121. YESUS DI "AIR JERNIH": "JANGAN MENYEBUT NAMA TUHAN, ALLAH-MU, DENGAN SEMBARANGAN."   


1 Maret 1945

Semua murid sama sekali bingung. Mereka begitu gelisah hingga kelihatan seperti sarang lebah yang baru saja terganggu. Mereka berbicara dan melemparkan pandangan yang menyapu keluar ke segala arah... Yesus tidak ada di sana. Akhirnya mereka mengambil keputusan atas apa yang mengkhawatirkan mereka dan Petrus berkata kepada Yohanes: "Pergi carilah Guru. Ia ada di hutan dekat sungai. Katakan pada-Nya untuk datang segera atau memberitahu kita apa yang harus kita lakukan." Yohanes pun bergegas lari.

Iskariot berkata: "Aku tidak mengerti alasan akan begitu banyak kehebohan dan ketidakramahan. Aku akan sudah pergi dan menyambutnya dengan penuh hormat… Kunjungannya merupakan suatu kehormatan bagi kita. Jadi…"

"Aku tidak tahu. Laki-laki itu mungkin berbeda dari saudara asuhnya… Tapi… barangsiapa tinggal bersama hyena akan tertular bau dan instingnya. Bagaimanapun, kau ingin mengusir perempuan itu… Tapi berhati-hatilah dengan apa yang kau lakukan! Guru tidak menghendakinya, dan aku harus melindungi perempuan itu. Jika kau menyentuhnya… Aku bukan Guru… Sekedar informasi untukmu."   

"Oh! Bagaimanapun, siapakah perempuan itu? Mungkin si cantik Herodias?"

"Jangan bercanda."

"Jangan salahkan aku. Kau menjaganya seperti dia adalah seorang anggota kerajaan, seperti seorang ratu…"

"Guru mengatakan kepadaku: 'Pastikan dia tidak diganggu dan hormati dia.' Dan itulah apa yang sedang aku lakukan."

"Tapi siapakah dia? Tahukah kau?" tanya Tomas.

"Tidak."

"Ayo, katakan kepada kami… Kau tahu…" desak banyak dari antara mereka.

"Aku bersumpah aku tidak tahu apa-apa. Guru pasti tahu. Tapi aku tidak."

"Kita harus menyuruh Yohanes untuk menanyakannya pada-Nya. Ia memberitahunya segala hal."

"Kenapa? Apa istimewanya Yohanes? Apakah saudaramu itu seorang dewa?"

"Tidak, Yudas. Dia yang terbaik dari antara kita semua."

"Jangan repot-repot dengan masalah itu," kata Yakobus Alfeus. "Saudaraku melihat perempuan itu kemarin, ketika kembali dari sungai dengan ikan yang telah diberikan Andreas kepadanya, dan dia bertanya kepada Yesus. Dan Ia menjawab: 'Perempuan itu tidak berwajah. Dia adalah jiwa yang sedang mencari Allah. Dia tidak lebih dari itu bagi-Ku dan Aku ingin dia seperti itu bagi semua orang.' Dan Ia mengatakan 'Aku ingin' dengan cara begitu rupa, hingga aku nasihatkan kalian untuk tidak mendesak."

"Aku akan pergi kepadanya," kata Yudas Iskariot.

"Coba saja, jika kau dapat," kata Petrus, merah padam bagai seekor ayam jago.

"Apakah kau mau menjadi mata-mata dan melaporkannya pada Yesus?"

"Aku serahkan profesi itu pada mereka yang dari Bait Allah. Kami, orang-orang dari danau, mendapatkan roti kami dengan bekerja, bukan dengan melapor. Jangan pernah takut akan tuduhan dari Simon anak Yohanes. Tapi jangan provokasi aku dan jangan coba-coba berani tidak taat pada Guru, sebab aku di sini…"

"Dan siapakah kau? Seorang miskin seperti aku."

"Ya. Bukan, aku lebih miskin, lebih kasar dan lebih tidak terpelajar dibandingkan kau. Aku tahu, tapi itu tidak mengkhawatirkan aku. Aku akan khawatir jika aku sepertimu sejauh itu menyangkut hatiku. Tapi Guru memberiku tugas itu dan aku melaksanakannya."

"Seperti aku menyangkut hatimu? Apakah yang ada dalam hatiku yang begitu menjijikkan? Bicaralah, tuduh aku, hina aku…"

"Demi Allah, hentikan," ledak Zelot dan Bartolomeus. "Hentikan Yudas. Hormati senioritas Petrus."

"Aku menghormati semua orang, tapi aku ingin tahu apa yang ada dalam diriku…"

"Aku akan melayanimu sekarang juga… Biarkan aku bicara… Ada kesombongan, cukup untuk memenuhi dapur ini, ada kemunafikan dan nafsu."

"Aku munafik?"

Mereka semua campur-tangan dan Yudas dipaksa diam.

Simon berkata perlahan kepada Petrus: "Maafkan aku, sobatku, jika aku mengatakan sesuatu kepadamu. Dia bersalah, tapi kau juga bersalah. Dan itu adalah bahwa kau tidak sabar terhadap orang muda. Mengapakah kau tidak mempertimbangkan usia mereka, kelahiran mereka… dan banyak hal lain? Lihat, kau bertindak atas nama Yesus. Tapi tidakkah kau sadari bahwa perdebatan-perdebatan macam itu melelahkan-Nya? Aku tidak meminta dia (dan dia menunjuk Yudas) tapi aku mohon kepadamu, seorang laki-laki yang dewasa dan jujur. Ia sudah punya sangat banyak masalah oleh sebab para musuh-Nya. Mengapakah kita harus menambah kesusahan-Nya? Ada begitu banyak permusuhan sekeliling-Nya. Mengapakah kita harus membangkitkan permusuhan juga dalam sarang-Nya sendiri?"

"Benar. Yesus sangat sedih dan Ia juga telah kehilangan bobot tubuh-Nya," kata Yudas Tadeus. "Pada waktu malam aku dapat mendengar-Nya membolak-balikkan tubuh di atas pembaringan-Nya, dan mendesah. Beberapa malam yang lalu aku bangun dan aku melihat-Nya menangis sementara berdoa. Aku bertanya kepada-Nya: 'Ada apakah?' Dan Ia memelukku dan berkata: 'Berlakulah sebagai sahabat terhadap-Ku. Betapa beratnya menjadi sang Penebus!'"

"Aku juga bertemu dengan-Nya di hutan dekat sungai dan jelas bahwa Ia baru saja menangis," kata Filipus. "Dan atas pandanganku yang penuh tanya Ia menjawab: 'Tahukah kau apa yang membuat Surga berbeda dari dunia, selain dari perbedaan akan kurangnya kehadiran Allah yang kelihatan? Adalah kurangnya kasih di antara manusia. Itu mencekik-Ku seperti tali leher kuda. Aku telah datang untuk menaburkan benih bagi burung-burung kecil dan untuk dikasihi oleh makhluk yang saling mengasihi satu sama lain."

Yudas Iskariot (dia pastilah agak kacau) melemparkan dirinya di atas tanah dan menangis seperti seorang anak kecil.

Pada saat itu Yesus masuk bersama Yohanes: "Ada apa? Mengapa menangis?..."

"Salahku, Guru. Aku berbuat salah. Aku mencela Yudas terlalu keras," kata Petrus jujur.

"Tidak, aku… aku yang harus disalahkan. Aku membuat masalah bagi-Mu. Aku tidak baik, aku mengganggu, aku membuat orang marah, aku tidak taat, dan Petrus benar. Tapi tolonglah aku untuk menjadi baik! Sebab aku punya sesuatu di sini, dalam hatiku, yang membuatku melakukan hal-hal yang aku tidak suka melakukannya. Dia lebih kuat dari aku… dan aku membuat masalah bagi-Mu, Guru, Yang kepadanya aku ingin memberikan hanya sukacita… Percayalah padaku! Itu betul…"

"Tentu saja, Yudas. Aku tidak ragu. Kau telah datang kepada-Ku dengan hati yang tulus, dengan antusiasmu yang sungguh. Tapi kau muda… Tak seorang pun mengenalmu, kau pun tidak mengenal dirimu sebaik Aku mengenalmu. Bangun dan kemarilah. Nanti kita akan berbicara sendirian. Sementara itu marilah kita berbicara mengenai masalah yang menyebabkan kalian semua memanggil Aku. Apakah bahayanya jika juga Menahem telah datang? Tidak dapatkah saudara asuh Herodes haus akan Allah yang benar? Apakah kalian takut untuk Aku? Tidak, jangan takut. Imanilah perkataan-Ku. Oang itu telah datang untuk suatu tujuan yang jujur."

"Jadi mengapakah dia tidak menyatakan dirinya?" tanya para murid.

"Tepat karena dia datang sebagai suatu 'jiwa' dan bukan sebagai saudara asuh Herodes. Ia tutup mulut sebab dia berpikir bahwa hubungannya dengan raja adalah bukan apa-apa di hadapan sabda Allah… Kita harus menghormati sikap diamnya."

"Tapi jika, sebaliknya, dia telah dikirim olehnya?…"

"Oleh siapa? Oleh Herodes? Tidak. Jangan takut."

"Jadi, siapakah yang mengutusnya? Bagaimana dia dapat tahu mengenai Engkau?"

"Melalui sepupu-Ku, Yohanes. Apakah kalian pikir sementara dalam penjara ia tidak berbicara mengenai Aku? Melalui Khuza… melalui suara orang banyak… melalui sikap dengki kaum Farisi… Juga daun-daun pepohonan dan udara berbicara mengenai Aku, sekarang ini. Sebuah batu telah dilemparkan ke dalam air yang tenang dan sebuah pemukul telah menghantam gong. Gelombang menyebar semakin dan semakin luas menyampaikan wahyu ke air yang jauh dan suara mempercayakannya pada jagad raya… Bumi sudah belajar mengatakan: 'Yesus' dan tidak akan pernah berhenti menyebutkannya. Pergi dan bersikaplah ramah terhadapnya seperti kalian bersikap terhadap semua orang lain. Pergilah. Aku tinggal di sini bersama Yudas."

Para murid pergi keluar.

Yesus menatap Yudas yang masih menangis dan bertanya kepadanya: "Baik? Tidak adakah yang hendak kau katakan kepada-Ku? Aku tahu semuanya mengenaimu. Tapi Aku ingin mendengarnya darimu. Mengapakah kau menangis? Dan lebih dari itu, mengapakah kekacauan ini di mana kau selalu sangat tidak puas?"

"Ya, Guru! Engkau telah mengatakannya. Aku cemburu dari kodratku. Engkau pasti tahu. Dan aku menderita melihat… melihat begitu banyak hal. Itu membuatku resah dan… tidak adil. Dan aku menjadi jahat padahal aku tidak mau…"

"Janganlah mulai menangis lagi! Apakah yang membuatmu cemburu? Biasakanlah berbicara dengan jiwamu yang benar. Kau berbicara banyak, bahkan terlalu banyak. Tapi bagaimana? Dengan instingmu dan pikiranmu. Kau mengikuti jalur yang sulit dan berputar-putar untuk mengatakan apa yang ingin kau katakan: Aku berbicara mengenai kau, mengenai egomu, sebab sehubungan dengan apa yang harus kau katakan mengenai orang lain atau kepada orang lain, kau tidak menunjukkan kendali atau batasan. Juga kau tidak menunjukkan kendali atau batasan pada dagingmu. Itu adalah kuda gilamu. Kau adalah seperti seorang kusir kepada siapa manajer perlombaan memberikan dua ekor kuda gila. Yang satu adalah sensualitasmu, yang lain… haruskah Aku beritahukan apa itu yang satunya? Haruskah? Adalah kesalahan yang tak hendak kau jinakkan. Kau adalah seorang kusir yang cakap tapi sembrono, kau mengandalkan kemampuanmu dan kau pikir itu cukup. Kau ingin menjadi yang pertama… kau tak hendak membuang waktu untuk mengganti setidaknya satu kudamu. Sebaliknya kau memacu dan mencambuk kuda-kudamu dengan cemeti. Kau ingin menjadi 'si pemenang'. Kau antusias mendapatkan tepuk-tangan… Tidak sadarkah kau bahwa kemenangan adalah pasti apabila ditaklukkan dengan kerja yang tekun, sabar dan bijak? Berbicaralah kepada jiwamu. Aku ingin pengakuanmu berasal dari sana. Atau haruskah Aku katakan kepadamu apa yang ada dalam hatimu?"   

"Aku dapati bahwa Engkau tidak adil juga tidak tetap, dan aku menderita karena itu."

"Mengapakah kau menuduh-Ku? Dalam hal apakah Aku gagal dalam pandanganmu?"

"Ketika aku ingin membawa-Mu kepada teman-temanku, Engkau menolak dengan mengatakan: 'Aku lebih suka bersama orang-orang sederhana.' Lalu Simon dan Lazarus mengatakan kepada-Mu bahwa adalah lebih baik mencari perlindungan dari beberapa penguasa dan Engkau setuju. Engkau memihak kepada Petrus, Simon, Yohanes… Engkau…"

"Apa lagi?"

"Tidak ada lagi, Yesus."

"Omong kosong!... seperti gelembung-gelembung buih pada gelombang-gelombang air. Aku merasa kasihan terhadapmu, sebab kau adalah seorang terpuruk malang yang menyiksa dirimu sendiri, sementara kau dapat bersukacita. Dapatkah kau katakan bahwa tempat ini mewah? Dapatkah kau sangkal bahwa ada suatu alasan mendesak yang mengharuskan Aku untuk menerimanya? Andai Sion bukanlah ibu tiri yang sebegitu keras terhadap para nabinya, akankah Aku berada di sini, bersembunyi seperti orang yang takut akan keadilan manusia dan mengambil perlindungan di sebuah sanctuarium?"    

"Tidak."

"Baik, jadi? Dapatkah kau katakan bahwa Aku tidak mempercayakan misi kepadamu seperti yang Aku lakukan terhadap yang lain? Dapatkah kau katakan bahwa Aku keras terhadapmu apabila kau bersalah? Kau belum tulus… Kebun-kebun anggur!... Oh! Kebun-kebun anggurmu! Apakah nama kebun-kebun anggur itu? Kau tidak menaruh simpati pada mereka yang menderita atau yang sedang menebus dirinya sendiri. Kau bahkan tidak hormat terhadap Aku. Dan yang lain memperhatikan itu… Dan walau begitu hanya satu suara yang selalu membelamu: suara-Ku. Yang lain bisa saja cemburu, sebab jika ada satu yang selalu dilindungi, itu adalah kau."

Yudas menangis sedih dan tergerak hatinya.

"Aku pergi. Ini adalah waktu di mana Aku menjadi milik semua orang. Kau tinggal di sini dan merenung."  

"Ampuni aku, Guru. Aku tidak akan merasa damai hingga Engkau telah mengampuniku. Janganlah sedih karena aku. Aku seorang anak yang nakal… Aku mengasihi dan aku menyakiti… terhadap ibuku… dan terhadap Engkau. Dan aku akan melakukan yang sama terhadap istriku andai aku menikah… Lebih baik jika aku mati!..."

"Lebih baik jika kau memperbaki jalanmu. Tapi kau diampuni. Selamat tinggal." Yesus pergi keluar dan menutup pintu.

Petrus di luar: "Ayo, Guru. Sudah terlambat. Dan ada sangat banyak orang. Hari akan segera gelap. Dan Engkau belum makan… Bocah itu penyebab segalanya."

"'Bocah' itu membutuhkan kalian semua supaya dia tidak lagi menjadi penyebab dari segala hal ini. Coba dan ingat itu, Petrus. Jika dia itu anakmu, apakah kau akan berbelas-kasihan terhadapnya?..."

"Hmm! Mungkin dan mungkin juga tidak! Aku akan berbelas-kasihan terhadapnya… tapi… meski dia sudah seorang dewasa, aku akan mengajarinya sesuatu, seolah dia adalah seorang anak nakal. Andai dia anakku, dia tidak akan seperti itu…"

"Cukup itu."

"Ya, itu cukup, Tuhan-ku. Itu Menahem. Yang mantolnya merah sangat tua hingga kelihatan seperti hitam. Dia memberikan ini padaku untuk orang-orang miskin dan dia bertanya padaku apakah dia dapat tinggal dan tidur di sini."

"Apakah yang kau katakan kepadanya?"

"Yang sebenarnya: 'Kami hanya punya tempat tidur untuk kami sendiri. Pergilah ke desa.'"

Yesus tidak mengatakan sesuatu. Tapi dia meninggalkan Petrus dalam kerepotannya dan pergi menghampiri Yohanes, kepada siapa Ia mengatakan sesuatu. Ia lalu menuju tempat-Nya dan mulai berbicara.

"Damai beserta kalian semua dan kiranya terang dan kekudusan datang kepada kalian bersama damai. Dikatakan: 'Jangan menyebut nama Tuhan, Allah-mu, dengan sembarangan.'"

Bilamanakah seorang menyebutnya dengan sembarangan? Hanya ketika orang mengutukinya? Tidak. Juga ketika orang menyebutnya tanpa membuat dirinya pantas akan Allah. Dapatkah seorang anak mengatakan: 'Aku mengasihi dan menghormati bapaku' jika dia melakukan justru sama sekali kebalikan dari apa yang bapanya inginkan darinya? Orang tidak mengasihi bapanya dengan mengatakan: 'bapa, bapa'. Orang tidak mengasihi Allah, dengan mengatakan: 'Allah, Allah'.

Di Israel di mana, seperti Aku jelaskan kepada kalian dua hari yang lalu, ada sangat banyak berhala dalam rahasia hati orang, ada juga pujian munafik kepada Allah, di mana perbuatan-perbuatan si pemuji tidak selaras dengannya. Ada juga kecenderungan di Israel: mereka mendapati sangat banyak dosa dalam hal-hal lahiriah dan tak hendak mendapatinya di mana dosa sesungguhnya berada, yakni dalam hal-hal batiniah. Di Israel ada juga kesombongan bodoh, suatu kebiasaan anti-manusiawi dan anti-rohani: Nama Allah kita yang diucapkan oleh bibir-bibir kafir dianggap sebagai sumpah dan orang-orang non-Yahudi dilarang untuk mendekati Allah yang benar, sebab itu dianggap sakrilegi.

Itulah situasinya sejauh ini. Tapi sekarang tidak lagi demikian…

Allah Israel adalah Allah sama Yang menciptakan semua manusia. Mengapakah melarang makhluk merasakan ketertarikan kepada Pencipta-nya? Apakah kalian pikir bahwa orang-orang yang tidak mengenal Allah tidak merasakan sesuatu dalam lubuk hati mereka, sesuatu yang belum terpuaskan, yang berteriak, galau, mencari? Siapa? Apa? Allah yang tak dikenal. Dan apakah kalian pikir bahwa jika seorang kafir maju mendekati altar Allah yang tak dikenal, ke altar non-jasmaniah yang adalah jiwa di mana selalu ada kenangan akan Pencipta-nya, jiwa yang berharap dimiliki oleh kemulian Allah, seperti Kemah Suci yang didirikan oleh Musa seturut ketetapan yang diberikan kepadanya, jiwa yang meratap sebab kepemilikian yang demikian tidak terjadi, apakah kalian pikir bahwa Allah akan menolak persembahan si kafir seperti orang menolak satu profanasi? Dan apakah kalian anggap sebagai dosa, tindakan yang disebabkan oleh kerinduan jujur suatu jiwa yang bangkit oleh panggilan surgawi yang mengatakan: 'Aku datang' kepada Allah Yang berkata kepadanya: 'Datanglah', sementara kalian anggap kudus, ibadat rusak seorang Israel yang mempersembahkan kepada Bait Allah apa yang tersisa dari kesenangannya, dan pergi ke hadirat Allah dan menyebutkan nama Yang Mahamurni, dengan tubuh dan jiwa cemar oleh dosa-dosa busuk yang tak terhitung banyaknya?         

Tidak. Dengan sungguh-sungguh Aku katakan kepada kalian bahwa sakrilegi sempurna dilakukan oleh orang Israel itu yang dengan jiwa cemarnya menyebut Nama Allah dengan sembarangan. Nama-Nya disebutkan dengan sembarangan, ketika kalian sadar, dan kalian bukan orang-orang bodoh, bahwa kalian menyebutkannya dengan sembarangan oleh sebab keadaan jiwa kalian. Oh! Aku melihat wajah murka Allah yang dengan jijik berpaling ke arah lain ketika seorang munafik menyebut-Nya atau suatu jiwa yang tak bertobat menyebut-Nya! Dan Aku gemetar sekalipun Aku tidak pantas mendapatkan murka ilahi.

Aku membaca dalam banyak hati kalian pikiran ini: 'Baik, terkecuali anak-anak, tak seorang pun dapat menyebutkan nama Allah, sebab dalam semua orang ada ketidakmurnian dan dosa.' Tidak. Jangan katakan itu. Nama itu harus diserukan oleh para pendosa. Harus diserukan oleh mereka yang merasa bahwa mereka dicekik oleh Setan dan ingin membebaskan diri mereka dari dosa dan dari si Penggoda.

Dikatakan dalam Kitab Kejadian bahwa si Ular mencobai Hawa ketika Allah tidak sedang berjalan-jalan di Firdaus. Andai Allah ada di Firdaus, Setan tidak mungkin berada di sana. Andai Hawa berseru kepada Allah, Satan pasti akan lari. Selalu camkan pikiran itu dalam hatimu. Dan berserulah kepada Tuhan dengan tulus hati. Nama itu adalah keselamatan. Banyak dari antara kalian yang ingin turun ke dalam sungai untuk dimurnikan. Murnikanlah hatimu, tanpa henti, dengan mengukirkan di atasnya, dengan sarana kasih, kata: Allah. Bukan doa-doa munafik. Bukan praktek-praktek kebiasaan. Tapi katakan Nama itu: Allah, dengan hatimu, pikiranmu, perbuatanmu, dengan segenap dirimu. Ulangi itu agar kau tidak sendirian. Ulangi agar ditopang. Ulangi agar diampuni.      

Pahamilah makna dari perkataan Allah di Sinai: nama Allah disebutkan 'sembarangan' ketika saat menyebutkan 'Allah' tidak mengindikasikan suatu perubahan untuk menjadi lebih baik. Maka, itu adalah dosa. Tidak menyebutkan 'sembarangan', ketika, seperti detak jantungmu, setiap menit dari harimu, setiap pebuatan jujur, kebutuhan, pencobaan, kemalangan menghantar ke bibirmu perkataan kasih seorang anak: 'Datanglah, Allah-ku!' Maka, sungguh, kau tidak berdosa menyebutkan Nama Allah yang kudus.

Pergilah. Damai sertamu."

Tidak ada orang-orang sakit. Yesus tetap tinggal di bawah naungan, di mana bayang-bayang sore senja mulai turun. Ia bersandar pada tembok, dengan tangan-tangan terlipat. Ia mengamati mereka yang sedang pergi dengan menunggangi keledai-keledai kecil mereka, atau bergegas menuju sungai untuk dimurnikan atau pergi ke desa mereka di seberang ladang-ladang.

Laki-laki yang mengenakan mantol merah sangat gelap itu tampak bimbang akan apa yang harus dilakukannya. Yesus mengamatinya. Orang itu pada akhirnya bergerak dan menuju kudanya; dia sesungguhnya memiliki seekor kuda putih yang bagus berhiaskan penutup merah yang terjuntai hingga ke bawah pelananya yang bertatah.

"Sobat, tunggu Aku," kata Yesus dan Ia pergi menghampirinya. "Hari sudah mulai gelap. Apakah kau punya tempat menginap? Apakah kau datang dari jauh? Apakah kau sendirian?"

Orang itu menjawab: "Dari tempat yang sangat jauh… dan aku akan pergi… aku tidak tahu… Ke desa, jika aku menemukan… jika tidak… ke Yerikho. Aku meninggalkan para pengawalku di sana, sebab aku tidak percaya pada mereka."

"Jangan. Aku menawarkan tempat tidur-Ku untukmu. Sudah disiapkan. Apakah kau punya makanan?"

"Tidak, aku tidak punya. Aku berharap dapat menemukan sebuah tempat yang lebih dapat menawarkan…"

"Tak kekurangan suatupun."

"Tak suatupun. Bahkan tidak kedengkian terhadap Herodes. Tahukah Engkau siapa aku?"

"Hanya ada satu nama bagi mereka yang mencari Aku: saudara-saudara dalam Nama Allah. Marilah. Kita akan berbagi makanan. Kau dapat menempatkan kudamu di ruang besar itu. Aku akan tidur di sana dan Aku akan menjaganya untukmu…"

"Tidak. Aku tidak akan pernah membiarkan itu. Aku yang akan tidur di sana. Aku menerima roti-Mu tapi tidak lebih. Aku tidak akan menempatkan tubuhku yang najis ke tempat di mana Engkau mengistirahatkan tubuh-Mu yang kudus."

"Apakah kau pikir Aku kudus?"

"Aku tahu Engkau kudus. Yohanes, Khuza… Perbuatan-perbuatan-Mu… perkataan-Mu… Istana kerajaan menggemakannya bagai sebuah kerang membisikkan suara laut. Aku biasa pergi kepada Yohanes… kemudian aku kehilangan dia. Tapi ia telah mengatakan kepadaku: 'Ia Yang lebih besar dari aku akan mengambilmu dan meninggikanmu.' Tak dapat lain selain Engkau. Aku datang ketika aku telah menemukan di mana Engkau berada."

Mereka sendirian di bawah naungan. Para murid berbicara dengan suara pelan dekat dapur dan menyapukankan pandangan sekilas kepada mereka.

Zelot, yang membaptis hari ini, kembali dari sungai bersama orang-orang yang terakhir dibaptis. Yesus memberkati mereka dan lalu berkata kepada Simon: 'Orang ini adalah peziarah yang mencari naungan dalam nama Allah. Dan dalam nama Allah, kita menyambutnya sebagai seorang sahabat."

Simon membungkuk dan orang itu melakukan yang sama. Mereka masuk ke dalam ruangan besar dan Menahem mengikatkan kudanya ke palungan. Yohanes, dengan isyarat dari Yesus, bergegas masuk dengan rumput dan seember air. Juga Petrus masuk dengan sebuah lampu minyak kecil, sebab hari sudah gelap.

"Ini sangat menyenangkan. Semoga Allah menganjari kalian," kata laki-laki terhormat itu dan lalu diapit Yesus dan Simon dia masuk ke dalam dapur di mana sekantong kayu bakar, yang baru saja dinyalakan, memberikan penerangan.

Semuanya pun berakhir.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 2                     Daftar Istilah                      Halaman Utama