373. HARI PERSIAPAN.
DI JALANAN YERUSALEM.            


2 Februari 1946   

Mereka keluar dari Bait Suci, yang penuh sesak dengan orang-orang, dan masuk ke jalan-jalan yang ramai, di mana semua orang bergegas dalam persiapan akhir untuk Paskah dan orang-orang yang datang belakangan dengan cemas mencari kamar, aula, tempat apa pun, untuk digunakan sebagai ruang perjamuan, tempat makan anak domba.

Dengan demikian mudah untuk bertemu orang-orang, tetapi mudah juga untuk tidak mengenali satu sama lain di tengah keramaian yang padat dan gelisah, sebab orang melihat wajah-wajah dari segala tingkat usia, dari segala wilayah di mana ada orang-orang Israel, dan di mana darah murni Israel, melalui percampuran darah atau hanya melalui mimikri, sudah menjadi seperti ras-ras lain. Begitulah orang bisa melihat orang Yahudi yang seperti orang Mesir atau yang seperti orang Nubia karena bibir tebal yang menonjol, hidung pendek yang mencuat ke atas dan sudut wajahnya; orang-orang lain dengan perawakan kecil halus, tubuh ramping, mata cerdas membuat orang mengira bahwa mereka berasal dari koloni Yunani atau berdarah campuran Yunani; sedangkan laki-laki yang tinggi kekar, dengan wajah agak persegi, jelas menunjukkan bahwa mereka ada hubungannya dengan ras Latin; dan ada banyak orang yang oleh orang modern akan dianggap sebagai orang Sirkasia atau Persia dengan kemiripan mata Mongolia atau India di wajah yang sangat putih dari golongan pertama dan wajah berwarna zaitun dari golongan terakhir. Suatu kaleidoskop indah dari wajah-wajah dan busana-busana! Akibatnya mata menjadi lelah dan berakhir dengan asal melihat. Namun apa yang lolos dari orang yang satu diperhatikan oleh yang lainnya.

Karenanya bisa dimengerti bahwa apa yang luput dari Sang Guru, Yang selalu tenggelam dalam pikiran-Nya ketika Dia dibiarkan dalam damai, tanpa ditanyai, diperhatikan oleh si ini atau si itu dari pengikut-Nya. Dan para rasul, mereka yang lebih dekat dengan Yesus, saling menunjukkan satu sama lain apa yang mereka lihat dan mereka saling berbicara satu sama lain dengan suara pelan menyampaikan komentar-komentar duniawi... tentang orang-orang yang mereka tunjuk.

Salah satu komentar pedas tentang seorang mantan murid yang lewat dengan sombong dengan berpura-pura tidak melihat mereka, didengar oleh Yesus, Yang bertanya, "Kepada siapa kata-kata itu ditujukan?"

"Kepada orang tolol di sana itu," kata Yakobus Zebedeus. "Dia berpura-pura tidak melihat kita, dan dia bukan satu-satunya yang melakukannya. Tetapi ketika dia ingin disembuhkan dan mencari-Mu, dia melihat kita! Aku berharap dia terkena bisul bernanah yang ganas!"

"Yakobus!! Apakah kau berdiri di samping-Ku dengan perasaan seperti itu sementara kau bersiap untuk menyantap anak domba? Nyatanya kau lebih tidak konsisten dari dia. Dia pergi secara terbuka ketika dia merasa dia tidak bisa melakukan apa yang Aku katakan. Kau, sebaliknya, tetap tinggal tetapi kau tidak melakukan apa yang Aku katakan. Bukankah kau mungkin seorang pendosa yang lebih besar dari dia?"

Yakobus memerah wajahnya begitu malu hingga dia terlihat seperti sesak napas, dan dia undur diri di belakang teman-temannya, karena dia dipermalukan.

"Menyakitkan melihat mereka berperilaku seperti itu, Guru!" kata Yohanes membela saudaranya yang ditegur. "Kasih kita memberontak melihat mereka memisahkan diri..."

"Tentu saja. Tetapi apakah kau pikir kau bisa membawa mereka kembali mengasihi dengan apa yang kau lakukan itu? Tindakan yang tidak sopan, perkataan yang buruk, penghinaan tidak pernah membawa saingan atau orang yang berbeda pendapat ke tempat di mana seharusnya dia dihantar. Melalui kelemah-lembutan, kesabaran, kasih sayang, kegigihan kendati ditolak, kau akan mencapai tujuanmu. Aku mengerti dan mengasihani hatimu, yang menderita melihat bahwa Aku tidak dikasihi. Tetapi Aku ingin melihat dan tahu bahwa kau lebih rohani dalam tindakan dan caramu untuk membuat-Ku dikasihi. Ayo, Yakobus, kemarilah. Aku tidak berbicara untuk mempermalukanmu. Marilah kita saling mengasihi dan memahami satu sama lain, setidaknya di antara kita sendiri, sahabat-sahabat-Ku terkasih... Sudah ada begitu banyak ketidakpahaman dan kesedihan bagi Putra Manusia!"

Yakobus, yang ceria kembali, balik ke sisi-Nya.

Mereka berjalan beberapa waktu lamanya dalam keheningan, lalu Tomas sekonyong-konyong meledak dalam suatu seruan yang menggelegar, "Tapi itu sungguh memalukan!"

"Apa?" tanya Yesus.

"Kekejian begitu banyak orang! Guru, tidakkah Engkau lihat betapa banyak yang berpura-pura tidak mengenal-Mu?"

"Lalu? Apakah perilaku mereka akan berubah barang satu iota dari apa yang sudah dituliskan tentang Aku? Tidak, tidak akan. Hanya sehubungan dengan diri mereka sendiri apa yang bisa dituliskan akan berubah. Karena dalam kitab abadi bisa dikatakan tentang mereka: 'Murid-murid yang baik,' sedangkan yang akan dituliskan: 'Mereka tidak baik, kedatangan Mesias tidak berarti apa-apa bagi mereka.' Kata-kata yang mengerikan, kau tahu? Lebih buruk dari: 'Adam dan Hawa berdosa.' Karena Aku bisa menghapus dosa itu. Tetapi Aku tidak akan bisa menghapus dosa orang-orang yang menyangkal Sabda Juruselamat... Ayo kita pergi lewat sini. Aku akan berhenti bersama saudara-saudara-Ku, Simon Petrus dan Yakobus di pinggiran kota Ofel. Yudas anak Simon juga akan bersama-Ku. Tetapi Simon Zelot, Yohanes dan Tomas akan pergi ke Getsemani untuk mengambil tas-tas..."

"Ya, supaya anak domba Yunus tidak tersangkut di kerongkonganku," kata Petrus yang masih mendongkol. Yang lain tertawa...

"Jadilah baik! Tidak ada alasan untuk heran jika dia takut. Kau mungkin merasakan hal yang sama besok."

"Aku, Guru? Lebih mungkin Laut Galilea berubah menjadi anggur daripada aku menjadi takut," kata Petrus yakin.

"Meski begitu... malam itu... Oh! Simon! Kau tidak kelihatan begitu berani di tangga istana Khuza," kata Yudas Keriot pedas, tanpa terlalu ironis... tapi cukup sarkastik untuk menusuk Petrus.

"Aku takut untuk Tuhan, itu sebabnya aku khawatir! Tidak untuk alasan lain."

"Sangat baik! Mari kita berharap semoga kita... tidak pernah takut, supaya kita tidak tampak buruk, eh!" jawab Yudas Keriot seraya menepuk pundak Petrus, dengan sikap melindungi dan dengan jahat...

Pada kesempatan lain, perilaku Yudas itu pasti akan menimbulkan reaksi. Namun Petrus, sejak malam sebelumnya, penuh dengan... kekaguman pada Yudas dan tahan menghadapinya dalam segala hal.

Yesus berkata, "Filipus dan Natanael bersama Andreas dan Matius, pergilah ke istana Lazarus dan katakan kepada mereka bahwa kita akan datang."

Keempat rasul itu berpisah sementara yang lainnya melanjutkan perjalanan bersama Yesus. Para murid, kecuali Stefanus dan Ishak, pergi bersama para rasul yang diutus ke istana.

Di pinggiran Ofel ada perpisahan selanjutnya. Mereka yang menuju Getsemani segera pergi bersama Ishak. Stefanus tinggal bersama Yesus, putra-putra Alfeus, Petrus, Yakobus dan Iskariot dan untuk menghindari terhenti di persimpangan-persimpangan jalan, mereka berjalan perlahan ke arah yang sama dengan mereka yang sudah pergi ke Getsemani. Mereka menyusuri jalanan kecil yang sama di mana Yesus akan dibawa oleh para penyiksa-Nya pada malam Kamis Putih. Sekarang, sekitar tengah hari, jalanan itu lengang. Tak jauh sesudahnya, mereka tiba di sebuah alun-alun kecil dengan mata air yang dinaungi oleh sebuah pohon ara, yang membuka daun-daun kecilnya yang lembut di atas air yang tenang.

"Ada Samuel mantan Annalea," kata Yakobus Alfeus, yang pastilah mengenalnya dengan baik. Pemuda itu hendak memasuki sebuah rumah dengan membawa seekor anak domba... dan bahan makanan lainnya.

"Dia sedang mempersiapkan perjamuan Paskah juga untuk sanaknya," kata Yudas Alfeus.

"Apakah dia menetap di sini sekarang? Bukankah dia tadinya sudah pergi?" tanya Petrus.

"Ya, dia menetap di sini. Mereka mengatakan bahwa dia sekarang menggoda putri Kleopas, si pembuat sandal. Gadis itu kaya..."

"Ah! Jadi mengapa dia mengatakan bahwa Annalea meninggalkannya?" tanya Iskariot.

"Itu bohong!"

"Orang sering menggunakan kebohongan. Dan dia tidak sadar bahwa dengan melakukan itu dia mengambil jalan yang salah. Langkah pertama, satu langkah, sudah cukup, dan orang tidak lagi bisa bebas... Itu adalah jerat burung... adalah labirin... adalah perangkap... Perangkap yang mencondongkan orang pada dosa..." kata Yesus kepada Yudas Keriot.

"Sayang sekali! Dia kelihatannya seorang yang begitu baik tahun lalu!" kata Yakobus Zebedeus.

"Ya. Aku benar-benar berpikir bahwa dia akan meneladani pacarnya dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada-Mu dan mereka berdua menjadi pasangan suami istri malaikat dan abdi-Mu. Aku akan bersumpah untuk itu!..." kata Petrus.

"Simon-Ku terkasih! Jangan pernah bersumpah demi masa depan seseorang. Ini adalah yang paling tidak pasti dari segala hal. Tidak ada unsur, yang ada pada saat sumpah, yang bisa menjamin sumpah yang aman. Ada para penjahat yang menjadi orang-orang kudus, dan ada orang-orang benar, atau tampaknya benar, yang menjadi penjahat," jawab Yesus kepadanya.

Sementara itu, Samuel sesudah masuk ke dalam rumah, keluar lagi untuk menimba air di mata air... Dan dia melihat Yesus. Dia menatap pada-Nya dengan tatapan yang jelas-jelas menghina dan melontarkan pada-Nya apa yang pastinya adalah hinaan, meski aku tidak mengerti, sebab diucapkan dalam bahasa Ibrani.

Iskariot sekonyong-konyong melompat ke depan, mencengkeram lengan pemuda itu, mengguncang-guncangkannya seperti pohon yang diguncangkan orang supaya buah-buahnya yang masak jatuh ke tanah: "Begitukah caramu berbicara kepada Guru, hai orang berdosa? Jatuhlah berlutut, sekarang! Mohon ampun kepada-Nya, kau si lidah busuk dari babi kotor! Berlutut! Atau aku akan patahkan lehermu!" Yudas yang tampan sangat marah dalam keberingasan yang tiba-tiba! Raut wajahnya berubah menakutkan. Sia-sia saja Yesus mencoba menenangkannya. Yudas tidak melepaskan cengkeramannya sampai dia melihat orang berdosa itu berlutut di tanah yang berlumpur di sekitar mata air.

"Ampuni aku," kata orang malang itu lirih, sebab dia merasakan jari-jari Yudas menyiksanya seperti penjepit. Tapi dia mengatakannya dengan begitu buruk, karena dia hanya terpaksa melakukannya.

Yesus menjawab: "Aku tidak marah. Tapi kau yang masih marah, terlepas dari apa yang kau katakan. Kata-kata tidak ada gunanya kecuali diucapkan dari hati. Tapi kau masih mengutuki Aku dalam hatimu. Dan dengan begitu kau bersalah dua kali lipat. Karena kau mendakwa Aku, dan kau membenci Aku karena suatu alasan, yang menurut hati nuranimu, lubuk hatimu katakan itu tidak benar. Dan karena kaulah satu-satunya yang bersalah, bukan Annalea, bukan Aku. Tapi Aku mengampunimu untuk segalanya. Pergi dan berusahalah untuk menjadi orang baik dan berkenan bagi Allah. Lepaskan dia, Yudas."

"Aku pergi. Tapi aku membenci-Mu! Kau sudah menyesatkan Annalea, dan aku membenci-Mu..."

"Tapi kau sudah menemukan penghiburan dari Ribka, putri si pembuat sandal. Dan kau sudah mencari penghiburan sejak Annalea masih tunanganmu, dan meskipun sakit, dia hanya memikirkanmu..."

"Aku adalah seorang duda... Aku pikir aku sudah seorang duda... dan aku sedang mencari seorang istri ... Aku sekarang kembali kepada Ribka karena... karena Annalea tidak mau dengan aku," kata Samuel membenarkan dirinya, ketika dia tahu bahwa kejahatannya sudah ketahuan.

Yudas Iskariot menyimpulkan, "... dan karena Ribka sangat kaya. Dia sejelek sandal usang... dan setua sol sepatu yang hilang di jalan... tapi kaya, oh! sangat kaya!..." dan dia tertawa sinis, sementara pemuda itu melarikan diri.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Petrus.

"Oh!... mudah sekali mengetahui di mana ada perawan-perawan dan uang!"

"Baiklah! Bagaimana kalau kita menyusuri jalan kecil ini, Guru? Alun-alun ini sepanas oven. Di sana teduh dan berangin," mohon Petrus yang berkeringat.

Mereka berjalan perlahan, menunggu yang lain-lainnya kembali. Jalanan sepi. Seorang perempuan keluar dari pintu rumah dan merebahkan diri di kaki Yesus sambil menangis.

"Ada apa?"

"Guru!... Apakah Engkau sudah ditahirkan?"

"Ya. Kenapa kau bertanya kepada-Ku?"

"Karena aku ingin mengatakan kepada-Mu... Tapi Engkau tidak bisa mendekatinya. Sekujur tubuhnya membusuk... Dokter mengatakan bahwa dia terinfeksi. Aku akan memanggil imam sesudah Paskah... dan... Hinom akan menerimanya. Jangan katakan bahwa itu salahku. Aku tidak tahu... Dia bekerja di Yope selama berbulan-bulan dan dia kembali dengan mengatakan bahwa dia terluka. Aku sudah menggunakan balsam dan aku sudah memandikannya dengan herbal aromatik... Tapi itu tidak membantu. Aku pergi ke ahli herbal. Dia memberiku bubuk untuk darahnya... Aku menjauhkan anak-anak... tempat tidur... karena aku mulai sadar. Dia semakin memburuk. Aku memanggil dokter. Dia berkata kepadaku: 'Perempuan, kau tahu apa tugasmu dan aku tahu apa tugasku. Ini adalah luka yang disebabkan oleh percabulan. Jauhkan dia dari dirimu sendiri, aku akan memisahkan dia dari orang-orang, dari imam Israel. Dia seharusnya sudah memikirkannya ketika dia melanggar Tuhan, kau dan dirinya sendiri. Biarkan dia menyilih sekarang.' Dia berjanji untuk tidak mengatakan apa pun sampai sesudah Hari Raya Roti Tak Beragi. Tetapi jika Engkau berbelas kasihan pada si pendosa, pada aku yang mencintainya dan pada kelima anak yang tidak berdosa..."

"Apa yang kau ingin Aku lakukan untukmu? Tidakkah menurutmu orang yang berdosa harus menyilihnya?"

"Ya, Tuhan! Tetapi Engkau adalah Kerahiman yang Hidup!" Segenap iman yang bisa dimiliki oleh seorang perempuan ada dalam suaranya, dalam matanya, dalam sikap berlututnya, dengan kedua tangan terentang ke arah Juruselamat.

"Dan bagaimana perasaannya?"

"Dia berkecil hati... Apa lagi yang bisa dia lakukan, Tuhan?"

"Perasaan rohani akan pertobatan, akan keadilan akan cukup untuk memperolehkan kerahiman!..."

"Keadilan?"

"Ya. Dia sepatutnya berkata: 'Aku sudah berdosa. Dosaku pantas diganjari ini dan bahkan jauh lebih dari ini, tetapi aku meminta pada mereka yang aku sakiti untuk berbelas kasihan padaku.'"

"Aku sudah merasa kasihan padanya. Engkau, Tuhan, berbelas kasihanlah padanya. Aku tidak bisa mengatakan kepada-Mu: masuklah... Aku sendiri juga tidak menyentuh-Mu... Tetapi jika Engkau mau, aku akan memanggilnya dan aku akan menyuruhnya berbicara dari teras."

"Ya, lakukanlah."

Perempuan itu, dengan kepalanya dijengukkan ke pintu rumah, berteriak dengan suara nyaring: "Yakub! Yakub! Naiklah ke atap. Lihatlah. Jangan takut."

Beberapa saat kemudian seorang laki-laki muncul di tembok pembatas teras. Wajahnya kekuningan dan bengkak, leher dan satu tangannya dibalut... tubuh rusak orang yang terinfeksi... Dia melihat dengan mata berkaca-kaca dari seorang laki-laki yang terjangkit penyakit yang mendatangkan aib. Dia bertanya, "Siapa yang mencariku?"

"Yakub, Juruselamat ada di sini..." Perempuan itu tidak berkata apa-apa lagi tetapi dia terlihat seolah-olah dia ingin menghipnotis orang yang sakit itu dan menanamkan pikirannya ke dalam dirinya...

Laki-laki itu, entah dia menerima pikiran si perempuan, atau karena suatu tindakan spontan, merentangkan kedua tangannya dan berkata, "Oh! Bebaskan aku! Aku percaya kepada-Mu! Sangat mengerikan mati seperti ini!"

"Sangat mengerikan gagal dalam tugas seseorang. Kau tidak memikirkan itu! Kau tidak memikirkan anak-anakmu!"

"Berbelas kasihanlah, Tuhan... pada mereka, padaku... Ampuni aku!"  Dan dia bersandar pada tembok rendah itu seraya menangis. Tangannya yang diperban menonjol keluar dan juga lengannya, yang tersingkap saat lengan bajunya tertarik ke atas, menampakkan bisul-bisul bernanah dan bengkak: pemandangan yang menjijikkan... Laki-laki itu, dalam posisinya sekarang, seperti boneka mengerikan atau mayat yang ditinggalkan di sana dan akan membusuk. Pemandangan yang mengibakan hati dan sekaligus menjijikkan.

Perempuan itu menangis, masih berlutut di tanah. Yesus tampaknya sedang menantikan kata-kata selanjutnya.

Pada akhirnya terdengarlah di antara isak tangis: "Aku memohon kepada-Mu dengan sesal di hatiku! Setidaknya pastikan untukku bahwa mereka tidak akan kelaparan... dan lalu... aku akan pergi dengan pasrah... Tapi selamatkanlah jiwaku, o Juruselamat Terberkati! Setidaknya itu!"

"Ya, aku akan menyembuhkanmu. Demi anak-anak yang tidak berdosa itu dan untuk memberimu kesempatan menjadi orang yang baik. Apakah kau mengerti? Ingatlah bahwa Juruselamat menyembuhkanmu. Allah akan memberimu absolusi dari dosa-dosamu sesuai dengan responsmu terhadap rahmat ini. Selamat tinggal. Damai bagimu perempuan." Dan Dia nyaris melarikan diri untuk menemui mereka yang datang dari Getsemani. Bahkan teriakan laki-laki yang merasa dan melihat bahwa dia sudah disembuhkan ataupun teriakan istrinya, tidak bisa menghentikan Yesus...

"Ayo kita menyusuri jalan kecil ini untuk menghindari lewat sana lagi," kata Yesus setelah Dia bergabung dengan yang lain-lainnya. Mereka berjalan di sepanjang jalan kecil yang menyedihkan, yang sangat sempit hingga dua orang hampir-hampir tidak bisa melewatinya dengan berjalan berdampingan dan jika orang berpapasan dengan keledai beban, orang akan harus menempel di tembok seperti perangko. Cahayanya sangat redup karena atap-atapnya hampir saling bersentuhan. Ini adalah jalur yang terpencil, sepi, dan berbau tidak sedap. Mereka berjalan dalam satu barisan hingga ujung jalan itu. Kemudian di alun-alun kecil, yang penuh dengan anak laki-laki, mereka semua berkumpul kembali.

"Mengapa Engkau mengucapkan kata-kata seperti itu kepada laki-laki itu? Engkau tidak pernah mengatakannya sebelumnya..." tanya Petrus penuh rasa ingin tahu.

"Karena orang itu akan menjadi salah satu musuh-Ku. Dan dosanya di masa depan akan memperburuk kesalahannya saat ini."

"Dan Engkau menyembuhkannya?!" mereka semua bertanya dengan wajah terperanjat.

"Ya. Demi anak-anak yang tidak bersalah."

"Hm! Dia akan jatuh sakit lagi…"

"Tidak, dia akan merawat tubuhnya, sesudah kengerian dan apa yang dia derita. Dia tidak akan sakit lagi."

"Tetapi dia akan berdosa terhadap-Mu, seperti yang Engkau katakan. Aku akan suka membiarkan dia mati."

"Kamu adalah orang berdosa, Simon anak Yunus."

"Dan Engkau terlalu baik, Yesus dari Nazaret," jawab Petrus. Mereka menghilang di jalan utama dan aku tidak lagi bisa melihat mereka.  




Catatan dariku.

Aku mengenali keduanya, orang yang disembuhkan itu dan Samuel. Orang pertama adalah orang yang memukul kepala Yesus dengan batu saat Sengsara-Nya. Aku mengenalinya lebih baik daripada mengenali istrinya, yang saat itu lebih berduka dari saat sekarang dan aku mengenali rumahnya, yang memiliki pintu tinggi yang khas dengan tiga anak tangga. Demikian juga, kendati topeng kebencian sudah mengubahnya, aku mengenali dia sebagai Samuel si pemuda yang menewaskan ibunya dengan tendangan supaya bisa pergi dan menyerang Guru dengan pentung.

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku 6                 Daftar Istilah                    Halaman Utama