|
Kontrasepsi Menurut Ajaran Gereja:
Bagian 6:
Kontrasepsi Memperlihatkan Konsekuensi yang Serius
oleh: P. William P. Saunders *

Pada tahun 1960, Gereja menghadapi meningkatnya tekanan sehubungan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi dengan dipasarkannya anovulant pill. Sebagai tanggapan, Konsili Vatican II menyatakan dalam Gaudium et Spes, “Putera-puteri Gereja, yang berpegang teguh pada azas-azas itu, dalam mengatur keturunan tidak boleh menempuh cara-cara yang ditolak oleh Wewenang Mengajar Gereja dalam menguraikan hukum ilahi.” Namun demikian, Paus Paulus VI mengalihkan penyelidikan atas pertanyaan-pertanyaan baru mengenai masalah ini ke suatu komisi khusus (semula didirikan oleh Paus Yohanes XXIII pada bulan Maret 1963) guna meneliti populasi, keluarga dan kelahiran. Sesudah itu, Bapa Suci akan mempelajari penemuan-penemuan mereka dan menyampaikan penilaian. Termasuk dalam komisi ini pasangan-pasangan yang menikah dan berbagai kalangan yang berkompeten dalam bidang ini. Uskup-uskup yang dipilih juga dimintai pendapat, sementara uskup-uskup lainnya secara sukarela menyampaikan pandangan mereka.
Pada tanggal 25 Juli 1968, Paus Paulus VI menerbitkan Humanae Vitae yang menjunjung tinggi ajaran konsisten Gereja yang berdasarkan pada hukum kodrat maupun wahyu ilahi: “bahwa tiap persetubuhan harus tetap diarahkan kepada kelahiran kehidupan manusia” (No. 11).
Bapa Suci telah terus-menerus mengulangi ajaran Gereja ini. Dalam Familiaris Consortio, Paus menyesali “tanda-tanda merosotnya berbagai nilai yang mendasar” terbukti dalam “makin banyaknya perceraian, malapetaka pengguguran, makin kerapnya sterilisasi, tumbuhnya mentalitas yang jelas-jelas kontraseptif.”
Menariknya, Paus Paulus VI telah memprediksikan konsekuensi-konsekuensi serius akibat kontrasepsi: meningkatnya ketidaksetiaan dalam perkawinan dan merosotnya standard moral; meningkatnya rasa kurang hormat terhadap perempuan, termasuk melihat seorang perempuan sebagai obyek seks semata dan sebagai alat pemuas hasrat seksual belaka daripada melihatnya sebagai pasangan hidup dalam perkawinan; pula bahaya menguasakan kepada otoritas-otoritas publik untuk menetapkan hukum hidup bagi yang lain. Tigapuluh tahun kemudian, peringatan-peringatan ini telah menjadi kenyataan. Statistik menunjukkan pesatnya tingkat perceraian, dari rata-rata 25% pada tahun 1965 menjadi 50% pada tahun 1975 dalam masa lima tahun pertama perkawinan. Pada tahun 2000, 50% remaja Amerika melewatkan bagian hidup mereka yang penuh gejolak itu tanpa figur seorang ayah. Di samping itu, Dr. Robert Michaels dari Stanford University mendapati suatu korelasi langsung dan positif antara meningkatnya tingkat perceraian dan tingkat penggunaan kontrasepsi. (Yang menarik, pasangan-pasangan yang mempergunakan Keluarga Berencana Alami memiliki tingkat perceraian yang jauh lebih rendah: 0.6 persen menurut Couple to Couple League dan 2-5 persen menurut penelitian yang dilakukan oleh California State University.)
Siapapun dapat membuktikan merosotnya kualitas moral dalam tayangan-tayangan televisi dan film-film sepanjang masa ini, seperti terbukti oleh tayangan-tayangan macam “Friends” atau “Sex in the City”. Pornografi dengan cepat merajalela, dengan 630 juta penyewaan video porno dilaporkan setiap tahunnya di Amerika Serikat. Tersedianya kontak pornografi dan seksual melalui internet juga dalam tingkat mengkhawatirkan.
Dipisahkannya aspek unitive dari aspek procreative dalam kasih perkawinan, dan dihilangkannya kasih perkawinan dari perkawinan itu sendiri telah menjadikan “kasih seksual” sekedar aktivitas rekreasi dan hubungan badani bebas. Banyak sekolah menengah negeri khususnya, menanamkan perilaku di kalangan para murid bahwa mereka dapat menikmati “seks yang aman,” dengan demikian menyamarkan tanggung jawab akan hadirnya seorang anak, atau kemungkinan terjangkit suatu penyakit, ataupun konsekuensi-konsekuensi lainnya. Di Amerika Serikat, 100 sekolah menengah memiliki klinik yang mendistribusikan kondom dan 300 sekolah menengah tanpa klinik yang menyediakan kondom melalui para pembimbing, perawat, guru, mesin-mesin penjual otomatis, atau keranjang-keranjang (2002 The National Campaign to Prevent Teen Pregnancy). Limapuluh persen dari remaja sekolah menengah sekarang ini akan kehilangan keperawanan mereka semasa sekolah mengengah (The Center for Disease Control and Prevention, 2001). Jika statistik benar, maka 840.000 remaja putri akan hamil pada tahun ini (Center for Disease Control and Prevention, 1997). Pada tahun 1995, 32 persen dari seluruh bayi-yang-baru-lahir dilahirkan oleh ibu-ibu yang tidak menikah (1995: Monthly Vital Statistics Report). Di lain pihak, 98 persen dari semua aborsi dilakukan untuk alasan-alasan fakultatif, non-medis, yakni “kehamilan yang tak diinginkan” (Abortion: Some Medical Facts). Tidakkah segala data-data statistik ini saling berhubungan dan secara keseluruhan menunjukkan merosotnya kekudusan seksualitas manusia, perkawinan dan kasih perkawinan?
Kejahatan permerkosaan terus meningkat setiap tahunnya. Berita marak dengan kasus-kasus pelecehan seksual dan penganiayaan seksual, bahkan di kalangan klerus. Munculnya “gerakan perkawinan sesama jenis,” adopsi anak-anak oleh pasangan-pasangan homoseksual, membuktikan hilangnya pemahaman akan rencana Allah atas perkawinan dan keluarga.
Prosedur-prosedur menyangkut pembuahan di luar tubuh (= vitro fertilization), inseminasi buatan dan kehamilan pinjaman semakin banyak tersedia. Di samping itu, penelitian untuk kloning, termasuk kloning manusia, terus berlanjut.
Campur tangan pemerintah dalam keluarga berencana semakin meluas. Beberapa kota praja atau negara bagian, seperti Maryland dan Kansas telah mencobanya di masa lalu, mengusahakan untuk memulai program-program di mana mereka membayar para wanita untuk mempergunakan Norplant (KB Susuk, kontrasepsi selama lima tahun yang ditanamkan dalam lengan wanita) demi mengendalikan kehamilan di kalangan remaja dan kesejahteraan penerima. Negara-negara asing, seperti Peru, telah memperkenalkan program-program sterilisasi dan memaksa warga miskin untuk disterilisasi. Komisi Nasional Meksiko untuk Hak Azasi Manusia pada tanggal 16 Desember 2002 menyesalkan bahwa organisasi-organisasi kesehatan di seluruh dari ke-31 negara bagian Meksiko telah memaksakan alat-alat kontrasepsi pada warga primitif dan petani. Kebijakan internasional yang ditetapkan oleh negara-negara persemakmuran barat untuk membantu negara-negara dunia ketiga yang sedang berkembang, seringkali meliputi juga syarat-syarat untuk mengendalikan populasi penduduk, termasuk pengaturan kehamilan artifisial dan aborsi.
Ironisnya, bahkan prediksi mengenai masa mendatang pun telah berubah. Satu generasi yang lalu, Paul Ehrlich dalam bukunya “The Population Bomb” memperingatkan bahwa kelebihan populasi akan “membinasakan planet”. Kontrasepsi dinyatakan sebagai obat bagi malapetaka yang akan datang ini dan Humanae Vitae dicemoohkan. Sekarang kita mendapati diri kita dalam situasi yang berbeda. Divisi Populasi dari Perserikatan Bangsa-bangsa menerbitkan laporannya “World Population Prospects: The 2002 Revision,” memproyeksikan suatu penurunan dalam populasi penduduk dunia: dua tahun yang lalu, Divisi Populasi memproyeksikan populasi dunia 9.3 milyar jiwa pada tahun 2050; sekarang Divisi Populasi memproyeksikan 8.9 milyar. Divisi ini juga memproyeksikan bahwa tingkat kesuburan di sebagian besar negara-negara berkembang akan jatuh di bawah tingkat replacement 2.1 anak-anak sepanjang abad ini, dan pada tahun 2050, tingkat populasi di lebih banyak negara berkembang akan telah mengalami penurunan selama 20 tahun. Sebagai misal, Divisi Populasi memprediksi pada pertengahan abad terjadi 14 persen penurunan populasi di Jepang dan 22 persen di Italia; di samping itu, populasi di Eropa akan mengalami penurunan dari 726 juta jiwa menjadi 632 juta. Dengan prediksi akan harapan hidup yang lebih tinggi, lebih banyak kaum lanjut usia dan lebih sedikit kaum muda, sekarang para perencana populasi bertanya-tanya, “Siapakah yang akan merawat kaum tua? Dari manakah akan didapatkan pajak-pajak untuk menunjang program-program sosial?” Sekarang negara-negara seperti Perancis memberikan insentif pajak kepada keluarga-keluarga untuk memiliki anak-anak demi mengembalikan populasi mereka yang menurun.
Tak heran, Paus Yohanes Paulus II memaklumkan Humanae Vitae Paus Paulus VI sebagai “suatu pewartaan yang sungguh-sungguh bersifat kenabian” (Familiaris Consortio, No.29). Telah tiba saatnya untuk kembali kepada Tuhan dan kebenaran-Nya dalam hal seksualitas manusia, perkawinan dan kasih perkawinan.
Yang menarik, Dr. William May pada tahun 1968 menandatangani suatu pernyataan bersama banyak teolog lainnya menentang Humane Vitae. Di kemudian hari ia menyesali kekeliruannya. Pada tahun 1988, pada peringatan 20 tahun ensiklik, ia mengatakan, “Saya mulai melihat bahwa jika kontrasepsi dibenarkan, maka kemungkinan inseminasi buatan, reproduksi tabung, dan metode-metode serupa untuk membuahkan kehidupan di luar perkawinan secara moral dibenarkan juga…. Saya mulai menyadari bahwa teologi moral yang diajukan demi membenarkan kontrasepsi dapat dipergunakan untuk membenarkan segala perbuatan lainnya juga. Saya melihatnya sebagai semacam argumentasi manfaat yang egois, yaitu suatu teori yang mengingkari gagasan jahat dari tindakan-tindakan yang pada hakekatnya jahat. Saya mulai menyadari betapa sungguh benarnya nubuat Paus, dan betapa penyelenggaraan ilahi ia dianugerahi kekuatan untuk bertahan menghadapi tekanan-tekanan hebat yang dibebankan atasnya” (Columbia). Sekarang, limabelas tahun kemudian, artikel-artikel mengenai pembuahan di luar tubuh, kehamilan pinjaman dan kloning muncul secara teratur di media masa. Orang patut bertanya, “Menuju ke manakah kita sebagai suatu masyarakat?”
Paus Paulus VI mengakhiri Humanae Vitae dengan pernyataan bahwa Gereja akan menjadi “tanda pertentangan”. Dan memang demikianlah Gereja dalam menjunjung tinggi kesakralan perkawinan dan menentang kekeliruan kontrasepsi. Ya, Gereja akan menentang budaya populer dunia. Namun demikian, kata-kata St Paulus yang dulu disampaikan kepada jemaat di Roma, hendaknya menggema di telinga kita, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: Contraceptives Show Grave Consequences” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
|