|
Menanggapi Panggilan Allah
oleh: P. Gregorius Kaha, SVD
Minggu ini Gereja merayakan Minggu Panggilan. Bacaan Injil berkisah tentang “Gembala Yang Baik”, sebuah kisah yang sangat inspiratif yang disampaikan Yesus mengenai hubungan DiriNya dengan para murid-Nya. Tema yang ditetapkan Paus Benediktus XVI untuk kita renungkan bersama di hari Minggu Panggilan ini adalah “Panggilan: Inisiatif Allah dan Jawaban Manusia”.
Panggilan dan jawaban bagai dua sisi mata uang. Sekeping mata uang bernilai karena ada dua sisi: gambar dan angka; demikian pula panggilan bernilai jika ada yang memanggil dan ada yang menjawab. Jawaban mengandaikan ada panggilan.
Allah memanggil semua orang untuk menjadi kudus. Namun dalam panggilan umum kepada kekudusan itu, Allah memilih serta mengundang beberapa orang secara khusus agar hidup lebih dekat dengan PutraNya, untuk dijadikan pelayan dan saksi-Nya. Sang Guru memanggil para rasul satu persatu untuk “menyertai Dia dan untuk diutus memberitakan Injil; mereka diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan” dan pada gilirannya mereka memanggil murid-murid yang lain sebagai rekan setia dalam pelayanan Injil. Maka terjadilah sepanjang sejarah, sejumlah besar orang menanggapi panggilan Yesus dan membuka diri terhadap suara Roh Kudus dengan menjadi imam, biarawan-biarawati dan menjadi pelayan Injil yang utuh dalam Gereja.
Paus Benediktus mengajak kaum beriman mensyukuri rahmat Tuhan ini, meski kita juga perlu menyadari bahwa banyak tempat mengalami kekurangan tenaga, secara khusus pelayan-pelayan tertahbis, dan Gereja menghadapi kesulitan-kesulitan yang luar biasa mengenai hal ini. Kita mengarahkan diri pada penyelenggaraan ilahi yang dengan bebas memilih dan mengundang orang dari pelbagai latar belakang untuk mengikuti-Nya secara khusus. Memang inisiatif panggilan datang dari Allah Sendiri, sedang dari kita dituntut bagaimana menjawab panggilan khusus dari Allah itu.
Sebagai bagian dari persekutuan kaum beriman, pesan apa yang bisa kita petik dari hari Minggu Panggilan ini?
Pertama, dengan penuh kerendahan hati kita berdoa agar prakarsa ilahi yang memanggil manusia mendapatkan lahan yang subur dalam keluarga, dalam paroki, dalam gerakan kelompok-kelompok serta komunitas-komunitas. Dengan penuh iman kita berharap “panggilan Tuhan” ditanggapi oleh lebih banyak orang, yang dengan berani diri mengambil cara hidup yang lain demi kerajaan Allah. Berdoalah juga untuk para imam, biarawan-biarawati agar setia pada panggilan kudus ini.
Kedua, dengan kesadaran baru kita merayakan Ekaristi Kudus dengan penuh penghayatan sebab dalam Perayaan Ekaristi Tuhan mengurbankan DiriNya Sendiri bagi kita. Misteri Ekaristi tidak bisa lepas dari pelayan tertahbis, maka di hari Minggu Panggilan ini kesadaran baru perlu dibangun, yakni agar kita dengan setia merayakan, menghayati dan mengamalkan buah-buah dari Perayaan Ekaristi.
Ketiga, teladan jawaban yang total terhadap panggilan Allah ada dalam diri Bunda Maria. Jawaban “Ya” bagi gadis Nazaret ini merupakan komitmen yang kuat dan tangguh atas keyakinan imannya. Bunda Maria senantiasa memelihara dalam hatinya rasa hormat dan sikap sembah bakti kepada Allah; ia yakin Allah-lah “yang melakukan hal-hal besar dalam hidupnya” oleh karena itu kuduslah Nama-Nya.
|