|
Misa dan Ibadat Komuni: Apa Bedanya?:
oleh: P. Thomas Richstatter, O.F.M., S.T.D. *
Betapa jaman telah berubah! Limapuluh tahun yang lalu, banyak umat Katolik pergi ke Misa tanpa menyambut Komuni. Sekarang, banyak umat Katolik menyambut Komuni tanpa pergi ke Misa! Mereka menyambut-Nya dalam Ibadat Komuni.
Semasa saya masih kanak-kanak, paroki saya mempunyai seorang pastor kepala paroki dan tiga orang pastor paroki lainnya yang membantu penuh waktu. Ada lima Misa pada hari Minggu dan tiga Misa setiap hari sepanjang pekan (di luar perkawinan dan pemakaman). Sekarang, sedikit saja paroki yang mempunyai empat orang pastor; kebanyakan hanya mempunyai seorang pastor saja. Dan ada lebih dari 2000 paroki di Amerika Serikat yang saat ini tidak mempunyai seorang pastor pun. Di kebanyakan paroki-paroki ini, pada hari-hari di mana seorang imam tidak dapat hadir untuk merayakan Ekaristi, Ibadat Komuni diselenggarakan.
Apa itu Ibadat Komuni? Saya pikir apa yang dilakukan paroki kami mewakili apa yang dilakukan paroki-paroki lain di seluruh negeri. Di paroki kami, pada hari-hari ketika tidak ada imam, rekan pastoral, Suster Jane, memimpin Ibadat Komuni. Ia menyatukan jemaat dengan Tanda Salib dan sebuah doa. Kemudian ia (atau seorang warga paroki lainnya) membacakan bacaan-bacaan Kitab Suci yang diperuntukkan bagi Misa pada hari itu. Suster Jane lalu memanjatkan doa mengucap syukur kepada Kristus atas anugerah Ekaristi. Semua yang hadir mendaraskan Doa Bapa Kami. Sesudahnya Suster Jane membagikan Komuni Kudus dengan Hosti yang telah dikonsekrasikan dalam Misa sebelumnya, yang diambilnya dari tabernakel. Ia kemudian menutup ibadat dengan sebuah doa.
Sebagian warga paroki menyebut ibadat ini sebagai “Misa Suster Jane”. Bagi kebanyakan umat Katolik, saya percaya bahwa ini sekedar suatu cara humoris dalam menamai ibadat ini. Tetapi, bagi sebagian lainnya, istilah ini dapat menimbulkan kesalahpahaman mengenai perbedaan-perbedaan pokok antara Misa dan Ibadat Komuni. Sungguh, keduanya amat serupa; unsur-unsur keduanya juga serupa.Tetapi, apakah Ibadat Komuni sekedar “Misa tanpa imam”? Menjawab “ya” atas pertanyaan ini berarti mengabaikan beberapa perbeaan yang sangat penting.
Dalam artikel ini kita akan memeriksa masing-masing bagian Misa untuk melihat bagaimana sebuah Misa berbeda dari sebuah Ibadat Komuni. Bahkan meski parokimu tidak biasa menyelenggarakan Ibadat Komuni, mempelajari struktur dan makna sesungguhnya dari Misa akan membantumu untuk berpartisipasi secara lebih penuh dan aktif dalam Perayaan Ekaristi.
Sementara Ibadat Komuni semakin sering diselenggarakan di paroki-paroki, ada bahaya sebagian umat Katolik tidak berpartisipasi secara penuh dalam Ekaristi sebab mereka pergi ke Misa seolah Misa hanyalah sekedar sebuah Ibadat Komuni. Umat Katolik ini, yang tidak sepenuhnya memahami Misa, pergi ke gereja (dan ke Misa) terutama untuk menyendiri bersama Tuhan. Saling bertegur sapa, bertukar salam damai serta gerakan-gerakan interpersonal lainnya bukanlah bagian integral dari pengalaman mereka, malahan merupakan gangguan bagi doa mereka. Mereka menyambut Komuni Kudus dan menjunjung tinggi saat-saat intim pribadi bersama Yesus. Menyanyi bersama di saat-saat “pribadi” ini tidak menyenangkan mereka. Mereka puas dengan Ibadat Komuni - “Misa Suster Jane”. Sesungguhnya, dalam pandangan mereka “Misa Suster Jane” lebih menyenangkan dari “Misa Pastor” sebab lebih singkat.
Apakah yang menjadikan Misa begitu jauh berbeda dari Ibadat Komuni? Mengapakah Misa merupakan bentuk doa yang jauh lebih ideal? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita akan memeriksa masing-masing bagian Misa dan membandingkannya dengan unsur serupa dalam Ibadat Komuni.
Apa yang Terjadi dalam Misa?
Suatu cara mudah untuk memahami bagian-bagian Misa, yakni struktur atau bentuk lahiriahnya, adalah membandingkannya dengan sesuatu yag familiar bagi kita semua, perjamuan Syukuran di rumah nenek. Apa yang kita lakukan apabila kita pergi ke rumah nenek untuk acara Syukuran? Kita 1) berkumpul sebagai suatu keluarga, dan 2) kita berbicara. Kita duduk di ruang tamu dan saling bercerita. Kita saling menceritakan apa-apa saja yang telah terjadi sejak pertemuan terakhir kita. Ketika tiba waktu bersantap, kita 3) pergi ke meja. Makanan dan segala hidangan dikeluarkan dari dapur dan 3a) ditempatkan di atas meja. Kita 3b) mengucap syukur, dan kemudian kita mengedarkan makanan dan kita 3c) makan dan minum. Dipuaskan oleh santapan Syukuran, kita 4) mengucapkan selamat tinggal dan kembali ke rumah masing-masing.
Ekaristi mempunyai keempat struktur yang sama ini: 1) berkumpul, 2) bercerita, 3) berbagi santapan dan 4) pengutusan. Ada tiga gerakan dalam bagian yang ketiga: 3a) Persiapan Persembahan, 3b) Doa Syukur Agung dan 3c) Ritus Komuni.
Kita Berkumpul Bersama
Ketika kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi, kita tidak sekedar berkumpul bersama di suatu tempat pada suatu waktu yang telah ditentukan, seperti tiba di gedung bioskop pukul 7 petang sebab itulah saat film diputar. Ketika kita berkumpul bersama untuk merayakan Ekaristi, kita datang atas inisiatif Tuhan. Bapa memanggil umat-Nya berkumpul, dalam Roh Kudus, untuk membentuk Tubuh Putra. Panggilan Tuhan disuarakan lewat pelayan tertahbis yang (oleh tahbisannya) diberi wewenang oleh Gereja untuk berbicara atas nama Gereja (in persona ecclesiae). Inilah sebabnya mengapa imam berdoa dalam kata ganti orang pertama jamak, misalnya “Pada hari Minggu ini kami menghadap Dikau sehati-sejiwa…” sebab imam berbicara atas nama kita semua. Kita mengakui doa yang dipanjatkan imam sebagai doa kita sendiri dan menyatakan persetujuan kita dengan “Amin”.
Ketika umat Katolik berkumpul untuk merayakan suatu ibadat liturgis - hal ini teristimewa benar dalam Ekaristi - mereka “dengan penghayatan mengungkapkan Misteri Kristus serta hakekat asli Gereja yang sejati, serta memperlihatkan itu kepada orang-orang lain” (Konstitusi tentang Liturgi Suci, #2)”. Bayangkanlah suatu jigsaw puzzle. Bahkan dalam keadaan tidak tersusun, potongan-potongan yang tercecer dalam kotak mempunyai suatu gambar. Tetapi, hanya ketika jigsaw puzzle disusun dan potongan-potongan saling dipasangkan maka gambar itu menjadi jelas. Hal yang sama terjadi dalam Ekaristi; kita adalah Tubuh Kristus, tetapi Tubuh itu hanya menjadi kelihatan dalam kepenuhan maknanya ketika kita dipanggil berkumpul bersama untuk merayakan liturgi. Kita berkumpul sebagai suatu komunitas yang terstruktur dengan pastor memimpin liturgi, seperti juga pastor memimpin dimensi-dimensi lain dalam kehidupan paroki.
Dalam Ibadat Komuni, ketika kita dipanggil berkumpul bersama oleh seseorang yang tidak diberi wewenang untuk berbicara “atas nama Gereja”, kita berkumpul sebagai umat yang sederajat. Ekaristi menjadikan Gereja menjadi Gereja dengan suatu cara yang tidak dimiliki Ibadat Komuni. Ini adalah perbedaan yang sangat tak kentara, namun sangat penting. Mengatakan bahwa Ibadat Komuni adalah sekedar “Misa tanpa imam” dapat mengabaikan peran penting yang dimainkan jemaat dalam merayakan Ekaristi.
Kita Menceritakan Kisah Kita
Jika Ibadat Komuni digambarkan sebagai “Misa tanpa imam”, maka perhatian kita terfokus pada kenyataan bahwa hanya imam yang mempunyai kuasa “untuk berbicara atas nama Kristus” guna mengkonsekrasikan roti dan anggur. Sama mengagumkannya dengan hal ini, imamat menyangkut jauh lebih banyak dari sekedar “kuasa mengkonsekrasikan”. Tugas utama dan terutama dari seorang imam adalah “mewartakan Injil” (Vatican II, Pelayanan dan Kehidupan para Imam, #4).
Imam berbicara tidak hanya atas nama Kristus (in persona Christi) tetapi juga atas nama Gereja (in persona ecclesiae). Agar dapat mewartakan Injil dengan baik, dituntut bahwa imam hidup dalam Kristus (yakni, menjadi seorang yang kudus) dan hidup dalam komunitas (yakni, mengenali sukacita dan derita, rahmat dan dosa komunitas). Ini bukanlah suatu tugas yang mudah, tetapi adalah inti dari apa artinya menjadi seorang imam dan memimpin Ekaristi.
Pada umumnya, dalam suatu Ibadat Komuni tidak ada homili, aplikasi liturgis Kitab Suci dalam kehidupan umat beriman. Tetapi perbedaan antara Misa dan Ibadat Komuni menjadi semakin nyata sementara kita bergerak ke dimensi kurban dan dimensi perjamuan dari Ekaristi.
Kita Berbagi Santapan
Dalam setiap Ekaristi, setelah kita berkumpul bersama sebagai tubuh Kristus dan berbagai kisah komunitas kita, kita bergerak ke meja perjamuan untuk berbagi santapan dalam komunitas. Berbagi santapan berbeda dari sekedar menyantap makanan. Saya tinggal sendirian di sebuah rumah, dan saya menyantap makanan setiap hari, sungguh beberapa kali dalam sehari. Tetapi ada kalanya saya mengundang seorang teman dan kami pergi makan di luar. Sepanjang waktu yang kami lewatkan dengan makan malam bersama, ada banyak hal yang terjadi dari sekedar menyantap makanan. Makan bersama lebih dari sekedar makan. Begitu pula, Ekaristi lebih dari sekedar menyambut Komuni Kudus.
Persiapan Persembahan. Kita menghantar roti dan anggur ke altar untuk kurban Misa. Dengan suatu cara yang nyata namun mistik, Misa menghubungkan kita dengan kurban Kalvari. Sepanjang hidup-Nya, Yesus dalam kemanusiaan-Nya mengamalkan doa, “...janganlah seperti yang Ku-kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39); Ia terus-menerus berjuang untuk bersatu budi dan hati dengan kehendak Bapa. Persatuan dengan Allah ini dicapai dan dinyatakan dalam suatu cara yang di atas segalanya dalam wafat dan kebangkitan-Nya.
Ungkapan ritual dari persatuan sukacita dengan Tuhan ini adalah inti dari makna kurban Kristen. Persatuan dengan Tuhan yang dulu diperoleh dengan memercikkan darah hewan kurban telah digantikan dengan kurban Kristus. Tujuan kurban telah diperoleh sekali untuk selamanya dengan persatuan sempurna Yesus di salib dengan kehendak Bapa SurgawiNya. Kita mengungkapkan kurban ini dengan persatuan kita dengan Tuhan dan dengan satu sama lain dengan berbagi perjamuan ekaristik.
Dalam Misa, jemaat yang - dengan dipimpin oleh imam - mempersembahkan roti dan anggur dan memanjatkan Doa Syukur Agung, adalah jemaat yang sama yang berbagi roti dan anggur yang “diekaristikan” dalam Komuni Kudus. Sebaliknya, dalam Ibadat Komuni, jemaat yang berbagi Sakramen Tubuh Kristus pada umumnya berbeda dari jemaat yang tadinya mempersembahkan kurban itu. Dalam Misa kurban dan sakramen bersatu erat; dalam Ibadat Komuni, penekanannya adalah pada sakramen (sebagai suatu bentuk santapan). Ini adalah salah satu dari perbedaan terpenting antara kedua ritual tersebut.
Doa Syukur Agung. Doa Syukur Agung adalah kunci untuk memahami Ekaristi dan dengan demikian kunci untuk memahami perbedaan antara Misa dan Ibadat Komuni. Bentuk Doa Syukur Agung adalah dari berakah. Dalam rumusan doa tradisional Yahudi ini kita 1). menyapa dan memuliakan Tuhan; 2). dengan penuh syukur kita mengenangkan segala yang telah Tuhan lakukan bagi kita; dan 3). kita memanjatkan permohonan kita. Menyapa, mengenangkan, memohon - hal ini tidak sesulit atau serumit kedengarannya pada awalnya. Tetapi, pada dasarnya bentuk atau “rumusan” doa yang sama seperti yang dipergunakan seorang remaja pada suatu Sabtu sore, “Pap, Papa adalah ayah terbaik yang pernah dapat dimiliki seorang. Papa bekerja keras bagi kami sepanjang pekan agar segala kebutuhan kami tercukupi. Pastilah Papa lelah dan ingin beristirahat di rumah sore ini dan menonton televisi. Bisakah aku pinjam kunci mobilnya, Pap?” Itulah menyapa, mengenangkan, dan memohon.
Dalam Doa Syukur Agung, pertama-tama kita menyapa dan memuliakan Tuhan, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus. Kedua, kita mengenangkan segala yang telah Allah lakukan demi menyelamatkan kita melalui kelahiran, hidup, wafat dan kebangkitan PutraNya. Ketika, kita memohon karunia Roh Kudus. Roh Kudus memenuhi kodrat manusiawi Yesus hingga hari demi hari Ia mempersembahkan DiriNya kepada Bapa. Sekarang, Roh yang sama ini turun atas persembahan roti dan anggur kita dan mengubahnya menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Dan Roh Kudus yang sama ini turun atas kita sehingga kita yang makan dan minum - yang menyambut Komuni Kudus - menjadi Tubuh Kristus.
Doa Syukur Agung memperbaharui perjanjian. Dalam doa, kita mengenali inisiatif Allah untuk mempersatukan kita dengan DiriNya Sendiri dalam kemenangan Paskah Kristus, dan pada saat yang sama kita mengenali kedosaan kita dengan memohon Roh persatuan dan pendamaian. Bapa senantiasa setia dalam Putra. Kita tidak senantiasa setia, tetapi Roh Kudus mendamaikan ketidaksetiaan kita. Perjanjian diperbaharui.
Ketika kita berdoa, “… Sambil mengenangkan wafat dan kebangkitan Kristus, kami mempersembahkan kepada-Mu, ya Bapa, roti kehidupan dan piala keselamatan…” (Doa Syukur Agung II), kita tidak sekedar “mengenangkan” dalam arti “memikirkan”. Ini adalah suatu kenangan liturgis, suatu kenangan yang menghadirkan kasih Yesus yang menyelamatkan. Sebagai contoh, ketika penjahat yang disalibkan bersama Yesus memohon kepada-Nya, “Ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja,” ia tidak meminta Yesus untuk sekedar “memikirkan dia.” Inilah “kenangan yang menghadirkan” - seperti dapat kita lihat dari jawaban Yesus, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Lukas 23:42-43).
Dalam Doa Syukur Agung, ketika kita memohon Tuhan untuk mengingat perjanjian yang dimeteraikan dalam Darah Yesus, kita menjadi hadir dalam perjanjian itu. Kita dengan sukacita dipersatukan kepada Tuhan. Dalam makan dan minum bersama, kita adalah tanda kelihatan dari Perjanjian Baru.
Dalam Ibadat Komuni tidak ada Doa Syukur Agung, melainkan hanya Doa Syukur. Doa Syukur ini seringkali adalah doa kepada Kristus mengucap syukur kepada-Nya atas anugerah Ekaristi. Seperti yang telah kita lihat, Doa Syukur Agung jauh lebih dari sekedar doa syukur atas Ekaristi. Doa Syukur Agung adalah doa Kristus (Kepala dan anggota-anggota-Nya) kepada Bapa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, yang memperbaharui perjanjian dan menempatkan kita dalam Komuni (persatuan) kudus dengan Tuhan dan Komuni dengan satu sama lain.
Ritus Komuni. Para murid dari Emaus menceritakan “bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti” (Lukas 24:35). Dalam kisah Injil ini fokus kehadiran Ekaristik tidak lebih ditekankan pada roti sebagaimana ditekankan pada berbagi roti. Dalam Doa Syukur Agung, kita memohon Bapa mengutus Roh Kudus atas roti dan anggur untuk mengubah, mentransformasikan, mengkonsekrasikan unsur-unsurnya menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Tetapi, doa tidak berhenti di situ, melainkan berlanjut dengan memohon Bapa mengutus Roh Kudus atas kita agar Komuni Kudus mengubah kita, mentransformasikan kita, mengkonsentrasikan kita menjadi Tubuh Kristus.
Dalam Ekaristi, Tubuh Kristus berkumpul untuk menjadi Tubuh Kristus. Kita berkumpul untuk menjadi siapa kita. Seperti dikhotbahkan St Agustinus bertahun-tahun yang silam, “Sebab itu, jika kalian sendiri adalah tubuh Kristus dan anggota-anggota-Nya, maka misteri kalian sendiri berada di atas altar…. Jadilah apa yang kalian lihat, dan sambutlah diri kalian” (Khotbah, #272).
Sebagaimana roti dan anggur menjadi Tubuh Kristus, demikian pula kita diubah oleh Ekaristi. Budi dan hati kita, minggu demi minggu, menjadi budi dan hati Kristus. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5). Tuhan telah memberikan Ekaristi kepada kita bukan sekedar untuk mengubah roti dan anggur, melainkan untuk mengubah hidup kita, membantu kita bertumbuh dalam hadirat Kristus dalam komunitas kita sekarang ini, mengubah komunitas menjadi komunitas yang lebih terbuka, harmonis, adil, penuh belas kasih, damai, menghidupkan dan yang seperti Kristus.
Dalam Ibadat Komuni, memang mungkin bahwa mereka yang menyambut Komuni Kudus lebih terfokus pada menyambut Kristus secara pribadi dalam hati mereka daripada terfokus pada dimensi komunitas dari Ekaristi ini. Berbagi perjamuan Ekaristik jauh lebih dari sekedar sekelompok individu Kristiani menyambut Komuni Kudus. Tentu saja, bahkan dalam Misa, tiap-tiap warga jemaat tidak selalu menyadari dimensi komunitas dari Ekaristi ini.
Kita Diutus
Para murid dari Emaus, meski hati mereka berkobar dalam kasih di hadirat Tuhan, tidak tinggal di rumah di Emaus. Mereka menerima suatu anugerah untuk dibagikan. Mereka bergegas kembali ke Yerusalem untuk memperkuat iman para murid yang lain.
Demikian pula dengan Misa: Diperkuat dengan Santapan Ekaristi, kita diutus untuk pergi menguatkan yang lainnya. Roh yang mengutus Yesus untuk menyampaikan kabar baik kepada mereka yang miskin (Lukas 4:16-20) sekarang mengutus kita untuk melakukan hal yang sama. Imam yang, atas nama Gereja, memangggil kita berkumpul bersama, sekarang, atas nama Gereja, mengutus kita untuk pergi. Setelah perjanjian kita dengan Tuhan diperbaharui, sekarang kita pergi dengan dikuatkan untuk menyadari rancangan Allah bagi dunia: menjadi utusan-utusan pendamaian agar segala sesuatu bersatu dalam Kristus.
Pemahaman yang Lebih Mendalam
Betapa jaman telah berubah! Ketika saya ditahbiskan pada tahun 1966, kaum awam tidak diperkenankan bahkan menyentuh hosti yang telah dikonsekrir, apalagi memimpin suatu Ibadat Komuni. Sekarang ada lebih banyak pelayan-pelayan awam daripada imam yang membagikan Komuni. Kaum muda Katolik mungkin tidak menyadari betapa radikalnya perubahan ini.
Ketekismus Romawi - yang diterbitkan setelah Konsili Trente pada tahun 1566, yang adalah katekismus resmi kita hingga tahun 1994 - mengajarkan bahwa hanya seorang imam yang dapat membagikan Komuni Kudus, “... hanya kepada para imam saja diberikan kuasa untuk mengkonsekrasikan dan membagikan Ekaristi Kudus kepada umat beriman. Merupakan praktek Gereja yang tidak berubah, bahwa umat beriman wajib menyambut Sakramen dari para imam, ... praktek ini, sebagaimana diwariskan dari tradisi Apostolik, hendaknya dipertahankan dengan setia, teristimewa sebab Kristus Tuhan telah meninggalkan bagi kita suatu teladan-Nya yang terkenal dari sana, yakni mengkonsekrasikan tubuh-Nya Sendiri yang mahakudus, dan memberikannya kepada para Rasul dengan tangan-Nya Sendiri.”
Kutipan dari Katekese Konsili Trente ini dikutip oleh Komisi Penasehat Nasional Konferensi Waligereja Amerika Serikat mengenai Pendidikan Religius Orang Dewasa sebagai suatu contoh bagaimana beberapa detail dapat berubah tanpa mengubah kebenaran dasar. “Sementara kebenaran inti tidak berubah, Gereja terus-menerus dipanggil kepada pemahaman yang terlebih mendalam akan kebenaran-kebenaran itu. Gereja dengan setia mewariskan ajaran-ajaran para rasul dan, pada saat yang sama, tetap terbuka pada dorongan Roh Kudus. Terkadang, sesuatu dipegang sebagai kebenaran inti [misalnya bahwa awam laki-laki maupun perempuan tidak diperkenankan membagikan Ekaristi] yang oleh Roh, melalui waktu, pada akhirnya diajarkan tidak demikian” (Publikasi Konferensi Waligereja Amerika Serikat, No. 050-8, h. 5).
Sungguh, dapat merupakan sesuatu yang sulit untuk mengetahui bilamana sesuatu adalah “kebenaran inti” dan bilamana bukan. Meski sebagian paroki tampaknya bergerak mudah tanpa kesulitan dari Ekaristi ke Ibadat Komuni sebagai satu-satunya solusi menghadapi kekurangan imam, beberapa teolog dan pemimpin Gereja mengingatkan bahwa ada sesuatu yang penting hilang di sini, teristimewa apabila paroki tidak dapat merayakan Ekaristi pada hari Minggu.
Masalah hari Minggu tanpa Ekaristi merupakan suatu topik penting lainnya yang membutuhkan pertimbangan dan penjelasan sekarang ini. Hari Tuhan senantiasa dirayakan dengan Perjamuan Tuhan. Hari Minggu tanpa Ekaristi bukan hanya tidak seperti hari Minggu. Krisis panggilan, hari Minggu tanpa Ekaristi, Ibadat Komuni: kesemuanya adalah masalah yang saling berkaitan.
Kita telah melihat beberapa perbedaan antara Misa dan Ibadat Komuni. Perbedaannya yang terakhir adalah ini: ketika kita meninggalkan Ekaristi, kita merasakan sukacita, disegarkan dan dikuatkan. Janganlah terkejut apabila kita meninggalkan Ibadat Komuni (teristimewa pada hari Minggu ketika Misa tidak dapat dirayakan di paroki) dengan perasaan gelisah dan tidak puas. Kita merasa tidak nyaman sebab kita merasa bahwa sesuatu terjadi tidak sebagaimana mestinya.
Mungkin perasaan tidak nyaman ini merupakan suatu perasaan yang baik sepanjang masa perubahan ini; menunjukkan bahwa kita telah bertumbuh dalam pemahaman kita mengenai apa sesungguhnya Misa itu. Perasaan tidak nyaman itu merupakan pertanda bahwa kita wajib mengusahakan segala daya upaya agar perayaan Ekaristi senantiasa tersedia bagi semua orang
* Fr. Thomas Richstatter, O.F.M., has a doctorate in liturgy and sacramental theology from the Institute Catholique de Paris. A popular writer and lecturer, Father Richstatter teaches courses on the sacraments at St. Meinrad (Indiana) School of Theology.
sumber : “Mass and Communion Service: What's the Difference? by Thomas Richstatter, O.F.M.”; Copyright St. Anthony Messenger Press; www.americancatholic.org
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|