|
Surabaya Post, 4 April 2005
'Malam Vatikan' di Kota Maumere
oleh Peter Tukan*
Doa-doa secara khusuk disampaikan umat Katolik di Pulau Flores, NTT untuk mengenang mendiang pemimpin umat Katolik sedunia, Sri Paus Yohanes Paulus II, yang pernah melakukan perjalanan ke Maumere 16 tahun yang lampau (11-12 Oktober 1989), Flores bagian tengah. Mengikuti teladan pendahulunya, Sri Paus Paulus VI yang pernah mengunjungi Indonesia namun hanya sampai di Jakarta, Sri Paus Yohanes Paulus II memperpanjang jalan lawatannya dari Jakarta hingga ke Pulau Flores yang dikenal sebagai Pulau Bunga. Di ibukota Kabupaten Sikka, Paus asal Polandia yang lahir pada 18 Mei 1920 itu bersedia menginap semalam di Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret.
Ketika itu, sekolah calon pastor ini ditata sedemikian rupa menjadi “Vatikan Semalam” bagi Sri Paus. Dua kamar tidur pastor direnovasi sedemikian rupa sehingga menjadi kamar tidur Paus yang mirip kamar tidur di Vatikan. Bermalamnya Paus di Seminari Ritapiret itu menjadi kebanggaan masyarakat Flores, khususnya umat Katolik, karena pemimpin spiritualnya berkenan mengarungi suka-duka umatnya. Itu menandakan kemanunggalannya dengan umat yang dipimpinnya dan masyarakat lintas agama di pulau ini.
Kamar tidur Sri Paus sederhana saja. Terdapat satu tempat tidur sederhana, lantai kamar diselimuti permadani warna merah, sebuah ruang doa pribadi, meja tulis dan lampu baca seadanya. Itulah kesederhanaan kamar tidurnya yang memantulkan kesederhanaan pribadi Sri Paus yang bernama asli Karol Josef Wojtyla yang lahir dari pasangan Karol dan Emilia Wojtyla.
Bagi masyarakat tradisional FIores, jika seorang tamu agung bersedia bermalam bersama tuan rumah, maka hal itu merupakan suatu kehormatan, kebanggaan bagi tuan rumah sekaligus pernyataan diri tamu tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga yang menerimanya. Kehadiran Sri Paus di tengah masyarakat Flores sampai bermalam bersama mereka, disebutnya sebagai sebuah kenangan indah yang tidak mungkin dilupakan. Karena itu, ketika mendapat berita bahwa Paus Yohanes Paulus II meninggal dunia, umat di Sikka dan seluruh Flores memanjatkan doa mengenang kebaikan hatinya yang bersedia menyatu dengan suka-duka hidup mereka. Banyak warga yang meneteskan air mata duka setelah mengetahui pemimpin mereka sudah meninggal dunia diVatikan.
Minggu, bersamaan dengan ibadah rutin mingguan di Gereja-gereja, umat memanjatkan doa dan pergi ke Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret yang berjarak sekitar 12 km arah barat kota Maumere untuk melihat kembali bekas kamat tidurnya yang kadang digunakan para uskup yang berkunjung ke Ritapiret. Selain bermalam di Seminari Tinggi Ritapiret, pemimpin umat Katolik sejagat ini pun memanfaatkan waktu lawatan pastoralnya (kegembalaan) dengan mempersembahkan ibadah Misa Agung di lapangan umun Samador, Maumere. Ketika itu, hadir pula para pemimpin dan umat lintas agama yang datang untuk menyaksikan sosok seorang pejuang kerukunan hidup beragama di dunia.
Persaudaraan Umat
Kunjungan Paus ke Maumere semakin memperkuat rasa persaudaraan umat lintas agama. Umat Muslim di Sikka sangat bersyukur atas kedatangan seorang pejuang kerukunan hidup umat beragama. Dalam kunjungan ini Paus menegaskan tekadnya untuk mendorong umat Katolik menghargai umat agama lain guna membangun hidup bersama yang damai.
Sosok Sri Paus sungguh menarik perhatian semua umat beragama. Dia tampil sebagai pribadi milik semua orang tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan dan warna kulit. Umat Muslim menghormatinya sebagai salah satu anak Ibrahim yang percaya kepada Allah yang Esa. Pada salah satu bagian pidatonya saat itu, Sri Paus menandaskan sikap Gereja Katolik sedunia terhadap umat beragama lainnya.
Gereja tidak pernah ragu-ragu untuk menghormati agama-agama lain secara mendalam, yang merupakan pencerminan dari kejiwaan orang perorang. Kalau orang-orang Kristen dan para pengikut tradisi keagamaan lainnya dipersatukan dalam iman kepada Sang Pencipta, maka hal ini merupakan basis yang kuat untuk saling memahami dan bermusyawarah secara damai. Sri Paus mendorong semua warga untuk melanjutkan dan meningkatkan kerjasama antar-agama menghadapi tantangan dari sekularisasi yang semakin meningkat.
Jika umat Islam memandang Sri Paus yang berkunjung ke Flores sebagai sosok yang memperjuangkan kerukunan hidup antar umat beragama, maka jemaat Kristen Protestan Maumere memandang Paus sebagai sosok pejuang perdamaian. Kedatangan Sri Paus ke Maumere 1989 mendorong umat beragama di sini untuk hidup secara damai dan menjadi pejuang perdamaian di dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masing-masing, katanya.
Kita teringat sepenggal kalimat yang diungkapkan Sri Paus yaitu usaha perdamaian itu mungkin. Perdamaian bukanlah utopia atau cita-cita yang tidak dapat diraih atau impian yang tidak dapat diwujudkan dan perang bukanlah malapetaka yang tidak dapat dihindarkan. Perdamaian itu mungkin. Bagi Sri Paus, karena perdamaian itu mungkin, maka perdamaian tersebut merupakan tugas semua umat beragama, tanpa kecuali dan ini merupakan tugas setiap umat beragama sekaligus tanggung-jawab luhur semua lapisan umat lintas agama.
Sejarah telah membuktikan, semenjak Sri Paus menginjakkan kakinya di tanah Flores hingga sekarang, umat beragama hidup rukun dan damai. Tidak terjadi konflik sosial yang bernuansa agama, malahan umat lintas agama semakin mempererat tali persaudaraan sebagai anak-anak dari Allah yang satu dan sama. Walau umat Katolik di Flores mayoritas, namun mereka tidak menjadikan mayoritas itu untuk menekan atau merugikan umat agama lain. Inilah buah nyata dari kunjungan Sri Paus Yohanes Paulus II ke tanah Flores.
Lawatan pastoral Paus ke Maumere merupakan kunjungan persahabatan dan persaudaraan dalam rangka memperkuat basis perjuangan solidaritas umat beragama. Paus Yohanes Paulus II sudah datang ke Flores dan mengajarkan umat yang dipimpinnya bahwa dunia ini satu dan milik semua orang tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan. Semua umat beragama bersatu di bawah naungan kasih Allah yang Esa, katanya. Ketika Sri Paus mencium seorang anak di Maumera, umat terharu karena hal itu membuktikan betapa besar kecintaan Sri Paus kepada anak-anak dan orang kecil. Kaum kecil dan miskin tergambar di dalam diri anak-anak.
Kini Sri Paus Yohanes Paulus II sudah pergi ke rumah Sang Pencipta, Pem beri dan Penyelenggara kehidupan untuk selama-lamanya. Dia pergi untuk menyediakan tempat bagi anak-anak, orang kecil, kaum miskin dan umat lintas agama yang telah melanjutkan perjuangannya membangun kerukunan, kedamaian dan toleransi di atas tanah Flores - Nusa Bunga ini, katanya.
Agaknya benar juga kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan Sri Paus Yohanes Paulus II mangkat meninggalkan nilai-nilai kehidupan universal yang tahan zaman, yakni kerukunan, toleransi, perdamaian dan kasih sayang bagi anak-anak, kaum miskin dan ter lantar. Requescat in Pace - Semoga beliau beristirahat dalam damai abadi di surga!
* seorang jurnalis tinggal di Maumere
|