|
Santa Perawan dalam Kehidupan Imam
oleh: P. John A. Hardon, S.J.
Yesus Kristus menetapkan imamat pada Perjamuan Malam Terakhir, ketika Ia mengatakan kepada para rasul, “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.” Yang Ia maksudkan, tentu saja, adalah apa yang baru saja Ia Sendiri lakukan, mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah-Nya Sendiri yang hidup.
Tuhan menjadi manusia agar Ia dapat wafat bagi kita di atas Salib. Tetapi Ia juga menjadi manusia agar dapat tinggal di tengah kita dalam Ekaristi Kudus sebagai Kurban, Komuni dan Kehadiran Nyata.
Namun demikian, tidak akan ada Ekaristi tanpa Santa Perawan Maria. Allah, sebagai Allah, telah ada dalam dunia saat Ia menciptakan dunia. Ia pastilah sudah ada, jika tidak, maka dunia tidak akan ada.
Apakah yang terjadi dalam peristiwa Kabar Sukacita saat Perawan Maria mengatakan kepada malaikat, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu”? Pada saat itulah Tuhan menjadi ada dalam dunia sebagai Allah-Manusia. Andai tidak ada Maria, tidak akan ada Inkarnasi. Andai tidak ada Maria, tidak akan ada Ekaristi Kudus.
Begitu hal ini dipahami, imamat kita mendapatkan maknanya yang sebenarnya. Andai tidak ada kita, para imam, menyusuri kembali tahbisan kita ke Perjamuan Malam Terakhir, maka tidak akan ada Sakramen Ekaristi.
Sebab itu, beranilah kita menarik kesimpulan berikut: Kita, para imam, amat penting bagi kehadiran di dunia Yesus Kristus, Putra Allah, yang menjadi Putra Santa Perawan Maria. Tanpa para imam, Kurban Kalvari tidak akan diperbaharui dalam Kurban Misa; tanpa imam, umat beriman tidak akan menerima Yesus dalam Komuni Kudus; tanpa imam, Kristus yang hidup tidak akan berada di dunia sekarang sehingga kita dapat bersembah sujud dan memohon samudera rahmat yang kita butuhkan.
Semuanya ini menghantar kita pada satu kesimpulan penting: tanpa Bunda Maria, tidak akan ada imamat Katolik di dunia. Mengapa? Sebab tanpa Bunda Maria tidak akan ada Ekaristi.
Jadi, bagaimanakah seharusnya kita menanggapi hal ini? Kita menanggapinya dengan tiga cara, yaitu: devosi yang terlebih mendalam kepada Bunda Maria sebagai Bunda Imamat kita; iman yang terlebih mendalam akan kuasa-kuasa imamat kita; dan kasih yang terlebih mendalam akan Yesus Kristus, Putra Maria, yang ada di tengah-tengah kita dalam Ekaristi Kudus.
Bagaimanakah kita bertumbuh dalam devosi kepada Bunda Maria? Dengan berbicara kepadanya sesering mungkin. Bagaimanakah kita bertumbuh dalam iman akan kuasa-kuasa imamat kita? Dengan menumbuh-kembangkan iman akan Ekaristi Kudus di antara mereka yang kita layani. Tidak ada yang lebih dibutuhkan Gereja Katolik sekarang ini daripada pemahaman yang lebih teguh, lebih jelas dan lebih hidup akan Ekaristi Kudus. Bagaimanakah kita bertumbuh dalam kasih yang terlebih mendalam kepada Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus? Dengan memanfaatkan setiap kesempatan untuk berada di hadirat kehadiran Ekaristis-Nya sepanjang hari dan, perlu saya tambahkan, hingga malam hari.
DOA :
“Bunda Maria, Bunda Ekaristi Kudus dan Bunda Imamat, perolehkanlah bagi kami sesuatu dari imanmu yang mendalam kepada Putra Ilahimu. Perolehkanlah bagi kami sesuatu dari semangatmu yang berkobar dalam menjadikan Yesus, yang tinggal dalam Ekaristi, terlebih dikenal dan terlebih dikasihi dengan sungguh di segenap penjuru dunia. Amin.”
sumber : “Blessed Virgin in the Life of a Priest” by Fr. John A. Hardon, S.J.; Copyright © 1998 Inter Mirifica; www.intermirifica.org
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|