|
Kurban Kudus Misa
oleh: P. William P. Saunders *
Seorang teman dari suatu denominasi Protestan bertanya tentang Perayaan Misa. Ia mengutip suatu ayat dari Ibrani yang seolah-olah mengatakan bahwa Misa tidaklah mungkin merupakan suatu kurban. Dapatkah anda menolong?
~ seorang pembaca di Leesburg
Kutipan ayat yang dimaksud kemungkinan berasal dari bab 9 Surat kepada orang Ibrani yang membahas tentang kurban Yesus. Dalam ayat 25-28 kita membaca, “Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya. Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” Kemungkinan juga, teman itu mengutip ayat Ibrani 7:27, “tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.” Memisahkan ayat-ayat di atas dari keseluruhan konteks Kitab Suci dan mengambilnya begitu saja tanpa memeriksanya lebih lanjut akan membuat orang menarik kesimpulan bahwa tidak mungkin ada kurban lagi - Kristus mengurbankan Diri-Nya, hal itu telah terlaksana dan selesai, titik. Pandangan demikian merupakan pandangan yang sempit.
Perlu dicamkan bahwa tidak mungkin kita sebagai orang Katolik percaya bahwa Kristus terus-menerus disalibkan secara fisik ataupun wafat secara fisik di surga berulang-ulang kali. Tetapi, kita percaya teguh bahwa Misa Kudus sungguh ikut ambil bagian dalam kurban Kristus yang abadi. Pertama-tama, orang tidak dapat memisahkan kurban Kristus di salib dari peristiwa-peristiwa yang terjadi seputarnya. Kurban Kristus berhubungan erat secara tak terpisahkan dengan Perjamuan Terakhir. Mengutip Injil St. Matius (26:26-28), “Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: `Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.' Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: `Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.'” Keesokan harinya, pada hari Jumat Agung, Tubuh Kristus tergantung di altar salib dan Darah-Nya yang Mahasuci dicurahkan untuk menghapus dosa-dosa kita dan memeteraikan perjanjian yang sempurna, yang abadi. Hidup ilahi Kristus yang diserahkan dan dikurbankan demi keselamatan kita dalam kurban Jumat Agung sama dengan yang diserahkan dan dikurbankan pada Perjamuan Terakhir. Perjamuan Terakhir, kurban Jumat Agung, dan kebangkitan pada hari raya Paskah membentuk satu peristiwa penyelamatan.
Kedua, orang harus memperluas pemahamannya akan waktu. Orang harus membedakan waktu kronologis dengan waktu kairotic seperti dimaksud dalam Kitab Suci. Dalam Kitab Suci, chronos menunjuk pada waktu kronologis - dulu, sekarang dan yang akan datang - perbuatan-perbuatan tertentu yang memiliki titik akhir. Kairos atau waktu kairotic menunjuk pada waktu Allah yang abadi, waktu pada saat ini yang mencakup keseluruhan masa lalu sekaligus mencakup keseluruhan masa yang akan datang. Oleh sebab itu, sementara peristiwa penyelamatan oleh Kristus itu menurut waktu kronologis terjadi sekitar tahun 33, secara waktu kairotic peristiwa tersebut merupakan suatu realita yang abadi yang menyentuh kehidupan kita di sini dan saat ini. Dengan cara pandang yang sama, itu pula sebabnya mengapa melalui Pembaptisan kita, yang hidup pada masa ini, ikut ambil bagian dalam misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, suatu peristiwa yang secara kronologis terjadi hampir 2000 tahun yang lalu, tetapi masih memberikan pengaruh yang besar terhadap kita sekarang.
Dengan dasar pemikiran di atas, kita juga ingat akan apa yang diperintahkan Kristus kepada kita, seperti dicatat dalam Injil St. Lukas (22:14 dst) dan dalam surat St. Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus (11:23 dst), “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Jelas sekali bahwa Kristus menghendaki umat beriman untuk mengulangi, untuk ikut ambil bagian dan untuk berpartisipasi dalam misteri sakramental ini. Peristiwa Perjamuan Terakhir, yang berhubungan erat secara tak terpisahkan dengan peristiwa Jumat Agung (dan kebangkitan) diabadikan dalam Misa Kudus untuk sepanjang masa.
Oleh karenanya, Misa merupakan suatu kenangan. Dalam setiap Doa Syukur Agung, anamnesis diserukan sesudah kata-kata konsekrasi, di mana kita diajak untuk mengenangkan sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus. Namun demikian, kenangan ini bukan hanya sekedar ingatan akan sejarah masa lalu yang terjadi menurut waktu kronologis, melainkan lebih merupakan suatu pernyataan liturgi akan kenangan yang hidup, akan suatu peristiwa yang terus-menerus hidup serta menyentuh kehidupan kita sekarang menurut waktu kairotic. Sama seperti kaum Yahudi orthodox yang saleh menghidupkan peristiwa Paskah dalam perayaan liturgi Paskah, membawa diri mereka masuk ke dalam suatu peristiwa yang terjadi sekitar 1200 tahun sebelum Kristus, demikian juga kita menghidupkan peristiwa penyelamatan oleh Kristus dalam perayaan Misa. Kurban yang dipersembahkan Kristus demi keselamatan kita tetap merupakan suatu realita yang abadi: “Setiap kali di altar dirayakan korban salib, tempat `Anak Domba paska kita, yakni Kristus, telah dikorbankan” (1Kor 5:7), dilaksanakanlah karya penebusan kita.” (Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, no. 3). Karenanya Katekismus menegaskan, “Jadi, Ekaristi adalah satu kurban, karena ia meragakan kurban salib (dan karena itu menghadirkannya), Ekaristi adalah kenangan akan kurban itu dan memberikan buah-buahnya” (no. 1366).
Sebab itu, kurban Kristus di salib dan kurban Misa dipersatukan secara tak terpisahkan sebagai satu kurban tunggal: Konsili Trente dalam menanggapi keberatan kaum Protestan menyatakan, “karena bahan persembahan adalah satu dan sama; yang sama, yang dulu mengurbankan diri di salib, sekarang membawakan kurban oleh pelayanan imam; hanya cara berkurban yang berbeda,” dan “Dalam kurban ilahi ini, yang dilaksanakan di dalam misa, Kristus yang sama itu hadir dan dikurbankan secara tidak berdarah… yang mengurbankan diri sendiri di kayu salib secara berdarah satu kali untuk selama-lamanya.” Oleh sebab itu, sama seperti Kristus menghapus dosa-dosa kita dengan darah-Nya di altar salib, Kurban Misa juga sungguh mendamaikan kita dengan Allah. Tuhan menganugerahkan rahmat dan karunia pertobatan, Ia mengampuni kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa. (Konsili Trente, Ajaran tentang Kurban Misa Mahakudus).
Lagipula, Misa Kudus juga melibatkan kurban seluruh Gereja. Bersama-sama kita mempersembahkan doa-doa, pujian, ucapan syukur, karya dan penderitaan-penderitaan kita kepada Tuhan dan karenanya mempersatukan persembahan kita dengan persembahan-Nya. Seluruh Gereja dipersatukan dengan persembahan Kristus: itu sebabnya mengapa dalam Doa Syukur Agung kita mengingat Bapa Suci, Vikaris Kristus; Bapa Uskup, gembala keuskupan setempat; para rohaniwan yang melayani sebagai “persona Christi” bagi umat beriman; serta sekalian umat beriman yang hidup pada masa sekarang, yang telah meninggal dunia, serta para kudus di surga.
Konstitusi tentang Liturgi Suci Konsili Vatikan II meringkasnya dengan sangat baik: “Pada perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan kurban Ekaristi tubuh dan darah-Nya. Dengan demikian Ia mengabadikan kurban salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja, mempelai-Nya yang terkasih, kenangan wafat dan kebangkitan-Nya: Sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paska. Dalam perjamuan itu Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang.” (no. 47). Sementara kita meneruskan warisan perayaan Ekaristi Kudus, patutlah kiranya kita mengucap syukur kepada Tuhan atas karunia Misa dan Ekaristi Kudus yang indah dan amat berharga ini.
* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College and pastor of Queen of Apostles Parish, both in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: The Sacrifice of the Mass” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2000 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
|