|
Katekese tentang Sabda Tuhan
Anak-anakku, Sabda Tuhan itu sungguh teramat penting! Inilah kata-kata pertama Kristus kepada para rasul-Nya: “Pergilah dan beritakanlah” . . untuk menunjukkan kepada kita bahwa pewartaan Sabda Tuhan itu di atas segalanya.
Anak-anakku, apakah yang telah diajarkan agama kepada kita? Ajaran-ajarannya telah kita dengar. Apakah yang menjadikan kita ngeri akan dosa? Apakah yang menjadikan kita bersemangat dalam mengejar keutamaan-keutamaan, yang mengilhami kita dengan kerinduan akan Surga? Ajaran-ajarannya. Apakah yang mengajarkan kepada para bapak dan para ibu kewajiban-kewajiban yang harus mereka penuhi terhadap anak-anak mereka dan kepada anak-anak kewajiban yang harus mereka penuhi terhadap orangtua mereka? Ajaran-ajarannya.
Anak-anakku, mengapakah manusia begitu buta dan begitu acuh? Sebab, mereka mendapat sedikit saja pengajaran tentang Sabda Tuhan. Ada sebagian orang yang bahkan tidak dapat mengucapkan Bapa Kami dan Salam Maria untuk mohon kepada Allah yang baik, rahmat untuk mendengarkan Sabda Tuhan dengan seksama dan memperoleh banyak keuntungan darinya. Aku percaya, anak-anakku, bahwa seorang yang tidak mendengarkan Sabda Tuhan seperti seharusnya, tidak akan beroleh keselamatan; ia tidak akan tahu apa-apa yang harus dilakukan agar beroleh keselamatan. Tetapi, bagi seorang yang mendapat pengajaran Sabda Tuhan dengan baik, akan selalu ada pengharapan. Boleh saja ia berkelana di segala macam bentuk kejahatan; tetapi akan selalu ada harapan bahwa cepat atau lambat ia akan kembali kepada Allah yang baik, meskipun pengharapan itu datang pada saat ajal menjelang. Sebaliknya, seseorang yang tidak pernah mendapat pengajaran Sabda Tuhan sama seperti seorang pesakitan - seorang pesakitan yang dalam penderitaannya tidak lagi sadar: ia tidak mengerti, baik akan kedahsyatan dosa maupun nilai keutamaan; ia menyeret dirinya dari satu dosa ke dosa lainnya, seperti kain pel diseret di antara kotoran.
Lihatlah, anak-anakku, penghargaan yang diberikan Kristus terhadap Sabda Allah; kepada wanita yang berseru, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Ia menjawab, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” Kristus, yang adalah Kebenaran itu sendiri, tidak menganggap Sabda-Nya kurang penting dibandingkan Tubuh-Nya. Aku tidak tahu apakah memang lebih buruk mengalami distraksi (= gangguan konsentrasi berupa macam-macam pikiran) selama Misa daripada mengalaminya selama pengajaran Sabda Tuhan; aku tidak melihat bedanya. Mengalami distraksi selama Misa berarti kita kehilangan rahmat dan jasa Sengsara dan Wafat Kristus, sedangkan mengalami distraksi selama pengajaran berarti kita kehilangan Sabda Tuhan, yang adalah Ia Sendiri. St. Agustinus mengatakan bahwa hal tersebut sama buruknya seperti mengambil piala sesudah Konsekrasi, lalu menginjak-injaknya dengan kaki.
Anak-anakku, kalian mengalami skrupel (= perasaan bersalah) ketika mengabaikan suatu Misa Kudus, sebab kalian telah melakukan dosa berat mengabaikannya karena kesalahan kalian sendiri; tetapi kalian tidak mengalami skrupel ketika mengabaikan suatu pengajaran Sabda Tuhan. Kalian tidak pernah berpikir bahwa dengan cara demikian kalian telah sangat menghina Tuhan. Pada Hari Penghakiman, ketika kalian semua berada di sana bersamaku, Allah yang baik akan berkata kepada kalian, “Jelaskan kepada-Ku riwayat tentang segala pengajaran dan katekese yang telah kalian dengar dan yang sebenarnya dapat kalian dengarkan,” maka kalian akan berpikir lain.
Anak-anakku, kalian pergi saat pengajaran berlangsung, kalian bersenang-senang dengan tertawa, kalian tidak mendengarkan, kalian pikir diri kalian sendiri terlalu pintar untuk datang mengikuti katekese…. apakah kalian pikir, anak-anakku, hal-hal demikian dapat dibenarkan? Tidak, tentu saja tidak! Tuhan menata segala perkara dengan cara yang sangat berbeda. Alangkah menyedihkannya! Kita melihat para bapak dan ibu berada di luar ketika pengajaran katekese berlangsung; padahal merupakan kewajiban merekalah untuk mengajarkannya kepada anak-anak mereka; namun demikian, bagaimana mungkin mereka dapat mengajarkannya? Mereka sendiri tidak memperoleh pengajaran bagi dirinya sendiri … Semuanya ini menghantar kalian langsung menuju neraka … Sungguh sayang sekali!
Anak-anakku, aku perhatikan tidak ada saat lain di mana orang cenderung mengantuk dan tertidur daripada saat mereka mendengarkan pengajaran … Kalian akan mengatakan, saya sungguh sangat mengantuk… Jika aku mengambil biola dan menggeseknya, tak seorang pun akan mengantuk; semua orang akan terbangun, semua orang akan terjaga. Anak-anakku, kalian mendengarkan pengajaran apabila kalian menyukai si pengkhotbah, tetapi jika si pengkhotbah tidak sesuai dengan selera kalian, kalian akan memperoloknya … Janganlah kita terpaku pada manusianya. Bukan tubuh yang harus kita perhatikan. Bagaimana pun penampilan seorang imam, ia tetap merupakan alat yang dipakai oleh Allah yang baik untuk menyampaikan Sabda-Nya yang kudus. Tuangkan cairan ke dalam suatu wadah, entah wadah itu terbuat dari emas atau dari tembaga, jika cairannya baik, maka cairan itu akan tetap baik adanya.
Ada orang-orang yang berkoar-koar di mana-mana, “Para imam hanya mengatakan apa yang mereka suka.” Tidak, anak-anakku, para imam tidak mengatakan apa yang mereka suka; mereka mengatakan apa yang ada dalam Injil. Para imam yang ada sebelum kami mengajarkan apa yang sekarang kami ajarkan; dan para imam yang akan ada sesudah kami akan mengajarkan hal yang sama. Jika kami mengatakan sesuatu yang tidak benar, maka Bapa Uskup akan segera melarang kami menyampaikan khotbah. Kami mengajarkan hanya apa yang telah diajarkan Kristus.
Anak-anakku, aku akan memberi kalian suatu contoh bagaimana jika kalian tidak percaya akan apa yang dikatakan para imam kepada kalian. Adalah dua orang prajurit yang sedang dalam perjalanan melewati suatu tempat di mana seorang imam misionaris sedang menyampaikan pengajaran. Seorang dari mereka mengusulkan kepada temannya untuk pergi dan mendengarkan khotbah yang disampaikan; maka pergilah mereka. Imam misionaris itu berkhotbah tentang neraka. “Percayakah engkau akan segala hal yang dikatakan imam?” tanya seorang yang lebih baik dari temannya. “Oh, tidak!” jawab temannya itu, “Aku yakin semuanya itu omong kosong belaka, dibuat-buat untuk menakut-nakuti orang.” “Baiklah, aku sendiri, aku mempercayainya; dan untuk membuktikan kepadamu bahwa aku sungguh percaya, maka aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari ketentaraan dan pergi ke suatu biara.” “Pergilah kemana engkau suka; aku akan melanjutkan perjalananku.” Tetapi, sementara ia dalam perjalanan, prajurit itu jatuh sakit dan meninggal dunia. Prajurit lainnya, yang telah berada di biara, mendengar kabar kematian temannya dan mulai berdoa agar Tuhan menunjukkan kepadanya dalam keadaan bagaimanakah temannya itu meninggal. Suatu hari, sementara ia sedang berdoa, kawannya itu menampakkan diri kepadanya; ia mengenali temannya itu dan bertanya, “Di manakah engkau sekarang?” “Di neraka; aku telah sesat!” “Oh, temanku yang malang! Percayakah engkau sekarang akan apa yang dikatakan imam misionaris?” “Ya, aku percaya. Para misionaris salah hanya dalam satu hal; mereka tidak mengatakan seratus kali lipat yang harus diderita di sini.”
Anak-anakku, sering aku berpikir bahwa sebagian besar umat Kristiani yang tidak menghendaki pengajaran - mereka tidak memahami agama mereka dengan baik. Sebagai contoh, adalah seorang yang harus harus pergi melakukan tugasnya sehari-hari. Orang ini berhasrat untuk melakukan silih, yaitu dengan melewatkan malam dalam doa. Jika ia mendapat pengajaran dengan baik, ia akan berkata, “Tidak, aku tidak boleh melakukannya, sebab jika demikian, besok aku tidak akan dapat menyelesaikan tugas-tugasku; aku akan mengantuk dan hal paling remeh yang mungkin terjadi adalah aku akan kehilangan kesabaranku; aku akan merasa lesu sepanjang hari, dan aku tidak akan dapat menyelesaikan separuh dari pekerjaan yang biasa aku lakukan jika aku cukup beristirahat di malam hari. Jadi, hal itu tidak boleh dilakukan.”
Lagi, anak-anakku, seorang hamba berhasrat untuk berpuasa, tetapi ia mempunyai kewajiban untuk melewatkan sepanjang hari dengan mencangkul dan membajak, atau apa sajalah. Nah, jika hamba ini memperoleh pengajaran dengan baik, ia akan berpikir, “Jika aku berpuasa, aku tidak akan dapat menyenangkan hati tuanku.” Jadi, apa yang ia lakukan? Ia akan menyantap makanannya dan melakukan silih dengan cara lain. Itulah yang harus kita lakukan - kita harus senantiasa bertindak dengan cara di mana kita dapat memberikan kemuliaan tertinggi kepada Allah yang baik.
Seseorang tahu bahwa seorang teman sedang menghadapi masalah. Ia mengambil dari orangtuanya apa yang dapat meringankan penderitaan temannya itu. Tentu saja, akan jauh lebih baik jika ia meminta daripada langsung mengambilnya. Jika orangtuanya menolak memberikan apa yang dimintanya, ia akan berdoa kepada Tuhan agar menggerakkan hati seorang kaya - sebagai ganti dirinya - untuk memberikan sumbangan kepada temannya itu. Seseorang yang mendapat pengajaran dengan baik senantiasa memiliki dua pembimbing yang memimpin langkahnya - nasehat yang baik dan ketaatan.
sumber : “Catechism on The Word of God by Saint John Vianney”; www.catholic-forum.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|