|
Katekese tentang Hak Istimewa Jiwa yang Suci
Tiada yang terlebih indah dari suatu jiwa yang suci. Apabila kita memahami ini, kita tak akan mau kehilangan kesucian kita. Jiwa yang suci tidak terikat pada materia, pada hal-hal duniawi, dan pada dirinya sendiri.... Sebab itulah para kudus mengendalikan tubuh mereka, sebab itulah mereka tidak memuaskan apa yang diinginkannya, bahkan tidak bangun lebih lambat lima menit, tidak menghangatkan diri, tidak makan demi kenikmatan.... Sebab apa yang dilepaskan tubuh didapatkan jiwa, dan apa yang didapatkan tubuh dilepaskan jiwa.
Kesucian berasal dari surga; kita harus memohonnya dari Tuhan. Jika kita memohonnya, maka kita akan mendapatkannya. Hendaknyalah kita pelihara kesucian itu dengan sebaik-baiknya agar jangan sampai kehilangannya. Hendaknyalah kita menutup hati terhadap kesombongan, terhadap nafsu berahi, dan segala hasrat nafsu yang lainnya, bagai seorang menutup semua pintu dan jendela agar tak seorang pun dapat masuk. Betapa sukacita malaikat pelindung dalam membimbing suatu jiwa yang suci! Anak-anakku, apabila suatu jiwa suci, segenap surga akan memandangnya penuh cinta! Jiwa-jiwa suci akan membentuk lingkaran sekeliling Tuhan ktia. Semakin suci kita di dunia, semakin dekat kita dengan-Nya di surga. Apabila suatu jiwa suci, ia tidak dapat tidak mengasihi, sebab jiwa telah menemukan sumber kasih, yang adalah Tuhan. “Berbahagialah,” kata Tuhan kita, “orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”
Anak-anakku, kita tak mampu memahami kuasa suatu jiwa yang suci atas Allah yang baik. Bukan jiwa yang melakukan kehendak Allah, melainkan Allah yang melakukan kehendak jiwa. Lihatlah Musa, suatu jiwa yang teramat suci. Ketika Tuhan hendak menghukum bangsa Yahudi, Ia berkata kepadanya: Janganlah berdoa bagi mereka, sebab murka-Ku harus turun atas bangsa ini. Namun demikian, Musa berdoa, dan Tuhan mengampuni umat-Nya; Tuhan membiarkan DiriNya dibujuk; Ia tak dapat menolak doa dari jiwa yang suci itu. Wahai, anak-anakku, suatu jiwa yang tak pernah ternoda oleh dosa yang terkutuk, mendapatkan dari Tuhan apapun yang ia kehendaki!
Tiga hal yang dibutuhkan guna memelihara kesucian jiwa: kehadiran Tuhan, doa dan sakramen-sakramen. Sarana lainnya adalah membaca buku-buku suci yang memberi makan jiwa. Betapa eloknya suatu jiwa yang suci! Tuhan kita menunjukkan suatu jiwa yang suci kepada St Katarina; santa kita mengganggap jiwa begitu amat indah hingga ia mengatakan, “Ya Tuhan, andai aku tidak tahu bahwa hanya ada satu Tuhan saja, maka aku pikir ia adalah tuhan.” Citra Tuhan tercermin dalam suatu jiwa yang suci, bagai matahari tercermin dalam air. Suatu jiwa yang suci adalah kebanggaan Ketiga Pribadi Tritunggal Mahakudus. Bapa memandang karya-Nya: Inilah ciptaan-Ku!... Putra menebus dengan Darah-Nya: keagungan ciptaan dibuktikan dengan harga tebusannya.... Roh Kudus tinggal di dalamnya sebagai bait-Nya.
Kita juga tahu nilai jiwa kita lewat daya upaya yang dilakukan setan untuk menghancurkannya. Neraka bersatu untuk melawan jiwa - Surga bersatu untuk mendapatkan jiwa. Wahai, alangkah luar biasanya! Guna memberikan gambaran akan martabat kita, hendaknyalah kita kerap merenungkan Surga, Kalvari, dan Neraka. Jika kita mampu memahami apa artinya menjadi anak Allah, maka kita tak akan dapat berbuat jahat - kita akan seperti malaikat-malaikat di bumi. Menjadi anak-anak Allah, oh, betapa martabat yang mengagumkan!
Alangkah indahnya memiliki hati, dan, betapa pun kecilnya, dapat mempergunakannya untuk mengasihi Tuhan. Betapa ngeri manusia harus turun demikian rendah, padahal Tuhan telah menempatkannya demikian tinggi! Ketika para malaikat memberontak melawan Allah, Allah yang Mahabaik ini, melihat bahwa mereka tak lagi dapat menikmati kebahagiaan yang telah Ia ciptakan bagi mereka, menciptakan manusia dan dunia kecil ini yang kita lihat untuk memberi makan tubuhnya. Tetapi jiwanya perlu diberi makan pula; dan sebab tak ada dari ciptaan yang dapat memberi makan jiwa, yang adalah roh, maka Tuhan berkehendak memberikan DiriNya Sendiri sebagai Makanan jiwa. Tetapi celakanya adalah kita, dalam melewati padang gurun hidup ini, acuh tak acuh untuk memohon pertolongan pada Makanan ilahi ini. Bagai orang-orang yang mati kelaparan di hadapan sebuah meja berlimpah makanan, demikian pula sebagian orang yang bertahan limapuluh, enampuluh tahun, tanpa memberi makan jiwa mereka.
Oh, andai umat Kristiani dapat memahami bahasa Tuhan kita, yang mengatakan kepada mereka, “Kendati segala kemalanganmu, Aku rindu melihat di dekat-Ku jiwa indah yang Aku ciptakan bagi DiriKu Sendiri. Aku membuatnya begitu agung, hingga tak suatu pun yang dapat memuaskannya selain dari DiriKu Sendiri. Aku menjadikannya begitu suci, hingga tak suatu pun selain dari Tubuh-Ku dapat memberinya makan.”
Tuhan kita senantiasa mengenali jiwa-jiwa yang suci. Lihatlah St Yohanes, murid yang terkasih, yang beristirahat di dada-Nya. St Katarina jiwanya begitu suci, dan ia kerap dibawa masuk ke dalam Firdaus. Ketika ia wafat, para malaikat mengambil tubuhnya dan membawanya ke Gunung Sinai, di mana Musa menerima Sepuluh Perintah Allah. Tuhan telah menunjukkan melalui mukjizat ini bahwa suatu jiwa begitu berkenan bagi-Nya, hingga jiwa layak bahkan tubuhnya yang telah ikut ambil bagian dalam kesuciannya dimakamkan oleh para malaikat.
Tuhan memandang suatu jiwa yang suci dengan penuh cinta; Tuhan mengabulkan segala yang dikehendakinya. Bagaimanakah mungkin Tuhan menolak suatupun kepada jiwa yang hidup hanya bagi Dia, dengan Dia, dan dalam Dia? Jiwa mencari Tuhan, dan Tuhan menunjukkan DiriNya kepada jiwa; jiwa memanggil Tuhan, dan Tuhan datang; jiwa satu dengan Tuhan; jiwa mentaati kehendak-Nya. Suatu jiwa yang suci penuh daya kuasa dengan rahmat Hati Tuhan Yesus. Suatu jiwa suci bersama Tuhan adalah bagai seorang kanak-kanak bersama bundanya. Kanak-kanak memperhatikannya, memeluknya, dan bundanya balas memperhatikan dan memeluknya penuh kasih sayang.
sumber : “Catechism on the Prerogatives of the Pure Soul by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|