|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Agustus 2016
"HATI SEORANG IBUNDA"
dikutip dari: Puisi Manusia-Allah, Vol. 2
[Yesus dan Maria di rumah Nazaret] "Nak, sekarang sesudah kita sendirian, katakanlah pada-Ku kebenarannya. Seluruh kebenarannya. Mengapakah mereka mengusir-Mu?" Maria berbicara seraya menempatkan kedua tangan-Nya di atas bahu Yesus dan menatap pada wajah tirus-Nya.
Yesus tersenyum lembut namun sedih: "Sebab Aku berusaha untuk mengembalikan manusia pada kejujuran, keadilan dan pada agama yang benar."
"Tapi, siapakah yang mendakwa-Mu? Orang-orang?"
"Tidak, Bunda, kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat, dengan pengecualian segelintir orang benar di antara mereka."
"Tapi, apakah yang telah Engkau lakukan hingga membangkitkan dakwaan-dakwaan mereka?"
"Aku mengatakan kebenaran kepada mereka. Tahukah Engkau bahwa itu adalah kesalahan terbesar bagi manusia?"
"Apakah yang dapat mereka katakan demi membenarkan dakwaan-dakwaan mereka?"
"Mereka berdusta. Seperti yang Engkau tahu dan banyak dusta lainnya."
"Katakanlah pada BundaMu. Tempatkanlah dukacita-Mu, segenap dukacita-Mu dalam pangkuan-Ku. Pangkuan seorang ibu biasa dan bersuka menampung duka, demi menghalaunya dari hati anaknya. Berikanlah dukacita-Mu pada-Ku, Yesus. Kemarilah, seperti yang biasa Engkau lakukan ketika masih kanak-kanak, dan luahkanlah segala kepahitan-Mu."
Yesus duduk di sebuah bangku kecil tanpa sandaran di depan kaki BundaNya dan menceritakan pada-Nya semua yang terjadi sepanjang bulan-bulan yang lewat di Yudea, tanpa rasa dengki dan tanpa menyembunyikan suatu pun.
Maria membelai rambut-Nya dengan senyum gagah berani pada birbir-Nya guna menahan airmata yang berkilau pada mata-Nya yang biru.
Yesus menyebutkan juga pentingnya mendekati para perempuan demi menebus mereka dan dukacita-Nya sebab tak dapat melakukannya karena kejahatan manusia.
Maria mengangguk tanda setuju dan lalu Ia memutuskan: "Nak, janganlah menolak apa yang Aku inginkan. Mulai dari sekarang Aku akan ikut bersama-Mu ketika Engkau pergi. Aku akan ikut kapan saja, dalam keadaan apa saja, kemana saja. Aku akan membela-Mu dari dakwaan-dakwaan palsu. Kehadiran-Ku yang sederhana akan merontokkan lumpur... Itulah apa yang dibutuhkan dekat dengan Yang Kudus, dalam melawan setan dan melawan dunia: hati seorang ibunda."
"Cintailah Bunda kita. Dan Ia akan memperolehkan berlimpah rahmat guna menolongmu menaklukkan pergulatanmu sehari-hari."
~ St Josemaria Escriva
|
|
PAUS FRANSISKUS MEREFLEKSIKAN PERAN PENTING SEORANG IBU
 "Hidup yang tanpa tantangan itu tidak ada," dan itu merupakan satu alasan mengapa seorang anak membutuhkan ibu, demikian dikatakan Bapa Suci.
Ibu berperan penting dengan membantu anak "melihat masalah-masalah hidup secara realistik," tanpa "terjerat di dalamnya". Seorang ibu membantu anak-anaknya untuk "menangani" masalah-masalah yang ada dengan gagah berani dan menjadikan anak-anak cukup kuat untuk mengatasi masalah-masalah tak terhindarkan yang mereka hadapi.
Tentu saja, dalam peran ini seorang ibu berjalan di garis yang tepat, dengan mencari "keseimbangan yang sehat" bagi si anak, artinya, menurut Bapa Suci, seorang ibu "tidak selalu menghantar anaknya sepanjang jalan yang aman-aman saja, sebab dengan demikian si anak tidak akan dapat berkembang, pula seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya hanya di jalan yang mengandung resiko, sebab itu membahayakan." Seorang ibu, "tahu bagaimana menyeimbangkannya."
Dalam kunjungan beliau pada tanggal 4 Mei 2013 ke Basilika St. Mary Major, Bapa Suci secara istimewa menekankan keibuan Maria. Dalam hidupnya sendiri, Maria "melihat banyak saat-saat sulit," namun demikian "sebagai seorang ibu yang baik ia dekat dengan kita, agar kita jangan pernah patah semangat dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup" dan "agar kita dapat merasakan dukungannya dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan-kesulitan dalam perjalanan hidup manusiawi dan Kristiani kita." Selanjutnya Bapa Suci meyakinkan bahwa "Maria membantu kita untuk bertumbuh sebagai seorang manusia dan dalam iman, untuk menjadi kuat dan tidak pernah jatuh ke dalam pencobaan menjadi manusia-manusia dan orang-orang Kristen gampangan, melainkan untuk hidup penuh tanggung-jawab, untuk berjuang bahkan dengan terlebih luhur."
"Setiap ibu adalah seperti Musa.
Dia tidak memasuki tanah terjanji.
Dia mempersiapkan suatu dunia yang tidak akan dilihatnya."
~ Paus Paulus VI
|
|
CHIARA CORBELLA PETRILLO - SANTA GIANNA BERETTA MOLLA KEDUA
"Mama akan pergi ke surga untuk merawat Maria dan David, kau di sini bersama Papa. Mama akan berdoa untukmu." ~ Chiara Petrillo, kepada puteranya Francesco.
 Chiara, adalah seorang ibu muda Italia berusia 28 tahun yang menolak pengobatan kanker guna menyelamatkan jiwanya, namun membahayakan bahkan dapat membunuh janin bayinya. Francesco, bayinya, lahir sehat; Chiara meninggal dunia.
"Dalam kisah pasangan suami istri Petrillo, orang dapat mengenali penghiburan ilahi dari surga," demikian dikatakan Simone Troisi dan Christiana Paccini, sahabat dekat keluarga Petrillo yang menuliskan buku biografi Chiara: "Chiara Corbella Petrillo: A Witness to Joy" yang diterbitkan oleh Sophia Institute Press. "Mereka mendapati bahwa dalam segala situasi, tidak ada sungguh alasan untuk menjadi sedih. Ini karena Chiara memperlihatkan bahwa jika kita memiliki Allah sebagai pembimbing kita, maka kemalangan itu tidak ada."
Chiara, 18 tahun, bertemu dengan Enrico Petrillo di Medjugorje pada tahun 2002 dan menikah enam tahun kemudian di Italia pada tanggal 21 September 2008. Dalam masa awal perkawinan mereka, pasangan muda Italia ini menghadapi banyak kesulitan hidup bersama. Anak sulung, Maria, telah didiagnosa cacat payah semenjak dalam kandungan. Chiara dan Enrico menolak untuk mengaborsinya kendati anjuran yang terus-menerus diajukan kepada mereka. Maria hidup selama 30 menit, dibaptis, dicintai dan ditangisi kepergiannya. Anak kedua, David, semenjak dalam kandungan didiagnosa tidak memiliki kaki. David meninggal tak lama sesudah dilahirkan; dia disayangi dan dicintai hingga akhir.
Ketika Chiara mengandung anak ketiga mereka, Francesco, kabar gembira kehamilan ini disampaikan bersamaan dengan berita sedih diagnosa kanker carcinoma mematikan dalam tubuh Chiara. Sepanjang masa kehamilan, Chiara menolak pengobatan apapun yang dapat menyelamatkan hidupnya, sebab itu dapat membahayakan hidup putera yang dikandungnya. Seturut teori moral Katolik, Chiara tidak harus menolak pengobatan untuk menyelamatkan nyawanya. Apabila pengobatan diberikan dengan tujuan untuk menyelamatkan hidup ibu, di mana dampak yang sama sekali tidak diharapkan adalah dapat membunuh janin bayi yang belum dilahirkan, maka secara moral pengobatan dapat diterima. Hal ini sama sekali berbeda dari membunuh si bayi demi menyelamatkan ibunya. Dalam kasus yang terakhir ini, orang dengan sengaja bertujuan membunuh si bayi demi menyelamatkan hidup si ibu. Teori moral Katolik berpegang bahwa adalah tidak pernah, sama sekali tidak pernah, secara moral menerima pembunuhan seorang yang tidak berdosa demi menyelamatkan hidup yang lain. Tidak peduli siapa pun yang hendak diselamatkan itu.
Sementara kanker mengganas dalam tubuhnya, Chiara menjadi sulit untuk berbicara dan kehilangan penglihatan pada satu matanya, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir. "Penderitaannya menjadi suatu tempat kudus sebab itulah tempat di mana dia berjumpa dengan Allah," kenang Troisi dan Paccini. Ada sesuatu yang berbeda dengan keluarga Petrillo dalam menghadapi masa-masa sulit - mereka bertaut pada rahmat Allah yang menjadikan keluarga mereka teristimewa damai tenang. Mereka berdamai dengan kenyataan bahwa Chiara tidak akan menjadi tua bersama Enrico ataupun menyaksikan Francesco tumbuh dewasa.
Pasangan muda Petrillo menunjukkan bagaimana "tujuan dari hidup kita adalah untuk mengasihi… menikah merupakan suatu hal yang mengagumkan, suatu petualangan yang membuka jalan ke Surga di rumah." Kisah Chiara dan Enrico yang mengagumkan adalah "sebuah kisah keselamatan di mana Allah memperlihatkan Diri-Nya sebagai Allah yang setia: mereka percaya pada-Nya dan mereka tidak dikecewakan."
Chiara bukanlah "seorang perempuan muda luar biasa yang berbeda dari kita." Sebaliknya, dia bergulat dengan banyak ketakutan dan kekhawatiran manusia. "Ia memiliki pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan kita, penolakan dan pergulatan yang sama, ketakutan yang sama," demikian tulis Troisi dan Paccini, yang menjadikannya berbeda ialah "kapasitasnya untuk menyerahkan segala sesuatunya dalam tangan Bapa, untuk menyambut rahmat yang dibutuhkan bagi langkah apapun yang harus ditempuhnya."
Chiara, tidak mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, melainkan mengandalkan rahmat dan penghiburan dari Allah…. Ia tidak pernah meragukan kesetiaan Allah pada janji-Nya akan kebahagiaan dari kisah hidupnya."
Pada hari-hari terakhir Chiara, Enrico memeluk rahmat Allah seperti yang dilakukan Chiara, seraya mengatakan, "Jika ia hendak pergi bersama Seorang yang mengasihinya lebih dari aku, mengapakah aku harus bersedih?"
"Kebenarannya adalah bahwa salib ini - jika engkau memeluknya bersama Kristus - berhenti menjadi sejelek tampaknya. Jika engkau mengandalkan-Nya, engkau akan mendapati bahwa api ini, salib ini, tidak membakar, dan bahwa damai dapat ditemukan dalam penderitaan dan sukacita dalam kematian," kata Enrico.
"Apabila aku menatap Chiara pada saat ia meregang nyawa, aku jelas menjadi sangat sedih. Tapi aku mengerahkan keberanian dan beberapa jam sebelumnya - sekitar pukul delapan pagi, Chiara wafat siang hari - aku bertanya padanya: 'Chiara, kekasihku, apakah salib ini sungguh manis, seperti yang dikatakan Tuhan?' Ia menatapku dan ia tersenyum, dan dengan suara lirih ia mengatakan, 'Ya, Enrico, sangat manis.'"
Chiara wafat pada tanggal 13 Juni 2012 di rumahnya dengan mengenakan gaun pengantinnya, dengan dikelilingi keluarga, sanak saudara dan sahabat. Kendati masa hidupnya di dunia sudah berakhir, Chiara akan terus menjadi seorang saksi sukacita.
"Rahasia kebahagiaan adalah melewatkan detik demi detik dengan mengucap syukur kepada Allah atas apa yang Ia kirimkan kepada kita setiap hari dalam kebajikan-Nya."
~ St Gianna Beretta Molla
|
|
LOWONGAN KERJA
|
Dibutuhkan Segera ...
Dibutuhkan segera untuk suatu pekerjaan tetap yang menantang di lingkungan kerja yang seringkali kacau-balau. Calon haruslah memiliki kemampuan berkomunikasi yang luwes, ketrampilan berorganisasi dan bersedia bekerja dengan jam kerja yang panjang, termasuk kerja di pagi-pagi buta, di akhir-akhir pekan, serta siap sedia selama 24 jam sehari.
Beberapa perjalanan menginap di luar kota mungkin perlu dilakukan, termasuk perjalanan ke tempat-tempat perkemahan yang terpencil serta primitif di akhir pekan di bawah guyuran hujan, juga ke pertandingan-pertandingan olah raga yang tak habis-habisnya di berbagai kota yang jauh. Biaya perjalanan ditanggung sendiri. Jasa layan antar ke tempat-tempat yang jauh mungkin juga dibutuhkan.
Keuntungan: walaupun tidak tersedia fasilitas asuransi kesehatan maupun asuransi perawatan gigi, tidak tersedia dana pensiun, tidak ada penggantian segala macam bentuk pengeluaran, tidak ada gaji lembur dan tidak ada pilihan ganti jabatan, pekerjaan ini menawarkan kesempatan tak terbatas bagi pengembangan pribadi serta peluk cium gratis seumur hidup jika anda menjalankan peran dengan baik.
Pekerjaan yang ditawarkan: IBU.
|
"Pengalaman ini menjadikanmu… dia yang adalah jangkar,
sementara si anak melangkah menempuh perjalanan hidupnya."
~ Paus Yohanes Paulus II
|
|
27 AGUSTUS: SANTA MONIKA - PELINDUNG PARA IBU RUMAH TANGA
"Kalau aku anakmu, ya Allah-ku, itu karena Engkau memberiku seorang ibu yang demikian!" ~ St Agustinus.
 Kita perlu mengingatkan diri kita sendiri bahwa Yesus selalu siap untuk menjawab doa-doa kita. Akan tetapi janganlah kita menjadi tidak sabar apabila doa-doa kita tidak dijawab sesegera seperti yang kita harapkan. Yesus hanya meminta kita untuk setia, untuk berupaya menunaikan kewajiban kita dalam mengamalkan dan mewartakan iman Katolik kita teristimewa kepada anak-anak kita. Kita perlu mengandalkan-Nya mengenai bagaimana dan bilamana Ia menjawab doa-doa kita.
Akan sangat mematahkan semangat apabila anak-anak kita tidak menerima semua ajaran Yesus dan Gereja-Nya, tapi kita harus berupaya mengatasi patah semangat kita dengan mengandalkan Ia dan Maria, BundaNya.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|