|
In loving memory of the late John Paul II
Khotbah pada Misa Arwah Sri Paus Yohanes Paulus II
Bersama Friends of John Paul II
Senin, 4 April 2005
Bacaan-bacaan KS: 1 Tes 4:3-13.17-18 ; 1 Kor 15:50-57 ;Yoh 20:19-22
RIWAYAT HIDUP KAROL OH KAROL
Tahun 1920, lahir dengan nama Karol Wojtyla di Wadowice pada tanggal 18 Mei, ditinggal yatim oleh ibunda di saat berusia 9 tahun; figur dan pribadi ayah seorang militer mempengaruhi diri pribadi Karol. Sejak bersekolah di usia 7 tahun ia tampil energik, pintar dan atletis.
Tahun 1938 berpindah ke Krakow dan ia masuk universitas Jagellonica untuk studi bahasa dan kesusteraan Polandia. Di saat ini ia pun menonjol dengan gubahan-gubahan puisinya dan talenta di panggung drama.
Tahun 1942, ayahnya meninggal dunia dan ia memutuskan untuk memilih hidup imamat. Ia belajar studi filsafat dan teologi di sebuah universitas yang klandestine dan masuk seminari Krakow yang juga tertutup (dilarang oleh pemerintah Jerman yang menjajah Polandia saat itu).
Tahun 1945 Polandia dibebaskan oleh Rusia dan ia menyelsaikan studinya. Tahun berikutnya, ia ditahbiskan imam dan tahun 1948 meraih gelar dr teologinya.
Tahun 1948-1951 ia menjadi pastor paroki dan tahun 1951 kembali ke universitas untuk doktorat dalam bidang filsafat di Universitas Angelicum, Roma.
Tahun 1958, ia diangkat oleh Paus Pius XII menjadi uskup pembantu di Krakow.
Tahun 1963 menjadi uskup agung dan 1967 menjadi kardinal. Turut ambil bagian dalam Konsili Vatikan II, khususnya dalam pengerjaan konsep-konsep dasar Gaudium et Spes: tentang peranan gereja dalam dunia modern.
Tahun 1971 dipilih bekerja di Vatikan untuk menangani beberapa urusan.
Tahun 1976 diundang oleh Paus Paulus VI sebagai pengkhotbah kepausan.
Tahun 1978, pada usia 58, dalam konklav pada tanggal 16 Oktober, 103 dari 109 kardinal memilihnya menjadi Paus pertama bukan orang Italia sesudah 445 tahun dan ia mulai mengangkat jala St. Petrus, dengan memilih nama Yohanes Paulus II. Sesudah 26 tahun 5 bulan menjabat sebagai Paus, ia wafat di Roma, 2 April 21.37 atau 3 April 02.37 waktu Indonesia, pada HM Paskah ke 2, Pesta Kerahiman Ilahi.
RIWAYAT PAUS: POPE OH POPE... MEMANG TIADA DUANYA...
Siapakah Paus? Paus adalah pengganti Petrus yang sah, adalah wakil Kristus yang hidup, ia diberi gelar `vicarius', ia adalah anak manusia yang diangkat menjadi pemegang kunci Kerajaan Surga dan kepala Gereja sesuai pesan Yesus sendiri: Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan gereja-Ku dan pintu kuasa alam maupun takkan mampu mengalahkannya (Mat. 16:18). Karol Woytila adalah pengganti sah Petrus, sebagai wakil Kristus yang hidup, sebagai paus yang ke 264. Hal ini terbukti, sejak hari pertama terpilihnya sampai hari terakhirnya ia telah menjadi yang pertama di antara para sesama pengganti rasul lainnya, mengemban tugas kepala atau bapak [pater patrum], serentak hamba pelayan [servus servorum] dalam tugas Kristus sendiri menguduskan, menggembalakan dan mengajar. Dalam kesatuan dengan para kardinal dan uskup, ia menunaikan kepausannya secara gemilang, cerdas, brilian, bersahaja: what an amazing pope of the centuries! Dalam hidupnya ia telah penuhi dan tepati: sampai di usia tuanya sekalipun, ketika renta dan tampak tak berdaya, ia tetap memikat penuh daya pesona, dengan pribadi dan ajarannya yang tetap cemerlang, penuh keberanian terhadap raksasa kuasa politis dan ekonomi dunia, bahkan menghancurkan tembok Berlin dan komunisme, serta pembebasan dan demokrasi bagi Eropah Timur…
Paus adalah pontifex maximus : jembatan besar, jembatan agung: sebuah gelar pelayanan: menjadi jembatan antara surga dan bumi, menjadi jembatan yang menghubungan dunia dan surga, hidup lama dan hidup baru, jembatan antara keterjajahan dan kebebasan, jembatan antara yang kecil dan besar, yang tanpa daya dan adidaya, jembatan antara keputusasaan dan gerbang pengharapan, jembatan permusuhan dan pengampunan, jembatan antar iman dan kepercayaan, jembatan antar agama dan ateisme, antar budaya dan kemanusiaan. Ketika dilantik menjadi Paus, ia menyerukan: sono un amico venuto da lontano : seorang sahabat yang datang dari jauh, tapi yang kehadirannya langsung mendekatkan, menghangatkan, menyatukan… Ia menjadi pontifex antar negara dan kuasa yang mau mendominir, antar bangsa yang berselisih, ia menjadi jembatan penghubung, perjumpaan antar hati dan budi, antar kasih dan co-responsibility.
Sebagai pontifex, sebagai jembatan ia jalankan perannya dengan mendekatkan antar bangsa, bukan hanya sekedar hadir di pesta dan perayaan kenegaraan tetapi juga menjadi pontifex melalui pembelaan hak-hak asasi manusia; ia menjadi jembatan dengan menentang dan mengingatkan AS, bahwa perang akan melahirkan kekerasan; ia menentang kekerasan dengan mengatakan bahwa terorisme melawan kemanusiaan dan tidak benar menggunakan nama Allah lalu mengobarkan perang terhadap sesamanya; ia menjadi jembatan kehidupan: bahwa siapapun orang itu, dia berhak atas kehidupan! Ia dengan lantang melawan praktek hukuman mati! Ia menjadi jembatan dengan membela yang tertindas, yang terancam kehidupannya: ia menjadi jembatan kehidupan bagi janin-janin, bagi bayi-bayi yang terancam digugurkan, dipunahkan, dibinasakan sebelum lahirnya; ia buktikan diri menjadi jembatan pengampunan ketika mengunjungi Mehmet Ali Agca di penjaranya dan merangkul serta mengampuninya dan memberkatinya. Dan mempersembahkan peluru yang bersarang di dadanya ke bawah kaki bunda Maria di Fatima sebagai syukur atas perlindungannya sekaligus sebagai doa pengampunan bagi Mehmet Ali Agca, sang pembunuh. Paus, an apostle and champion of mercy. Ketika dunia penuh kekerasan, ketika dunia penuh angkara murka, dendam dan penghancuran pada kehidupan, ia berjalan, kendati terhuyung, membangun jembatan belas kasih, jembatan pengampunan!
A MAN OF GOD!
Terlalu banyak untuk dicermati dan direnungkan tentang hamba setia ini. Mari kita batasi saja pada apa yang dikatakan bacaan suci hari ini.
1 Tes 4:3-13 : Inilah kehendak Allah yakni supaya kamu menjadi kudus… Paus mempelopori panggilan pada kekudusan ini sebagai paus. Beberapa hari sesudah konsekrasinya sebagai paus, ada wartawan yang mewawancarai dia dengan agak nakal: Holy Father, you are just human, like all of us; but why do you like to be called `holy father'? Do you like people call you `holy father'? Dan sang paus berusia beberapa hari itu menjawab: do not be afraid to be called holy, because as Christians, holiness is our vocation of life. God calls you to become holy… Ia lalu menyapa semua orang: orang tua, keluarga muda, anak muda tentang kesucian perkawinan, kesucian hidup, kesucian suara hati. Ia menyerukan kepada para imam: sanctity is your identity card as priests; by holiness you become heralds of Christ, priest of the Most High. Ekaristi adalah sumber kesucian kamu! Pada pertemuan kaum muda XV ia berpesan: Dear young people, have the sacred ambition to become holy. Young people of every continent, do not be afraid to be the saints of the new millenium. I pray that you have the strength and wisdom to be able to speak to God and of God… Dan untuk hari kaum muda internasional di Kohln Agustus 2005 ini ia berpesan: Aku rindu bertemu kamu di Kohln, bersama-sama menyembah Kristus yang hadir dalam ekaristi; bawalah segala antusiasme masa mudamu, harapan dan kenginanmu pada-Nya di sana nanti…
Dalam 1 Kor 15:50-57, Paulus mengatakan bahwa akhir kehidupan adalah menemui Tuhan di dalam surga; di lapangan St Petrus Roma sejak hari minggu pagi beredar lembaran-lembaran pamflet berwarna biru Maria dengan gambar paus bertuliskan: papa, arrivederci in paradiso! Yah, ke sanalah, ke sanalah kita sekalian, menuju, menuju puncak hidup, lewat hidup kekudusan di dunia ini.
Paulus berpesan lebih lanjut : maut telah ditelan oleh kemenangan… pintu kuasa alam maut takkan mampu mengalahkan kita… Maut itu dosa… maut itu kekuasaan gelap… Paus Yohanes Paulus II sudah bergulat menghadapi maut bukan hanya di saat malaikat maut menjemputnya, tapi sepanjang perjalanan kepausannya. Ia harus menghadapi perubahan dunia, ia harus membela kebenaran moral, ia harus memperjuangkan hak asasi dan kita tahu ada banyak orang yang mencari keuntungan dan kepuasan lewat amoralitas, lewat kekerasan dan arogansi terhadap sesama bangsa; paus sendiri menghadapi banyak kritikan dan penolakan sekelompok orang. Tetapi ia tidak menyerah, ia tidak melemah dalam prinsip hidup dan kemanusiaan. Ia melawan terorisme. Ia menentang aborsi demi membela hak hidup makhluk2 kecil. Ia ditolak sinis di banyak negara, diremehkan negara-negara Eropa bekas Katolik, tetapi ia tetap datang, ia tetap berkunjung dan ternyata di sana, ia merubah dan menobatkan banyak orang; ketika kunjungannya ke Swiss dan Jerman diancam akan diboikot, ternyata ketika ia tiba, spanduk-spanduk penolakan berturunan dan kaum mudalah yang berada di baris terdepan, menjemput dia, mengelu-elukan dia, mendengar dan berdoa bagi dia. Ia memikat mereka dengan ketulusan dan harapan yang dibawanya serta pikiran penuh inspirasi yang membuka hati dan budi kaum muda masa kini. Maut, kuasa kegelapan, pandangan dunia yang buruk takkan mampu mengalahkannya. Hai maut, di mana sengatmu?
Injil Yohanes 20:19-22: Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian Aku mengutus kamu. Terimalah Roh Kudus… Sangat indah dan terpenuhi dalam diri hamba setiawan ini. Ia menerima panggilannya dari tangan Yesus, maka ketika ia muncul pertama kalinya tanggal 16 Oktober 78 sebagai paus, kata pertama yang dikatakannya ialah `sia lodato Gesu Cristo' dan lautan manusia membalasnya dengan seruan `sempre sia lodato'… Kata-kata awal ini menunjukkan bagaimana Paus melihat panggilannya: semuanya berasal dari Kristus Imam Agung, bukan karena jasanya, bukan karena hebatnya, bukan karena kuatnya, tetapi karena Kristus sendiri, karena Tuhan yang hidup dalam dia; maka, secara singkat tapi eksplisit dinyatakannya lewat mottonya: totus tuus: segala-galanya bagiMu saja! Perutusan Kristus dibalasnya dengan mewartakan Kristus dan membaktikan hidupnya bagi Kristus saja. Beberapa minggu lalu ada sebagian kardinal yang menganjurkan agar ia resign saja ketika sakitnya kian memburuk. Tanpa mengurangi rasa hormat pada para rekan orang pilihannya ia balik bertanya: sesungguhnya tugas siapakah yang saya wakili ini? Jawab mereka: ya tugas Yesus kepala Gereja. Bagaimanakah Dia itu telah mengakhiri tugasnya? Jawab mereka: sampai mati. Ya, sebagaimana yang saya wakili, demikian juga seharusnya yang mewakili Dia… dan ia memang buktikan: totus tuus, sampai akhir, memanggul salib, setia sampai akhir juga ketika amat berat secara fisik.
Yohanes menulis: terimalah Roh Kudus. Paus juga membuktikan bahwa Roh Kudus-lah yang menjiwai dia, menuntun dia dan bekerja buat Dia. Dominum et vivificantem, salah satu ensikliknya tentang Roh Kudus: Tuhan yang memberi hidup. Kematian Paus Yohanes Paulus II serentak juga menimbulkan bursa calon paus: bakal calon paus, lewat konklaf dalam 15-20 hari ke depan ini. Saudara-saudari, ada yang cemas, apakah paus baru bisa sehebat Yohanes Paulus II? Apakah paus baru nanti dari Afrika atau Amerika Latin? Apakah paus baru akan membawa pembaharuan? Akan konservatif atau progresif? Reformatif atau ortodox? Jangan takut, jangan takut… Bukan seorang anak manusia yang akan memimpin Gereja Katolik, tetapi Roh Kudus sendiri: dominum et vivificantem: Roh Kudus sendiri akan menguduskan, menggembalakan dan mengajarnya dan pintu kuasa alam maut apapun takkan mampu mengalahkannya.
FOR A LOVING MEMORY OF OUR POPE: MENGENANG PAUS, BAGAIMANA?
Pertama : dengan bersyukur kepada Tuhan atas paus besar yang diberikan-Nya buat Gereja serta memohonkan pintu surga dibukakan bagi sang hamba setiawan. Ada rasa haru, ada rasa kehilangan, tapi bukan keputusasaan, sebab diri manusiawi paus bisa mati, tetapi Roh Kudus tetap hidup menggembalakan kita. Tidak ada yang yatim piatu, tidak ada yang nobody's child, hai maut di mana sengatmu? Entah hidup entah mati kita milik Tuhan. Tuhan hidup, Tuhan tak pernah mati.
Kedua : dengan terus menghidupi semangat dan amanat serta teladannya. Teladan kesetiaan sampai akhir, di saat usia tua dan renta, di saat melayani dalam kesakitan dan pelbagai efek sakit dari luka tembak, di saat tidak fit dan di saat mengalami kesulitan termasuk tidak disenangi atau tidak disukai. Ia setia sampai akhir, sampai wafat. Bapa kita, pemimpin kita setia pada panggilannya, pada imannya, pada harapannya akan Kristus sampai akhir. Pantaslah kita anak-anaknya setia dalam iman akan Kristus, sampai akhir, sampai tamat, apapun pengalaman berat yang dialami.
Dengan semangat hidup: `jangan takut'; jangan takut mengambil keputusan menjadi saksi Kristus lewat kesaksian iman dan ilmu. Jangan takut menjadi suci, jangan takut memilih hidup lebih menyerupai Kristus: ingat, para mahasiswa, paus menemukan panggilannya justru di bangku kuliahnya; ia tidak takut merubah haluan, ia tidak takut mengikuti Yesus… kamu juga, jangan hanya ada gedung atau ruang bernama Karol Wojtyla di Atma Jaya ini; beranilah, mengikuti jejaknya, di universitas ini, putuskan dirimu berani menjadi imam, tidak takut … do not be afraid, katanya di mana-mana, non abbiate paura… bahkan Paus ini yang mengatakan: jangan takut, sebab takut itu dosa… Berdoalah hari ini agar dari Atma Jaya, akan lahir Karol2 Wojtyla, pembaharu negeri dan Gereja Indonesia… Bapa suci, doakan kami dan teguhkan nyala api yang saat ini menggetarkan anak-anak mudamu ini…
Dengan menjadi `pontifex': jadilah pontifex kecil-kecilan: jembatan perdamaian, jembatan kasih, jembatan pelayanan; we need bridges not walls… jembatan dengan yang miskin kecil, jembatan antar budaya, bahasa, agama, bangsa… jadilah jembatan, jumpai yang putus asa, sepi, takut dan cemas; ilmu dan iman merupakan dua bahan dasar indah bagi sebuah bangunan jembatan… jembatan harus rela diinjak-injak, rela merebahkan diri untuk menjumpai yg lain, jika tidak ia jadi tembok…
Dengan semangat `totus tuus': segala-galanya bagi-Mu Tuhan…hidup kita baktikan, sembahkan untuk Tuhan saja dan lain-lainnya akan ditambahkan padamu; tak usah takut; RohKu menyertai engkau… Semangat totus tuus menantang kita untuk memberi yang maksimal dan penuh: jangan puas dengan apa yang ada, make use of pengalaman gelap / berat… sang aktor, sang atlit, sang sastrawan muda, sang ilmuwan muda, berani keluar dari panggung kampus saja, dan menginjakkan kaki di panggung dunia, panggung gereja universal: jika engkau memberi segalanya bagi Tuhan, mana mungkin ia tidak memberimu apa yang kau butuhkan? Totus tuus: jangan takut: do the best and God will do the rest.
Dengan semangat kemanusiaan biasa: ketulusan sederhana dan sahaja. Jangan lupa, di balik kecemerlangan penggembalaannya, di balik kepiawaian kepemimpinannya, dibalik setiap gerak tangan atau wajah atau kata penuh inspirasinya, ia selalu tampil sederhana, ugahari dan sahaja… Ini juga yang memikat banyak orang dan memukau mereka, melahirkan cinta dan kekuatan. Ketika Agustus lalu ia berziarah ke Lourdes, ada yang berdesas-desus bahwa ia mencari mujizat dari Maria. Ia mengatakan: saya datang sebagai peziarah, sebagaimana begitu banyak para lansia lainnya. Dan ia sendiri berpesan: berikan saya sebuah ruangan di mana para lansia biasa menginap… ia tidak tidur di istana presiden, ia tidak memilih kamar di istana uskup, ia datang sebagai peziarah renta, tidur di kamar yang biasa digunakan peziarah umumnya… Betapa sebuah kerendahan hati…
di ambang fajar 3 April 2005,
pada Pesta Kerahiman Ilahi yang jatuh pada Minggu Paska II, yang ditetapkannya 5 tahun lalu
pada Pesta St. Faustina dari Polandia penyebar kerasulan Kerahiman Ilahi,
Kuncup kehidupanmu dipetik tangan sang pencipta pencintamu,
requiem aeternam dona ei Domine, et lux perpetua luceat ei, cum sanctis tuis in aeternum, quia pius est…
Karol oh Karol…
Pope oh Pope…
We love you… we love you…
Arrivederci in paradiso…
Dengan haru dan bangga kami baringkan jasadmu di ibu pertiwi
Dengan tulus dan kudus kami baringkan jiwamu di pangkuan surgawi
Dengan gagah dan indah kami hidupkan semangatmu di atma jaya ini!
Man of God, rest in peace.
And pray for each of us. Amen.
Rm. Terry Th Ponomban, pr
Komisi Seminari KWI
|