|
Tradisi Natal Katolik Irlandia
oleh: P. William P. Saunders *
Mohon diterangkan dari manakah kebiasaan menempatkan lilin-lilin bernyala di ambang jendela berasal?
~ seorang pembaca di Springfield
Menempatkan lilin-lilin bernyala di ambang jendela muncul sebagai akibat dari penganiayaan Inggris terhadap Gereja Katolik di Irlandia. Sejak masa Raja Henry II menyerbu Irlandia pada tahun 1171, penganiayaan terhadap orang-orang Irlandia telah ada. Penganiayaan ini semakin menghebat dengan bangkitnya gerakan Protestan, teritimewa di bawah Elisabet I dan Oliver Cromwell. Logikanya sederhana saja: para penakluk Inggris adalah orang-orang Protestan, sementara orang-orang Irlandia adalah Katolik; sebab itu, guna menaklukkan bangsa Irlandia secara total, Inggris harus menindas agama mereka, dan itu berarti menindas Gereja Katolik.
Penganiayaan ini diresmikan dan disahkan dalam apa yang dikenal sebagai Penal Laws. Edmund Burke, seorang filsuf politik menulis (dalam suatu surat kepada Sir Hercules Langrishe), “Segala ketetapan-ketetapan hukum (penal laws) dari kitab undang-undang penindasan yang tak ada bandingannya itu secara nyata merupakan dampak dari kebencian dan penghinaan nasional terhadap bangsa yang ditaklukkan, yang oleh sang penakluk dengan sesukanya diperlakukan semena-mena, tanpa sama sekali takut akan pembalasan. Hal itu bukan dampak dari ketakutan mereka, melainkan dari rasa aman mereka … sementara kedengkian tersebut berkuasa, dan berkuasa dengan segenap kekuasaannya untuk suatu masa waktu dalam ingatan kita, setiap ukuran adalah menyenangkan dan populer tepat dalam proporsi seperti yang dimaksudkan untuk terus-menerus menyerang dan menghancurkan sekelompok orang yang dianggap sebagai musuh-musuh Tuhan dan manusia; sungguh, sebagai kaum biadab, yang merupakan aib bagi kodrat manusia itu sendiri.”
Dengan berkuasanya William dan Mary, penal laws disempurnakan. Penal laws, yang dirancang untuk melenyapkan kekatolikan dengan cara mempersulit serta memperberat praktek iman, meliputi hal-hal sebagai berikut: segenap klerus Katolik diperintahkan untuk meninggalkan wilayah kerajaan sebelum tanggal 1 Mei 1698; jika sesudah waktu yang ditetapkan mereka masih didapati tinggal, mereka akan dijebloskan ke dalam penjara dan kemudian dibuang dalam pengasingan; dan apabila mereka kembali, kepada mereka akan dijatuhkan hukuman digantung hingga tak sadarkan diri, dikeluarkan isi perutnya hidup-hidup, dan dipenggal serta tubuhnya dipotong-potong menjadi empat bagian. Orang-orang Katolik dilarang mempraktekkan iman, ikut ambil bagian dalam Misa, menerima pendidikan, mengirimkan anaknya ke seorang guru Katolik, menyekolahkan anaknya ke sebuah sekolah Katolik di luar negeri, menjadi pegawai pemerintah, berdagang, tinggal di kota, membeli atau menyewa tanah, memberikan hak suara ataupun memiliki senjata demi melindungi diri. Hukuman atas pelanggaran ketetapan-ketetapan di atas meliputi penyitaan harta benda, denda, penjara, pengasingan, dan bahkan hukuman mati. Burke menyampaikan komentarnya dalam Tract on the Popery Code: “Tak ada satu pun hak azasi pribadi atau hak sebagai warga masyarakat yang tidak dirampas sepenuhnya atau dilanggar dengan hebat.” Bahkan Chief Justice Robinson, dalam masa pemerintahan George I memaklumkan, “Hukum tersebut tidak mengandaikan ada orang yang hidup sebagai seorang Irlandia Katolik Roma.”
Kendati penganiayaan yang keji, iman Katolik memelihara orang-orang Irlandia agar tetap kuat. Para uskup dan para iman terus melayani umat, berkeliling ke seluruh pelosok dan mempersembahkan Misa pada “batu-batu karang Misa” di lapangan-lapangan terbuka. Dengan bersembunyi di balik pagar tanam-tanaman (= hedge), yang memudahkan orang bersiaga dan melarikan diri, guru-guru sekolah terus mengajar anak-anak, bukan hanya mata pelajaran biasa, melainkan juga iman dan warisan budaya Irlandia; sebab itu mereka dijuluki “Hedge Schoolmasters”. Dengan demikian orang-orang Irlandia terus berpegang teguh pada iman dan budaya mereka.
Dengan latar belakang di atas, kita akan melihat fungsi lilin-lilin bernyala di ambang jendela. Pada masa Natal, setiap keluarga Katolik Irlandia yang saleh berharap mendapatkan kunjungan seorang imam dalam rumah mereka, agar mereka dapat menerima sakramen-sakramen dan menawarkan keramah-tamahan kepadanya. Maka mereka membiarkan pintu-pintu rumah mereka tak terkunci dan menempatkan lilin-lilin di ambang jendela sebagai isyarat bagi imam bahwa ia dinantikan kedatangannya dan bahwa ia akan aman. Terkadang, sebatang lilin akan muncul di beberapa jendela, atau tiga batang lilin dalam satu jendela, masing-masing lilin melambangkan Yesus, Maria dan Yosef.
Tentu saja penjajah Inggris menjadi curiga dan menanyakan tujuan perbuatan ini. Maka, orang-orang Katolik Irlandia yang saleh itu akan menjawab, “Pintu-pintu rumah kami tidak terkunci dan lilin-lilin bernyala di ambang jendela kami pada masa Natal, agar Santa Perawan Maria, Santo Yosef dan Bayi Yesus, yang sedang mencari tempat untuk menginap, dapat menemukan jalan ke rumah-rumah kami dan kami akan menyambut mereka dengan hati terbuka.” Tentu saja, orang-orang Inggris menganggap perbuatan yang demikian sebagai suatu bentuk takhayul dan “kekonyolan Katolik”.
Demikianlah asal-mula kebiasaan ini, yang masih terus dipelihara oleh orang-orang Irlandia. Tentu saja, kebiasaan menempatkan lilin di ambang jendela ini dibawa oleh para imigran Irlandia ke Amerika dan sejak itu menjadi begitu populer. Namun demikian, jangan pernah kita lupa akan maknanya dan latar belakang sejarahnya. Sementara kita merayakan Natal, kiranya kita juga membuka hati dan rumah kita lebar-lebar bagi Yesus, Maria dan Yosef. Kristus adalah terang kita, yang datang ke dunia untuk menghalau dosa dan kegelapan. Kita, yang telah diterangi oleh Kristus melalui Sakraman Baptis, hendaknya memiliki kesetiaan yang teguh kepada Gereja kita. Pula, kita patut menyadari bahwa karunia terbesar yang dianugerahkan Tuhan kepada kita adalah iman kita; iman yang memampukan orang-orang Irlandia menang atas penganiayaan yang paling keji.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: An Irish Catholic Tradition” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
|