|
Dosa Berat Hujat
oleh: P. William P. Saunders *
Pastor Benedict Groeschel menyebut The Da Vinci Code sebagai suatu hujat. Apakah sebenarnya yang ia maksudkan?
~ seorang pembaca di Springfield
Salah satu pelanggaran terbesar melawan kasih Allah dan sembah sujud yang patut kita haturkan kepada-Nya saja adalah dosa berat hujat. Hujat adalah berpikir, berbicara atau bertindak melawan Allah - Bapa, Putra dan Roh Kudus - dalam suatu cara yang menghina, merendahkan, atau mencemarkan atau profan. Ejekan serius terhadap para kudus, benda-benda suci, ataupun orang-orang yang dikonsekrasikan bagi Tuhan adalah juga hujat sebab Tuhan-lah yang secara tidak langsung diserang.
Sebagai umat Kristiani yang takut akan Tuhan, yang sungguh menghormati Tuhan sebagai Tuhan, dan yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan, patutlah kita marah akan hujatan buku dan film berjudul The Da Vinci Code. Meski penulisnya, Dan Brown, menyatakan bahwa karyanya adalah fiksi, ia juga menyatakan bahwa karyanya itu berdasarkan fakta-fakta. Sesungguhnya karya ini merupakan suatu jalinan antara separuh-kebenaran, salah tafsir dan sama sekali kebohongan. Kami tidak punya waktu untuk memerinci semuanya. Ada suatu buku bagus yang membahasnya berjudul The DaVinci Deception. Berikut beberapa pernyataan yang disarikan langsung dari buku tersebut.
The Da Vinci Code menyatakan bahwa Perjanjian Baru kita adalah karya manusia, bukan karya Tuhan. Salah. Para pengarang Injil diilhami oleh Roh Kudus. Sabda Kitab Suci mengajarkan dengan setia, tegas dan tanpa salah kebenaran yang Tuhan kehendaki kita miliki demi keselamatan kita.
The Da Vinci Code menyatakan bahwa sepanjang sejarah tidak pernah ada versi Kitab Suci yang definitif. Salah lagi. Pada jaman Tuhan kita, bangsa Yahudi memiliki ke-46 kitab yang kita kenal sebagai Perjanjian Lama kita. Tulisan-tulisan Perjanjian Baru telah selesai ditulis selambat-lambatnya tahun 100 dan didapati semakin banyak bukti bahwa tulisan-tulisan tersebut telah diselesaikan sekitar tahun 70. Di awal abad kedua kekristenan, St Ireneus (murid St Polikarpus yang adalah murid St Yohanes Rasul), St Yustinus Martir dan Uskup Papias memberikan kesaksian bahwa ke-27 Kitab Perjanjian Baru dipergunakan dalam Misa. The Muratorian Fragment (155 M) memuat daftar kitab-kitab Perjanjian Baru dan membedakan antara kitab-kitab yang asli seturut iman apostolik dan kitab-kitab yang bidaah dan sesat, yang mengacu pada tulisan-tulisan gnostik. Hanya ada empat Injil, yang ditulis St Matius, rasul; St Markus, murid St Petrus; St Lukas, murid St Paulus dan yang mengenal Bunda Maria; dan St Yohanes, rasul. Keempat Injil ini diterima karena kesaksian apostoliknya.
Setelah disahkannya kekristenan pada tahun 313 M, Gereja dapat menyusun secara resmi teks-teks Kitab Suci. Pada tahun 367 M, St Athanasius menyusun daftar ke-27 kitab Perjanjian Baru. Ketika Paus St Damasus meminta St Hieronimus untuk menterjemahkan Kitab Suci ke dalam bahasa Latin pada tahun 382 M, dan membuahkan Teks Vulgata, kanon (= daftar) Kitab Suci terdiri dari 46 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru, sebagaimana yang kita miliki sekarang dan sebagaimana telah diterima Gereja apostolik. Kanon ini diteguhkan kembali dalam Konsili Hippo pada tahun 393 M, Konsili Karthago III pada tahun 397 M, dan dalam surat Paus Innosensius I pada tahun 405 M. Pada tahun 1441, Konsili Florence sekali lagi menegaskan kanon Kitab Suci. Sebab itu, Gereja telah memiliki versi Kitab Suci yang definitif. Orang pertama yang memorak-porandakan kanon Kitab Suci adalah Martin Luther pada tahun 1532 ketika ia menyingkirkan 7 kitab Perjanjian Lama.
Jadi, apa itu injil gnostik? Injil gnostik baru muncul sekitar tahun 150-200 M. Gnostik adalah suatu aliran bidaah yang percaya akan satu Tuhan dan satu iblis yang memiliki kuasa yang sama. Kesalahan pertama! Mereka menganggap semua yang materi, termasuk diri kita, adalah jahat; sebaliknya, semua yang rohani adalah baik. Roh kita terbelenggu dalam raga dan hanya suatu pengetahuan istimewa atau gnosis yang akan membebaskan kita. Yesus, suatu makhluk rohani (kesalahan lagi) hanya tampak sebagai manusia; Ia merasuki Yesus manusia, sebab suatu makhluk rohani tidak akan sungguh-sungguh berinkarnasi. Ia memberikan gnosis. Jadi, Ia tidak wafat di salib; melainkan hanya Yesus manusia yang wafat di salib. Sebab itu, sekte-sekte gnostik tidak percaya akan inkarnasi. Tidak ada penebusan bagi manusia, tubuh dan jiwa. Tidak ada sakramen-sakramen sebab Tuhan tak hendak menyalurkan rahmat melalui barang-barang materi yang jahat seperti roti dan anggur, air dan minyak. Sekte-sekte gnostik tidak percaya akan perkawinan ataupun prokreasi, sebab tak seorang pun ingin membelenggu suatu roh lain dalam suatu raga.
Di samping itu, aborsi, bunuh diri, dan pembunuhan bayi-bayi bukanlah hal yang tak lazim di kalangan sebagian dari sekte-sekte gnostik, sebab tindakan-tindakan ini membebaskan roh dari raga. Dengan tepat Gereja mengutuk gnostisisme. Gnostik menulis “injil-injil” dengan membubuhkan nama-nama seperti “Injil St Thomas” demi meminjam kredibilitas, tetapi tulisan-tulisan ini palsu. Tak satu pun dari injil-injil gnostik yang dapat ditelusuri berasal dari sumber apostolik, dan karena alasan tersebut ditambah ajarannya yang sesat, injil-injil gnostik dikutuk Gereja.
The Da Vinci Code menyatakan Kaisar Konstantin yang memaklumkan Yesus sebagai Tuhan. Salah lagi. Suatu dusta lagi. Injil memaklumkan bahwa Yesus adalah pribadi ilahi, sungguh Allah yang menjadi sungguh manusia. Ia menunjukkan kuasa keilahian-Nya melalui cara-cara-Nya yang begitu rupa seperti mukjizat-mukjizat, eksorsisme [= pengusiran setan], dan pengampunan dosa. Ia menderita sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Coba renungkan: Adakah para rasul sedia berjuang mati-matian begitu rupa mendirikan Gereja dan menghadapi kematian jika Yesus bukan sungguh Tuhan dan Juruselamat Ilahi yang bangkit dari antara orang mati? Akankah Gereja mampu bertahan sepanjang abad-abad hingga sekarang jika Yesus bukan Tuhan dan Juruselamat Ilahi, yang masih terus ada di tengah-tengah Gereja-Nya? Memang pada tahun 325 M, Konstantin dan Paus St Sylvester mengadakan Konsili Nicea guna menghadapi suatu bidaah lain yang disebut Arianisme yang menyatakan bahwa Yesus hanyalah seorang manusia; konsili tersebut membuahkan Syahadat Nicea berdasarkan Syahadat Para Rasul. Meski demikian, umat Kristiani senantiasa percaya akan keallahan Kristus.
The Da Vinci Code menyatakan bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena. Salah lagi. Tidak ada bukti sejarah, bahkan dalam injil-injil gnostik yang palsu sekalipun, yang mendukung pernyataan tersebut.
The Da Vinci Code menyatakan Gereja sebagai “anti perempuan”. Salah lagi. Kita senantiasa menjunjung tinggi persamaan martabat antara laki-laki dan perempuan, yang masing-masing dijadikan seturut gambaran dan citra Allah. Kita menjunjung tinggi persatuan suci antara suami dan isteri yang dipersatukan dalam Sakramen Perkawinan. Kita menghormati Santa Perawan Maria sebagai teladan iman. St Maria Magdalena sendiri adalah si pendosa yang bertobat yang berdiri di kaki salib dan melihat Tuhan yang bangkit; ia adalah inspirasi bagi kita semua.
The Da Vinci Code menyerang Opus Dei, suatu organisasi yang didirikan oleh St Josemaria Escriva pada tahun 1928. Opus Dei bukanlah suatu sekte sesat ataupun organisasi mata-mata, melainkan sebuah prelatur pribadi Bapa Suci. Tujuannya adalah segenap anggota - para imam maupun awam - menguduskan karya mereka sebagai suatu persembahan kepada Tuhan. Di samping itu, tidak ada biarawan di Opus Dei, khususnya yang albino.
Dalam The Da Vinci Code ada banyak separuh-kebenaran, salah tafsir, dan kebohongan. Singkatnya, karya ini merupakan hujat melawan Tuhan, Gereja kita dan kekristenan secara keseluruhan. Ingat, beberapa waktu yang lalu komunitas Muslim marah besar karena kartun-kartun Mohammad; tepatlah jika kita juga marah, meski jangan seorang pun mengambil jalan kekerasan ataupun mengorbankan nyawa orang yang tak berdosa. Kita memang patut marah. Meski begitu, baiklah juga kita mempergunakan kesempatan ini untuk menyatakan iman kita, mengatasi kebohongan dengan kebenaran dan pewartaan. Dengan demikian, yang baik akan menang melawan konspirasi hujat yang disajikan dalam The Da Vinci Code, baik buku maupun film.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Mortal Sin of Blasphemy” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2006 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
|