|
"Hal-hal Aneh Terjadi Pada Malam Natal"
oleh: P. Segundo Llorente, S.J.
Gereja St Yakobus, Surabaya
Seorang imam menceritakan apa yang terjadi padanya suatu ketika di paroki pertamanya:
Sesudah Misa tengah malam pada Hari Raya Natal, ia secara pribadi mengunci gereja. Dengan kunci-kunci dalam sakunya ia pergi ke kamarnya dan tidur nyenyak. Pukul 7.30 keesokan paginya ia bangun dan pergi kembali ke gereja dengan maksud meluangkan satu jam doa seorang diri. Ia membuka pintu samping yang menghantar ke sakristi, menyalakan lampu dan lalu menyalakan lampu-lampu gereja. Sementara ia membuka pintu sakristi dan berjalan masuk ke dalam gereja, dia beku terpaku. Orang-orang aneh berbalut pakaian yang paling miskin memenuhi sebagian besar bangku gereja dan semuanya dalam keheningan total. Tak seorang pun yang bergerak dan tak seorang pun yang ambil peduli untuk menoleh kepadanya. Sekelompok kecil orang berdiri dekat Kandang Natal sedang berkontemplasi dalam keheningan total.
Imam cepat tersadar kembali dan dengan suara lantang menanyai mereka bagaimana mereka dapat masuk. Tak seorang pun menjawab. Ia berjalan mendekati mereka dan bertanya lagi "Siapakah yang mengijinkan kalian masuk?" Seorang perempuan menjawab sama sekali acuh tak acuh, "Hal-hal aneh terjadi pada malam Natal," katanya, dan lalu tenggelam kembali dalam keheningan total. Sang imam pergi memeriksa pintu utama dan mendapati pintu terkuci tepat sama seperti ketika dia meninggalkannya. Sekarang ia bertekad untuk meminta keterangan dan memalingkan wajahnya ke bangku-bangku gereja; tapi bangku-bangku itu kosong. Orang-orangnya telah lenyap.
Sang imam menyimpan misteri ini sendiri dalam hati untuk beberapa waktu lamanya. Sebab tak lagi dapat menahannya lebih lama, ia menceritakannya kepada saya tepat seperti yang saya ceritakan di atas. Dapatkah saya membantu dengan penjelasan yang masuk akal? Biarlah dengan segera saya katakan bahwa sang imam dalam cerita di atas adalah seorang yang sehat rohani dan pula mengenyam pendidikan akademik yang baik seperti kebanyakan imam yang saya kenal, jika tidak lebih baik.
Penjelasan saya dulu dan sekarang masih tetap, yakni sebagai berikut:
Orang-orang itu adalah orang-orang mati yang sedang menjalani api penyucian mereka, atau bagian dari itu, dalam Gereja. Adalah aman beranggapan bahwa kita menyilih dosa-dosa kita di mana kita melakukannya. Orang-orang itu tenggelam dalam keheningan total. Mengapa? Renungkanlah ketidakhormatan yang dilakukan di hadapan Sakramen Mahakudus; betapa banyak orang bersikap dalam gereja: ngobrol, cekikikan, dan mata yang melihat kian kemari. Sesudah Misa sebagian orang berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil sekeliling bangku-bangku gereja dan mengubah gereja menjadi pasar tanpa mengacuhkan Kehadiran Nyata Kristus dalam tabernakel. Mengapakah mereka lenyap? Tidak, mereka hanya menjadi tidak kasat mata; tapi mereka tetap terikat pada bangku-bangku mereka tanpa dapat melontarkan sepatah kata pun demi menyilih obrolan mereka yang tidak hormat semasa hidup mereka.
Sakramen Mahakudus bukan bahan tertawaan. Ada harga yang harus dibayar untuk segala yang kita lakukan atau katakan. Pada akhirnya, adalah Allah yang tertawa terakhir - katakanlah demikian. Orang-orang itu harus memberikan adorasi dan hormat terhadap Sakramen Mahakudus seperti yang sepantasnya bagi Kristus. Untuk berapa lama? Hanya Allah yang dapat menjawab itu. Mengapakah sang imam melihat mereka? Supaya ia dapat berdoa bagi mereka dan bagi segenap jiwa-jiwa malang lainnya yang tertawan di gereja-gereja lain. Mengapakah para imam yang lain tidak melihat orang-orang ini? Yah, mungkin mereka sudah tahu secara teori bahwa jiwa-jiwa dapat tertawan di gereja-gereja, pula di tempat-tempat lain, jadi mereka tidak perlu mukjizat.
Mengapakah mereka mengenakan pakaian yang begitu buruk? Demi menyilih kesia-siaan mereka semasa hidup. Orang kerap menggunakan pakaian yang begitu minim untuk menutupi ketelanjangan mereka sebagai simbol status demi mengesankan orang-orang lain. Tapi Allah tidak terkesan dengan, katakanlah, mantol-mantol bulu. Juga orang-orang berjalan masuk ke dalam gereja dengan nyaris tanpa busana. Pada musim panas bukannya tidak lazim orang - kebanyakan kaum perempuan - pergi menyambut Komuni Kudus dengan busana yang paling tidak pantas. Pastor mungkin atau mungkin juga tidak tahan dengan itu; tapi akan ada hari di mana Allah mengadakan pengadilan untuk ini. Kain compang-camping dapat menjadi suatu hukuman yang pantas bagi perbuatan-perbuatan yang keterlaluan ini.
sumber : “Strange Things Happen On The Night Of Christmas”; www.christianorder.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|