|
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Mei 2006
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12

SIAPA ITU SANTA DAN SANTO? Kata Santa dan Santo berasal dari bahasa Latin 'sanctus', yang artinya "suci, kudus". Dalam bahasa Inggris, kata 'sanctus' diterjemahkan menjadi "saint". Kamus American Heritage mempunyai beberapa definisi kata "saint". Salah satu diantaranya mendefinisikan kata "saint" sebagai "seorang yang amat kudus". Kudus berarti "berbudi luhur". Belas kasihan serta iman adalah contoh budi yang luhur. Jadi, seorang santa / santo adalah seorang yang sangat baik, penuh belas kasihan dan iman. Seorang santa / santo sejati adalah seorang yang mempunyai kebiasaan berbuat baik bagi sesama. Kamus tersebut juga mengatakan bahwa definisi kata "saint" berarti "seseorang yang telah berada di surga." Kedua definisi di atas adalah bagian dari definisi kata "saint" oleh Gereja Katolik. Seorang santa / santo bagi kita adalah seorang yang amat kudus yang telah berada di surga. Mungkin ada banyak juga santa dan santo dalam keluargamu, sanak saudara atau teman yang telah berada di surga. Tetapi, Gereja seringkali menunjuk seorang santa / santo istimewa dengan "kanonisasi". "Kanon" adalah daftar resmi, misalnya daftar hukum atau daftar santa / santo. "Kanonisasi" adalah proses peresmian seseorang yang telah meninggal diangkat menjadi Santa / Santo. Santa / Santo yang telah dikanonisasi adalah sebagian dari pahlawan-pahlawan Gereja - seseorang yang menjadi teladan bagi umat beriman lainnya. Beberapa nama santa dan santo yang terkenal misalnya: St. Yosef, St. Theresia dan St. Fransiskus dari Assisi. Sesungguhnya, siapa saja dapat menjadi santa atau santo, termasuk kamu. Yesus mengajarkan bagaimana caranya dalam Injil Matius 5: 1-12. Coba bacalah Injil-mu dan bulatkan tekadmu untuk menjadi seorang santa / santo.
|
|
“Tak suatupun yang dapat membawa kita ke dalam persatuan yang akrab dengan keindahan Kristus Sendiri selain dari dunia keindahan yang tercipta oleh iman dan terang yang terpancar dari wajah para kudus; dari merekalah terang Kristus Sendiri menjadi nyata.”
~ Paus Benediktus XVI, 2002
|
ST GEMMA GALGANI & GABRIEL POSSENTI DARI BUNDA DUKACITA
|
|
|
Suatu ketika, St Gemma Galgani (1878-1903) jatuh sakit. Ia menderita TBC tulang. Juga penyakit meningitis menyerangnya dan menyebabkannya untuk sementara waktu kehilangan pendengarannya. Bisul besar bernanah muncul di kepalanya, rambutnya rontok, dan akhirnya tangan serta kakinya menjadi lumpuh. Dokter dipanggil dan sekian banyak cara pengobatan dilalui tanpa membuahkan hasil, malahan semakin buruk keadaannya.
|
St Gemma Galgani
|
St Gabriel Possenti
|
Gemma memohon bantuan doa Venerabilis Gabriel Possenti dari Bunda Dukacita (sekarang St. Gabriel). Di pembaringannya, Gemma membaca riwayat hidup St. Gabriel. Di kemudian hari, Gemma menulis tentang St. Gabriel Possenti:
“…Aku semakin kagum akan teladan serta sikap hidupnya. Devosiku kepadanya bertambah. Malam hari, aku tidak akan tidur sebelum meletakkan gambarnya di bawah bantalku, dan sesudah itu aku mulai melihatnya berada di dekatku. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya, tetapi aku merasakan kehadirannya. Setiap saat dan dalam setiap lakuku, Frater Gabriel ada dalam benakku.”
Gemma, sekarang usianya 20 tahun, tampaknya hanya tinggal menunggu saatnya saja. Tengah malam pada tanggal 23 Februari 1899, sayup-sayup Gemma mendengar seseorang mendaraskan rosario dan ia sadar bahwa Venerabilis Gabriel menampakkan diri kepadanya. Ia berkata kepada Gemma:
“Apakah kamu ingin sembuh? Berdoalah Novena kepada Hati Kudus Yesus dengan penuh iman setiap sore. Aku akan datang kepadamu hingga Novena selesai, kita akan berdoa bersama kepada Hati-Nya yang Terkudus.”
Pada hari Jumat pertama bulan Maret, Novena selesai didaraskan. Permohonan mereka dikabulkan; Gemma sembuh sama sekali dari sakitnya! Ketika Gemma bangkit dari pembaringannya, mereka yang ada di sekelilingnya bersorak gembira. Ya, telah terjadi suatu mukjizat!
“Berapa kali kupikirkan, bahwa mengenai semua rahmat yang telah kuterima, aku berhutang budi kepada suatu jiwa yang memohonkannya bagiku dan baru akan kukenal nanti di surga!”
~ St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus
|
|
STIGMATA: ST RITA DARI CASCIA (1381-1457)
 Jumat Agung 1442. Seorang biarawan Fransiskan, Beato Yakobus dari Mount Brandone, datang ke Cascia untuk berkhotbah di Gereja St Maria. Imam yang baik ini adalah seorang pengkhotbah yang termasyhur; kata-katanya memiliki kuasa untuk menggerakkan bahkan hati yang paling keras sekalipun. St Rita, dengan ditemani beberapa biarawati lainnya, pergi juga untuk mendengarkan khotbahnya. Tema khotbah Pater Yakobus adalah Sengsara dan Wafat Yesus Kristus. Dengan kata-kata yang seolah didiktekan dari surga, biarawan Fransiskan yang fasih berkata-kata ini menyampaikan sengsara dahsyat yang diderita Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus, teristimewa sengsara akibat mahkota duri yang ditancapkan di atas kepala-Nya. Kata-kata sang imam menembusi lubuk jiwa St Rita hingga yang terdalam, meliputi hatinya dengan dukacita; airmata mengalir deras dari kedua pelupuk matanya, dan ia menangis pilu hingga hatinya yang berbelas kasihan seakan hendak meledak.
Sekembalinya ke biara, St Rita merebahkan diri (prostratio) di kaki salib dan mulai merenungkan sengsara yang diderita Juruselamat kita akibat mahkota duri yang menembusi kepala-Nya yang kudus. Dengan kerinduan yang berkobar untuk ikut ambil bagian dalam sengsara-Nya, ia memohon kepada Yesus untuk memberinya, setidak-tidaknya, satu dari sekian banyak duri dari mahkota duri yang menyiksa kepala-Nya yang kudus, katanya:
“Ya Tuhan dan Allah-ku yang tersalib! Ya Engkau yang tak bernoda, tanpa dosa ataupun cela! Ya Engkau yang telah menanggung begitu banyak sengsara demi kasih kepadaku! Engkau yang telah ditangkap, dianiaya, dihinakan, didera, dimahkotai duri, dan akhirnya wafat dengan keji di Salib. Mengapakah Engkau menghendaki bahwa aku, hambamu yang hina dan tak layak ini, yang adalah penyebab segala derita dan siksa aniaya-Mu, tak Engkau perkenankan ikut ambil bagian dalam sengsara-Mu? Jadikanlah aku, ya Yesus-ku yang termanis, seorang rekan serta, jika tidak dalam seluruh Sengsara-Mu, setidaknya dalam sebagian saja. Aku sadar akan ketaklayakan dan ketakpantasanku, sebab itu aku mohon pada-Mu satu saja dari ketujuhpuluh dua duri yang menembusi kepala-Mu, agar aku boleh merasakan sedikit dari sengsara-Mu. Ya Juruselamat-ku terkasih! Janganlah kiranya Engkau menolak permohonanku ini. Janganlah menahan rahmat ini daripadaku. Aku akan harus meninggalkan tempat ini tanpa penghiburan, jika Engkau mengusirku pergi tanpa memberikan tanda cinta-Mu yang aku dambakan.”
Ketika St Rita mengakhiri doanya, sang Mempelai Ilahi tak hendak berlambat dalam mengabulkan kerinduannya. Dengan menjadikan mahkota duri-Nya sebagai busur, begitulah dapat dikatakan, dan sepotong dari duri-durinya sebagai anak panah, Yesus membidikkannya ke kening St Rita. Anak panah melesat dengan daya dan kekuatan begitu rupa hingga menembusi daging serta tulang, dan tetap tertancap di sana, meninggalkan suatu luka yang berdarah hingga akhir hayatnya. Rasa sakit akibat duri yang menembusi keningnya sungguh amatlah hebat dan dashyat hingga St Rita roboh tak sadarkan diri, dan pastilah ia mati andai Yesus, yang menanamkan luka itu, tidak memelihara hidupnya.
Sengsara akibat luka itu semakin hari semakin bertambah hebat. Luka itu sendiri begitu buruk dan memuakkan, hingga St Rita menjadi sumber kejijikan bagi sebagian biarawati, yang bahkan tak dapat tahan memandangnya. Tak hendak menjadikan diri gangguan bagi para biarawati lainnya, nyaris sepanjang hari St Rita mengurung diri dalam biliknya, melewatkan hari-hari dalam doa dan meditasi.
Apabila sengsaranya bertambah hebat, ia akan berkata kepada Mempelai Ilahi-nya, “Ya Yesus terkasih, sudilah tambahkan kesabaranku sementara sengsaraku bertambah.” Doa ini, sama seperti doa-doa St Rita lainnya, didengarkan Tuhan, dan sungguh, betapa luar biasa kesabarannya, hingga dengan berkelakar ia menyebut ulat-ulat kecil yang muncul dari lukanya yang membusuk itu sebagai “malaikat-malaikatku”, sebab ulat-ulat ini menambah sengsaranya kapan saja mereka bergerak-gerak atau memakan daging tubuhnya, dan dengan demikian memberi kepadanya kesempatan-kesempatan baru untuk melatih kesabaran dan mendapatkan semakin banyak limpahan kasih sayang dari Mempelai Ilahi-nya, Yesus Kristus.
Lima belas tahun kemudian, segera sesudah wafat St Rita pada tanggal 22 Mei 1457, cahaya adikodrati yang kemilau segera memenuhi biliknya, dan bau harum semerbak terpancar dari tubuhnya. Harum surgawi segera merebak ke seluruh bangunan biara, seolah hendak membayar ganti rugi dua kali lipat atas bau busuk yang terpancar dari lukanya selama ini. Ulat-ulat kecil yang menjadikan wajah St Rita tampak menjijikkan berubah menjadi cahaya-cahaya indah yang cantik, yang berkelap-kelip bagaikan bintang-bintang kecil, sementara luka akibat duri memancarkan cahaya dengan kemilau batu permata. Jenazah St Rita sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda kematian. Tubuh yang semasa hidupnya nyaris tinggal tulang berbalut kulit akibat mati raga yang keras dan penyakit TBC yang selama empat tahun menggerogotinya, sekarang berubah menjadi kenyal, lembut dan segar, hingga ia tak tampak bagaikan seorang yang telah dijemput ajal, melainkan seolah tidur dalam damai tenang. Jasadnya tampak jauh lebih muda dari usianya, wajahnya pun tampak jauh lebih elok dari semasa ia masih hidup.
Beberapa stigmatis lainnya:
St. Francis dari Assisi (1186-1226)
|
St. Gertrude
(1256-1302)
|
St. Katarina Siena
(1347-1380)
|
St. Lidwina
(1380-1433)
|
St. Koleta
(1380-1447)
|
St. Yohanes a Deo
(1495-1550)
|
St. Katarina Ricci
(1522-1590)
|
St. Magdalena de' Pazzi (1566-1607)
|
B. Maria Inkarnasi
(1566-1618)
|
St MM Alacoque (1647-1690)
|
B. Anna Katharina Emmerick
(1774-1824)
|
St. Gemma Galgani
(1878-1903)
|
St. Padre Pio dari Pietrelcina
(1887-1968)
|
St. Faustina Kowalska
(1905-1938)
|
Theresia Neumann
(1898 - 1962)
|
|
|
“Ya Tuhan Allah-ku, Yesus Kristus! Pada Pesta Salib Suci ini, dua hal aku mohon dari-Mu sebelum aku mati: yaitu bahwa dalam masa hidupku yang singkat ini, aku diperkenankan merasakan Sengsara-Mu dan Kasih-Mu dalam jiwa dan badanku!”
~ St Fransiskus dari Asisi, stigmatis pertama
|
JENAZAH YANG TAK RUSAK: PAUS YOHANES XXIII
 Setelah beatifikasi Paus Yohanes XXIII pada bulan September 2000, Paus Yohanes Paulus II memaklumkan bahwa mengingat banyaknya peziarah, maka relikwi pendahulunya itu akan dipindahkan ke makam yang lebih pantas, yaitu dalam Basilika St Petrus. Pemindahan relikwi dilakukan dengan khidmad pada tanggal 16 Januari 2001. Para pejabat dan pekerja yang melaksanakan instruksi pemindahan relikwi mendapati bahwa jenazah Beato Paus Yohanes XXIII tidak mengalami kerusakan sedikit pun setelah 37 tahun berlalu sejak wafatnya.
Pihak Vatikan tidak mengeluarkan pernyataan resmi mengenai hal ini. Tetapi, para pejabat mengatakan bahwa Beato Paus Yohanes XXIII tampak “hampir tepat sama seperti pada hari ia wafat, dengan kedua matanya tertutup, mulutnya sedikit terbuka dalam suatu `senyum yang karismatik.”'
|
|
“Janganlah kalian percaya bahwa usia muda merupakan penghalang di jalan menuju kesempurnaan, bahkan kesempurnaan penuh sekalipun, yaitu kekudusan.”
~ Paus Pius XII
“Akan ada santa dan santo dari kalangan anak-anak.”
~ St Paus Pius X
|
B. FRANCISCO (1908-1919) DAN B. JACINTA MARTO (1910-1920)
 Di Fátima, Portugal, pada bulan Mei 2000, Bapa Suci Yohanes Paulus II memberikan gelar beata dan beato kepada dua anak, Jacinta (9 tahun) dan Francisco Marto (10 tahun), yang menerima pesan dari Santa Perawan Maria.
“Bapa, aku mengucap syukur kepada-Mu, sebab apa yang Engkau sembunyikan dari orang-orang cerdik pandai telah Engkau nyatakan kepada anak-anak kecil.
Bapa, aku mengucap syukur kepada-Mu untuk segenap anak-anak-Mu, dari Santa Perawan Maria, hamba-Mu yang bersahaja, hingga ke gembala-gembala kecil, Francisco dan Jacinta.
Kiranya pesan hidup mereka hidup untuk selama-lamanya guna menerangi jalan umat manusia!”
“Di Fátima, sama seperti di Lourdes, Santa Perawan Maria memilih untuk menyampaikan pesannya kepada kanak-kanak: Francisco, Jacinta dan Lucia. Mereka menerimanya dengan begitu saleh hingga mereka pantas, bukan hanya dianggap sebagai saksi penampakan yang layak dipercaya, melainkan juga mereka telah menjadikan diri sebagai teladan hidup evangelis.
Lucia, sepupu mereka [Francisco dan Jacinta Marto] yang sedikit lebih tua dan masih hidup sekarang ini [wafat 13 Februari 2005, dalam usia 97 tahun], memberikan gambaran yang berarti mengenai beato dan beata baru kita ini. Francisco, seorang anak yang baik hati, bijaksana, dengan jiwa yang suka merenung; sementara Jacinta seorang anak yang lincah, sedikit sensitif, namun amat manis dan menyenangkan. Kedua orangtua mereka mengajar mereka berdoa, dan Tuhan Sendiri menarik mereka lebih dekat kepada DiriNya melalui penampakan seorang malaikat yang, dengan membawa sebuah piala dan Hosti dalam tangannya, mengajar mereka untuk mempersatukan diri dengan kurban Ekaristi demi silih atas dosa.
Perjumpaan ini mempersiapkan mereka untuk perjumpaan-perjumpaan berikutnya dengan Bunda Maria, yang mengundang mereka untuk berdoa dengan tekun dan mempersembahkan silih demi pertobatan orang-orang berdosa. Dengan kedua kanak-kanak gembala dari Fátima ini, Gereja telah membeatifikasi dua orang muda belia sebab, walau mereka bukan martir, namun mereka telah membuktikan bahwa mereka mengamalkan keutamaan-keutamaan Kristiani dengan tingkat semangat kepahlawanan, walau masih sangat muda usia mereka. Kepahlawanan kanak-kanak, tetapi kepahlawanan yang sejati.
Kekudusan mereka bukan terletak pada penampakan, melainkan pada kesetiaan dan komitmen mereka dalam menanggapi karunia luar biasa yang mereka terima dari Tuhan dan dari Santa Perawan Maria yang Tersuci. Setelah perjumpaan mereka dengan malaikat dan dengan Santa Perawan yang cantik rupawan, mereka mendaraskan Rosario berulang kali dalam sehari, kerap mempersembahkan matiraga dan silih demi berakhirnya perang dan demi jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan kerahiman ilahi; mereka merasakan suatu kerinduan yang berkobar untuk “menghibur” Hati Tuhan Yesus dan Hati Bunda Maria. Gembala-gembala kecil ini juga harus menderita tekanan hebat dari mereka yang dengan paksa dan ancaman-ancaman menakutkan berusaha membuat mereka menyangkal semuanya dan membongkar pesan rahasia yang mereka terima. Tetapi, mereka saling menguatkan satu sama lain, percaya penuh pada penyelenggaraan Tuhan dan pada pertolongan “Perempuan itu”, yang tentangnya Francisco mengatakan, “Dia sahabat kami.” Oleh karena kesetiaan mereka kepada Tuhan, mereka merupakan teladan yang bersinar bagi anak-anak maupun orang dewasa mengenai bagaimana taat dengan cara yang bersahaja dan penuh penyerahan diri pada tindakan rahmat ilahi yang mengubah jiwa.”
~ Bapa Suci Yohanes Paulus II, Audiensi Umum, Rabu 17 Mei 2000
PARA MARTIR: KANONISASI PARA MARTIR CINA
 Beberapa bulan sesudah beatifikasi Francisco dan Jacinta Marto, Bapa Suci Yohanes Paulus II mengkanonisasi 120 martir Cina. Di antara para martir, Bapa Suci secara khusus menyebut Anna Wang, seorang gadis belia berusia 14 tahun dan Chi Zhuzi, seorang remaja berusia 18 tahun.
“Pada hari ini Gereja mengucap syukur kepada Allah, yang memberkatinya dan memandikannya dalam terang cahaya kekudusan para putera dan puteri dari Cina. Bukankah Tahun Suci ini merupakan saat yang paling tepat untuk menjadikan kesaksian iman mereka yang gagah berani bersinar kemilau?
Anna Wang yang belia, 14 tahun, tegar menghadapi ancaman siksa aniaya yang mendesaknya untuk mengingkari iman. Siap dipenggal kepalanya, ia memaklumkan dengan wajah bersinar, “Pintu surga terbuka bagi semua,” kemudian tiga kali membisikkan nama `Yesus'.
Chi Zhuzi, pemuda berusia 18 tahun, berseru tanpa gentar kepada mereka yang baru saja menebas lengan kanannya dan bersiap untuk mengulitinya hidup-hidup, `Setiap kerat dagingku, setiap tetes darahku akan meneriakkan kepada kalian bahwa aku seorang pengikut Kristus.'”
~ Paus Yohanes Paulus II, Kanonisasi 120 Martir Cina, 1 Oktober 2000
“Maria adalah Ratu Para Martir, oleh karena kemartirannya jauh lebih lama dan lebih dahsyat dari yang diderita semua martir lainnya.”
“Para martir menderita karena siksa yang ditimpakan kepada mereka oleh para penganiaya; tetapi cinta Yesus menjadikan penderitaan mereka manis dan menyenangkan. Jadi, semakin para martir kudus itu mencintai Yesus, semakin sedikit mereka merasakan penderitaan dan kematian. Tetapi, apakah Bunda Dukacita kita juga terhibur oleh cintanya kepada Putranya, dan apakah bayangan akan sengsara-Nya menghibur hatinya? Ah, tidak! Justru Putranya yang menderita sengsara itulah yang menjadi sumber dukacitanya, dan cintanya pada Putranya adalah satu-satunya penganiayanya yang paling kejam. Kemartiran Maria sepenuhnya adalah menyaksikan dan berbelas kasihan terhadap Putranya yang terkasih dan yang tak berdosa, yang menderita begitu hebat. Jadi, semakin besar cintanya kepada Putranya, semakin pilu dan tak terhiburkan dukacitanya.”
~ St. Alfonsus Maria de Liguori
|
Tujuh Duka SP Maria
|

|
|
BULAN MEI ADALAH BULAN MARIA
“Bunda Maria menghendaki mereka yang datang kepadanya dengan tulus hati dan penuh hormat, bagi merekalah ia melimpahkan kasih sayangnya, merawatnya, serta mengangkat mereka menjadi putera dan puterinya.”
~ St. Bonaventura
|
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”
|