|
Apakah Imam Wajib Mempersembahkan Misa Setiap Hari?
oleh: P. William P. Saunders *
Apakah seorang imam wajib mempersembahkan Misa setiap hari?
~ seorang pembaca di Alexandria
Jawaban singkat atas pertanyaan di atas adalah, “Tidak, seorang imam tidak wajib mempersembahkan Misa setiap hari.” Namun demikian, jawaban singkat yang demikian dapat membingungkan sebab seorang imam, yang ditahbiskan untuk mempersembahkan Kurban Kudus Misa, diundang untuk melakukannya setiap hari.
Kitab Hukum Kanonik (#276) dalam bab berjudul “Kewajiban-kewajiban dan Hak-hak Para Klerikus” menyatakan, “Dalam hidupnya, para klerikus berwajib mengejar kesucian atas dasar alasan istimewa, yakni karena mereka dalam menerima tahbisan dikuduskan dengan alasan baru dan menjadi pembagi-pembagi misteri-misteri Allah dalam mengabdi umat-Nya. Agar mereka mampu mengejar kesempurnaan itu… hendaknya memupuk hidup rohani mereka dengan santapan ganda, yakni Kitab Suci dan Ekaristi; maka para imam dengan sangat diajak untuk mempersembahkan Kurban Ekaristi setiap hari.”
Seorang imam biasanya memenuhi undangan ini dengan merayakan Misa secara pribadi atau berkonselebrasi bersama para imam lain bersama umat beriman yang hadir. Namun demikian, bahkan jika seorang imam sendirian saja, tanpa bantuan seorang pelayan sekalipun, ia masih dapat mempersembahkan Misa. Dalam “Surat Hari Kamis Putih” yang ditujukan kepada segenap imam Gereja pada tahun 1999, Paus Yohanes Paulus II mengajarkan, “Dalam Ekaristi, imam secara pribadi menghampiri misteri yang tak terhingga akan Kristus dan akan Doa-Nya kepada Bapa. Ia dapat membenamkan dirinya setiap hari dalam misteri penebusan dan rahmat dengan merayakan Misa Kudus, yang tetap terpelihara makna dan nilainya bahkan jika, karena suatu alasan yang benar, dipersembahkan tanpa keikutsertaan umat beriman, namun selalu diperuntukkan bagi umat beriman dan bagi seluruh dunia (#6).” Ada banyak kisah mengenai para imam yang dipenjarakan dan diasingkan dalam kamp-kamp penjara Nazi maupun Komunis, yang mendapatkan kekuatan, penghiburan dan diperbaharui identitasnya dengan mempersembahkan Misa Kudus - seorang diri, namun dalam persatuan dengan sang Juruselamat dan Gereja.
Hendaknya imam menerima undangan untuk mempersembahkan Misa Kudus setiap hari mengingat siapa dirinya. Sebagai seorang pelayan Sabda dan Sakramen, dan sebagai dia yang bertindak in persona Christi, identitas imam menjadi paling jelas nyata dalam mempersembahkan Misa, sumber dan puncak kehidupan rohani Katolik kita. Misa Kudus adalah suatu kenangan, tetapi dalam arti biblis, di mana dihadirkan kembali peristiwa itu sendiri. Sebab itu, Misa mencakup baik kenangan maupun kehadiran. Melalui Misa, orang tidak hanya mengenangkan peristiwa penyelamatan pada Perjamuan Malam Terakhir, sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, tetapi orang juga masuk ke dalam kehadiran abadi, realitas abadi dari peristiwa penyelamatan tersebut. Bagi imam, ia masuk ke dalam misteri terdalam dari imamatnya.
Ketika mempersembahkan Misa, imam berdoa dan dalam epiklesis memanggil Roh Kudus yang akan menghadirkan kembali peristiwa penyelamatan itu di atas altar. Saat itu imam mengulurkan tangannya di atas roti dan anggur seraya mengatakan, “Kuduskanlah persembahan ini dengan daya Roh-Mu agar bagi kami menjadi Tubuh dan Darah PutraMu terkasih Tuhan kami, Yesus Kristus.” Paus Yohanes Paulus II mengajarkan, “Imam sungguh bertindak in persona Christi. Apa yang telah digenapi Kristus di atas altar salib dan apa yang bahkan telah terlebih dahulu Ia tetapkan sebagai sakramen di Ruang Atas, sekarang diperbaharui imam dengan daya Roh Kudus. Pada saat ini imam seolah direngkuh oleh daya Roh Kudus, dan kata-kata yang diucapkannya memiliki daya kuasa sama seperti yang diucapkan Kristus pada Perjamuan Malam Terakhir” (Gift and Mystery, hal 77). Ketika imam mendaraskan kata-kata konsekrasi, roti dan anggur menjadi sunguh, nyata Tubuh dan Darah Kristus Sendiri; persembahan itu menghadirkan secara sakramental, dengan cara yang tak berdarah, kurban pendamaian yang berdarah yang dipersembahkan oleh-Nya di salib kepada Bapa-Nya demi keselamatan dunia.
Patut diperhatikan bahwa sebagian besar Doa Syukur Agung dipanjatkan dalam bentuk kata ganti orang pertama jamak - mohon pengampunan, memuliakan dan mengucap syukur kepada Tuhan, serta mohon berkat-Nya. Ketika imam sampai pada kata-kata konsekrasi - kata-kata Yesus Sendiri - ia mengucapkannya dalam bentuk kata ganti orang pertama tunggal, dan beralih dari bentuk kata kerja lampau (past tense) ke bentuk kata kerja sekarang (present tense). Andai imam tetap berbicara dalam bentuk past tense dan dalam bentuk dialog tak langsung, ia hanya akan sekedar mengenangkan apa yang dulu Yesus perbuat daripada apa yang sekarang Yesus perbuat. Sebab itu, Kristus adalah pelaku utama, dan imam berbicara dan bertindak dalam diri Kristus guna menghadirkan kurban-Nya dalam suatu cara yang baru.
Imam bertindak in persona Christi, dengan demikian imam adalah pelayan Sabda Allah, pelayan Sakramen-sakramen, dan pengurus misteri iman. Apabila kita merenungkan tugas kewajiban imam yang bertindak in persona Christi, kita sebagai warga Gereja akan terhenyak dalam rasa takjub penuh hormat. Namun demikian pula, seorang imam wajib gemetar.
Sebab itu, meski imam secara resmi tidak diwajibkan untuk mempersembahkan Kurban Kudus Misa setiap hari dan Hukum Kanonik hanya “mengundang” imam untuk melakukannya, imam hendaknya senantiasa rindu untuk mempersembahkan Misa, sebab dengan melakukannya ia menemukan identitasnya, tujuannya, serta kekuatannya sebagai seorang imam.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: Daily Mass and the Priestly Obligation” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2002 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
|