|
Katekese tentang Pengadilan Terakhir

Anak-anakku, katekese kita mengajarkan bahwa semua orang akan mengalami suatu pengadilan pada hari kematian mereka. Segera setelah kita menghembuskan napas terakhir, jiwa kita, tanpa meninggalkan tempat di mana jasad berada, akan dihadapkan ke tahta pengadilan Allah. Di mana pun kita meninggal, Tuhan ada di sana untuk melaksanakan keadilan-Nya. Allah yang baik, anak-anakku, telah menghitung tahun-tahun kita, dan dari tahun-tahun di mana Ia memutuskan untuk membiarkan kita berada di dunia, Ia telah menandai satu di antaranya yang akan menjadi tahun terakhir kita, suatu hari di mana kita tidak akan melihat hari-hari berlalu lagi; suatu jam di mana tidak akan tersedia waktu lagi bagi kita. Betapa dekatnya jarak antara saat itu dan sekarang ini - dalam waktu yang begitu cepat berlalu. Hidup itu, anak-anakku, bagaikan asap, bagaikan suatu kabut tipis; yang lenyap lebih cepat dari seekor burung melintasi angkasa, atau suatu kapal yang berlayar di samudera, dan tidak meninggalkan jejaknya!
Bilakah kita meninggal dunia? Sayang sekali! Mungkinkah tahun depan, atau bulan depan? Mungkin besok, atau mungkin juga hari ini! Tidakkah mungkin terjadi pada kita apa yang terjadi pada begitu banyak orang? Mungkin saja pada saat kalian tidak memikirkan apa-apa kecuali menyenangkan diri sendiri, kalian dipanggil menghadap pengadilan Allah, seperti yang terjadi pada Belsyazar yang kafir. Bagaimana herannya jiwa itu ketika ia memasuki keabadiannya? Terkejut, bingung, sejak saat itu terpisah dari kerabat dan sahabat, dan sementara ia dikelilingi oleh cahaya Ilahi, jiwa akan menjumpai Penciptanya tidak lagi sebagai Bapa yang penuh belas kasihan, melainkan sebagai Hakim yang tegas. Kalian bayangkan sendiri, anak-anakku, suatu jiwa pada saat pergi dari kehidupan ini. Ia akan berada di hadapan tahta pengadilan Hakim, sendirian bersama Allah; ada Surga di satu sisi, dan Neraka di sisi lainnya. Apakah yang dihadapkan kepada jiwa? Gambaran akan seluruh hidupnya! Segala pikirannya, segala perkataannya, segala perbuatannya, semuanya akan dihakimi.
Penghakiman ini akan sangat mengerikan, anak-anakku, sebab tidak ada suatu pun yang tersembunyi dari Allah. Kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas mengenali lubuk hati kita; menembus dasar hati, dan menguraikan ikatan-ikatannya yang terdalam. Dengan sia-sia para pendosa menghindari terang hari agar mereka bebas berbuat dosa; mereka bersikap munafik di hadapan manusia, tetapi sikap munafik itu tidak akan ada gunanya bagi mereka pada hari penghakiman; Tuhan akan mendatangkan terang atas kegelapan di mana mereka pikir mereka dapat berbuat dosa tanpa menerima hukuman. Roh Kudus, anak-anakku, mengatakan bahwa kita akan dihakimi dalam perkataan-perkataan kita, pikiran-pikiran kita, perbuatan-perbuatan kita; kita akan dihakimi bahkan atas perbuatan-perbuatan baik yang seharusnya kita lakukan, namun tidak kita lakukan, atas dosa-dosa orang lain yang merupakan akibat dari kita. Sayang sekali! Betapa banyak pikiran yang menguasai kita - pikiran-pikiran di mana kita terlena olehnya; betapa banyaknya dalam satu hari saja! dalam satu minggu! dalam satu bulan! dalam satu tahun! Betapa banyaknya sepanjang seluruh hidupmu! Tak satu pun dari jumlah yang tak terhitung banyaknya itu dapat lolos dari pengetahuan Hakim kita.
Seorang yang sombong harus memberikan pertanggungjawaban atas segala pikiran kepongahannya, atas keangkuhannya, atas ambisinya; atas ketidakmurnian segala pikirannya yang jahat, dan atas segala hasrat kejahatan yang memenuhi imajinasinya. Kaum muda yang tak henti-hentinya bersolek dengan dandanan mereka, yang mengejar kesenangan diri, agar tampil beda, agar menarik perhatian serta pujian, dan yang tidak berani menghadirkan diri dalam Sakramen Tobat, apakah mereka masih dapat menyembunyikan diri mereka pada hari penghakiman Tuhan? Tidak, tidak! Mereka akan menghadap tahta pengadilan dalam keadaan sama seperti masa hidup mereka, di hadirat Dia yang mengenali bahkan segala hal yang paling rahasia dalam hati manusia.
Kita harus memberikan pertanggungjawaban, anak-anakku, atas sumpah-serapah, atas kutuk, atas hujat kita. Tuhan mendengar umpat kita, fitnah kita, percakapan-percakapan kosong kita, lagu-lagu duniawi kita yang tidak sopan; Tuhan mendengar juga pembicaraan orang-orang kafir. Bukan itu saja, anak-anakku; Tuhan juga akan menghakimi perbuatan-perbuatan kita. Ia akan menerangkan segala ketidaksetiaan kita pada-Nya, kelalaian kita akan perintah-perintah-Nya, pelanggaran-pelanggaran kita atas hukum-hukum-Nya, pencemaran terhadap gereja-Nya, kelekatan terhadap dunia, cinta demi nafsu liar dan rendah serta cinta akan barang-barang duniawi. Semuanya, anak-anakku, akan disingkapkan; pencurian dan perampasan, ketidakadilan, pemerasan, tiadanya penguasaan diri, marah, pertikaian, kelaliman, balas dendam, kebebasan melakukan kejahatan, dan segala kemurtadan yang tak dapat disebutkan tanpa wajah kita memerah …
sumber : “On the Last Judgment by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|