah telah menyingkapkan kasih-Nya yang tak terbatas bagi kita dengan wafat-Nya di salib; demikian pula, realita kasih kita diwujudkan dengan menerima penderitaan-penderitaan demi kasih kepada-Nya. Salib, oleh karenanya, adalah sekaligus alat dan karya kasih; sebanyak kasih Allah kepada kita demikan juga hendaklah kasih kita kepada-Nya.
Semakin Allah menguduskan kita, semakin Ia membuktikan kasih-Nya kepada kita dan memberikan kepada kita kesempatan untuk memuliakan-Nya; akan tetapi Ia memurnikan kita hanya dengan sarana Salib - Salib agung Yesus ke mana kita harus mempersatukan salib-salib kecil kita.
Jadi pengudusan kita sebanding dengan pengalaman kita akan Sengsara Kristus. Penderitaan adalah, bahkan dalam makna ini, suatu bukti akan kasih Allah kepada kita. Jika kita paham semua ini, betapa kita akan mencintai Salib!
PERCAKAPAN
“Ya Tuhan, jalan pencobaan adalah cara dengan mana Engkau membimbing mereka yang Engkau kasihi, dan semakin Engkau mengasihi mereka, semakin banyak pencobaan yang Engkau kirimkan kepada mereka, sebab Engkau menjalin persahabatan hanya dengan jiwa-jiwa yang mencintai Salib... Andai Engkau bertanya kepadaku apakah aku akan memilih untuk menanggung semua pencobaan di dunia hingga akhir waktu, dan sesudahnya memperoleh sedikit lebih banyak kemuliaan, ataukah memilih untuk tidak mengalami pencobaan dan mencapai kemuliaan yang setingkat lebih rendah, maka aku akan menjawab bahwa aku dengan sangat senang hati akan menerima semua pencobaan sebagai pertukaran dengan sedikit lebih banyak buah dalam memahami karya-karya-Mu yang mengagumkan, sebab aku lihat bahwa semakin kami mengenal-Mu, semakin kami mengasihi dan memuliakan-Mu.
“Tidak, aku tak hendak melakukan apapun untuk menghindari kesusahan, jika itu adalah masalah mendapatkan kemuliaan bagi-Mu yang telah menderita begitu banyak bagi kami.
“Jika aku ingin tahu, ya Allah-ku, bagaimana Engkau bertindak terhadap mereka yang memohon kepada-Mu dari dalam lubuk hati mereka untuk menggenapi kehendak-Mu dalam diri mereka, aku hanya perlu memohon kepada PutraMu yang mulia, yang memanjatkan doa yang sama kepada-Mu di Taman Zaitun... Engkau mengabulkan kerinduan-Nya ini dengan menyerahkan-Nya pada segala macam penderitaan, penghinaan dan penganiayaan, dan membiarkan-Nya pada akhirnya wafat di Salib. Inilah apa yang Kau berikan kepada Dia yang Engkau kasihi lebih dari yang lainnya. Selama kami di dunia, inilah anugerah-anugerah-Mu. Anugerah-anugerah itu Engkau berikan sebanding dengan kasih-Mu kepada kami; Engkau memberi lebih banyak kepada mereka yang lebih Kau kasihi, dan lebih sedikit kepada mereka yang kurang Kau kasihi. Engkau juga memberi seturut keberanian yang Engkau dapati pada masing-masing kami, dan seturut kasih kami kepada-Mu, sebab jika kami banyak mengasihi-Mu, maka kami akan mampu menderita banyak bagi-Mu; sedangkan jika kami sedikit saja mengasihi-Mu, kami hanya akan mau menderita sedikit.” (St Teresa dari Yesus, Jalan Kesempurnaan, 18; 3; 32; Hidup 37).
Ya Allah-ku, tambahlah kasihku, perbesarlah hatiku yang malang dan jadikan mampu menanggung banyak demi kasih kepada-Mu. Aku bersedia menerima penderitaan, demi membuktikan kepada-Mu realita kasihku.
sumber : “Divine Intimacy: Love of the Cross by Fr. Gabriel of St. Mary Magdalen, O.C.D.”
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|