|
Tiara Kepausan
oleh: P. William P. Saunders *
Ketika mengunjungi Basilika Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, saya melihat mahkota kepausan Bapa Suci Paulus VI. Apakah para paus masih mengenakan mahkota? Saya tidak ingat pernah melihat Paus Yohanes Paulus II mengenakannya.
~ seorang pembaca di Leesburg
Mahkota kepausan, atau tiara, seturut tradisi dikenakan oleh para paus dari abad-abad lampau hingga masa pontifikat Paus Yohanes Paulus I. Seperti banyak benda upacara lainnya, tiara kepausan mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Oleh karena paus adalah Uskup Roma, penerus St Petrus, ia mengenakan sebuah mitra untuk upacara-upacara liturgi; beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa kebiasaan ini berasal dari masa apostolik. Tetapi, karena paus adalah juga gembala Gereja universal, semacam hiasan kepala dirancang untuk dikenakannya pada upacara-upacara besar di luar liturgi, dengan tujuan menegaskan wibawanya.
Tiara kepausan pertama kali disebut dalam catatan riwayat hidup Paus Constantin (708-715) dalam Liber Pontificalis. Di sini disebut sebagai `camelaucum', yang merupakan bagian dari busana istana Byzantine. Pada waktu itu, tiara dirancang lebih menyerupai sebuah “topi kepausan” terbuat dari kain putih. Paus St Gregorius Agung (wafat thn 604) digambarkan dalam karya seni mengenakan topi yang demikian.
Segera sesudah abad ke-9, suatu pita berhias (atau serban) ditambahkan pada bagian bawah topi. Apakah pita ini dimaksudkan sebagai hiasan atau melambangkan suatu mahkota hingga kini tak diketahui secara pasti. Karena paus tidak hanya mengemban wewenang spiritual atas Gereja semesta, melainkan juga wewenang duniawi atas negara kepausan, suatu mahkota dianggap pantas baginya. Koin bergambar Paus Sergius III (904-911) dan koin bergambar Paus Benediktus VII (974-983) melukiskan para paus tersebut mengenakan topi serupa helm berhiaskan pita.
Penggunaan pertama kata `tiara' yang sesungguhnya didapati dalam riwayat hidup Paus Paschal II (1099-1118) dalam Liber Pontificalis. Sekitar pertengahan tahun 1200-an, pita berhias pada tiara menjadi suatu mahkota yang penuh hiasan. Juga, di bagian belakangnya ditambahkan dua caudae (dua pita yang tergantung di belakang, serupa pita yang tergantung pada mitra uskup). Sebagian beranggapan bahwa pita ini berasal dari pita peluh yang biasa dikenakan seorang atlit Yunani, yang dibalutkan sekeliling kepala dan diikatkan di belakang kepala dalam suatu simpul dan kedua ujungnya tergantung ke bawah. Karena atlit pemenang dimahkotai dengan mahkota kemenangan, keseluruhan tiara kepausan segera dipandang sebagai lambang kemenangan. Dengan demikian, pita-pita tersebut memiliki arti simbolik yang muncul dari analogi St Paulus, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran …” (2 Tim 4:7-8).
Paus Bonifasius VIII (1294-1303), yang berusaha menekankan kembali wewenang kepausan atas penguasa-penguasa duniawi yang muncul, menambahkan mahkota kedua guna menekankan yurisdiksi rohani maupun duniawinya. Beberapa waktu sesudah masa pontifikat Paus Bonifasius VIII dan sebelum wafatnya Paus Benediktus XII (1334-1342), mahkota yang ketiga ditambahkan. Terutama selama masa Renaissance, tiara menjadi lebih dan lebih lagi diperindah dan dihiasi batu-batu intan permata.
Beberapa pemikiran muncul mengenai tiara kepausan yang tersusun dari tiga mahkota, dan karenanya disebut triregno. Pertama, mahkota-mahkota tersebut melambangkan jabatan universal paus, wewenang yurisdiksinya atas Gereja semesta dan wewenang duniawinya. Kedua, ketiga mahkota tersebut melambangkan wewenang paus atas Gereja Pejuang di dunia, Gereja Menderita di api penyucian dan Gereja Jaya di surga. Pemikiran lain, yang paling dominan sekarang, adalah bahwa paus merupakan Vicar Kristus, yang ambil bagian dalam tiga jabatan Kristus, yaitu sebagai Imam, Nabi dan Raja; dengan demikian paus ambil bagian dalam karya-Nya untuk menguduskan, mengajar dan memimpin umat dalam iman.
Hingga saat ini, tiara kepausan masih boleh dikenakan. Paus Paulus VI, paus terakhir yang mengenakan tiara kepausan, menerbitkan konstitusi apostolik “Romano Pontifici Eligendo” (1975) yang menyempurnakan ketentuan-ketentuan mengenai pemilihan seorang paus baru. Menurut peraturan-peraturan tersebut, setelah seorang paus baru terpilih, akan dilakukan suatu upacara “pemahkotaan”: “Akhirnya, paus yang baru akan dimahkotai oleh Kardinal Diakon yang senior” (No 92). Sesudahnya, “dalam tenggang waktu yang pantas, ia juga akan mengambil alih, dengan cara seperti yang telah ditetapkan, Patriarkal Basilika Agung Lateran.”
Namun demikian, Paus Yohanes Paulus I (1978) menolak mengenakan tiara, demikian juga penerusnya, Paus Yohanes Paulus II (1978-2005). Sebaliknya, pada awal “penobatan yang khidmad” pallium dikenakan pada bahu mereka. Pallium adalah kain putih yang terbuat dari bulu domba, dihiasi dengan enam salib hitam, dikenakan sekeliling leher seperti kolar, di atas kasula, dengan dua bagian yang tergantung: satu tergantung di depan dan satu tergantung di belakang. Pada awal kekristenan, Gereja menggunakan pallium, memandangnya sebagai lambang iman kepada Kristus. Bapa Suci, para Uskup Agung Metropolit dan Patriark Yerusalem mengenakan pallium sebagai lambang pelayanan dan wewenang mereka.
Pada tahun 1996, ketika Paus Yohanes Paulus II merevisi kembali ketentuan-ketentuan mengenai pemilihan sorang paus baru, ia mengubah tata bahasanya: “Setelah upacara khidmad penobatan paus dan dalam tenggang waktu yang pantas, paus akan mengambil alih Patriarkal Basilika Agung Lateran menurut upacara yang ditetapkan” (“Universi Dominici Gregis” No 92). Tiara kepausan tidak dihapuskan secara resmi, tetapi mungkin masanya telah lewat.
Apapun yang dikenakan untuk melambangkan jabatan Bapa Suci, yang terpenting adalah bahwa ia melambangkan pelayanan dan ketaatan Vicar Kristus kepada Kristus dan kepada Gereja. Paus Yohanes Paulus II berdoa pada saat penobatannya, “Ya Kristus, perkenankan aku menjadi dan tetap menjadi hamba dari kuasa-Mu yang Esa, hamba dari kuasa-Mu yang manis, hamba dari kuasa-Mu yang tak mengenal senja. Jadikanlah aku seorang hamba. Sungguh, hamba dari para hamba-Mu.” Jadi, entah tiara ataupun pallium, tidak dibuat untuk memantas orang, melainkan oranglah yang harus berjuang agar pantas mengenakannya.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Christendom's Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Papal Tiara” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2005 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
|