|
Katekese tentang Kehadiran Nyata

Tuhan kita tersembunyi di sana, menanti kita datang dan mengunjungi-Nya, serta menyampaikan permohonan kita kepada-Nya. Lihatlah, betapa baiknya Tuhan! Ia menyesuaikan DiriNya dengan kelemahan kita. Di surga, di mana kita akan dimuliakan dengan jaya, kita akan melihat Dia dalam segala kemuliaan-Nya. Andai Ia menghadirkan DiriNya di hadapan kita dengan kemuliaan-Nya itu sekarang, maka pastilah kita tidak akan berani menghampiri-Nya; sebab itu, Ia menyembunyikan DiriNya, bagikan seorang dalam tahanan, yang berkata kepada kita, “Engkau tidak melihat-Ku, tetapi itu tak jadi soal; mintalah kepada-Ku segala yang kau inginkan maka Aku akan mengabulkannya.” Ia ada di sana, dalam Sakramen Kasih-Nya, berkeluh-kesah dan tak henti-hentinya menjadi pengantara bagi orang-orang berdosa kepada BapaNya. Betapa Ia telah merendahkan diri agar Ia dapat tinggal di tengah-tengah kita! Ia ada di sana demi menghibur kita; dan oleh sebab itu sudah sepatutnyalah kita kerap mengunjungi-Nya. Betapa menyenangkan hati-Nya waktu seperempat jam yang singkat, yang kita sisihkan dari kesibukan kita, dari sesuatu yang sia-sia, untuk datang dan berdoa kepada-Nya, untuk mengunjungi-Nya, untuk menghibur-Nya atas segala penghinaan yang Ia terima! Apabila Ia melihat jiwa-jiwa murni datang dengan penuh hasrat kepada-Nya, Ia tersenyum kepada mereka. Jiwa-jiwa itu datang dengan kesahajaan yang begitu menyukakan hati-Nya, untuk memohon pengampunan-Nya demi segenap orang-orang berdosa, demi penghinaan begitu banyak orang yang tidak tahu berterima kasih. Betapa bahagia kita rasakan berada di hadirat Allah, saat kita seorang diri saja bersimpuh di kaki-Nya di hadapan tabernakel yang kudus! “Marilah, jiwaku, pergandakanlah hasratmu; hanya engkau sendiri sajalah yang bersembah sujud dihadapan Allah-mu. Mata-Nya tertuju kepadamu seorang.” Juruselamat yang baik ini begitu berlimpah kasih bagi kita hingga Ia mencari-cari kita di mana saja.
Ah! andai kita memiliki mata malaikat dengan mana kita dapat melihat Tuhan kita Yesus Kristus, yang hadir di sini di atas altar ini, dan yang memandang kepada kita, betapa kita akan sungguh mengasihi-Nya! Kita pasti tidak akan pernah ingin berpisah dari-Nya. Kita pasti rindu untuk tinggal senantiasa di bawah kaki-Nya; betapa suatu cicipan surga: segala yang lain menjadi tak berarti bagi kita. Tetapi lihat, imanlah yang kita dambakan. Kita adalah orang-orang buta yang malang; ada kabut di depan mata kita. Hanya iman saja yang dapat menghalau kabut ini. Sekarang ini, anak-anakku, saat aku menggenggam Tuhan kita dalam tangan-tanganku, saat Allah yang baik memberkati kalian, mohonlah kepada-Nya agar membuka mata hati kalian; berserulah kepada-Nya seperti orang buta dari Yerikho itu, “Ya Tuhan, buatlah aku melihat!” Apabila kalian dengan tulus hati mengatakan kepada-Nya, “Buatlah aku melihat!” maka pastilah kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan, sebab Ia tak menghendaki yang lain selain dari kebahagiaan kalian. Tangan-tangan-Nya berlimpah ruah dengan rahmat, mencari-cari kepada siapa Ia hendak membagi-bagikannya; Sungguh sayang! tak seorang pun mendapatkannya.... Wahai, keacuh tak acuhan! Wahai, rasa tak tahu terima kasih! Anak-anakku, betapa kita sedih sebab kita tidak dapat memahami hal-hal ini! Suatu hari kelak kita akan dapat memahaminya dengan baik; tetapi, saat itu akan terlambat!
Tuhan kita ada di sana sebagai Kurban; dan doa yang sungguh menyenangkan hati Allah adalah memohon Santa Perawan untuk mempersembahkan kepada Bapa yang Kekal, Putra Ilahinya, yang berdarah, yang hancur remuk, demi pertobatan orang-orang berdosa; itulah doa terbaik yang dapat kita panjatkan, sebab, sungguh, segala doa dipanjatkan dalam nama dan melalui jasa-jasa Yesus Kristus. Patutlah kita juga mengucap syukur kepada Tuhan atas segala indulgensi yang memurnikan kita dari dosa-dosa kita... tetapi kita malahan tidak mengindahkannya. Kita menginjak-injak indulgensi, dapat dikatakan, seperti kita menginjak-injak batang jagung setelah panen. Lihatlah, ada tujuh tahun dan tujuh masa untuk mendengarkan katekese, tigaratus hari untuk mendaraskan Litani Santa Perawan, Ratu Surga, Angelus. Singkat kata, Allah yang baik melipatgandakan rahmat dan berkat-Nya atas kita; dan betapa kita akan menyesal di akhir hidup kita nanti bahwa kita tidak memanfaatkannya!
Saat kita berada di hadapan Sakramen Mahakudus, daripada melihat ke sana sini, baiklah kita menutup mata dan mulut kita; baiklah kita membuka hati kita: Allah yang baik akan membuka Hati-Nya; dan kita akan datang kepada-Nya, Ia akan datang kepada kita; yang satu memberi, yang lain menerima; bagaikan napas yang dihirup dan dihembuskan. Betapa kemanisan belaka yang kita dapatkan dalam melupakan diri demi mencari Tuhan! Para kudus tak lagi mengingat diri mereka sendiri agar mereka tak melihat yang lain selain dari Tuhan, dan berbakti kepada-Nya saja; mereka melupakan segala ciptaan yang lain demi menambatkan hati kepada-Nya saja. Inilah jalan untuk mencapai surga.
sumber : “Catechism on the Real Presence by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|