|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Februari 2013
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12
YESUS DI SUMUR YAKUB DEKAT SIKHAR
dikutip dari penglihatan Beata Anna Katharina Emmerick
Jalanan berkelok-kelok yang ditempuhnya ketika mendaki bukit menghalangi Dina melihat Tuhan hingga ia sudah berdiri di hadapan-Nya. Sungguh sesuatu yang mengagetkan melihat Ia duduk di sana kehausan dan sendirian di jalan menuju Sumur Yakub. Yesus mengenakan jubah putih panjang dari bahan wol yang baik, serupa alba, yang dikencangkan dengan sebuah ikat pinggang lebar. Pakaian-Nya serupa dengan yang dikenakan para nabi dan yang biasa dibawakan para murid untuk-Nya. Ia mengenakannya hanya pada kesempatan-kesempatan khusus apabila Ia menyamaikan khotbah, atau menggenapi suatu nubuat.
Dina yang sekonyong-konyong tiba di hadapan Yesus terperangah. Ia mengenakan kerudungnya dan ragu melangkah maju, sebab Tuhan duduk sepenuhnya menghalangi jalan. Aku melihat terlintas di benaknya pemikiran yang lazim: "Seorang laki-laki! Apakah gerangan yang Ia lakukan di sini? Apakah ini suatu godaan?" Ia melihat bahwa Yesus adalah seorang Yahudi, sementara itu dengan raut wajah ramah, Yesus menarik kaki-Nya, sebab jalanan itu sempit, seraya mengatakan: "Lewatlah, dan berilah Aku minum!"
Perkataan ini menyentuh hati si perempuan, sebab orang Yahudi dan orang Samaria biasa hanya saling bertukar pandang tidak suka satu sama lain, dan jadi ia yang masih tetap berada di tempatnya, berkata: "Mengapakah Engkau di sini seorang diri pada jam seperti ini? Apabila ada orang yang secara kebetulan melihatku di sini bersama-Mu, ia akan gempar." Yesus menjawab bahwa teman-teman-Nya sedang pergi ke kota untuk membeli makanan. Dina mengatakan: "Benar! Apakah ketiga laki-laki yang aku jumpai tadi? Tetapi tak akan banyak yang mereka dapati pada jam sekarang ini. Apa yang dipersiapkan orang-orang Sikhem hari ini mereka butuhkan bagi diri mereka sendiri." Ia berbicara seolah entah ada suatu perayaan atau puasa pada hari itu di Sikhar, dan ia menyebutkan nama suatu tempat lain ke mana seharusnya mereka pergi mencari makanan.
Akan tetapi sekali lagi Yesus mengatakan: "Lewatlah, dan berilah Aku minum!" Lalu Dina melewati-Nya. Yesus bangkit dan mengikutinya ke sumur, yang dibukanya. Sementara pergi ke sana, ia mengatakan: "Bagaimana dapat Engkau, seorang Yahudi, meminta minum dari seorang Samaria?" Dan Yesus menjawab; "Jika engkau sungguh tahu karunia Allah dan siapa Dia yang mengatakan kepadamu: 'Berilah Aku minum', engkau mungkin sudah meminta kepada-Nya dan Ia akan memberikan kepadamu air hidup."
Kemudian Dina membuka penutup sumur dan menurunkan timba seraya mengatakan kepada Yesus yang duduk di pinggiran sumur: "Tuan, Engkau tak punya apa-apa untuk menimba, dan sumur ini dalam. Jadi, darimanakah Engkau memiliki air hidup? Adakah Engkau lebih besar dari bapa kami Yakub yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang ia sendiri dan anak-anaknya dan segala ternaknya minum daripadanya?" Sementara ia mengucapkan kata-kata ini, aku mendapat penglihatan mengenai Yakub menggali sumur dan airnya membual keluar. Perempuan ini memahami perkataan Yesus sehubungan dengan air dari sumur ini dan, sementara berbicara, ia menempatkan timba pada silinder, yang berputar berat, menurunkannya dan menariknya kembali. Ia menyingsingkan lengan-lengan bajunya dengan gelang-gelang hingga menggembung tinggi di atas siku, dan dengan cara ini, dengan lengan-lengan telanjang, ia mengisi botol kulitnya dari timba. Lalu, ia mengambil sebuah bejana kecil terbuat dari kulit kayu dan berbentuk seperti sebuah tanduk, mengisinya dengan air dan memberikannya kepada Yesus, yang duduk di pinggiran sumur; Ia meminumnya dan mengatakan kepadanya: "Barangisiapa minum air ini, akan haus lagi, akan tetapi ia yang minum air yang Aku berikan, tidak akan haus untuk selamanya. Ya, air yang Aku berikan kepadanya akan menjadi dalam dirinya sebuah mata air yang memancar hingga ke kehiduan kekal."
Dina menjawab antusias: "Tuan, berilah aku air hidup itu supaya aku tidak haus lagi dan tidak harus datang bersusah-payah untuk menimba." Ia tersentuh dengan perkataan-Nya "air hidup" dan mempunyai firasat, meski tanpa sepenuhnya sadar mengenainya, bahwa yang dimaksud Yesus dengan "air hidup" adalah kegenapan Janji. Dan jadi di bawah ilham nubuat ini ia memanjatkan doa dari dalam lubuk hatinya untuk air hidup itu. Aku selalu merasa dan paham bahwa orang-orang dengan siapa Penebus berhubungan janganlah dipandang sebagai seorang individu belaka. Mereka secara sempurna mewakili keseluruhan suatu ras bangsa dan mereka melakukannya, sebab mereka termasuk dalam kegenapan waktu. Dan begitu pula dalam diri Dina si Samaria, berdiri di sana di hadapan Penebus keseluruhan suku bangsa Samaria, yang telah begitu lama terpisah dari iman Israel yang benar, dari sumber air hidup.
Yesus di Sumur Yakub haus akan jiwa-jiwa terpilih dari Samaria, untuk menyegarkan mereka kembali dengan air hidup dari mana mereka sendiri telah memisahkan diri. Bahwa bagi bagian dari bangsa pemberontak ini masih terbuka keselamatan, bahwa di sini haus akan air hidup ini, dalam suatu cara tertentu, mereka mengulurkan tangan terbuka untuk menerimanya. Samaria berbicara melalui Dina: "Berilah aku, ya Tuhan, Berkat dari Janji itu! Tolonglah aku mendapatkan air hidup dari mana aku dapat beroleh terlebih banyak penghiburan dibandingkan dari Sumur Yakub yang fana ini, satu-satunya dengan mana kami masih berkomunikasi dengan bangsa Yahudi."
Ketika Dina berkata demikian, Yesus berkata kepadanya: "Pulanglah, panggil suamimu, dan kembalilah ke sini!" dan aku mendengar-Nya menyampaikan perintah ini dua kali, sebab bukan untuk mengajar dia seorang Ia datang. Dalam perintah ini sang Penebus mengatakan kepada seluruh bangsa: "Samaria, panggilah ke sini dia yang empumu, dia yang dengan suatu perjanjian kudus secara sah terikat kepadamu." Dina menjawab kepada Tuhan: "Aku tidak bersuami!"
Samaria mengaku kepada sang Mempelai jiwa bahwa ia tidak punya ikatan, bahwa ia bukan milik siapa-siapa. Yesus menjawab: "Yang engkau katakan benar, sebab engkau telah mempunyai lima orang suami, dan dia dengan siapa engkau sekarang tinggal bukanlah suamimu. Engkau telah berkata benar." Dalam kata-kata ini Messias mengatakan kepada bangsanya: "Samaria, engkau berkata benar. Engkau telah dikawinkan dengan berhala-berhala dari lima bangsa berbeda, dan persatuanmu sekarang dengan Allah bukanlah ikatan perkawinan." Di sini Dina mengarahkan matanya ke bawah dan menundukkan kepalanya: "Tuan, aku tahu bahwa Engkau adalah seorang Nabi," dan ia menutup wajahnya dengan kerudung. Bangsa Samaria mengenali misi ilahi Tuhan, dan mengakui kesalahannya.
Kisah selengkapnya silakan baca:
|
|
dari Meditasi
mistikus, stigmatis, visionaris
(1774 - 1824)
|
SEORANG PEREMPUAN SAMARIA DATANG UNTUK MENIMBA AIR
 Seorang perempuan datang. Ia adalah simbol Gereja yang belum dijadikan benar, tetapi akan segera dijadikan benar. Kebenaran muncul dari percakapan. Ia datang dalam ketidaktahuan, ia menemukan Kristus, dan ia bercakap-cakap dengan-Nya. Marilah kita melihat tentangnya, marilah kita melihat mengapa seorang perempuan Samaria datang untuk menimba air. Bangsa Samaria bukan bagian dari bangsa Yahudi; mereka adalah orang-orang asing. Kenyataan bahwa perempuan itu datang dari suatu bangsa asing merupakan bagian dari makna simbolis, sebab perempuan itu adalah simbol Gereja. Gereja akan datang dari kaum kafir, dari suatu bangsa bukan Yahudi.
Jadi, patutlah kita mengenali diri kita sendiri dalam perkataannya dan dalam pribadinya, dan bersama perempuan itu menyampaikan syukur kita sendiri kepada Allah. Perempuan itu adalah simbol, bukan realita; ia mempratandakan realita, dan realita akan segera datang. Ia menemukan iman dalam Kristus, yang mempergunakannya sebagai suatu simbol untuk mengajarkan kepada kita apa yang akan datang. Perempuan itu lalu datang untuk menimba air. Ia memang datang hanya untuk menimba air, suatu hal yang lazim bagi laki-laki ataupun perempuan.
Yesus berkata kepadanya: Berilah Aku minum. Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Sebab itu, perempuan Samaria bertanya kepada-Nya: Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria? Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.
Bangsa Samaria adalah orang-orang asing; bangsa Yahudi tidak pernah mau mempergunakan barang-barang bangsa asing. Perempuan itu membawa sebuah timba untuk menimba air. Ia terheran-heran bahwa seorang Yahudi meminta minum kepadanya, suatu hal yang tak akan dilakukan orang-orang Yahudi. Tetapi Ia yang meminta minum haus akan imannya.
Sekarang dengarlah dan simaklah siapakah gerangan yang meminta minum. Yesus menjawab kepadanya dengan mengatakan: Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.
Yesus meminta minum, dan Ia menjanjikan minum. Ia membutuhkan, sebagai seorang yang berharap menerima, namun begitu Ia kaya, sebagai Dia yang hendak memuaskan dahaga yang lain. Ia berkata: Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah. Karunia Allah adalah Roh Kudus. Akan tetapi Ia masih mempergunakan bahasa yang tersamar sementara Ia berbicara kepada si perempuan dan perlahan-lahan masuk ke dalam hatinya. Atau adakah Ia telah mengajarinya? Adakah yang terlebih lembut dan murah hati dari semangat yang Ia berikan? Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.
Apakah air ini yang hendak Ia berikan jika bukan air yang dibicarakan dalam Kitab Suci: Sebab pada-Mu ada sumber hayat? Bagaimanakah dapat merasa haus mereka yang akan meneguk dalam-dalam dari kelimpahan di rumah-Mu?
Ia menjanjikan Roh Kudus yang akan memuaskan secara berlimpah. Perempuan itu belum mengerti. Dalam ketidakmampuan menangkap makna perkataan-Nya, apakah jawabnya? Perempuan itu berkata kepada-Nya: Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air. Kebutuhannya memaksanya melakukan pekerjaan ini, kelemahannya menyusut darinya. Jika saja ia dapat mendengar kata-kata ini: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Yesus mengatakan ini kepadanya, agar susah-payah kerjanya berakhir; tetapi ia belum dapat memahaminya.
PERCAKAPAN YESUS DENGAN PEREMPUAN SAMARIA
Homili : Paus Benediktus XVI, Angelus, St Peter's Square, 27 Maret 2011
 Saudara dan Saudari terkasih,
Minggu Prapaskah Ketiga ini ditandai dengan percakapan terkenal Yesus dengan perempuan Samaria, sebagaimana dikisahkan oleh Penginjil Yohanes. Perempuan itu pergi setiap hari untuk menimba air dari sebuah sumur kuno yang berasal dari Bapa Bangsa Yakub dan pada hari itu ia mendapati Yesus duduk di pinggiran sumur, "sangat letih oleh perjalanan" (Yohanes 4:6). St Agustinus mengomentari: "Bukannya sia-sia Yesus letih…. Kekuatan Kristus menciptakanmu, kelemahan Kristus menciptakanmu kembali…. Dengan kekuatan-Nya Ia menciptakan kita, dengan kelemahan-Nya Ia datang untuk mencari kita" (In Ioh. Ev., 15, 2).
Keletihan Yesus, suatu tanda dari kemanusiaan-Nya yang sungguh, dapat dilihat sebagai suatu pendahuluan dari Sengsara dengan mana Ia membawa kepada kegenapan karya penebusan kita. Dalam perjumpaan dengan perempuan Samaria di sumur, topik "dahaga" Kristus menonjol secara istimewa. Dahaga itu memuncak dalam seruan-Nya di Salib "Aku haus!" (Yohanes 19:28). Dahaga ini, seperti keletihan-Nya, berdasarkan jasmani. Namun demikian, seperti dikatakan lebih lanjut oleh St Agustinus, Ia "haus akan iman perempuan itu" (In Ioh. Ev. 15,11), sebagaimana Ia haus akan iman kita semua.
Allah Bapa mengutus-Nya guna memuaskan dahaga kita akan hidup kekal, melimpahi kita dengan kasih-Nya, akan tetapi untuk memberikan kepada kita anugerah ini Yesus meminta iman kita. Kemahakuasaan Kasih senantiasa menghormati kebebasan manusia; ia mengetuk pintu hati manusia dan menantikan jawaban dengan sabar.
Dalam perjumpaan dengan perempuan Samaria, simbol air tampak menyolok, menyinggung secara jelas Sakramen Baptis, sumber hidup baru iman dalam Kasih Karunia Allah. Injil ini, sesungguhnya - seperti saya sebutkan dalam Katekese saya pada hari Rabu Abu - merupakan bagian dari suatu perjalanan masa lalu dari persiapan katekumen untuk Inisiasi Kristen, yang dilangsungkan pada Malam Paskah agung. "Barangsiapa minum air yang akan Ku-berikan kepadanya," sabda Yesus, "ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Ku-berikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal " (Yohanes 4:14).
Air ini mewakili Roh Kudus, "karunia" mahaunggul yang untuknya Yesus datang dari pihak Allah Bapa. Barangsiapa dilahirkan kembali oleh air dan oleh Roh Kudus, yakni, dalam Baptis, masuk ke dalam suatu hubungan riil dengan Allah, suatu hubungan bapa dan anak, dan dapat menyembah-Nya "dalam roh dan kebenaran" (Yohanes 4:23, 24), seperti yang disingkapkan Yesus kepada perempuan Samaria. Puji syukur atas perjumpaan dengan Yesus Kristus dan atas karunia Roh Kudus, iman manusia mencapai kepenuhannya, sebagai tanggapan kepada kepenuhan wahyu Allah.
Masing-masing kita dapat mengidentifikasikan diri sebagai perempuan Samaria: Yesus tengah menantikan kita, teristimewa pada Masa Prapaskah ini, untuk berbicara kepada hati kita, kepada hati saya. Marilah kita berhenti sejenak dalam keheningan, dalam kamar kita atau dalam gereja atau di suatu tempat terpencil. Marilah kita mendengarkan suara-Nya yang mengatakan kepada kita "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah…." Kiranya Perawan Maria membantu kita agar jangan sampai kehilangan perjumpaan ini, di mana bergantung kebahagiaan sejati kita.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: yesaya.indocell.net”
|