|
Logam Mulia dan Komuni Kudus
oleh: P. William P. Saunders *
Di paroki saya, kami mulai membagikan Anggur pada saat Komuni bersama dengan Hosti. Namun demikian, kami mempergunakan cawan-cawan kaca untuk anggur. Saya selalu beranggapan bahwa bejana-bejana yang dipergunakan untuk Komuni harus dibuat dari emas atau perak. Apakah peraturan mengenai hal ini telah berubah?
~ seorang pembaca Arlington Catholic Herald
Sebelum membahas pokok persoalan, suatu penjelasan perlu ditekankan dengan tegas di sini. Seorang uskup dapat memberikan kepada paroki-paroki dalam keuskupannya hak istimewa untuk membagikan Komuni Kudus dalam dua rupa, artinya bahwa seorang dapat menyambut baik Hosti Kudus maupun Darah Mahasuci. Tidak pernah kita menganggap elemen-elemen sakral ini sebagai sekedar “roti” atau “anggur”, seolah orang hanya menerima suatu simbol belaka, atau menerima sekedar roti dan anggur yang diberkati.
Bapa Suci Yohanes Paulus II sekali lagi menekankan pokok fundamental dari iman Katolik kita ini mengenai Ekaristi Kudus dalam ensiklik Ecclesia de Eucharistia, “Gereja telah menyambut Ekaristi dari Tuhan-nya, Kristus, bukan hanya sebagai salah satu dari banyak pemberian, betapa pun berharganya, melainkan sebagai pemberian unggulan, sebab merupakan penyerahan Diri, Pribadi-Nya Sendiri dari kemanusiaan-Nya yang suci, di samping sebagai hadiah karya penyelamatan-Nya. Pemberian ini tidak tergolong masa lalu, justru karena `segenap adanya Kristus - apa yang diperbuat dan diderita-Nya demi penyelamatan semua orang - ambil bagian dalam keabadian ilahi, dan karena itu mengatasi segala waktu'” (No. 11). Sungguh, pada saat kata-kata konsekrasi didaraskan oleh imam dalam suatu perayaan Misa, maka roti dan anggur menjadi - ditransubstansiasikan menjadi - Tubuh, Darah, Jiwa dan Ke-Allah-an Juruselamat kita.
Dengan pemahaman yang jelas akan apa itu Ekaristi Kudus, kita dapat dengan lebih baik memahami peraturan-peraturan Gereja mengenai bejana-bejana suci, baik itu piala, patena atau siborium. (Peraturan-peraturan ini juga menyangkut monstrans.) Pedoman Umum Misale Romawi (Institutio Generalis Missalis Romani) menetapkan, “Bejana-bejana kudus hendaknya dibuat dari logam mulia. Kalau bejana itu dibuat dari logam yang dapat berkarat, atau yang lebih rendah dari emas, hendaklah bagian dalamnya dilapis emas” (No 328). (Perlu dicatat bahwa “Atas keputusan Konferensi Uskup, yang harus lebih dulu diketahui oleh Takhta Apostolik, bejana-bejana kudus dapat juga dibuat dari bahan lain yang kuat dan yang menurut anggapan umum setempat merupakan bahan bermutu” (No. 329)).
Ketentuan ini mewakili tradisi yang telah lama berlangsung bahwa piala, patena ataupun siborium dibuat dari emas, logam yang disepuh emas atau perak, dengan catatan bagian dalam piala atau siborium, atau bagian atas patena, disepuh emas. Sebagai contoh, pada abad ke-10, Corpus Iuris menetapkan “bahwa piala Tuhan, bersama dengan patena, jika tidak dibuat dari emas, haruslah seluruhnya dibuat dari perak. Tetapi, jika, orang teramat miskin, biarlah ia setidak-tidaknya memiliki piala dari timah. Piala tidak boleh dibuat dari kuningan atau tembaga, sebab kedua logam itu dapat berkarat yang dapat menyebabkan sakit. Dan janganlah seorang pun beranggapan bahwa ia dapat mempersembahkan Misa dengan piala dari kayu atau dari kaca.” Bahkan jauh sebelum itu, St Agustinus (wafat thn 430) dan St Yohanes Krisostomus (wafat thn 407) juga mempergunakan bejana-bejana dari emas dan perak.
Kita patut ingat bahwa pada masa Gereja perdana, kaca dipergunakan untuk bejana-bejana suci; pada masa itu kaca merupakan bahan yang mahal harganya. Tetapi, kaca kemudian tidak dipergunakan lagi karena kaca mudah pecah, dan karena emas atau perak dianggap sebagai yang paling berharga. Point yang terpenting adalah ini: kita mempersembahkan yang terbaik yang dapat kita persembahkan bagi anugerah yang mahaunggul, yaitu Kristus Sendiri.
Baru-baru ini Redemptionis Sacramentum yang diterbitkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen menegaskan point-point di atas, dengan menggarisbawahi alasannya, “... sehingga dengan pemanfaatannya Tuhan dihormati dan dihindarkan bahaya merosotnya di mata orang beriman ajaran tentang kehadiran yang sungguh-sungguh dari Kristus dalam rupa Ekaristis” (No. 117). Gagasan di sini adalah bahwa bejana-bejana suci yang dibuat dari logam mulia membangkitkan dalam benak mereka yang memandangnya kesan akan betapa mulia yang ditampungnya, sementara bejana-bejana yang dibuat dari bahan umum yang biasa membangkitkan kesan umum dan biasa akan apa yang ditampungnya. Demikian pula, bejana-bejana yang diukir indah dan penggunaannya dikhususkan bagi Sakramen Mahakudus membangkitkan kesan sakral, sementara bejana-bejana yang umum dan biasa, tidak.
Secara khusus, Kongregasi memaklumkan, “Karena itu tidak disetujui penggunaan - dalam perayaan Misa - bejana-bejana biasa atau bejana yang tidak bermutu atau tidak mempunyai nilai estetis apa pun atau yang berupa hanya penampung, dan juga bejana-bejana yang dibuat dari kaca, tanah liat atau bahan lain yang mudah pecah” (No. 117). Entah orang menggunakan cawan kaca Libby yang dibeli di Giant terdekat ataupun cawan kristal Waterford yang dibeli di Hecht's, tapi bahan pecah-belah yang demikian tidak boleh dipergunakan untuk membagikan Darah Mahasuci.
Hanya karena sekedar ingin tahu, saya bertanya kepada seorang rabi Orthodox dan kepada seorang teman Katolik yang dulunya penganut Orthodox Yahudi, cawan apakah yang biasa dipergunakan dalam perayaan Paskah mereka dan dibuat dari bahan apakah. Kenyataan bahwa Perjamuan Malam Terakhir, Misa yang pertama, dilakukan dalam konteks perayaan Paskah membangkitkan keingintahuan saya ini. Kedua teman tersebut menjawab bahwa suatu cawan khusus dipergunakan untuk perayaan Paskah (dan seringkali untuk ritual Sabat setiap minggu). Cawan ini disebut “cawan terberkati” atau kiddush. Sebagian besar keluarga-keluarga, bahkan kembali ke masa Tuhan kita, memiliki suatu cawan khusus yang dibuat dari logam mulia dengan hiasan-hiasan khusus guna membedakan penggunaannya dan kesakralannya dari bejana-bejana biasa. Walau kita tidak tahu secara pasti, Kristus Sendiri kemungkinan besar mempergunakan cawan yang dibuat dari logam mulia.
Point utamanya adalah kita mempergunakan yang terbaik untuk anugerah yang paling berharga, yaitu Kristus Sendiri dalam Sakramen Mahakudus.
* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.
sumber : “Straight Answers: Precious Metals and Holy Communion” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2004 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”
|