|
Dari Luka Batin Menuju Keutuhan Pribadi:
Berjuang Bersama St Theresia dari Kanak-kanak Yesus
oleh: P. Stef Buyung Florianus, O.Carm
Luka batin adalah pengalaman manusiawi setiap insan. Ia sudah menjadi bagian dari dunia kehidupan manusia. Dan sungguh sangat menarik, luka batin ini justru terjadi di antara orang-orang yang dekat satu sama lain dan bergaul setiap hari, bersumber dari orang-orang yang saling mencintai, timbul dari mereka yang saling berbagi dalam hidup bersama. Dengan demikian, kalau kita mau jujur bahwasanya orang-orang yang dekat, bergaul dan mencintai kita adalah juga orang-orang yang melukai hati kita.
Melihat kenyataan yang demikian, kita diundang bukan hanya untuk mengenal derita dan luka batin kita, tetapi terlebih-lebih untuk memiliki kemerdekaan lahir dan batin untuk menyembuhkan luka-luka batin yang mungkin menggerogoti diri kita. Apakah hal ini mungkin dilakukan? St Theresia dari Kanak-Kanak Yesus adalah salah satu tokoh yang bukan hanya mengenali luka-luka batinnya, tetapi terlebih lagi berhasil menyembuhkannya dalam kekuatan iman dan cinta.
Menelusuri Luka-Luka Batin Theresia
Theresia di dalam hidupnya banyak mengalami luka-luka batin. Kenyataan ini juga diakui dan disadari oleh Theresia sendiri, yang secara jujur diungkapkan dalam kisah hidupnya. Dan semuanya ini juga terjadi karena relasinya dengan orang-orang yang dekat dengan dia dalam kehidupan sehari-hari, yang juga mencintainya, yang saling berbagi dalam suka dan duka. Hal ini terjadi pada saat ia berusia 4 sampai 14 tahun, suatu periode penuh luka batin dalam hidupnya. Luka batin Theresia ini diawali dengan pengalaman akan kematian ibunya. Sehubungan dengan kematian ibunya ini, Theresia mengatakan:
“Harus kukatakan kepada anda, Muder, bahwa watakku yang riang gembira sama sekali berubah sejak mama meninggal. Saya yang begitu hidup dan gembira menjadi lembut dan pemalu, perasa berlebihan. Sebuah tatapan saja sudah cukup untuk mengalirkan air mataku. Untuk aman sebaiknya janganlah seorang pun repot dengan diriku. Kebersamaan dengan orang-orang lain tak dapat kutahan....”
Selanjutnya ia mengalami kesulitan semasa ia berada di sekolah susteran. Ia mendapat perlakuan kasar dari teman-temannya karena mereka iri hati atas kesuksesan Theresia. Luka batin berikutnya muncul akibat perpisahan dengan kakaknya, Pauline, yang masuk biara Karmel. Kakaknya ini adalah tempat curahan hatinya dan menjadi ibunya yang kedua setelah ibu kandungnya meninggal dunia karena kanker payudara. Ia mengatakan:
“Saya melihat hidup ini tak lain daripada penderitaan dan perpisahan yang berkesinambungan. Saya menangis pedih karena saat itu belumlah saya mengerti apa-apa tentang sukacita suatu korban.... Seandainya saya dipersiapkan secara perlahan-lahan, maka kepergian Pauline tak akan sangat menyedihkan saya. Namun kini, dengan tiba-tiba, hal itu membuat hatiku seakan disayat sembilu.”
Derita batin Theresia menjadi sangat berat, bahkan sampai menjadi psikosomatis. Puncak dari luka batinnya ini: ia menjadi seorang yang sangat hipersensitif. Hal ini nyata jelas dalam pengalaman hidup sehari-hari bersama saudari-saudarinya. Theresia mengakui:
“Perasaan saya yang berlebih-lebihan sungguh menjengkelkan. Bila tanpa sengaja saya menyusahkan orang yang saya kasihi, maka mulailah saya menangis seperti Magdalena, bukannya menguasai diri untuk tidak menangis. Sebab dengan demikian saya malahan memperbesar kesalahan saya. Dan bila saya telah mengatasi masalah itu, saya menangis lagi karena saya telah menangis….”
Proses Penyembuhan
Theresia sungguh mengalami luka batin yang serius. Namun dalam perjalanan selanjutnya Theresia mulai menyadari cacat cela dan kelemahannya. Ia mau disembuhkan.
Awalnya: Merasa Dicintai
Harus kita akui bahwa Theresia sampai memiliki keterbukaan kepada Allah dan sesama diawali dengan pengalamannya akan cinta manusiawi. Hal ini pertama-tama dialami oleh Theresia dari orang-orang yang dekat dengannya dan bergaul bersama dia dalam hidup sehari-hari. Sewaktu ia harus mengalami penderitaan batin akibat kematian ibunya, Theresia mengalami cinta dari sang ayah dan saudari-saudarinya:
“Namun saya senantiasa dirangkul kemesraan yang mendalam. Hati Papa yang penuh kasih sayang yang telah sedemikian mencintai saya masih dijiwai lagi oleh hati seorang ibu! …. Bukankah anda, Muder, dan Marie bagiku adalah mama-mama yang penuh kasih tanpa pamrih?….”
Tatkala ia mengalami kesulitan dengan teman-teman sekolahnya, Theresia kembali mengalami kasih dari keluarganya:
“Syukurlah setiap malam saya kembali ke rumah. Dengan demikian hatiku kembali mekar. Saya lalu melompat ke atas pangkuan rajaku, menceritakan kepadanya semua nilai yang kuperoleh, dan kecupannya menghilangkan segala deritaku.”
Akibat kepergian Pauline, ibunya yang kedua, ia mengalami penyakit psikosomatis. Namun ia tetap mengalami kasih mesra:
“Marie senantiasa berada di samping tempat tidurku, merawat, menghibur penuh keibuan. Tak sedetik pun menunjukkan kebosanan meski saya sangat membebani dia, sebab saya tidak mau ditinggalkan olehnya…. Om dan tante juga menunjukkan kasih mereka kepadaku. Tante yang manis setiap hari mengunjungiku dan membawa serta segala macam makanan yang sedap.... Leoni juga sangat manis kepadaku. Dia berusaha sedapat mungkin menuruti seleraku ... dan Celineku terkasih, apa ada yang tidak dibuat untuk Theresianya? Setiap hari Minggu dia berjam-jam duduk di dalam kamar di samping gadis malang yang tampaknya kesurupan daripada pergi bermain. Dia sungguh sangat mengasihiku sehingga tidak meninggalkan saya sendirian. Hiburan terbesar buatku semasa sakit adalah mendapat surat dari Pauline! Saya membacanya dan membacanya lagi sampai dapat menghafalnya....”
Selanjutnya: Berserah Diri kepada Tuhan
Theresia menderita luka-luka batin. Namun ia tidak berjuang seorang diri. Sanak keluarga dan orang-orang yang dekat dengannya dalam kehidupan sehari-hari memperhatikan dan memberikan kasih kepadanya. Inilah yang membuat Theresia menjadi kuat. Dan dari kenyataan ini pula, ia mulai membuka diri untuk menyerahkan diri kepada Tuhan, yang tentu saja akan mencurahkan kehangatan kasih, sebagaimana dialaminya dalam keluarga. Hal ini disadari Theresia ketika ia mengalami puncak dari luka batin, yaitu: menjadi hipersensitif.
Proses penyembuhannya ini begitu sederhana, lewat pengalaman biasa, sebagaimana dituturkan oleh Theresia:
“Kami kembali dari Misa malam di mana saya berbahagia karena telah menerima Allah yang kuat dan kuasa. Ketika kami tiba di Buissonets, kerinduanku meluap-luap untuk mengambil hadiah dari dalam sepatu yang diletakkan di samping cerobong asap: suatu kebiasaan lama yang telah menggembirakan masa kecil kita, sehingga Celine ingin melanjutkan kebiasaan itu dengan memperlakukan saya sebagai anak kecil sebab sayalah yang bungsu. Papa juga ikut bergembira melihat betapa senang hati saya setiap tahun bila mengeluarkan hadiah-hadiah dari dalam sepatu ajaib sambil berseru kegirangan. Dan kegembiraan rajaku memperganda sukacitaku. Namun Yesus menghendaki agar cacat-cacat masa kecilku harus kutanggalkan, makanya Dia pun mengambil segala kesukaan itu. Dia menganggap baik bahwa Papa yang lelah sesudah Misa malam, merasa bosan melihat sepatuku di samping cerobong asap. Saat itu Papa mengucapkan kata-kata ini yang menikam hatiku, 'Sudahlah. Untung ini tahun yang terakhir! ...'
Saya baru saja menaiki tangga untuk menanggalkan topi. Celine yang mengetahui bahwa saya sangat perasa melihat mataku berlinang dan dia sendiri malah ingin menangis, sebab dia sungguh mengasihi saya dan mengerti kesedihan hatiku. 'O, Theresia, katanya, 'jangan turun ke bawah sekarang untuk melihat sepatumu, nanti engkau terlampau sedih.' Tapi Theresia bukan lagi Theresia yang dulu. Yesus telah mengubah dia. Saya menahan air mata, bergegas menuruni tangga sambil mencoba menekan debaran jantungku, mengambil sepatuku lalu meletakkannya di depan Papa dan dengan wajah yang berseri-seri bagai seorang ratu saya mengeluarkan hadiah dengan penuh sukacita. Papa tertawa, dia kembali senang dan Celine mengira bahwa dia bermimpi.... Syukurlah bahwa peristiwa ini sungguh suatu kegembiraan! Theresia kecil telah menemukan kembali kekuatan jiwa yang sudah hilang empat setengah tahun dan dia akan memilikinya untuk selamanya….”
Akhirnya: Hidup Bagi Orang Lain
Dengan peristiwa penyembuhan tersebut, Theresia memasuki suatu periode hidup yang baru yang dipenuhi dengan rahmat surgawi. Ia mulai meninggalkan dirinya dan mengarahkan perhatiannya kepada orang lain. Berawal dari pengalaman kasih dari orang lain, lalu menyerahkan diri pada kekuatan kasih Allah, akhirnya ia sendiri memberikan diri bagi orang lain.
“Di suatu hari Minggu kupandang gambar Yesus di salib. Hatiku tersentuh oleh darah yang menetes dari tangan-Nya. Saya merasa sungguh sayang, sebab darah itu menetes ke tanah tanpa ada yang menampungnya. Saya pun memutuskan untuk dalam roh tinggal di bawah kaki salib supaya dapat menampung embun ilahi yang tercurah dari salib itu dan saya mengerti bahwa setelah itu saya harus menuangkannya ke atas jiwa-jiwa….”
Dalam perjalanan selanjutnya gema untuk hidup bagi orang lain senantiasa mengiang dalam hidupnya. Bahkan ia terus membawanya sampai di Karmel. Pada awal hidupnya di Karmel ia mengatakan, “Saya datang untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan berdoa bagi para imam.” Akhirnya ia sendiri merumuskan pilihan hidupnya, “Panggilanku adalah Cinta.”
Relevansinya untuk Manusia Sekarang
Kita sekarang telah melihat bahwa pengalaman akan luka batin meupakan bagian dari kehidupan kita. Namun kalau kita mau jujur, sebetulnya persoalan pokoknya adalah kurang adanya iman dan keterbukaan kepada Tuhan, tiadanya cinta dan keterbukaan kepada sesama. Orang tetap terbelenggu oleh derita luka batin, tetap terpenjara oleh sakitnya derita batin. Dengan melihat kenyataan ini, maka hidup Theresia sungguh sangat relevan bagi manusia zaman ini. Sekurang-kurangnya Theresia memberikan kepada kita suatu sumbangan jawaban.
Terapi Iman dan Keterbukaan Kepada Tuhan:
Kita dapat mengatakan bahwa Theresia menemukan penyembuhan dirinya dari luka batin karena iman dan keterbukaannnya kepada Allah. Kita hidup di suatu zaman di mana peranan iman dan Allah semakin diperdebatkan. Konsili Vatican II mengatakan: “Berbeda dengan masa lampau, ingkar terhadap Allah serta agama, atau tidak lagi mempedulikannya, bukan lagi merupakan kekecualian atau soal perorangan saja. Sebab dewasa ini tidak jaranglah sikap-sikap itu diperlihatkan sebagai tuntutan kemajuan ilmiah atau suatu humanisme baru. Itu semua di pelbagai daerah bukan hanya diungkapkan dalam kaidah-kaidah para filsuf, melainkan secara sangat luas menyangkut dunia sastra dan alam kesenian, pun juga penafsiran arti ilmu-ilmu manusia dan sejarah, serta hukum-hukum sipil sendiri, sehingga banyak orang karena itu mengalami kekacauan batin” (GS 7).
Menghadapi semuanya itu, iman dan keterbukaan terhadap Tuhan menjadi sangat penting untuk menjawab persoalan manusia sekarang. Konsili Vatican II menegaskan bahwa Kristus yang telah wafat dan bangkit bagi semua orang adalah pokok keselamatan (GS 10). Bersama Theresia manusia zaman ini boleh berkata:
“Itulah satu-satunya hiburanku. Bukankah Yesus adalah sahabatku satu-satunya? … Dengan Dia saja saya bercakap-cakap. Percakapan dengan manusia, bahkan percakapan saleh sekalipun, melelahkan jiwaku. Kurasa lebih bermanfaatlah berbicara dengan Tuhan daripada tentang Tuhan, sebab betapa banyak cinta diri menyelinap masuk dalam percakapan rohani!”
Terapi Cinta dan Keterbukaan Kepada Sesama:
Kita juga dapat mengatakan bahwa Theresia telah mampu mengatasi persoalan hidupnya, teristimewa luka batinnya dengan terapi cinta dan keterbukaannya kepada sesama. Kita hidup dalam suatu situasi di mana manusia dikuasai oleh kebencian dan balas dendam. Cinta dan kerjasama selalu menjadi perjuangan terus-menerus. Konsili Vatican II mengatakan: “Dunia begitu mendalam merasakan kesatuannya serta saling tergantungnya semua orang dalam solidaritas yang memang mesti ada; tetapi sementara itu tertimpa oleh perpecahan yang amat gawat akibat kekuatan-kekuatan yang saling bermusuhan; sebab masih tetap berlangsunglah pertentangan-pertentangan yang sengit di bidang politik, sosial, ekonomi, kesukuan dan ideologi; dan tetap berkecamuk bahaya perang yang akan menggempur habis-habisan segala sesuatu” (GS 4).
Menghadapi persoalan tersebut, cinta dan keterbukaan kepada sesama menjadi tantangan bagi manusia zaman ini. “Sebab dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial; dan tanpa berhubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat-pembawaannya” (GS 12). Bersama Theresia, manusia zaman ini boleh berkata:
“Ah, semenjak saya menerima rahmat yang khas ini, keinginan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa semakin hari semakin bertambah. Seolah-olah Yesus mengatakan kepadaku, seperti kepada perempuan Samaria: 'Berilah Aku minum!' Ini benar-benar suatu tukar-menukar cinta.”
Penutup
Pengalaman hidup Theresia sungguh sangat relevan bagi manusia zaman ini, teristimewa manusia yang sedang mengalami derita karena luka batin dalam hidupnya. Theresia dengan hidupnya mau membantu manusia saat ini untuk hidup dalam iman dan cinta, hidup dalam keterbukaan kepada Allah dan sesama. Kenyataan ini bermula dari pengalaman Theresia sendiri. Ia pernah mengalami luka batin dengan pelbagai akar penyebabnya. Tetapi Theresia mampu keluar dari kesulitan hidupnya, dengan memakai perisai iman dan cinta, hidup dalam keterbukaan kepada Allah dan sesama. Joseph Chalmers, Prior Jendral O.Carm dan Camilo Macise, Superior Jendral OCD, dalam surat bersama (Roma, 1 Oktober 1997) berkaitan dengan penggelaran St Theresia dari Kanak-Kanak Yesus sebagai Pujangga Gereja, menegaskan:
“Theresia Lisieux belajar menerima dirinya dengan segala keterbatasannya, ketidaksempurnaannya, yang telah dikondisikan oleh lingkungan keluarga, sosial dan religius. Dengan cara ini ia membebaskan dirinya sendiri dari semuanya itu untuk menjadi seorang pribadi yang bebas, bersama dengan rahmat Allah, dan menemukan pribadi Allah Yesus Kristus, seorang yang setia dan penuh belas kasih. Dia mengajar kita untuk belajar dari segala sesuatu sehingga kita boleh bertumbuh dan menjadi dewasa, baik sebagai manusia maupun sebagai orang Kristen.”
Hanya soalnya sekarang bagaimana manusia zaman ini melihat, mengenal dan sadar akan pengalaman hidupnya, teristimewa luka batinnya, serta sadar pula bahwa ia harus bangkit dan keluar dari belenggu tersebut dengan senjata keterbukaan terhadap Allah dan sesama. Henri J.M. Nouwen menegaskan bahwa ada sesuatu yang baru akan lahir dari pahitnya kehidupan ini. Dengan kesadaran ini, manusia sekarang yang mengalami pahitnya kehidupan, getirnya luka batin akan terobati dengan iman dan cinta kasih, karena keterbukaan terhadap Allah dan sesama. Kembali Joseph Chalmers dan Camilo Maccise dalam surat bersama tersebut mengatakan: “Theresia menghadirkan kepada suatu dunia yang sakit karena ketakutan dan kegelisahan yang mendalam dengan terapi iman dan cinta akan Allah, dengan pelayanan dan rasa tanggung jawab kepada sesama.” Oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa kedua pimpinan umum dari kedua cabang Ordo Karmel itu tanpa ragu mengatakan bahwa Theresia dari Lisieux adalah seorang pujangga Gereja untuk milenium ketiga, dan secara khusus Pujangga mengenai keutuhan pribadi.
“Bukankah Allah yang Mahabaik dalam kerahiman-Nya telah melindungiku terhadap dosa yang mematikan. Aku mengangkat hati kepada Tuhan dalam iman dan cinta.”
~ St Theresia dari Kanak-kanak Yesus
|