|
Kesaksian Catalina mengenai Misa Kudus
Dalam suatu katekese yang mengagumkan, Tuhan dan Perawan Maria mengajarkan kepada kita, pertama-tama, mengenai cara berdoa Rosario Suci, berdoa dengan hati kita, dengan merenungkan dan menikmati saat-saat perjumpaan kita dengan Allah dan Bunda Terberkati kita. Mereka juga mengajarkan kepada kita cara melakukan Pengakuan Dosa yang baik, dan [dalam kesaksian ini], mereka telah menunjukkan kepada kita apa yang terjadi sepanjang perayaan Misa Kudus dan cara menghayatinya dengan hati kita.
2) Inilah kesaksian yang harus dan ingin aku berikan kepada seluruh dunia, demi Kemuliaan Allah yang terlebih besar dan demi keselamatan mereka semua yang mau membuka hati mereka bagi-Nya. Kesaksian ini diberikan supaya banyak jiwa-jiwa yang dikonsekrasikan kepada Allah dapat mengobarkan kembali api kasih mereka kepada Kristus; mereka yang memiliki tangan-tangan yang mempunyai kuasa untuk mendatangkan Kristus ke dunia untuk menjadi santapan kita [jiwa-jiwa imam] dan jiwa-jiwa lainnya [jiwa-jiwa religius] agar mereka membebaskan diri dari kebiasaan menyambut-Nya sebagai suatu "praktek rutinitas" dan menghidupkan kembali kekaguman dari perjumpaan setiap hari dengan Kasih. Dan kesaksian ini diberikan supaya para saudara dan saudariku kaum awam di segenap penjuru dunia dapat menghayati Mukjizat teragung, perayaan Ekaristi Kudus, dengan hati mereka.
3) Waktu itu vigili Hari Raya Kabar Sukacita dan para anggota dari kelompok kami dan aku sudah pergi menyambut Sakramen Rekonsiliasi. Sebagian dari para perempuan dari kelompok doa tidak dapat melakukannya kala itu, dan mereka menunda Pengakuan mereka hingga keesokan harinya sebelum Misa Kudus.
4) Ketika aku tiba di Gereja keesokan harinya, sedikit terlambat, Yang Mulia, Uskup Agung dan para imam sudah keluar dari sakristi. Dengan suara lemah lembut dan feminin itu yang menyukakan jiwa orang, Perawan Maria berkata:
5) "Hari ini adalah hari pelajaran bagimu; dan Aku ingin kau memperhatikan dengan seksama sebab semua yang kau saksikan pada hari ini, semua yang kau alami pada hari ini; kau harus membagikannya dengan segenap umat manusia." Aku terpana dan tidak mengerti [arti kata-kata-Nya], tetapi aku berusaha memperhatikan dengan sangat seksama.
6) Hal pertama yang aku cermati adalah suatu paduan suara dari suara-suara yang sangat merdu yang dinyanyikan seolah dari kejauhan. Terkadang musik datang mendekat dan lalu pergi menjauh, bagai suara angin.
7) Yang Mulia memulai Misa, dan ketika beliau tiba pada RITUS TOBAT Santa Perawan berkata:
8) "Dari lubuk hatimu mohonlah pengampunan kepada Tuhan atas segala kesalahan-kesalahanmu, sebab telah menyakiti-Nya. Dengan cara ini kau akan dapat berpartisipasi dengan layak dalam hak istimewa ini yakni, ikut ambil bagian dalam Misa Kudus."
9) Pastilah terlintas dalam benakku: "Tetapi, aku dalam keadaan rahmat. Aku baru saja pergi mengaku dosa tadi malam."
10) Ia menjawab: "Apakah kau pikir kau belum menyakiti Tuhan sejak tadi malam? Mari Aku ingatkan kau akan beberapa hal. Ketika kau tengah meninggalkan rumah untuk datang kemari, gadis yang membantumu menghampirimu untuk menanyakan sesuatu, dan sebab kau terlambat, kau menjawabnya dengan tergesa dan tidak dengan cara terbaik. Itu adalah kurangnya cinta kasih dari pihakmu, dan kau katakan bahwa kau belum menyakiti Allah…?
11) Dalam perjalananmu kemari sebuah bis melintas di jalurmu dan nyaris menabrakmu. Kau mengekspresikan dirimu dengan suatu cara yang tidak pantas terhadap laki-laki malang itu, dan bukannya datang dengan mendaraskan doa-doamu dan mempersiapkan dirimu untuk Misa. Kau memperlihatkan kurangnya cinta kasih dan kau kehilangan damai dan kesabaranmu. Dan kau katakan bahwa kau belum menyakiti Tuhan…?
12) Kau tiba di menit-menit terakhir ketika prosesi para selebran menuju Altar sudah dimulai… dan kau akan ikut ambil bagian dalam Misa tanpa persiapan terlebih dahulu…."
13) "Baiklah Bunda-ku, jangan katakan lagi padaku," jawabku. "Engkau tak perlu mengingatkanku akan lebih banyak hal sebab aku akan mati karena sedih dan malu."
14) "Mengapakah kalian semua harus tiba di saat-saat terakhir? Kamu seharusnya tiba lebih awal supaya kamu dapat memanjatkan suatu doa dan memohon kepada Tuhan untuk mengutus Roh Kudus-Nya, supaya Roh Kudus dapat menganugerahimu roh damai dan membersihkanmu dari roh dunia, kekhawatiran-kekhawatiranmu, masalah-masalahmu dan distraksi-distraksimu agar kau dapat menghayati saat yang begitu sakral ini. Akan tetapi, kau tiba nyaris ketika perayaan hampir dimulai, dan kau ambil bagian dalam Misa seolah Misa adalah suatu peristiwa biasa, tanpa persiapan rohani apapun. Mengapa? Ini adalah yang terbesar dari segala Mukjizat. Kau akan menghayati saat ketika Allah Yang Mahatinggi memberikan anugerah terbesar-Nya dan kau tidak menghargainya."
15) Cukuplah. Aku merasa begitu jelek bahwa aku punya lebih dari cukup untuk memohon pengampunan dari Allah. Bukan saja untuk pelanggaran-pelanggaran hari itu, tetapi juga untuk semua saat ketika, seperti begitu banyak orang lain, aku sudah menunggu imam menyelesaikan homilinya sebelum aku memasuki Gereja. Aku memohon pengampunan untuk saat-saat ketika aku tidak tahu atau menolak untuk mengerti apa artinya berada di sana, dan untuk saat-saat mungkin, ketika jiwaku penuh dengan dosa-dosa yang lebih serius, dan aku sudah berani ikut ambil bagian dalam Misa Kudus.
16) Hari itu adalah Hari Raya dan Kemuliaan akan didaraskan. Bunda Maria berkata: "Muliakanlah dan pujilah Tritunggal Mahakudus dengan segenap kasihmu, dalam pengenalan dirimu sebagai makhluk ciptaan Tritunggal."
17) Betapa berbedanya Kemuliaan itu! Sekonyong-konyong aku melihat diriku sendiri di suatu tempat nun jauh penuh cahaya, di hadapan Hadirat Mulia Tahta Allah. Dengan luapan kasih aku terus mengucap syukur kepada-Nya, sementara aku mengulang: "Demi Kemuliaan-Mu yang tak terhingga kami memuji Dikau, kami meluhurkan Dikau, kami menyembah Dikau, kami memuliakan Dikau, kami bersyukur kepada-Mu, Tuhan, Allah, Raja Surgawi, Allah Bapa Yang Mahakuasa." Dan aku terkenang akan wajah kebapaan Bapa, penuh kebaikan… "Tuhan Yesus Kristus, Putra tunggal Bapa, Tuhan Allah, Anak Domba Allah, Engkau Yang menghapus dosa-dosa dunia…" Dan Yesus ada di hadapanku, dengan wajah itu yang penuh kelembutan dan Kerahiman…" Sebab hanya Engkau-lah Kudus, hanya Engkau-lah Tuhan, hanya Engkau Yang Mahatinggi Yesus Kristus bersama dengan Roh Kudus…" Allah dari Kasih yang menawan… Ia, Yang pada saat itu, memenuhi seluruh keberadaanku dengan sukacita…
18) Dan aku memohon: "Tuhan, bebaskanlah aku dari segala roh jahat. Hatiku milik-Mu. Tuhan-ku, berilah aku damai-Mu supaya aku dapat beroleh manfaat-manfaat terbaik yang mungkin dari Ekaristi ini dan supaya hidupku dapat menghasilkan buah-buah terbaik. Roh Kudus Allah, ubahlah aku, bertindaklah dalam diriku, bimbinglah aku. Ya Allah, berilah aku karunia-karunia yang aku butuhkan untuk melayani-Mu dengan terlebih baik…!"
19) Saat LITURGI SABDA tiba dan Perawan Maria menyuruhku mengulang: "Tuhan, hari ini aku ingin mendengarkan Sabda-Mu dan menghasilkan buah berlimpah. Kiranya Roh Kudus-Mu membersihkan tanah hatiku supaya Sabda-Mu dapat tumbuh dan berkembang di dalamnya. Tuhan, murnikanlah hatiku supaya dapat memiliki disposisi yang baik."
20) Bunda Maria mengatakan: "Aku ingin kau mendengarkan dengan seksama bacaan-bacaan dan seluruh homili imam. Ingat bahwa Kitab Suci mengatakan bahwa Sabda Allah tidak kembali tanpa menghasilkan buah. Jika kau mendengarkan dengan seksama, sesuatu dari semua yang telah kau dengarkan akan tinggal dalam dirimu. Kau harus berusaha untuk mengingat sepanjang hari Sabda itu yang meninggalkan kesan atas dirimu. Terkadang itu mungkin dua ayat; terkadang bacaan dari seluruh Injil atau mungkin hanya satu kata saja. Resapkanlah itu sepanjang hari dan ini akan menjadi bagian darimu, sebab begitulah cara untuk mengubah hidup orang, dengan membiarkan Sabda Allah mengubahmu.
21) Dan sekarang katakan kepada Tuhan bahwa kau di sini untuk mendengarkan apa, kau ingin Ia mengatakannya pada hatimu hari ini."
22) Sekali lagi aku mengucap syukur kepada Allah sebab telah memberiku kesempatan untuk mendengarkan Sabda-Nya. Dan aku memohon kepada-Nya untuk mengampuniku sebab memiliki hati yang begitu keras selama bertahun-tahun, dan sebab telah mengajarkan pada anak-anakku bahwa mereka harus pergi ke Misa pada hari Minggu [saja] karena demikianlah yang diperintahkan oleh Gereja dan bukan karena kasih, karena kebutuhan untuk dipenuhi oleh Allah…
23) Karena aku, yang telah mengikuti begitu banyak Perayaan Ekaristi, terutama demi memenuhi suatu kewajiban, dan dengan demikian percaya bahwa aku diselamatkan, pikiran untuk menghayati perayaan tidak pernah terlintas dalam benakku, terlebih lagi memberikan perhatian pada bacaan-bacaan atau pada homili imam!
24) Betapa kesedihan hebat aku rasakan atas begitu banyak tahun kehilangan yang sia-sia akibat keacuhanku!... Betapa dangkal kehadiran kita dalam Misa ketika kita pergi hanya karena itu adalah suatu Misa perkawinan atau Misa pemakaman atau karena kita ingin terlihat bermasyarakat! Betapa keacuhan besar terhadap Gereja kita dan Sakramen-sakramen! Betapa banyak membuang waktu dalam berupaya mendidik diri kita dan menjadi beradab mengenai hal-hal duniawi, hal-hal yang dapat lenyap dalam sekejap tanpa meninggalkan apa-apa bagi kita. Hal-hal, yang di akhir hidup kita, bahkan tidak berguna untuk memperpanjang keberadaan kita barang semenit saja! Namun demikian kita tidak tahu apa-apa mengenai apa yang akan mendatangkan bagi kita sedikit cicipan Surga di bumi dan pada akhirnya, kehidupan kekal. Dan kita menyebut diri kita sebagai laki-laki dan perempuan yang beradab…!
25) Beberapa saat kemudian tiba Persembahan, dan Santa Perawan berkata: "Berdoalah seperti ini: (dan aku mengulanginya) Tuhan, aku mempersembahkan segenap keberadaanku, segenap milikku, segenap kemampuanku. Aku letakkan semuanya ke dalam Tangan-Tangan-Mu. Bangunlah Tuhan, dengan keberadaanku yang tak berarti. Ubahlah aku, Allah yang Mahakuasa, melalui jasa-jasa PutraMu. Aku memohon bagi keluargaku, bagi para pendermaku, bagi setiap anggota Kerasulan kami, bagi semua orang yang menganiaya kami, bagi mereka yang mempercayakan diri mereka pada doa-doaku yang malang… Ajarilah aku untuk menempatkan hatiku di bawah di tanah di depan mereka, supaya jalan mereka dapat berkurang beratnya… Demikianlah para kudus berdoa; demikianlah Aku menghendaki kalian semua berdoa."
26) Dan demikianlah Yesus meminta kita berdoa, supaya kita menempatkan hati kita di tanah supaya mereka [bagi siapa kita berdoa] tidak merasakan beratnya, melainkan kita memberi mereka kelegaan melalui sakit yang diakibatkan oleh injakan kaki mereka atas hati kita. Bertahun-tahun kemudian, aku membaca sebuah buklet doa tulisan seorang Santo yang sangat aku kasihi, José Maria Escrivá de Balaguer, dan dalam buklet itu aku mendapati sebuah doa serupa dengan yang diajarkan Perawan Maria kepadaku. Mungkin Santo ini, kepada siapa aku mempercayakan diriku, menyenangkan Perawan Maria dengan doa-doa itu.
27) Sekonyong-konyong, orang-orang yang tidak terlihat olehku sebelumnya mulai berdiri. Seolah dari sisi setiap orang yang ada dalam Katedral muncul seorang lainnya, dan segera Katedral menjadi penuh oleh makhluk-makhluk muda menawan. Mereka mengenakan jubah sangat putih dan mulai bergerak ke lorong tengah, dalam perjalanan mereka menuju Altar.
28) Bunda Maria berkata: "Perhatikanlah. Mereka adalah Malaikat Pelindung dari tiap-tiap orang yang ada di sini. Inilah saat di mana malaikat pelindungmu membawa persembahan dan doa-doamu ke hadapan Altar Tuhan."
29) Pada tahap itu aku sama sekali takjub sebab makhluk-makhluk ini memiliki wajah yang begitu menawan, begitu bercahaya seperti yang tak dapat dibayangkan orang. Wajah mereka sangat rupawan, mereka memiliki wajah yang nyaris feminin; tetapi, struktur tubuh mereka, tangan mereka, tinggi mereka adalah maskulin. Kaki mereka yang telanjang tidak menyentuh lantai, melainkan mereka seolah meluncur. Prosesi itu sungguh amat indah.
30) Sebagian dari mereka membawa sesuatu seperti sebuah cawan emas dengan sesuatu [di dalamnya] yang bersinar cemerlang dengan cahaya putih keemasan. Perawan Maria berkata: "Perhatikanlah. Mereka adalah para Malaikat Pelindung dari orang-orang, yang mempersembahkan Misa Kudus ini untuk banyak intensi, mereka yang sadar akan makna dari perayaan ini, mereka yang punya sesuatu untuk dipersembahkan kepada Tuhan…
31) Haturkanlah persembahanmu pada saat ini… Persembahkanlah penderitaanmu, sakitmu, harapanmu, kesedihanmu, sukacitamu. Persembahkanlah permohonan-permohonanmu. Ingatlah bahwa Misa punya nilai yang tak terhingga. Oleh karenanya, bermurah-hatilah dalam persembahanmu dan dalam permohonanmu."
32) Di belakang para Malaikat pertama datang yang lain-lain yang tidak punya apa-apa dalam tangan mereka; mereka datang dengan tangan kosong. Perawan Maria berkata, "Mereka adalah para Malaikat dari orang-orang yang, meski berada di sini, tidak pernah mempersembahkan apapun. Mereka tidak punya minat untuk menghayati setiap saat liturgis Misa, dan para Malaikat tidak punya persembahan untuk dibawa ke hadapan Altar Tuhan."
33) Di akhir prosesi datang para Malaikat lain yang agak sedih, dengan tangan mereka terjalin dalam doa, tetapi dengan mata mereka terarah ke bawah. "Ini adalah para Malaikat Pelindung dari orang-orang yang berada di sini, namun mereka tidak di sini. Yakni, mereka adalah orang-orang yang merasa terpaksa datang, yang sudah datang kemari karena kewajiban namun tanpa kerinduan sama sekali untuk ikut ambil bagian dalam Misa Kudus. Para Malaikat mereka maju dengan sedih sebab mereka tidak punya apa-apa untuk dibawa ke Altar, terkecuali doa-doa mereka sendiri.
34) Janganlah mendukakan para Malaikat Pelindung kalian… Mohonlah banyak-banyak. Mohonlah demi pertobatan orang-orang berdosa, demi perdamaian dunia, demi sanak saudaramu, demi sesamamu, demi mereka yang mempercayakan diri mereka pada doa-doamu. Mohonlah banyak-banyak, tidak hanya bagi diri kalian sendiri, melainkan juga bagi semua yang lain.
35) Ingatlah bahwa persembahan yang paling menyenangkan bagi Tuhan, adalah ketika kalian mempersembahkan diri kalian sendiri sebagai suatu korban bakaran supaya Yesus, atas turun-Nya dapat mengubah kalian melalui jasa-jasa-Nya sendiri. Apakah yang kalian miliki untuk dipersembahkan kepada Bapa dari diri kalian sendiri? Ketiadaan dan dosa, tetapi persembahan diri kalian yang dipersatukan dengan jasa-jasa Yesus, menyenangkan Bapa."
36) Pemandangan itu, prosesi itu begitu indah, hingga akan sulit untuk membandingkannya dengan yang lain. Segenap makhluk surgawi itu membungkuk di hadapan Altar, sebagian meninggalkan persembahan mereka di lantai, yang lain-lainnya prostratio dengan berlutut, dahi mereka nyaris menyentuh tanah. Dan sesampainya di Altar, mereka akan lenyap dari penglihatanku.
Sumber: “The Holy Mass - The Testimony of Catalina”; Love and Mercy Publications; www.loveandmercy.org
Dipersilakan menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|
|
|