|
Katekese tentang Setan
dikutip dari: Beato Paus Yohanes Paulus II, Audiensi Umum, 13 Agustus 1986
Setan bermaksud membinasakan hidup yang diamalkan seturut kebenaran, hidup dalam kepenuhan kebaikan, hidup adikodrati rahmat dan kasih....
Sebagai akibat dari dosa leluhur pertama kita, malaikat jahat ini telah memperoleh kuasa atas manusia hingga ke tingkat tertentu. Inilah doktrin yang terus-menerus diakui dan dimaklumkan oleh Gereja, dan yang oleh Konsili Trente dipertegas dalam risalahnya mengenai dosa asal (bdk. DS, 1511).
Dalam Kitab Suci kita temukan berbagai indikasi akan pengaruh ini pada manusia dan pada disposisi batinnya. Dalam Kitab Suci, setan disebut `penguasa dunia ini' (bdk. Yoh. 12:31; 14:30; 16:11) dan bahkan `ilah zaman ini,' ( 2 Kor. 4:4)....
Menurut Kitab Suci, teristimewa Perjanjian Baru, kuasa dan pengaruh setan dan roh-roh jahat lainnya melingkupi segenap dunia ini.... Tindakan setan meliputi terutama dalam mencobai manusia untuk melakukan yang jahat, dengan mempengaruhi imajinasi dan keunggulannya, untuk memalingkan mereka dari hukum Allah.... Hal itu mungkin terjadi hingga dalam kasus-kasus tertentu roh jahat bertindak jauh seperti mengaktifkan pengaruhnya tidak hanya pada barang-barang materiil, tetapi bahkan pada tubuh manusia, sehingga orang dapat berbicara tentang 'kerasukan setan' (bdk. Mrk. 5:2-9). Tidaklah selalu mudah untuk membedakan faktor preternatural [= di luar batas normal] yang bekerja dalam kasus-kasus ini, dan Gereja tidak mudah mendukung kecenderungan untuk menganggap banyak hal sebagai tindakan langsung dari setan; tetapi pada prinsipnya tak dapat disangkal bahwa setan dapat melakukan manifestasi ekstrim ini dari hasrat dahsyatnya untuk mencelakai dan menghantar orang pada kejahatan.
Akhirnya, kita harus menambahkan bahwa kata-kata mengesankan dari Rasul Yohanes: "Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat" (1 Yohanes 5:19)- mengindikasikan juga kehadiran setan dalam sejarah umat manusia, suatu kehadiran yang menjadi terlebih parah ketika orang dan masyarakat meninggalkan Allah.
"Kejatuhan" ini yang memiliki karakter penolakan terhadap Allah, dengan konsekuensi status "kebinasaan", terkandung dalam pilihan bebas roh-roh ciptan itu yang secara radikal dan tak terbatalkan menolak Allah dan kerajaan-Nya, berupaya merebut kemahakuasaan-Nya dan mengacaukan tata keselamatan dan tata seluruh alam semesta. Kita temukan suatu cerminan dari sikap ini dalam perkataan yang ditujukan oleh si penggoda kepada leluhur pertama kita: "kamu akan menjadi seperti Allah," atau "seperti dewa" (bdk. Kejadian 3:5).
Demikianlah, roh jahat berusaha menanamkan ke dalam manusia sikap bersaing, tidak taat dan melawan Allah, yang merupakan motivasi dari segala keberadaannya....
Ketika, dengan suatu tindakan yang berasal dari kehendak bebasnya sendiri, ia menolak kebenaran yang ia ketahui mengenai Allah, setan menjadi "pendusta dan bapa segala dusta" (Yohanes 8:44) alam semesta. Karena alasan inilah, ia hidup dalam penyangkalan yang radikal dan tak terbatalkan akan Allah, dan berupaya menimpakan pada ciptaan - pada makhluk-makhluk lain yang diciptakan seturut citra Allah, dan teristimewa pada manusia - kisah tragisnya sendiri "berdusta mengenai yang baik' yang adalah Allah. Dalam Kitab Kejadian kita dapati suatu gambaran yang tepat dari dusta ini dan pemutarbalikan dari kebenaran mengenai Allah, yang oleh setan (dalam rupa seekor ular) coba disampaikan kepada wakil-wakil pertama bangsa manusia: Allah cemburu akan hak istimewa-Nya Sendiri dan karena itu hendak menetapkan batasan-batasan pada manusia (bdk. Kejadian 3:5). Setan mengundang manusia untuk membebaskan dirinya dari beban kuk ini dengan membuat dirinya "seperti Allah".
Dalam kondisi dusta eksistensial ini, setan - menurut St Yohanes - juga menjadi seorang "pembunuh," yakni, dia yang membinasakan hidup adikodrati yang telah Allah tanamkan dari sejak semula dalam dirinya dan dalam makhluk-makhluk yang diciptakan "menurut gambar Allah": roh-roh murni lainnya dan manusia; pengaruh roh jahat dapat menyembunyikan dirinya dalam suatu cara yang lebih dahsyat dan efektif: dalam minatnya untuk menjadikan dirinya "tak dikenal". Setan memiliki kecakapan di dunia untuk membujuk manusia menyangkal keberadaan setan atas nama rasionalisme dan segala sistem pemikiran lain yang mencari segala sarana yang mungkin demi menghindari aktivitasnya dikenal. Bagaimanapun, ini tidak berarti dihapuskannya kehendak bebas dan tanggung jawab manusia, dan terlebih lagi menjadi frustasi akan karya penyelamatan oleh Kristus....
Umat Kristiani, memohon kepada Bapa dan Roh Yesus dan kerajaan-Nya, berseru dengan kuasa iman: Janganlah biarkan kami jatuh dalam pencobaan, bebaskanlah kami dari yang jahat, dari si jahat, ya Tuhan; janganlah biarkan kami jatuh ke dalam ketidaksetiaan dengan mana kami dibujuk-rayu oleh dia yang telah tidak setia dari sejak semula (Paus Yohanes Paulus II, L'Osservatore Romano, 20 Agustus 1986).
Ensiklik Dominum et Vivificantem [= Tuhan, Pemberi Hidup] yang diterbitkan pada tanggal 18 Mei 1986 memuat suatu bagian panjang yang berbicara tentang setan:
"Sebab kendati semua kesaksian dari ciptaan dan rencana keselamatan yang melekat di dalamnya, roh kegelapan ( Efesus 6:12; Lukas 22:53) mampu memperlihatkan Allah sebagai seorang musuh dari ciptaan-Nya Sendiri, dan pada tempat yang pertama sebagai musuh manusia, sebagai suatu sumber bahaya dan ancaman bagi manusia. Dengan cara ini setan berhasil menaburkan di dalam jiwa manusia benih pertentangan pada seseorang yang 'sejak dari permulaan' dianggap sebagai musuh manusia - dan bukan sebagai Bapa. Manusia ditantang untuk menjadi lawan Allah.
"Analisa mengenai dosa dalam dimensinya yang asli menunjukkan bahwa melalui pengaruh 'bapa kebohongan', sepanjang sejarah umat manusia akan ada tekanan yang tetap pada manusia untuk menolak Allah, bahkan sampai membenci-Nya: 'Mencintai diri sendiri sampai menghina Allah,' seperti yang diungkapkan oleh Santo Agustinus (De Civitate Dei, XIV, 28). Manusia akan cenderung melihat dalam Allah terutama sebagai suatu pembatasan terhadap dirinya sendiri, dan bukan sebagai sumber kebebasannya dan kepenuhan kebaikan. Kita melihat hal ini diteguhkan dalam jaman modern, pada saat ideologi-ideologi yang atheistis berusaha untuk mencabut agama, dengan alasan bahwa agama menyebabkan 'pengasingan (alienasi) manusia' secara radikal, seolah-olah manusia dirampas dari kemanusiaannya sendiri bila, dengan menerima gagasan mengenai Allah, ia memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik manusia, dan semata-mata menjadi milik manusia. Dari sinilah muncul suatu proses pemikiran dan praktek historis sosiologis di mana penolakan terhadap Allah telah mencapai titik sehingga dinyatakan 'kematian'-Nya. Suatu kekaburan, baik dalam konsep maupun ungkapan. Tapi ideologi tentang 'mati-Nya Allah' lebih merupakan suatu ancaman bagi manusia, seperti yang ditunjukkan oleh Konsili Vatican Kedua ketika Konsili menganalisa persoalan 'kemerdekaan dalam urusan-urusan duniawi' dan menulis demikian: 'Karena tanpa Pencipta makhluk akan hilang... bila Allah dilupakan makhluk sendiri menjadi tidak dapat dimengerti' (Gaudium et Spes, 36). Ideologi 'mati-Nya Allah' dengan mudah kelihatan dalam akibat-akibatnya baik pada tingkat 'teoritis dan praktis' bahwa adalah merupakan ideologi tentang 'matinya manusia'".
sumber : “On The Devil” by Pope John Paul II; this document was taken from Today's Destructive Cults and Movements, by Rev. Lawrence J. Gesy
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
|