|
Ziarah Iman bersama Para Kudus:
Januari
1 Januari
Hari Raya SP Maria Bunda Allah, Oktaf Natal, Hari Perdamaian Sedunia
Tahun Baru sudah tiba. Dalam kurun waktu 365 hari, 52 Minggu, 12 bulan Gereja Kudus melahirkan banyak anak manusia menjadi anak-anak angkat Allah, saudara Kristus, putera Maria. Santa Perawan Maria berperan besar dalam proses kelahiran. Di luar daya pikir manusia, ia melahirkan Putra Allah Sang Pencipta. Wajar jika hari raya Santa Perawan Maria Bunda Allah dirayakan pada tanggal 1 Januari, hari oktaf kelahiran Tuhan, yang menguduskan segala kelahiran. Tanggal 1 Januari adalah juga Hari Perdamaian Sedunia. Maria adalah Bunda Perdamaian karena ia melahirkan Raja Damai.
Renungan:
Sudah menjadi tradisi saling bersalaman dengan ucapan, “Selamat Natal dan Tahun Baru”. Hari demi hari terus berlalu. Tahun baru diharapkan membawa hidup baru menuju dunia dan langit yang baru. Dia yang berkuasa atas waktu dan keabadian telah bersabda: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Wahyu 21:5). Maria menjaga dan memelihara Yesus, Putranya, dengan penuh cinta kasih dan tanggung jawab sejak Ia dilahirkan. Bersama St Yosef, ia mengungsikan Bayi Yesus ke Mesir, mengasuh-Nya di Nazaret. Ketika Yesus hilang, mereka mencari-Nya sampai tiga hari hingga akhirnya menemukan Kanak-kanak itu di Kenisah Yerusalem. Maria mendampingi Yesus dalam perjalanan sengsara hingga wafat di kayu salib. Ada dua gambar yang melukiskan Maria sebagai Bunda Yesus, yakni: Sang Bunda bersama Yesus di pangkuannya dan “Pieta” Maria yang memangku jenazah Yesus yang diturunkan dari salib. Maria dihormati sebagai Bunda Allah karena Yesus adalah Putra Allah, dan karena perannya dalam karya penyelamatan umat manusia. Gereja kudus menyampaikan penghormatan kepada Maria secara istimewa. Gereja memuji Maria karena Buah Tubuhnya. Devosi kepada Maria Bunda Allah telah membawa banyak berkat, antara lain perdamaian di dalam hati umat, di dalam keluarga, bahkan di dalam segenap Gereja Kudus. Devosi suci yang tersebar luas membenarkan nubuat Maria sendiri: “Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia” (Lukas 1:48).
2 Januari
St. Basilius Agung dan St. Gregorius dari Nazianze, Uskup dan Pujangga Gereja
|
|
|
St. Basilius Agung
|
St. Gregorius dari Nazianze
|
St. Basilius Agung dilahirkan di Caesarea, ibukota Propinsi Kapadokia di Asia Kecil pada tahun 329 dari keluarga yang saleh. Ia melanjutkan pendidikan di Konstantinopel dan di Athena. Di sana, ia menjalin persahabatan dengan Gregorius dari Nazianze. Basilius amat mahir dalam bidang retorika (ilmu pidato). Tetapi daya tarik terhadap hidup membiara lebih dominan memikat hati sanubari dan jiwa raganya. Sebab itu, ia memutuskan untuk berhenti dari dunia ilmu dan menekuni corak hidup membiara. Ia belajar hidup membiara di daerah-daerah Mesir, Palestina, Siria dan Mesopotamia. Kemudian ia mendirikan sebuah pertapaan di Pontus. Di sinilah ia menjalani hidup sebagai seorang pertapa dan menjalani hidup keras. Basilius adalah perintis hidup membiara di Asia Kecil dan juga di Gereja Timur. Di Gereja Barat, corak hidup ini dilanjutkan oleh St Benediktus, pendiri Ordo Benediktin dan Abbas Biara Monte Casino.
Pada tahun 370 Basilius ditahbiskan menjadi Uskup Caesarea menggantikan Uskup Eusebius. Ia dikenal sebagai uskup yang berwatak tegas, pandai, dan kudus. Karena bakat-bakat rohani dan kemampuan intelektualnya, ia dipakai sebagai alat oleh Tuhan untuk menentang ajaran sesat Arianisme, yakni suatu ajaran yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus hanyalah manusia unggulan biasa dan bukan Putra Allah. St Basilius Agung wafat pada tanggal 1 Januari 379. Ia digelari kudus dan dihormati sebagai “Pujangga Gereja”.
Teman dekat Basilius sejak di Konstantinopel dan Athena adalah St Gregorius. Gregorius juga dilahirkan dalam keluarga saleh. Ia memiliki wawasan spiritual dan ilmu pengetahuan yang mendalam. Gregorius sempat menggeluti hidup pertapaan di Pontus. Ia ditahbiskan menjadi imam dan akhirnya menjadi uskup pada usia 50 tahun dan selanjutnya dipilih menjadi Uskup Agung Konstantinopel. Gregorius turut ikut ambil bagian dalam usaha-usaha menentang ajaran sesat Arianisme. Sebagai uskup, ia mengajar umatnya dengan senjata iman dan cinta kasih. “Kita harus menghadapi mereka (kaum Arian) dengan budi bahasa yang halus dan kesadaran yang tinggi agar dapat menaklukkan mereka.” Gregorius menulis banyak risalah agama dan mengajar di kota-kota yang dikenal sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Ia menghasikan karya-karya tulis untuk membela ajaran iman yang benar. Gregorius wafat di kota kelahirannya pada tahun 390. Ia dimaklumkan sebagai “Uskup Pujangga Gereja”. Tulisan-tulisannya hingga kini masih dibaca sebagai rujukan ajaran iman Katolik.
Renungan:
Kerendahan hati adalah awal kebijaksanaan. Salah satu sikap yang perlu dimiliki oleh seorang yang berilmu adalah kerendahan hati. Tanpa kerendahan hati, ilmu akan menjadi monster bagi kehidupan. Bom atom meledak di Hiroshima dan Nagasaki. Albert Einstein, penggagas bom atom merasa menyesal telah menciptakannya. Ilmu tanpa iman adalah buta. Ilmu harus tunduk di bawah payung iman. Iman yang mengatur dan menentukan apakah suatu ilmu baik dipakai bagi kehidupan manusia atau tidak. Tanpa iman, orang yang berilmu dan berpengetahuan akan memanipulasi ilmunya untuk kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, ia akan mengorbankan manusia.
St Basilius Agung dan St Gregorius dari Nazianze keduanya adalah orang yang berilmu. Mereka mempergunakan ilmu mereka untuk melayani Kerajaan Allah. Ilmu Filsafat dan Teologi mereka pergunakan untuk membela kebenaran dalam kehidupan, untuk menyelamatkan manusia. Sebab itu, mereka digelari Pujangga Gereja. St Basilius Agung dan St Gregorius dari Nazianze tahu bahwa ilmu dan iman harus sejalan. Keduanya berasal dari kebijaksanaan Allah. Allah mengetahui segala rahasia alam. Alam yang menjadi objek ilmu berada di dalam rencana Allah. Allah-lah tuan atas alam. Manusia yang berilmu harus pula tunduk pada rencana Allah, yaitu rencana penyelamatan.
3 Januari
Pesta Nama Yesus yang Tersuci
Nama yang suci penuh kuasa dimaklumkan oleh Malaikat Agung St Gabriel kepada Maria, “Hendaklah engkau menamai Dia Yesus” (Lukas 1:31). Pesan yang sama disampaikan malaikat kepada Yosef, “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dia-lah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21). Sesudah Maria melahirkan Yesus di kandang Betlehem, mereka pun memberi-Nya Nama Yesus, seperti yang disampaikan malaikat. Nama Yesus unik dan eksklusif. Maknanya adalah Penebus dan Penyelamat. Nama itu dipadukan dengan Kristus, yang artinya “Yang Diurapi”. St. Paulus memulai devosi kepada Nama Yesus. Devosi ini kemudian diikuti pula oleh St Bernardus, St Bernadinus, St Yohanes Kapistrano dan St Ignatius dari Loyola dan berkembang hingga sekarang.
Renungan:
Nomen is Omen. Nama itu adalah rahmat dan keselamatan. Nama Yesus adalah jaminan keselamatan. Dalam dan dengan Nama Yesus para rasul mewartakan Injil, menyembuhkan orang sakit dan mengadakan mukjizat. “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: `Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:9-11). Sepatutnyalah kita dengan penuh iman berlindung kepada Nama Yesus Kristus setiap waktu. Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup.
4 Januari
St. Elizabeth Ann Seton, Janda
Elizabeth dilahirkan di New York, Amerika Serikat, pada tahun 1774, dalam sebuah keluarga Anglikan yang saleh. Ayahnya seorang dokter. Ibunya meninggal dunia ketika ia baru berusia tiga tahun. Ayahnya mendidiknya dalam hal kerohanian dan ilmu pengetahuan. Ketika usianya duapuluh tahun, Elizabeth menikah dengan William Seton, seorang saudagar kaya, dan dikaruniai lima orang anak. Beban hidup terasa berat setelah kepergian suaminya. Ia menjadi janda dan harus sendirian memberi hidup dan mendidik kelima orang anaknya yang dididiknya dalam suasana bebas tetapi berdisiplin ketat. Berkat kesaksian hidup dari satu keluarga Katolik, keluarga Filicchi, yang baik budi dan penuh kasih di Italia, Elizabeth merasa sangat tertarik kepada Gereja Katolik yang satu, kudus dan apostolik. Secara khusus, ia terpikat akan kasih Yesus Kristus dalam Ekaristi Kudus. Sekembalinya ke Amerika pada tahun 1805, ia diterima secara resmi dalam Gereja Katolik yang sangat dikaguminya itu. Pada tahun 1809, ia mendirikan Kongregasi St Yosef untuk para suster yang bergerak di bidang pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu. Kongregasinya berkembang pesat hingga beranggotakan 9000 orang suster. Dengan tegas dan lemah-lembut ia memimpin serta membimbing suster-susternya. Para suster menghormatinya sebagai seorang ibu. Perempuan yang penuh dinamika ini wafat dalam damai pada tanggal 4 Januari 1821. Paus Paulus VI memaklumkannya sebagai santa pada tahun 1975.
Renungan:
Gereja Katolik yang satu, kudus, katolik dan apostolik mempunyai kepenuhan iman dan rahmat. Lembaga keselamatan ini memiliki kebenaran yang utuh, sehingga mempunyai daya tarik dan daya pikat bagi segala yang baik dan suci. Inilah yang dialami St Elizabeth Ann Seton. Melalui Moeder Elizabeth Ann Seton, kepenuhan rahmat itu dibagikan kepada suster-suster dan anak-anak didik mereka. Kepenuhan iman dan rahmat menjadi mahkota bagi Moeder Elizabeth Ann Seton. Beliau dimaklumkan sebagai “Santa” pada tanggal 14 September 1975 oleh Paus Paulus VI.
“Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Roma 8:30). Apakah kita juga cukup mencintai kebenaran iman dan kekayaan rahmat iman kepercayaan kita? Hendaknya apa yang kita yakini itu dapat kita saksikan ke tengah dunia khususnya kepada lingkungan keluarga dan masyarakat kita sehingga apa yang benar adalah benar dan apa yang salah adalah salah. Kebenaran akan selalu berada di atas segalanya. Satu hal yang jelas dari hidup Santa Elizabeth Ann Seton adalah: menjadi Katolik membuatnya menjadi lebih masuk ke dalam dunia. Ia tidak menyembunyikan kekatolikannya melainkan mewartakannya kepada dunia dengan caranya sendiri.
Dalam masyarakat kita, janda merupakan predikat yang merepotkan, menjadi halangan untuk bisa hidup secara wajar. Macam-macam hal negatif bisa dihubungkan dengan predikat janda. Dibutuhkan kekuatan yang besar untuk mengatasi halangan itu, apalagi untuk dapat membuat sesuatu yang berguna. Kedua hal ini berhasil diatasi oleh St Elizabeth Ann Seton. Semuanya terjadi karena iman yang kuat, doa yang tekun serta ketulusan hati. Semuanya dilakukan dengan kasih. Kasih menaklukkan segala hambatan yang mungkin dihadapi. Inilah contoh hidup seorang beriman. Inilah teladan bagi kita sebagai orang yang menamakan diri Katolik. Inspirasi imannya menjadi contoh dalam kehidupan kita sehari-hari.
5 Januari
St. Yohanes Neumann, Uskup
Yohanes Neumann dilahirkan pada tanggal 28 Maret 1811 di Bohemia dalam keluarga yang saleh. Pada tahun 1832 ia menjalani pendidikan imam sebab terdorong oleh hidup para imam. Kemudian ia menjadi seorang misionaris di Amerika Serikat dan ditahbiskan oleh Uskup Yohanes Dubois di New York pada tanggal 25 Juni 1836 dalam Serikat Redemptoris. Pada tahun 1852, ia ditahbiskan menjadi Uskup Philadelphia oleh Paus Pius IX. Sepanjang kepemimpinannya, beliau mengunjungi semua paroki dalam wilayah keuskupannya guna menyemangati para imam dan umat dalam penyebaran Injil dan perkembangan Gereja. Ia membangun 80 buah gereja, seratus sekolah, seminari, juga lima tarekat religius. Ia membangun Gereja Katedral Philadelphia, membantu penyusunan dan pemakluman Dogma Maria Dikandung Tanpa Dosa Asal di Roma pada tahun 1854. Empat tahun kemudian, Maria meneguhkan dogma itu di Lourdes dengan menampakkan diri sebagai “Yang Dikandung Tanpa Dosa Asal”. Dengan gigih Uskup Neumann membela iman Katolik dari ajaran-ajaran sesat dan memperkenalkan serta memajukan devosi Sakramen Mahakudus. Yohanes Neumann wafat pada tanggal 5 Januari 1860.
Renungan:
St. Yohanes Neumann adalah seorang pahlawan spiritual Gereja. Cita-citanya tinggi menembus surga; cita-cita ini senantiasa berkobar dalam dirinya dan menghantarnya menempuh imamat suci. Cita-cita hidup yang baik menuntut usaha keras. Usaha keras dari pihak manusia disertai doa yang tekun kepada Allah membawa keberhasilan. Jika bukan keberhasilan yang kasat mata, semangat yang tinggi untuk berhasil juga bisa menjadi contoh teladan bagi orang lain. Hidup manusia adalah kesempatan untuk mengatasi kendala-kendala hidup. Jika berhasil, bersyukurlah kepada Allah. Jika belum berhasil, serahkan kepada Allah. Allah akan menyempurnakan usahamu.
6 Januari
Hari Raya Penampakan Tuhan
Hari Raya Penampakkan Tuhan kepada para majus dirayakan pada tanggal 6 Januari. Sekarang perayaan ini dirayakan pada hari Minggu antara tanggal 2 - 8 Januari sesudah Pesta Keluarga Kudus. Perayaan ini disebut juga Hari Raya Epifania berkenaan dengan kunjungan para majus ke Betlehem (Matius 2:1-12). Pada zaman Yesus istilah “majus” bermakna ahli nujum. Dalam tradisi muncul sebuah ceritera tentang Tiga Sarjana atau Tiga Raja dari Timur yang dikenal dengan nama Gaspar, Melkior dan Baltazar. Ketiga raja itulah yang dipercayai datang ke Betlehem untuk menyembah Kanak-kanak Yesus. Mereka mempersembahkan emas, dupa dan mur, sebagai ungkapan sembah bakti mereka kepada Dia yang adalah Raja, Allah dan Manusia. Ketiga nama raja ini tidak disebut dalam naskah-naskah Kitab Suci. Injil Matius pun tidak menyebutkannya. Ketiga nama ini berkembang dalam tradisi dan dipakai juga oleh umat Kristiani sebagai nama pelindung. Diyakini pula ketiga orang ini layak disebut kudus sebab ketekunan mereka dalam mencari Allah yang berasal dari keturunan Raja Daud, yang memerintah alam semesta.
Renungan:
Tiga sarjana dari Timur datang menyembah Sang Raja yang dilahirkan dari keturunan Daud, Dia yang Diurapi, Mesias Anak Allah yang hidup. Mencari Allah merupakan kerinduan dasar setiap manusia. Kerinduan ini bersifat dasariah dan melekat dalam kodrat manusia. Persoalannya, ke mana orang mencari kerinduan dasariah tersebut. Orang bisa mencari di tempat yang salah. Kerinduan atau kebutuhan dasariah ini bisa juga dipenuhi dengan hal-hal tidak tepat. Mereka bisa menjadi penyembah berhala atau penikmat hal-hal duniawi belaka. Tiga sarjana dari Timur menjawabi kerinduan dasar tersebut dengan cara yang tepat. Walaupun menghadapi hambatan dari Herodes, mereka akhirnya bertemu dengan Dia yang mereka cari. Mereka lalu mempersembahkan cinta kasih (emas), dupa yang harum mewangi dan mur sebagai lambang matiraga dan pengendalian diri. Menemukan Allah membutuhkan pengorbanan dan kasih.
7 Januari
St. Raymundus dari Penyafort, Uskup dan Pengaku Iman
Pada tahun 1175, sebuah keluarga bangsawan di Penyafort, Spanyol dikaruniai seorang putera yang sehat dan mungil. Anak ini dibaptis dengan nama Raymundus. Ia dididik dalam keluhuran iman dan pengetahuan Katolik. Selanjutnya ia mengenyam pendidikan retorika dan ilmu hukum dan di kemudian hari menggabungkan diri dalam Ordo Dominikan, satu ordo yang ketika itu sangat memperhatikan ilmu pengetahuan. Paus Gregorius IX (1227-1241) mengangkatnya sebagai Bapa Pengakuan dan mempercayakan tugas mengumpulkan dekrit konsili dan kepausan yang kemudian menjadi karya klasik hukum Gereja selama 700 tahun. Raymundus mendorong St. Thomas Aquinas menyusun karyanya yang terkenal "Summa Contra Gentiles". Raymundus mendirikan Fakultas bahasa Arab dan bahasa Ibrani dan memperkenalkan bahasa Arab dan Ibrani disemua sekolah Dominikan. Dengan penuh semangat ia berkotbah membela kebenaran-kebenaran pokok Gereja, membina umatnya, mempertobatkan bangsa Moor dan Yahudi. Sebagai pembesar Dominikan, ia sangat mendorong dan memajukan misi Gereja. Raymundus Penyafort wafat pada tanggal 6 Januari 1275 di Barcelona dalam usia 100 tahun.
Renungan:
Nasehat itu ada takarannya. Nasehat yang diberikan dengan takaran yang berlebihan seperti obat yang kelewat dosis. Ia malah dapat menimbulkan penyakit. Setiap orang ingin berkembang menurut apa yang dia anggap mampu. Seorang penasehat dalam arti sesungguhnya hanya membantu melihat arah dan memberitahu apa yang mungkin terjadi dari sekian banyak pilihan. Keputusan untuk menjalankan hidup berada di tangan orang yang meminta nasehat. Untuk itu, seorang penasehat perlu tahun kapan dia harus menahan diri untuk memberi nasehat.
8 Januari
St. Apollinaris, Uskup
St Claudius Apollinaris adalah Uskup Heirapolis, Phrygia pada abad kedua. Ia menulis suatu pembelaan iman kepada Kaisar Marcus Aurelius yang mengingatkan kaisar akan kemenangan ajaib yang diperolehnya berkat doa umat Kristiani dan akan janjinya untuk melindungi umat Kristiani. St Apollinaris banyak berkarya dan menulis membela iman melawan bidaah-bidaah sesat. Uskup yang kudus ini wafat sekitar tahun 175.
Renungan:
Penderitaan lahir dan batin bisa saja menjadi ancaman hidup manusia sampai di liang lahat. Penderitaan datang tanpa diminta atau diundang. Datangnya pun dapat secara intern maupun ekstern. Penderitaan datang karena dosa asal dan dosa-dosa pokok: sombong, marah, tamak, kikir, iri hati, cabul dan malas. “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma 5:12). Sebelum maut, penderitaan datang bertubi-tubi. Yesus raja sengsara mengalami penderitaan batin yang menguras keringat darah dalam sakrat maut di Taman Zaitun. Sedangkan sepanjang Via Dolorosa (jalan salib) sampai wafat di salib, Yesus menderita sengsara yang disebabkan dari luar oleh para penjahat. St Apollinaris mengalami penderitaan yang bertubi-tubi. Penderitaan adalah misteri hidup yang pasti dihadapi setiap manusia. Yesus bersabda, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:10). Hanya ada satu jalan yang pasti menuju kepada kemuliaan, yakni melalui Yesus Kristus Sang Juruselamat. Dialah jalan, kebenaran dan hidup.
9 Januari
St. Marsiana, Martir
Marsiana dilahirkan di sebuah desa di kepulauan Mauritania, Afrika. Sejak muda, ia menaruh perhatian besar pada hal-hal rohani. Ia mampu melancarkan perlawanan terhadap para penyembah berhala kuno di zaman Kaisar Diocletianus (284-305). Namun ia harus membayar dengan nyawanya. Ia ditangkap dan disiksa secara keji dan bengis hingga akhirnya wafat sebagai maritr Marsiana dihormati secara khusus sebagai pelindung kota Tortosaso, Spanyol.
Renungan:
Seorang martir rela mati karena iman akan Kristus. Yesus-lah yang pertama-tama menjadi martir karena cinta-Nya kepada BapaNya dan kepada umat manusia. Sebab itulah Yesus dihormati sebagai Raja para martir. Gereja tidak saja menghargai dan menghormati umat beriman yang wafat sebagai martir dengan menumpahkan darahnya, Gereja juga menghormati setiap bentuk penderitaan baik fisik maupun batin yang dialami oleh semua insan yang merelakan dirinya menderita demi Kristus. Maria, Bunda Yesus juga dihormati sebagai Ratu para martir. Maria sangat menonjol dalam duka derita. Maria digelari Bunda Dukacita (Stabat Mater). Tuhan menguji umat beriman bagai emas dalam perapian dan menerima mereka sebagai korban yang harum mewangi dalam kemuliaan dan kehidupan kekal abadi. Puji dan syukur bagi Allah yang Mahabijaksana dan Penyelenggara keselamatan umat manusia. Santa Marsiana, pahlawan iman, mohonkanlah kepada Allah Tritunggal Mahakudus, agar muda-mudi sedunia mampu menjaga dan memelihara kemurnian jiwa-raganya karena jiwa-raganya adalah Bait Allah.
10 Januari
B. Gregorius X, Paus
Teobaldi Visconti dilahirkan di Picenza-Italia pada tahun 1210. Ia adalah pembantu Kardinal Yakopo Pecoraria, diutus oleh Paus Gregorius IX dalam suatu misi ke Perancis dan Inggris. Ia juga menjadi salah satu anggota militan kelompok pejuang pembebasan Tanah Suci dari penguasaan kaum Muslim. Sesudah Paus Klemens IV (1265-1268) wafat, Tahta Suci lowong selama tiga tahun karena terjadi perpecahan dalam tubuh Kolegium Para Kardinal antara blok Perancis dan Italia. Berkat kerja keras enam kardinal, yang dipilih dari 15 Kardinal dalam pertemuan di kota Viterbo, Teobaldi Visconti terpilih menjadi Paus. Ketika itu, ia masih berada di Palestina dan baru berangkat ke Viterbo pada bulan Pebruari tahun 1271. Pada tanggal 19 Maret 1271 beliau dinobatkan menjadi Paus Gregorius X. Selama kepemimpinannya, ia berusaha dalam pembangunan kekaisaran Romawi yang suci, pembaharuan Gereja, persatuan gereja-gereja Yunani dengan Roma, pembebasan Yerusalem dari penguasaan kaum Muslim. Ia memisahkan dengan tegas antara urusan Gereja dan negara tetapi erat bekerja sama. Konsili besar di Lyons, Perancis, yang merupakan suatu prestasi besar, terselenggara di bawah pimpinannya dengan dihadiri 1500 prelatus Gereja. Dengan bantuan dana dari Perancis dan Inggris, ia membebaskan Tanah Suci Yerusalem. Paus Gregorius wafat pada tahun 1276.
Renungan:
Kisah perjalanan seorang anak manusia adalah pergulatan menuju kesempurnaan. Ia melukiskan hidupnya di atas kanvas kehidupan dengan aneka warna. Antara warna putih (kesempurnaan) dan hitam (kegelapan hidup). Kalau mau jujur, tak ada manusia yang seputih kanvas dan tak ada yang hitam pekat. Gregorius tercatat sebagai paus ke-184. Paus Gregorius memerintah Tahta Petrus dengan kebijaksanaan manusia dan Allah, yakni tahu mengasihi. Mengasihi adalah syarat hidup Kristiani dalam Allah. Mengasihi baginya adalah mengetahui dan mengenal lingkungan hidup, sejarah dan kebudayaan bangsa-bangsa. Ia juga mengenal kebutuhan, tingkat kehidupan, agama dan relasi antar manusia. Sebelum Yesus mengangkat Petrus menjadi gembala, Ia bertanya, “Simon, anak Yohanes apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini?” Pertanyaan yang sama diajukan sebanyak tiga kali. Apa arti pertanyaan ini? Pertanyaan Yesus tidak berbunyi: Berapa jumlah orang yang menghargai engkau, yang mendukung engkau, apa yang akan engkau laksanakan. Tetapi, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Mencintai di sini menyangkut mengenal rahasia Allah yang menjelma menjadi manusia.
11 Januari
St. Alexander, Paus dan Martir
Alexander I adalah paus ke-6, Wakil Kristus, Kepala Gereja Katolik sedunia dan martir pada abad pertama. Ia berkebangsaan Roma, masa pontifikatnya (105-115) pada masa pemerintahan Kaisar Trayanus. Paus Alexander inilah yang mencetuskan rumusan kata-kata Liturgi Ekaristi, “Qui pridie quam pateritur” yang artinya, “Yang sehari sebelum Ia menderita.” Guna menyelaraskan liturgi dengan pesan terakhir Yesus, ia menginstruksikan agar anggur yang dipakai dalam Perayaan Ekaristi dicampur dengan sedikit air, sebagai lambang darah dan air dari lambung Yesus di kayu salib. Selain itu, beliau mensahkan pemakaian air suci dalam pemberkatan sebagai lambang hujan berkat Tuhan. Karena kasihnya yang besar kepada Tuhan, Paus Alexander merelakan kepalanya dipenggal bersama dengan kedua imamnya, Evenius dan Theodolus, oleh penentang ajaran Kristus pada jaman kekaisaran Romawi pada tahun 115.
Renungan:
Liturgi Gereja memberi penghormatan khusus kepada para martir. Para martir melakukan semuanya dengan keyakinan bahwa tubuh boleh musnah tetapi jiwa abadi. St Alexander merupakan satu contoh dari sosok martir. Para martir tahu apa yang mereka perjuangkan. Salib bukan tujuan. Salib itu konsekuensi yang harus dilalui untuk memperjuangkan kebenaran dan kebaikan. Seorang Katolik sejati tidak menolak salib. Salib merupakan bagian dari perjalanan hidup sebagai seorang Katolik. Kesediaan untuk menanggung salib membuat kita sanggup menerobos kekakuan dan kebekuan sikap pihak-pihak yang mengkianati kebenaran dan kebaikan.
12 Januari
St. Hilda, Abbas
Hilda dilahirkan pada tahun 617 dari keluarga bangsawan Anglo-Saxon. Sesudah menjadi Katolik pada usia 13 tahun, ia memilih hidup sebagai seorang biarawati. Karena teladan hidupnya, Hilda diangkat menjadi pemimpin biara. Ia memimpin biara dengan arif bijaksana. Biara Whytby yang dipimpinnya begitu terkenal. Ia dipanggil “Ibu” baik oleh raja maupun rakyat jelata berkat keramah-tamahan dan kebaikan hatinya. Banyak orang dari pelbagai kalangan, pemerintah dan rakyat datang meminta nasehat. Prestasi besar yang patut dicatat ialah dalam sinode tahun 664 Abbas Hilda berhasil mengusulkan tanggal Hari Raya Paskah dengan tata cara Romawi. Ia wafat sebagai Abbas di Biara Whytby, Inggris Utara pada tahun 680.
Renungan:
Jiwa dan roh manusia pada hakekatnya terorientasi kepada sang pencipta-Nya. Sebagian orang yang menemukan Kristus dalam agama Katolik merasa diri terpanggil untuk hidup membaktikan diri dalam biara aktif maupun dalam biara kontemplatif. Santa Hilda, seorang putri bangsawan pada abad ke-7, telah membaktikan hidupnya demi Kristus. Ia menghayati dan mengamalkan hidup bakti sesuai nasehat-nasehat Injil: kemiskinan, kemurnian dan ketaatan.
13 Januari
St. Hilarius, Uskup dan Pujangga Gereja
Hilarius dilahirkan pada tahun 315 di Poitiers, Perancis Selatan. Berkat ketekunannya membaca buku-buku rohani dan Kitab Suci, ia diterima dalam pangkuan Gereja Katolik. Ia tidak saja pandai, melainkan saleh dan bijaksana pun berbakat. Ia ditahbiskan menjadi imam dan kemudian uskup. Dengan mahir dan tegas ia membela ajaran-ajaran Gereja melawan budaya Arianisme (ajaran sesat yang tidak mengakui Ke-Allah-an Yesus Kristus). Karena itulah Hilarius dibuang oleh kaisar. Selama tiga tahun dalam pengasingan, ia menulis banyak buku, yang paling mashyur di antaranya adalah tentang Tritunggal yang Mahakudus. Namun Pujangga Gereja ini akhirnya dipulangkan kembali karena di tempat pembuangan justru banyak orang bertobat. Sekembalinya di tanah air, Hilarius tetap gigih membela iman hingga menutup mata pada tahun 367.
Renungan:
Kemauan yang membaja dan ketekunan berjuang adalah percikan kebijaksanaan Tuhan yang mengiringi Uskup Hilarius dan hasilnya adalah buah-buah kebenaran ditaburkan dalam damai bagi mereka yang membawa damai. Damai karena kebenaran iman bahwa Yesus adalah Allah. Ia adalah Putera Allah yang menjadi manusia demi keselamatan umat manusia. Kebijaksanaan dalam berdialog harus difokuskan pada kebenaran yang diimani dan dibela, bukan kepentingan pribadi atau golongan. Sikap rendah hati dan cinta damai akan membuahkan kebenaran abadi.
14 Januari
St. Makrina Tua
Santa Makrina Tua hidup suci bersama suaminya. Ketika terjadi penganiayaan terhadap umat Kristiani, St Makrina dan suaminya hidup dalam pengasingan selama tujuh tahun lamanya. Dalam masa penganiayaan yang lain, segala kekayaan dan harta milik Makrina dan suaminya disita penguasa. Tak ada yang tersisa bagi mereka terkecuali iman yang mereka wariskan kepada segenap anak dan cucunya. Anak dan menantunya adalah St Basilius Tua dan St Emilia. Beberapa dari antara cucunya juga dinyatakan kudus pula oleh gereja: St Makrina Muda, St Basilius Agung, St Petrus dari Sebaste dan St Gregorius dari Nyssa.
Renungan:
Santa Makrina Tua termasuk umat yang istimewa. Imannya mendalam, harapannya kokoh, kuat dan kasihnya membara kepada Tuhan dan sesama. Hasilnya, mereka mendirikan suatu persekutuan para kudus mini di dunia. Dasar keberhasilannya terletak dalam usaha persembahan tubuh mereka sebagai korban hidup yang suci dan berkenan kepada Allah. Mereka memang ada di dunia ini, tetapi bukan dari dunia ini. Mereka sudah menjadi manusia baru dan senantiasa mencari kehendak Allah, sebagaimana Kristus. Perbuatan baik dan yang berkenan kepada Allah menjadi tekad hidupnya. Semua ini demi melancarkan jalan menuju kesempurnaan. Niat dan tekad hidup ini tercapai bila Tuhan Allah selalu dipihak kita. Dialah penunjuk jalan yang akan mendatangkan berkat dan rahmat. Siapa yang berharap dan percaya tidak akan sia-sia pengharapannya karena Tuhan itu kekal abadi kasih setiaNya. Semoga Bapa, Putra dan Roh Kudus senantiasa menyertai kita berkat doa restu Santa Makrina.
15 Januari
St. Arnoldus Janssen, Imam
Arnoldus Janssen dilahirkan pada tanggal 5 Nopember 1837 di Goch, Jerman. Ia adalah seorang imam. Dalam pelayanannya sebagai guru ia bergerak di bidang kerasulan doa dan menjadi pemimpin kerasulan doa untuk Jerman dan Austria. Keprihatinannya adalah mendorong untuk mempersatukan kembali umat Kristen. Aspek lain dari semangat doanya ialah membangkitkan rencana penyebaran Injil pada bangsa-bangsa yang belum mengenal Sang Sabda, lux mudi (= terang dunia). Atas himbauan Mgr Raymund, didirikannya sebuah “rumah missi” pada tanggal 8 Desember 1875 di Steyl-Belanda. Inilah titik awal berdirinya Societas Verbi Divini (SVD) atau yang kita kenal sebagai Serikat Sabda Allah. Karya misioner yang terpadu antara Allah dan manusia itu berkembang di seluruh dunia: Amerika Latin (Argentina, Brasilia, Chili), Asia (Cina, Jepang, Philipina, Indonesia, Papua Nugini), Afrika (Zaire, Ghana, Togo, Madagaskar). Karyanya ditunjang dengan percetakan sebagai sumber dana keuangan dan kerasulan Kitab Suci dan katakese. Spiritualitas utama ialah devosi kepada Tritunggal Mahakudus dan penghormatan kepada Santa Perawan Maria Bunda Yesus dan Bunda umat manusia. Selain SVD, Santo Arnoldus mendirikan dua serikat biarawati yakni: SSpS dan SSpSAP dari Adorasi Abadi yang mendukung kegiatan-kegiatan rohani dan jasmani Serikat Sabda Allah dengan doa. Arnoldus Janssen wafat pada tanggal 15 Januari 1909. Pada tanggal 19 Oktober 1975, pada Hari Minggu Misi Sedunia, Paus Paulus VI menobatkan orang Steyl ini menjadi yang berbahagia atau Beato, dan pas Yohanes II memaklumkannya sebagai Santo pada tanggal 5 Oktober 2003.
Renungan:
“Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14). Inti Injil adalah Sang Sabda, pencipta semesta alam, menjadi manusia dan menganugerahkan hidup baru. Hidup baru diperoleh dengan sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus. Tugas Gereja adalah membagi hidup baru itu kepada semua orang yang berkemauan baik. Semua serikat misionaris diutus oleh serikat masing-masing untuk melanjutkan karya misionaris. Itulah panggilan dan utusan SVD yang utama dan masih tetap berlaku. Banyak orang dari pelbagai bangsa, suku dan bahasa menjadi anggota Gereja. Banyak orang dan suku bangsa yang masih tertutup bagi kedatangan dan kehadiran Sang Imanuel: Tuhan beserta kita. “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yohanes 1:11).
Sumber: “Ziarah Iman Pastor Jan Lali SVD, Renungan Harian Bersama Para Kudus Sepanjang Tahun”; diterbitkan oleh Penerbit Buku Sabda, Yayasan Sabda Bahagia; Jakarta 2005; tambahan dan edit oleh YESAYA: yesaya.indocell.net
|