Media Bina Iman Katolik
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
yesaya.indocell.net
Edisi Agustus 2008
KALENDER LITURGI: AGUSTUS 2008
SESUDAH REJEKI ROTI, KITA MOHON PENGAMPUNAN ATAS DOSA-DOSA KITA
oleh : St Siprianus, Uskup dan Martir (± 210-258)
Sementara Doa Bapa Kami berlanjut, kita memohon: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Matius 6:11). Kita dapat memahami permohonan ini dalam arti rohaniah dan lahiriah. Sebab, dalam rancangan ilahi kedua arti ini dapat menghantar kita kepada keselamatan. Sebab Kristus adalah roti hidup; roti ini bukan milik semua orang, melainkan milik kita saja. Ketika kita mengatakan, Bapa kami, kita mengerti bahwa Ia adalah Bapa dari mereka yang mengenal-Nya dan percaya kepada-Nya. Dengan cara yang sama kita berbicara mengenai makanan kita sehari-hari, sebab Kristus adalah makanan bagi mereka yang menyentuh tubuh-Nya.Sekarang, kita yang hidup dalam Kristus dan menyambut Ekaristi, roti keselamatan, memohon agar roti ini diberikan kepada kita setiap hari. Terkecuali jika kita terpaksa menjauhkan diri dari komuni ini karena suatu dosa berat; dengan demikian kita akan dipisahkan dari Tubuh Kristus. Sebab Ia mengajarkan kepada kita, “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Ku-berikan itu ialah daging-Ku, yang akan Ku-berikan untuk hidup dunia” (Yohanes 6:51). Jadi, Kristus mengatakan seorang yang makan dari roti-Nya akan hidup selama-lamanya. Jelaslah mereka yang menghampiri tubuh-Nya dan ikut ambil bagian dalam komuni Ekaristik mempunyai hidup. Oleh karena itu, hendaknyalah kita gentar dan berdoa agar kiranya tak seorang pun harus menjauhkan diri dari komuni ini; agar ia tidak dipisahkan dari tubuh Kristus dan jauh dari keselamatan. Kristus telah memperingatkan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu” (Yohanes 6:53). Kami berdoa, ya Kristus, agar Engkau memberi kami makanan kami sehari-hari. Dengan pertolongan ini, kami yang hidup dan tinggal dalam Dia tidak akan pernah dipisahkan dari tubuh-Nya dan dari rahmat-Nya.
Sesudah itu, kita memohon pengampunan atas dosa-dosa kita, dalam kata-kata: “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami” (Matius 6:12). Rejeki roti diikuti dengan doa memohon pengampunan. Adalah bijaksana dan masuk akal kita diingatkan bahwa kita adalah orang-orang berdosa dan kita diajak untuk memohon pengampunan atas kesalahan-kesalahan kita. Bahkan sementara kita memohon pengampunan Tuhan, hati kita sadar akan keadaannya! Perintah untuk berdoa setiap hari bagi dosa-dosa kita mengingatkan kita bahwa kita berdosa setiap hari. Janganlah seorang pun berpuas diri dengan menganggap dirinya tidak berdosa, agar jangan kesombongan menghantarnya pada dosa yang terlebih parah. Inilah peringatan yang disampaikan St Yohanes kepada kita dalam suratnya: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita” (1 Yohanes 1:8-9). Surat Yohanes mencakup dua point, bahwa kita wajib memohon pengampunan atas dosa-dosa kita, dan kita mendapatkan pengampunan apabila kita mengakukannya. Ia menyebut Allah setia, sebab Ia tetap setia pada janji-Nya dengan mengampuni dosa-dosa kita. Ia mengajarkan kepada kita untuk berdoa bagi dosa-dosa dan kesalahan kita, dan juga berjanji untuk menunjukkan belas kasihan dan pengampunan seorang Bapa.
St Louis IX, Raja Perancis, yang adalah juga anggota Ordo Ketiga Fransiskan, memiliki kejijikan yang ngeri akan dosa. Semasa kanak-kanak, ibunya biasa mengatakan kepadanya, “Louis puteraku, DOSA adalah satu-satunya kejahatan terbesar di dunia. Meski aku sangat mengasihimu nak, namun aku lebih suka melihatmu mati di bawah kakiku daripada melihatmu melakukan satu dosa berat!” Kanak-kanak itu berjanji kepada Tuhan bahwa ia tidak akan pernah melakukan suatu dosa berat. Ketika Louis dewasa, meski ada banyak masalah yang harus diurusnya, ia setia menghadiri dua Misa dan mendaraskan Doa Ofisi setiap hari. St Louislah yang memulai kebiasaan berlutut pada waktu pendarasaan Kredo saat imam mengucapkan kata-kata, “Et homo factus est”, (dan menjadi manusia).St Louis meninggalkan suatu teladan yang mengagumkan bilamana ia menyambut Komuni Kudus. Ia akan berjalan menuju sanctuarium dengan kerendahan hati yang sangat, dengan khidmad mendalam, dan lalu berjalan dengan kedua lututnya menuju altar. Sesudah mendaraskan Tobat dengan rintihan dan cucuran airmata, Louis akan menyambut Komuni Kudus dengan penuh cinta dan devosi.
Suatu hari, sementara diadakan pentahtaan Sakramen Mahakudus di kapel istana, St Louis sedang bekerja di ruang belajarnya ketika sekonyong-konyong salah seorang pelayan dengan penuh semangat menyerbu masuk ke dalam ruangan seraya berseru, “Yang Mulia, suatu mukjizat yang menakjubkan tengah terjadi di kapel. Kanak-kanak Yesus menampakkan diri dalam Hosti di atas atar!” Tetapi dengan tenang St Louis melanjutkan tulisannya sambil menjawab dengan lembut, “Aku tidak akan menjadi lebih percaya akan kehadiran Kristus dalam Ekaristi andai aku melihat suatu mukjizat! Mukjizat tidak diperlukan bagi mereka yang telah percaya!”
PAUS SANTO PIUS X - PAUS EKARISTI
Selama berabad-abad, sejak abad pertengahan, umumnya umat Katolik menyambut Komuni Kudus sekali dalam setahun pada masa Paskah, dan terkadang pada beberapa hari raya lainnya. Tidak seringnya kaum awam menyambut komuni, kemungkinan berasal dari rasa ketidaklayakan diri yang berlebihan, mendatangkan konsekuensi yang menyedihkan. Salah satunya, ada begitu banyak umat Katolik percaya bahwa mereka bebas berbuat dosa berat, tanpa konsekuensi yang serius, asal mereka mengakukan dosa dan menyambut komuni pada hari raya Paskah setiap tahun - dan (jika beruntung) beroleh kesempatan dikunjungi seorang imam pada saat ajal. Konsili Trente pada abad ke-16 berusaha mengubah hal ini dengan mendorong umat untuk lebih sering menyambut komuni; tetapi kebiasaan lama sudah mengakar, dan tampaknya seruan Konsili sampai pada telinga-telinga yang berat mendengar.Paus Pius X disebut Paus Ekaristi sebab ia amat mencintai Ekaristi Kudus, dan ia lebih dari siapa pun, bertanggung jawab atas perubahan praktek menyambut komuni di kalangan umat Katolik. Dengan menurunkan usia anak yang diperkenankan menyambut Komuni Pertama ke tujuh tahun, dari 12-14 tahun seperti kebiasaan sebelumnya, Pius X berupaya menanamkan devosi Ekaristi dan mengembangkan praktek komuni sesering mungkin. Ia mendorong segenap umat beriman untuk menyambut komuni sesering mungkin, dan karena pengaruh beliau praktek ekaristik berubah secara dramatis sepanjang pertengahan pertama abad keduapuluh. Umat Katolik mulai menyambut Ekaristi setiap minggu atau bahkan setiap hari. Kongres-kongres Ekaristi, dimulai dengan yang diselenggarakan di Roma pada tahun 1905, menjadi suatu sarana penting untuk menyebarkan kesalehan ekaristik ini.
"Komuni Kudus adalah jalan tersingkat dan teraman menuju Surga."
~ St Paus Pius X
Sepulangnya dari perjalanan ziarah ke Roma untuk menemui Paus sehubungan dengan niatnya untuk masuk Biara Karmel, St Theresia mengirimkan gelang emasnya kepada imam di Montmarte agar gelang itu dapat dilebur dan dijadikan bagian dari suatu monstrans besar. Betapa suatu tindakan yang dengan jelas mengungkapkan kerinduan Theresia untuk berjaga siang dan malam dekat Yesus dalam Ekaristi. Monstrans dengan emas yang berasal dari gelang St Theresia disimpan di Le Sacre Coeur di Paris, Perancis di mana Yesus dalam Sakramen Mahakudus disembah dalam adorasi abadi hingga kini.
Yang Terbaru:
Yang Tetap:
Belum menemukan informasi yang Anda butuhkan? Silakan pergunakan fasilitas Google Search untuk mempermudah pencarian dengan mengetikkan kata kunci, misalnya “perpuluhan”.
Kontak Webmaster : yesaya@indocell.net
Website Media Bina Iman Katolik YESAYA
Sejak November 2000
Last updated : 1 Agustus 2008
Best Viewed : 1024 by 768
Main Sources :
1. The Young Saints Club; translated by permission of Joseph Roalef CC; www.geocities.com/Athens/1619
2. Catholic1 Publishing Company; translated by permission of Fr. Richard Lonsdale; www.catholic1.com
3. Bread on the Waters; translated by permission of Fr. Victor Hoagland; www.cptryon.org;
4. Karya Kepausan Indonesia; materi KKI dikutip atas ijin Rm. Terry Ponomban, Pr, Direktur Nasional KKI 1998-2003
5. Father Peffley's Web Site; translated by permission of Fr. Peffley; www.transporter.com/fatherpeffley
6. Saint a Day, by Sr. Susan H. Wallace, FSP, Copyright © 1999, Daughters of St. Paul. Used by permission of Pauline Books & Media, 50 St. Paul's Avenue, Boston, MA 02130. All rights reserved.
7. Ave Maria; materi dari majalah Ave Maria dikutip atas ijin Marian Centre Indonesia
8. Catholic Tradition; translated by permission of Pauly Fongemie; www.catholictradition.org
9. Straight Answers by Father William P. Saunders; translated by permission of Michael Flach - Editor, The Arlington Catholic Herald; www.catholicherald.com
10. Catholic Radio Dramas; translated by permission of Patrick G. O'Neill - Director, Catholic Radio Dramas; www.catholicradiodramas.com
11. Catholic Information Network (CIN); translated by permission of Maryanne - webmaster; www.cin.org
12. Catholic Spiritual Direction; translated by permission of Joe Koz; www.jesus-passion.com
13. Sacred Heart Organization Israel; translated by permission of Marianne; http://my.homewithgod.com/israel/
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||