|
Minggu Biasa IX Thn A/I
“Hari ini aku memperhadapkan kepadamu BERKAT & KUTUK!”
oleh: P. Gregorius Kaha, SVD
Kisah India :
Orang India mempunyai cerita tentang seekor tikus yang memiliki ketakutan luar biasa apabila melihat kucing. Karenanya, tikus ini pergi kepada seorang tukang sihir dan meminta tukang sihir mengubahnya menjadi seekor kucing. Setelah tikus itu menjadi kucing, ia begitu ketakutan apabila bertemu dengan anjing. Ia pun kembali kepada si tukang sihir dan minta disihir menjadi macan. Tetapi ketika ia bertemu dengan seorang pemburu, timbul rasa takut yang luar biasa. Ia gelisah, cemas, dan gemetaran, lalu ia pergi lagi kepada tukang sihir minta supaya disihir menjadi seorang pemburu. Apa yang terjadi? Si tukang sihir menolak keinginannya dengan marah: “Cukup! Aku akan kembalikan kamu menjadi tikus lagi, sebab sekalipun badanmu macan, nyalimu tetap seperti tikus.” Pondasi utama sebuah pembaharuan adalah sikap mental.
Berkat atau Kutuk: Anda yang Menentukan
Berkat dan Kutuk adalah dua hal yang sangat berbeda, tujuannya pun disampaikan secara berbeda. Berkat umumnya disampaikan agar orang yang diberi berkat mendapat hidup yang lebih baik, artinya berkat selalu positif, selalu baik; sedangkan kutuk diberikan dengan tujuan mencelakakan atau membuat hidup orang yang dikutuk menjadi susah atau menderita; maka kutuk selalu negatif.
Dari sisi ucapan pun ada bedanya. Ucapan berkat disampaikan kepada orang-orang yang melakukan perbuatan baik atau kepada orang-orang yang berprestasi demi kebaikan banyak orang. Sementara ucapan kutuk umumnya diberikan kepada orang-orang yang melakukan kejahatan atau mendatangkan kesusahan bagi banyak orang. Maka aneh bin ajaib kalau ucapan berkat diberikan kepada orang-orang yang melakukan kejahatan atau ucapan kutuk diberikan kepada orang-orang yang melakukan kebaikan. Bagaimana bisa ucapan berkat diberikan kepada orang yang jelas-jelas membunuh atau membinasakan ratusan jiwa dengan mengebom, misalnya. Kalau itu terjadi, pasti orang akan rasa aneh atau bingung.
Namun bagaimana kita dapat mengerti beberapa kisah dalam Kitab Suci, yang justru menceritakan bagaimana orang yang dianggap berbuat jahat, orang yang seharusnya dihukum, seharusnya dikutuk, ternyata di mata Tuhan orang-orang seperti ini harus menerima berkat pengampunan? Keputusan Allah ini tentu tidak berarti Allah membenarkan tindakan mereka yang jahat, tetapi semata-mata karena belas-kasih dan panggilan / undangan-Nya untuk bertobat. Maka tidak heran ketika orang mengalami situasi kutuk, orang bukan hanya ketakutan, tetapi juga mengharapkan `berkat pengampunan' dari Allah. Dengan rahmat itulah lahir kehidupan baru dalam diri orang. Muncul sikap takut akan Tuhan, dan sikap ini membawa orang tetap memelihara, menjaga atau merawat serta menyalurkan berkat bagi orang lain.
Dalam Kitab Suci, secara khusus Perjanjian Lama, sangat sering kita jumpai ungkapan tentang ketakutan manusia. Kalau kita amati dan simak baik-baik, Perjanjian Lama selalu menggunakan beberapa kata untuk mengungkapkan atau melukiskan rasa takut. Kata yang paling lazim adalah “yi'rah dan pakhad”. Secara teologis kata ini merujuk kepada 3 (tiga) makna yakni pertama, kepatuhan kepada Allah; kedua, takut sebagai akibat wajar dari perbuatan dosa; dan ketiga, hormat / segan kepada Allah. Manusia harus memilih ketakutan macam apa yang ada dalam hidupnya, karena tidak semua ketakutan bisa membawa kita mendekatkan diri kepada Allah.
Pesan : Pondasi Harus Kokoh
Dalam pengalaman hidup sehari-hari, kita selalu dihadapkan dengan berkat dan kutuk. Ada yang begitu terbelenggu dengan ucapan kutuk sehingga merasa hidupnya sama sekali tak akan berubah lagi. Padahal iman akan Yesus menegaskan bahwa kuasa apa pun tidak akan merampas berkat Tuhan, asal kita percaya. Maka mari kita jalankan hidup dengan keyakinan bahwa kita senantiasa diberkati Tuhan; hidup kita berharga karena bersumber dari Dia. Kita juga mau belajar sehingga oleh tutur kata kita, oleh perbuatan dan tindakan-tindakan kita, berkat Allah juga tersalur bagi dunia.
|