|
394. ANNA DARI KERIOT. PERPISAHAN DENGAN IBUNDA YUDAS.
28 Februari 1946
"Tuhan, maukah Engkau pergi bersamaku, bersamaku seorang, untuk menemui seorang ibu yang tidak berbahagia. Aku merindukan ini lebih dari apa pun," kata Maria Simon. Dia berdiri penuh hormat di hadapan Yesus, sementara para rasul, sesudah makan siang, sudah terpencar untuk beristirahat sebelum memulai kembali perjalanan mereka di malam hari. Yesus, sebaliknya, sedang beristirahat di bawah naungan pepohonan apel yang sarat dengan buah-buah apel hijau kecil yang akan segera ranum dan Maria kelihatannya tengah melanjutkan kembali percakapan yang sudah dimulai sebelumnya.
"Ya, perempuan. Aku juga ingin bersamamu, sendirian saja di saat-saat terakhir ini, seperti kala pertama kali Aku datang kemari. Ayo kita pergi." Dan mereka masuk ke dalam rumah di mana Yesus mengambil mantol-Nya dan Maria mengambil kerudung dan mantolnya.
Mereka menyusuri jalan-jalan setapak melalui ladang-ladang, kebun-kebun buah-buahan, dan hutan pepohonan. Udaranya masih hangat. Gelombang-gelombang angin hangat datang dari ladang-ladang di mana tanam-tanaman sudah siap dipanen. Namun, angin sepoi-sepoi gunung meredakan panas yang pastinya akan tak tertahankan di dataran rendah.
"Maafkan aku, sudah membuat-Mu berjalan di saat panas seperti ini. Tetapi nanti... itu tidak akan mungkin lagi. Dan aku sudah selalu merindukan ini, tanpa pernah berani memintanya kepada-Mu. Beberapa saat yang lalu Engkau katakan kepadaku, 'Maria, untuk menunjukkan bahwa Aku mengasihimu, bahwa engkau sudah Aku anggap sebagai ibu-Ku, Aku berkata kepadamu: mintalah dari-Ku apa pun yang engkau inginkan dan Aku akan memberikannya kepadamu' jadi, aku pun berani. Tuhan, tahukah Engkau ke mana kita pergi?"
"Tidak, perempuan."
"Kita akan pergi ke rumah seorang perempuan, yang tadinya akan menjadi ibu mertua Yudas... (Maria menghela napas panjang). Tadinya... Tetapi dia bukan dan tidak akan pernah menjadi ibu mertua Yudas, karena Yudas meninggalkan si gadis yang pada akhirnya meninggal dunia sebab patah hati... dan ibunya sekarang memendam dengki terhadapku dan putraku. Dia selalu mengutuk kami... Yudas begitu... lemah dan cenderung pada yang Jahat, hingga dia hanya membutuhkan berkat semata!... Aku ingin Engkau berbicara kepada perempuan itu... Engkau dapat meyakinkannya... dan mengatakan kepadanya bahwa adalah suatu belas kasihan bahwa perkawinan itu tidak terjadi... bahwa itu bukan salahku... bahwa dia bisa meninggal tanpa dendam; karena dia mati perlahan-lahan dengan kesedihan yang mendalam di dalam jiwanya. Aku ingin berdamai dengannya... karena aku sudah menderita dan aku malu atas apa yang sudah terjadi dan aku berduka melihat bahwa orang yang dulunya adalah sahabatku sejak aku datang kemari ketika aku menikah, tidak lagi menjadi temanku. Singkat kata, Tuhan, Engkau tahu..."
"Ya, jangan khawatir. Permintaanmu tulus dan Aku akan memenuhinya karena itu adalah hal yang baik."
Sesudah menyeberangi sebuah lembah kecil, mereka mendaki sebuah bukit lain, di mana terdapat sebuah desa.
"Anna tinggal di sini sejak putrinya meninggal. Di tanah miliknya. Sebelumnya dia tinggal di Keriot. Tetapi, ketika dia tinggal di sana, celaannya membuatku patah hati setiap kali kami bertemu."
Mereka mengambil jalan samping tepat sebelum desa dan tiba di sebuah rumah yang rendah, di ladang.
"Sekarang! Hatiku gemetar, sekarang sesampainya aku di sini! Dia akan menolak untuk bertemu denganku... dia akan menolakku... dia akan marah dan hatinya yang malang akan bahkan makin menderita... Guru..."
"Ya, Aku akan pergi. Kau tinggallah di sini, sampai Aku memanggilmu. Dan berdoalah supaya dapat membantu-Ku."
Dan Yesus pergi, seorang diri, sampai ke pintu rumah yang terbuka lebar, dan Dia masuk seraya memberi salam dengan sapaan-Nya yang ramah.
Seorang perempuan datang menghampiri-Nya, "Apakah yang Engkau inginkan? Siapakah Engkau?"
"Aku datang untuk memberikan kelegaan bagi nyonyamu. Hantarkan Aku kepadanya."
"Apakah Engkau seorang dokter? Tidak ada gunanya! Tidak ada harapan. Jantungnya sedang sekarat."
"Masih ada jiwanya yang harus diselamatkan. Aku Sang Rabbi."
"Bahkan meski Engkau Sang Rabbi tak akan ada gunanya. Dia tidak suka kepada Bapa Yang Kekal dan tidak mau mendengarkan khotbah. Jangan ganggu dia."
"Aku datang justru karena dia punya kerangka pikiran seperti itu. Biarkan Aku masuk dan dia tidak akan begitu sedih di hari-hari terakhirnya."
Perempuan itu mengangkat bahunya dan berkata, "Masuklah!"
Ada sebuah koridor yang sejuk dan setengah gelap dengan beberapa pintu. Di ujung koridor, pintu terakhirnya setengah terbuka dan suara erangan dapat terdengar dari sana. Si perempuan memasuki ruangan sambil berkata, "Nyonya, ada seorang rabbi yang ingin berbicara denganmu."
"Kenapa?... Untuk mengatakan kepadaku bahwa aku dikutuk? Bahwa aku tidak akan beroleh damai bahkan di kehidupan selanjutnya?" kata perempuan yang sakit itu terengah-engah dan kesal.
"Tidak. Untuk mengatakan kepadamu bahwa damaimu akan sempurna, hanya jika kau menghendakinya, dan kau akan bahagia selamanya bersama Yohana-mu," kata Yesus yang muncul di pintu.
Perempuan yang sakit itu, yang wajahnya kuning dan bengkak, dan yang terengah-engah di ranjang kecilnya, dengan bersandar pada banyak bantal, memandang kepada-Nya dan berkata, "Oh! Betapa indah perkataan itu! Ini adalah pertama kalinya seorang rabbi tidak mencelaku... Betapa pengharapan yang besar!... Yohana-ku... bersamaku... diberkati... tidak ada lagi dukacita... dukacita yang disebabkan oleh seorang laki-laki terkutuk... dia yang melahirkannya juga tidak menghindarkannya... dia mengkhianatiku... sesudah merayuku... Putriku yang malang..." dia makin terengah-engah.
"Lihat? Kau membuatnya merasa lebih buruk. Aku sudah tahu. Pergilah."
"Tidak. Kaulah yang pergi. Tinggalkan Aku sendiri bersamanya..." Perempuan itu keluar sambil menggelengkan kepalanya.
Yesus perlahan-lahan mendekati pembaringan. Dengan lembut Dia menyeka peluh di wajah perempuan sakit itu, yang kesulitan melakukannya sendiri karena tangan-tangannya sangat bengkak, dan Dia mengipasi kepalanya dengan kipas yang terbuat dari daun-daun palma. Dia membantunya minum saat dia mencari minuman di meja samping tempat tidur. Yesus tampak seperti seorang anak di dekat ibunya yang sakit. Dia akhirnya duduk, dengan lembut tetapi dengan tekad kuat untuk menunaikan misi-Nya.
Perempuan itu mengamati-Nya dan menjadi tenang, dan dengan senyum yang sarat duka dia berkata, "Engkau tampan dan lembut hati. Siapakah Engkau, Rabbi? Engkau selembut putriku yang terkasih dalam menghiburku."
"Aku Yesus dari Nazaret!"
"Kau?!... Dan Engkau datang kepadaku?... Mengapa?..."
"Karena Aku mengasihimu. Aku juga punya seorang ibunda, dan dalam setiap ibu aku melihat Bunda-Ku, dan dalam airmata para ibu, aku melihat airmata Bunda-Ku..."
"Mengapa? Apakah Bunda-Mu menangis? Kenapa? Apakah ada putranya yang lain yang mati?"
"Belum... Aku Putra tunggal-Nya dan Aku masih hidup. Tetapi, Dia sudah menangis karena Dia tahu bahwa Aku harus mati."
"Oh! Perempuan yang malang! Betapa mengerikan mengetahui sebelumnya bahwa seorang putra harus mati. Tetapi bagaimana Dia tahu? Engkau sehat. Engkau kuat. Engkau baik. Aku menipu diriku sendiri sampai akhirnya dia mati, dan dia sakit parah!... Bagaimana Bunda-Mu bisa tahu bahwa Engkau harus mati?"
"Karena Aku-lah Putra Manusia, yang dinubuatkan oleh para nabi. Aku-lah Manusia dukacita yang dilihat oleh Yesaya, Mesias yang dimadahkan oleh Daud dan digambarkan sebagai Penebus yang dianiaya. Aku-lah Sang Juruselamat, Sang Penebus, perempuan. Dan kematian, kematian yang mengerikan sedang menanti-Ku... dan Bunda-Ku akan hadir... dan Bunda-Ku sudah tahu sedari Aku lahir, bahwa hati-Nya akan ditembusi oleh dukacita seperti hati-Ku sendiri... Jangan menangis... Melalui kematian-Ku, Aku akan membuka gerbang-gerbang Surga untuk Yohana-mu..."
"Juga untukku! Untukku!..."
"Ya. Pada waktunya. Tetapi, pertama-tama kau harus belajar untuk mengasihi dan mengampuni. Untuk mulai mengasihi kembali. Untuk menjadi adil. Dan untuk mengampuni... Jika tidak, kau tidak akan bisa pergi ke Surga, bersama Yohana, dan bersama-Ku..."
Perempuan itu menangis tak terkendali. Dia mengerang, "Mengasihi... Mengasihi ketika orang sudah mengajari kita untuk membenci... ketika Allah telah berhenti mengasihi kita dan tidak lagi punya belas kasihan untuk kita... itu sulit... Bagaimana kita bisa mengasihi, ketika orang sudah menganiaya kita, dan teman-teman kita sudah menyakiti kita dan Allah telah meninggalkan kita?..."
"Tidak. Allah tidak meninggalkanmu. Aku di sini. Untuk memberikan janji surgawi kepadamu. Untuk meyakinkanmu bahwa dukacitamu akan berubah menjadi sukacita, jika kau menghendakinya. Dengarkan Aku, Anna... Kau menangis karena perkawinan itu dibatalkan, dan hal itu sudah menjadi penyebab semua dukacitamu, dan karena itu kau mengatakan bahwa seorang laki-laki adalah pembunuh dan ibunya yang malang adalah kaki tangannya. Dengarkan, Anna. Dalam beberapa bulan mendatang kau akan menyadari bahwa adalah kasih karunia dari Surga bahwa Yohana tidak menikah dengan Yudas..."
"Jangan sebut-sebut namanya di depanku!" teriak si perempuan.
"Aku menyebutkannya, untuk mengatakan kepadamu bahwa engkau harus bersyukur kepada Tuhan dan kau akan bersyukur kepada-Nya dalam beberapa bulan lagi..."
"Aku akan sudah mati..."
"Tidak. Kau akan tetap hidup dan kau akan mengingat Aku, dan kau akan mengerti bahwa ada dukacita yang lebih dahsyat daripada dukacitamu..."
"Lebih dahsyat? Itu tidak mungkin!"
"Bagaimana dengan Bunda-Ku yang akan melihat Aku mati di salib?" Yesus telah berdiri. Dia tampak mengesankan.
"Dan bagaimana dengan dukacita ibu dari si pengkhianat Yesus Kristus Putra Allah? Pikirkan, perempuan, tentang ibu itu... Kau... Seluruh Keriot, negeri di sekitarnya dan lebih jauh dari itu sudah bersimpati terhadapmu dalam dukacitamu! Kau sudah membanggakannya seperti mahkota seorang martir. Tetapi ibu itu! Seperti Kain, tanpa menjadi Kain, malahan seperti Habel: korban dari putranya yang berkhianat, pembunuh Allah, seorang putra terkutuk yang sakrilegius, dia tidak akan sanggup menahan tatapan mata orang, karena setiap tatapan akan menjadi seperti batu rajam, dan dalam setiap kata, dalam setiap suara orang, dia akan seolah-olah mendengar kutukan, caci maki dan dia tidak akan pernah menemukan tempat perlindungan di Bumi sampai kematiannya, sampai Allah, Yang adil, membawa si martir bersama-Nya, dan membuatnya untuk melupakan bahwa dia adalah ibu dari si pembunuh Allah, dengan memberinya kepemilikan akan Allah... Bukankah dukacita ibu itu lebih dahsyat?
"Oh! dukacita yang sangat luar biasa!..."
"Kau mengerti... Jadilah baik, Anna. Akui bahwa Allah itu baik dalam apa yang Dia lakukan..."
"Tetapi putriku sudah mati! Yudas membuatnya mati, supaya mendapatkan mas kawin yang lebih besar... Ibunya menyetujuinya..."
"Tidak. Itu tidak benar. Aku dapat meyakinkanmu, dan Aku membaca hati. Yudas adalah rasul-Ku, tetapi Aku katakan kepadamu - dia berperilaku buruk dan akan dihukum untuk itu. Tetapi ibunya tidak bersalah. Dia mengasihimu, dan ingin dikasihi olehmu... Anna, kalian berdua adalah ibu yang tidak berbahagia. Tetapi kau bangga akan anakmu yang sudah mati, yang tak berdosa dan murni, yang dikenang dan dihormati oleh dunia... Maria Simon tidak dapat bangga akan putranya. Perilakunya dicela orang."
"Itu benar. Tetapi, andai dia menikahi Yohana, dia tidak akan dicela."
"Tetapi dalam waktu yang singkat kau akan melihat Yohana mati karena patah hati, karena Yudas akan mati secara mengerikan."
"Apa yang Engkau katakan? Oh! Maria yang malang! Kapan? Bagaimana? Di mana?"
"Segera. Dan dengan cara yang mengerikan... Anna! Kau hebat! Kau seorang ibu! Kau tahu akan duka seorang ibu! Anna, jadilah sahabat Maria kembali! Biarkan dukacita menyatukanmu sebagaimana sukacita akan menpersatukanmu. Biarlah Aku pergi dengan berbahagia, sebab tahu bahwa dia akan memiliki seorang sahabat, hanya satu, setidaknya satu."
"Tuhan... mengasihinya... berarti mengampuninya... Ini sangat sulit... Seolah-olah aku mengubur putriku kembali... seolah-olah aku sendiri yang membunuhnya..."
"Pikiran seperti itu berasal dari Kegelapan! Jangan dengarkan. Tetapi, dengarkan Aku, Sang Terang dunia. Terang dunia memberitahumu bahwa nasib Yohanna berkurang pahitnya dengan mati sebagai seorang perawan daripada mati sebagai janda Yudas. Percayalah, Anna. Dan pikirkan bahwa Maria Simon lebih tidak berbahagia daripada dirimu..."
Perempuan itu merenung, dia bergulat, menangis dan berkata, "Tetapi aku telah mengutuk dia, baik dia maupun buah rahimnya! Aku sudah berdosa..."
"Dan Aku memberimu absolusi. Dan semakin kau mengasihinya, semakin kau akan beroleh absolusi di Surga."
"Tetapi jika aku menjadi sahabatnya... aku akan bertemu Yudas. Tuhan, aku tidak bisa melakukan itu!..."
"Kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Aku tidak akan pernah kembali lagi ke Keriot, begitu juga Yudas. Kami sudah mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang..."
"Oh! Engkau mengatakan..."
"Bahwa Aku tidak akan kembali lagi. Yudas mengatakan bahwa dia tidak akan dapat kembali sampai sesudah kenaikan-Ku. Tetapi, dia percaya bahwa dia akan melihat Aku naik takhta. Sebaliknya, kematian di kayu salib yang sedang menantikan-Ku. Dan dia berpikir bahwa dia akan menjadi salah seorang menteri-Ku. Sebaliknya, kematian sedang menantikannya. Tetapi, kau tidak boleh mengatakan kepada siapa pun tentang hal itu. Jangan pernah. Ibunya tidak boleh tahu sampai semuanya sudah digenapi. Kau mengatakan, 'Perempuan malang! Mengetahui sebelumnya bahwa putranya harus mati.' Tetapi, jika penderitaan Bunda-Ku, juga karena itu, sudah menambah jasa-jasa Pengurbanan-Ku, maka diam adalah belas kasihan bagi Maria Simon. Engkau janganlah berbicara."
"Aku tidak akan mengatakannya, Tuhan-ku. Aku bersumpah untuk itu atas nama Yohanaku."
"Aku menghendaki janji yang lain! Janji yang agung dan suci! Kau baik. Kau sudah mengasihi Aku..."
"Ya, sangat. Aku merasa damai sejak Engkau datang kemari..."
"Ketika Maria Simon tidak lagi memiliki putranya dan dunia menghinanya dengan kata-kata cemooh, kau, hanya kau, yang akan membuka hatimu dan rumahmu untuknya. Maukah kau berjanji kepada-Ku? Demi Allah dan demi Yohana. Yohana pasti akan melakukan itu, karena Maria baginya masih adalah ibu dari laki-laki yang masih dicintainya," tegas Yesus.
"... Ya!" jawab perempuan itu berurai air mata.
"Kiranya Allah memberkatimu, perempuan, dan memberimu damai... dan kesehatan yang baik. Ayo kita pergi dan menemui Maria, dan berilah dia cium damai."
"Tapi Tuhan, aku tidak bisa berjalan. Kedua kakiku bengkak dan aku tidak bisa menggerakkannya. Lihat? Aku di sini, berpakaian lengkap, tapi aku hanya seperti sebatang kayu..."
"Ya, tadinya. Ayo!" dan Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk mengundang.
Perempuan itu, dengan menatap mata Yesus, menggerakkan kaki-kakinya, dia meluruskan dan mengarahkannya ke samping tempat tidur kecil, menempatkan kaki-kaki telanjangnya di atas lantai, berdiri dan berjalan... Dia tampak seperti terpikat. Dia bahkan tidak sadar bahwa dia sudah disembuhkan... Dia keluar ke koridor yang remang-remang, tangannya masih menggandeng tangan Yesus... Dia berjalan menuju pintu. Dia hampir tiba di sana ketika dia bertemu dengan pelayan yang terlihat sebelumnya, yang meneriakkan seruan takut penuh sukacita... Pelayan-pelayan lainnya bergegas ke sana, khawatir kalau-kalau dia sedang di ambang ajal, sedangkan yang mereka lihat adalah nyonya mereka, yang sesaat sebelumnya hendak menghembuskan napas terakhirnya dan membenci Maria Simon, sekarang berjalan cepat dengan kedua tangannya terentang, sesudah melepaskan tangan Yesus, menuju Maria yang malang, yang dia panggil dan peluk erat-erat, sementara mereka berdua menangis...
... Dalam perjalanan pulang ke rumah, sesudah perpisahan yang damai, Maria Simon bersyukur kepada Tuhan-nya dan bertanya, "Kapankah Engkau akan kembali untuk melakukan lebih banyak kebaikan?"
"Tidak pernah, perempuan. Aku sudah mengatakannya kepada penduduk. Tetapi, hati-Ku akan selalu bersamamu. Ingatlah, selalu ingat bahwa Aku sudah mengasihimu dan Aku selalu mengasihimu. Ingatlah bahwa Aku tahu bahwa kau baik, dan itulah sebabnya Allah mengasihimu. Selalu camkan itu dalam benakmu, juga di saat-saat yang paling mengerikan. Jangan pernah berpikir bahwa Allah menganggapmu bersalah. Di mata-Nya, jiwamu tampak dan akan selalu tampak berhiaskan permata-permata keutamaanmu dan mutiara-mutiara penderitaanmu. Maria Simon, ibunda Yudas, Aku ingin memberkatimu, Aku ingin memelukmu dan menciummu supaya ciuman keibuanmu yang tulus dan setia bisa mengompensasi-Ku untuk ciuman yang lainnya... dan ciuman-Ku dapat menebus semua dukacitamu. Kemarilah, ibunda Yudas. Dan terima kasih, terima kasih atas semua kasih dan hormat yang sudah kau berikan kepada-Ku," dan Dia memeluknya dan mencium keningnya, seperti yang Dia lakukan kepada Maria Alfeus.
"Tapi kita akan bertemu lagi! Aku akan datang saat Paskah..."
"Tidak. Jangan datang. Aku mohon kepadamu. Apakah kau ingin membuat-Ku bahagia? Jangan datang. Kaum perempuan saat Paskah mendatang... jangan!"
"Tapi kenapa?..."
"Karena... akan ada huru-hara yang mengerikan di Yerusalem pada Paskah mendatang. Itu bukan tempat untuk perempuan! Tidak... Maria, Aku akan memerintahkan sanakmu laki-laki untuk bergabung denganmu. Kalian harus tetap bersama. Kau membutuhkannya karena... Yudas mulai sekarang tidak akan dapat membantumu atau datang..."
"Aku akan melakukan seperti yang Engkau katakan... Jadi aku tidak akan pernah lagi melihat wajah-Mu yang mencerminkan damai Surga? Betapa damai yang telah Kau pancarkan dari mata-Mu ke dalam hatiku yang berduka!..." kata Maria seraya menangis.
"Janganlah menangis. Hidup ini singkat. Kelak kau akan melihat-Ku untuk selamanya dalam Kerajaan-Ku."
"Jadi Engkau pikir hamba-Mu yang hina ini akan memasukinya?..."
"Aku sudah melihat tempatmu di antara para martir dan penebus-serta. Janganlah takut, Maria. Tuhan akan menjadi kompensasi abadimu. Ayo kita pergi. Malam telah tiba dan sudah saatnya bagi-Ku untuk melanjutkan perjalanan-Ku kembali..."
Dan mereka kembali melalui jalan yang sama melewati ladang-ladang dan kebun-kebun buah-buahan, menuju rumah, di mana para rasul sedang menunggu.
Yesus mengucapkan selamat tinggal dengan tergesa-gesa, memberkati, dan berangkat di depan para rasul-Nya... Ketika Dia pergi, Maria menangis sementara berlutut...
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|
|
|