|
Upacara Pemilihan
oleh: P. William P. Saunders *
Upacara Inisiasi di Gereja Roh Kudus
Malam Paskah 2007
Beberapa minggu lalu, dipajang gambar Upacara Pemilihan di Katedral. Teks keterangan tidak menyebutkan apa itu Upacara Pemilihan atau apakah upacara ini menghantar atau merupakan bagian dari Ritus Inisiasi. Mohon penjelasan.
~ seorang pembaca di Falls Church
Ritus Inisiasi Kristiani untuk Orang Dewasa adalah program resmi katekese, praktek dasar (doa dan rohani), serta liturgi di mana orang-orang dewasa -disebut katekumen - secara resmi diterima masuk ke dalam Gereja dan menerima Sakramen-Sakramen Inisiasi - Sakramen Baptis, Sakramen Penguatan dan Sakramen Ekaristi. (Sakreman Pengakuan Dosa diterimakan kemudian sebab Baptis menghapus semua dosa - dosa asal dan dosa aktual.) “Konstitusi tentang Liturgi Suci” dari Konsili Vatikan Kedua memaklumkan, “Katekumenat bertahap untuk orang dewasa hendaklah dihidupkan lagi dan dilaksanakan menurut kebijaksanaan Uskup setempat. Dengan demikian masa katekumenat, yang dimaksudkan untuk pembinaan yang memadai, dapat disucikan dengan merayakan upacara-upacara suci secara berturut-turut” (No. 64).
Mandat ini pertama-tama menimbulkan dalam benak suatu “penghidupan kembali” akan sesuatu yang dulunya ada dalam Gereja. St Paulus dalam Surat kepada Jemaat di Galatia menyebutkan bahwa “dia, yang menerima pengajaran dalam Firman [yakni katekumen], membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” (6:6), dengan demikian menyatakan adanya suatu persiapan resmi untuk masuk ke dalam Gereja. St Yustinus Martir (wafat ± 165) dalam Apologiæ yang pertama menulis mengenai katekumenat: “Mereka yang yakin dan percaya akan kebenaran ajaran-ajaran kita dan menyatakan akan berusaha mengamalkannya; kepada mereka diajarkan untuk memohon, dengan berdoa, pengampunan atas dosa-dosa mereka; kami juga berdoa dan berpuasa bersama mereka. Kemudian mereka kami hantar ke suatu tempat di mana terdapat air, dan mereka dilahirkan kembali dengan cara yang sama seperti kami telah dilahirkan kembali.” Tertulianus (wafat ± 220) menciptakan istilah “katekumen” dan mengecam orang-orang kafir karena tidak membedakan para katekumen ini dari “umat beriman”. Patut diingat bahwa pada masa ini, Gereja berada di bawah penganiayaan Kekaisaran Romawi dan diserang oleh berbagai macam bidaah; sebab itu Gereja menghendaki suatu periode pengajaran yang sungguh resmi dan seksama demi mencegah penyusupan baik dari pihak penganiaya maupun pihak bidaah.
Para katekumen sendiri dibedakan antara para simpatisan (audientes) yaitu mereka yang baru mulai tertarik pada iman, dan para katekumen sesungguhnya yang telah membuat komitmen awal untuk mendapatkan iman. Katekumenat terdiri dari beberapa tahap, masing-masing dengan pengajaran katekese, praktek dasar dan liturgi, dan biasanya berlangsung selama tiga tahun. Sepanjang masa ini, para katekumen dapat ikut ambil bagian dalam Misa hingga Liturgi Sabda, tetapi tidak diperkenankan ikut ambil bagian dalam Liturgi Ekaristi. Pada akhir masa ini, dilakukan penyelidikan terhadap para katekumen, bukan terutama mengenai pengetahuan, melainkan untuk memeriksa apakah mereka mengamalkan iman dengan saleh dan memiliki keyakinan iman yang tulus. Jika hasil penyelidikan baik, katekumen menjadi calon baptis, menerima pengajaran lebih lanjut, dan dibaptis pada Misa Malam Paskah.
Setelah disahkannya kekristenan pada tahun 313, katekumenat mulai tidak lagi diterapkan karena berbagai alasan. Ancaman penganiayaan telah jauh berkurang. Baptis bayi menjadi norma dengan menyusutnya baptis dewasa. Pertobatan para penyerang barbar menjauhkan periode pengajaran yang panjang; sesungguhnya, Paus Gregorius Agung (wafat 604) memandatkan hanya 40 hari masa persiapan bagi orang-orang ini. Pada Abad Pertengahan, tidak ada lagi katekumenat, hanya ada sisa-sisanya saja dalam ritus Pembaptisan dan penerimaan resmi ke dalam Gereja.
Dengan sejarah seperti dijelaskan secara singkat di atas, Konsili Vatikan Kedua melihat perlunya menghidupkan kembali katekumenat resmi untuk orang dewasa. Pada tahun 1972, Kongregasi untuk Ibadat Ilahi menerbitkan suatu ritus baru dengan sepersetujuan Paus Paulus VI. Sama seperti di masa Gereja Perdana, Ritus Inisiasi Kristiani untuk Orang Dewasa adalah suatu proses bertahap yang melibatkan seluruh komunitas umat beriman. Tidak saja Ritus Inisiasi ini mempersiapkan individu-individu untuk masuk ke dalam Gereja, melainkan juga memungkinkan para anggota Gereja untuk memperbaharui iman mereka.
Sepanjang masa program Ritus Inisiasi ini, orang mengikuti “langkah-langkah” suatu perjalanan rohani yang dilakukan melalui periode-periode yang ditetapkan, yang ditandai dengan ritus-ritus resmi. Periode pertama adalah Pre-Katekumenat, ketika calon tertarik akan iman dan menerima pewartaan. Diharapkan calon, dengan pertolongan rahmat Tuhan, sampai pada pertobatan awal dan masuk ke dalam iman. Periode ini diakhiri dengan Upacara Pelantikan Katekumen, ketika para calon memaklumkan di hadapan umum niat mereka untuk masuk ke dalam Gereja.
Upacara Pelantikan Katekumen kemudian menjadi awal dari Periode Katekumenat, masa di mana para katekumen menerima pengajaran katekese, praktek dasar dan liturgi. Katekese adalah yang terpenting, “Katekese ini menghantar para katekumen bukan hanya kepada suatu pengenalan yang pantas akan dogma-dogma dan ajaran-ajaran Gereja, melainkan juga kepada kepekaan mendalam akan misteri keselamatan di mana mereka rindu untuk ikut ambil bagian di dalamnya” (Ritus Inisiasi Kristiani untuk Orang Dewasa, No. 75). Sepanjang masa ini, para katekumen hendaknya mengalami pertobatan dalam pikiran dan tindakan, memahami ajaran-ajaran iman dan memiliki semangat belas kasih. Para penjamin beserta komunitas paroki membantu para katekumen dengan dukungan dan teladan hidup mereka. Dalam Misa Hari Minggu, para katekumen menerima secara khusus doa pembebasan, berkat dan pengurapan sesudah homili; tetapi, sesudah Liturgi Sabda, mereka meninggalkan Gereja. Katekumenat dapat diperpanjang untuk suatu masa waktu yang lebih lama, bahkan dalam hitungan tahun jika perlu.
Upacara Pemilihan mengakhiri Periode Katekumenat. Ritus ini biasanya bertepatan dengan Hari Minggu Prapaskah Pertama. Dalam ritus ini, atas dasar kesaksian para penjamin dan katekis, serta penegasan para katekumen akan niat mereka untuk masuk ke dalam Gereja, Gereja mengadakan “pemilihan” atas para katekumen ini untuk menerima Sakramen-Sakramen Inisiasi. Di hadapan Uskup (atau delegasinya), mereka mencatatkan nama mereka dalam Buku Para Pilihan di katedral sebagai tanda ikrar setia. Sekarang para katekumen disebut “Para Pilihan” atau “Illuminandi” (“mereka yang akan diterangi”). Mereka sekarang memulai suatu Periode Pemurnian dan Penerangan - persiapan akhir yang intensif untuk penerimaan Sakramen-Sakramen Inisiasi. Pada lima Hari Minggu Prapaskah berikutnya, diadakan tiga pemeriksaan (Upacara pengenalan diri dan Tobat) dan Upacara Penyerahan Syahadat dan Doa Bapa Kami. Periode ini diakhiri dengan perayaan Sakramen-Sakramen Inisiasi pada Malam Paskah.
Setelah Malam Paskah, para baptisan baru (secara teknis disebut neophytes) memasuki Periode Pembekalan Sesudah Baptis atau Mistagogi. Para neophytes bertumbuh dalam pemahaman akan misteri-misteri iman serta memperkuat ikatan persaudaraan mereka dengan segenap umat beriman. Mereka hendaknya masuk secara lebih penuh ke dalam hidup dan persatuan Gereja. Periode ini pada umumnya berakhir sekitar Hari Raya Pentakosta.
Ritus Inisiasi Kristiani untuk Orang Dewasa merupakan suatu proses gerakan rohani yang bermanfaat bagi seluruh komunitas paroki. Sementara kita menyongsong perayaan Paskah, marilah kita berdoa secara khusus bagi para pilihan yang akan masuk ke dalam persekutuan Gereja Katolik yang kudus pada Hari Raya Paskah ini.
* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Rite of Election” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1998 Arlington Catholic Herald, Inc. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
|